|
|
November 2001 Warna |
|
Empat Serangkai Penggempur Kolesterol Kelihatannya sudah jadi pengetahuan umum, kalau pengapuran dan penimbunan kolesterol di dalam pembuluh darah merupakan proses yang bisa memunculkan penyakit jantung koroner (PJK). Yang barangkali belum banyak disadari, terjadinya sering kali mulai usia sangat muda dan berjalan diam-diam, perlahan-lahan, namun pasti. Persis pencuri di waktu malam .... Agar tidak sampai kecolongan, ada baiknya kita simak mengapa vitamin dan serat bisa mencegah proses yang merugikan kesehatan itu.
Aterosklerosis, nama proses itu, sebenarnya bukan berita baru. Otopsi pertama pada mumi yang hidup lebih dari 3.500 tahun lalu, yang dilakukan pada tahun 1931, menunjukkan adanya tanda-tanda pengapuran pada pembuluh koroner seorang wanita berusia 50 tahun. Mau bukti lain? Otopsi pada 200 orang serdadu yang mati muda dalam Perang Korea menunjukkan, 50% dari mereka telah mengalami pengapuran di pembuluh darah koronernya, padahal sebelumnya tak ada keluhan. Bahkan di AS, 46% anak muda yang tewas karena kecelakaan lalu lintas, ternyata sudah mengidap pengapuran koroner. Juga tanpa keluhan sebelumnya. Sedihnya, studi pun mendukung fakta. WHO, berdasarkan telaah tahun 1976 menyimpulkan, proses pengapuran koroner bertambah 3% per tahun sejak seseorang berusia 20 tahun! Hal ini membuktikan bahwa progresivitas pengapuran pembuluh koroner sesungguhnya memang bergulir diam-diam dan senantiasa membawa bahaya laten. Check up menjadi penting, terutama bagi orang yang sudah melewati usia 40 tahun, agar progresivitas penyakit ini dapat dicegah sedini mungkin. Yang menarik, di Jepang secara umum, walaupun jumlah pengidap hipertensi dan perokok sangat tinggi, insiden PJK relatif rendah, karena kadar kolesterol mereka umumnya rendah. Berbeda dengan di kota-kota metropolitannya, di mana sudah terjadi pergeseran pola makan, kecenderungan timbulnya PJK tampaknya meningkat.
Di antara pelbagai alternatif upaya untuk menurunkan kadar kolesterol dalam
darah, vitamin B3 (niasin), C, E, dan serat, tampaknya bisa
menjadi alternatif.
Niasin, cukup sedikit saja Niasin merupakan bagian dari vitamin B-kompleks, yang disebut juga vitamin B3. Banyak terdapat dalam biji-bijian dan kacang-kacangan, baru tahun 1955 dr. R. Altschul, untuk pertama kalinya menemukan khasiatnya untuk menurunkan kadar kolesterol. Niasin dapat menurunkan produksi VLDL (very low density lipoprotein) di hati, sehingga produksi kolesterol total, LDL (low density lipoprotein), dan trigliserida menurun. Dengan mengonsumsi 3 - 6 g niasin (ekuivalen dengan ...) sehari, kadar kolesterol total dapat diturunkan sebanyak 15 - 20%, kadar trigliserida turun 45 - 50%, dan kadar HDL (high density lipoprotein) meningkat hingga 20%. Bahkan dengan 1 - 1,5 g niasin sehari, kadar LDL sudah dapat diturunkan 15 - 30% dan HDL meningkat secara nyata. Niasin juga berperan dalam merangsang pembentukan prostaglandin I2, hormon yang membantu mencegah pengumpulan (agregasi) trombosit. Dengan demikian, niasin dapat memperkecil proses aterosklerosis dan akhirnya memperkecil kemungkinan terjadinya serangan jantung. Pemberian niasin pada orang-orang yang baru saja mengalami operasi bypass koroner dapat menurunkan kadar LDL sampai 69% dan meningkatkan kadar HDL 33%. Dalam hal ini, niasin berfungsi untuk mencegah berulangnya proses pengapuran pasca-bypass. Akan tetapi, seperti banyak hal di dunia, di balik manfaatnya vitamin ini bisa memberikan gejala yang tidak diharapkan bila dikonsumsi secara berlebihan. Angka kecukupan gizi niasin sebenarnya relatif kecil. Bayi hanya memerlukan 6 - 9 mg niasin sehari, sementara anak-anak membutuhkan 11 - 18 mg, dan orang dewasa cukup dengan 13 - 19 mg per hari. Namun, umumnya diperlukan dosis niasin 1 - 1,5 g sehari untuk mempengaruhi hasil pemeriksaan lemak darah di laboratorium.
Dosis rata-rata 1 g niasin per hari tidak memberikan efek sampingan. Namun
karena dimetabolisasi di hati, dosis niasin yang tinggi akan sedikit
memberikan tambahan beban bagi kerja hati. Walaupun demikian, sesungguhnya
efek sampingan ini sangat jarang terjadi. Coronary Drug Project bahkan
menunjukkan, dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 8.000 orang pada
tahun 1969 - 1975, tak ada efek sampingan mengganggu akibat konsumsi niasin
selama itu.
Vitamin C perkuat otot jantung Sekarang bagaimana dengan peran vitamin C, yang telah sekian lama akrab dengan kita? Ternyata ia berperan penting melalui proses metabolisme kolesterol. Begini ceritanya. Dalam metabolisme kolesterol, vitamin C berperan meningkatkan laju kolesterol yang dibuang dalam bentuk asam empedu, meningkatkan kadar HDL, dan berfungsi sebagai pencahar sehingga meningkatkan pembuangan kotoran. Pada gilirannya hal ini akan menurunkan penyerapan kembali asam empedu dan pengubahannya menjadi kolesterol. Vitamin C dapat menurunkan kolesterol dan trigliserida pada sejumlah orang yang biasanya memiliki kadar kolesterol dan trigliserida tinggi. Namun, sayangnya hal itu tidak berlaku pada orang dengan kadar kolesterol dan trigliserida normal. Jadi, rupanya vitamin C berperan menjaga keseimbangan (homeostasis) jenis lemak ini di dalam tubuh. Vitamin ini juga sangat penting untuk sintesis kolagen. Padahal kolagen itu berbentuk serabut kuat dan merupakan jaringan ikat yang penting bagi kulit, otot, pembuluh darah, dan bagian tubuh lainnya. Tidak mengherankan kalau kekurangan vitamin C cenderung melemahkan struktur pembuluh darah, jantung, dan otot jantung. Jadi, peran vitamin C dalam pembentukan kolagen merupakan faktor positif untuk mencegah serangan penyakit jantung koroner. Penelitian lain malah nyata-nyata menunjukkan, kekurangan vitamin C menyebabkan kerusakan susunan sel pada dinding pembuluh arteri sehingga dapat terisi kolesterol dan menyebabkan aterosklerosis. Angka kecukupan gizi vitamin C ditetapkan sebesar 60 mg sehari (sebuah jeruk mengandung 49 mg vitamin C - Red.). Angka kecukupan tersebut sebenarnya hanya dimaksudkan untuk mencegah skorbut, penyakit pada gusi. Mitos bahwa tubuh hanya dapat menyimpan vitamin C dalam jumlah sangat sedikit, dan karenanya, hanya membuang uang saja mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi, agaknya kurang tepat.
Sebenarnya, tubuh menyimpan dan memanfaatkan vitamin C secara berfluktuasi, tergantung berapa banyak yang diperlukan, misalnya, untuk menunjang sistem imunitas, mengatur metabolisme kolesterol, mengikat radikal bebas, dan menyembuhkan luka. Jadi, vitamin C seyogianya dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk kesehatan. Linus Pauling bahkan menyarankan konsumsi 1 - 3 g sehari untuk menjaga kesehatan yang optimal, tetapi cara yang terbaik untuk mengetahui berapa jumlah vitamin adalah dengan "menanyakan" kepada tubuh kita sendiri. Inilah yang disebut teknik toleransi perut. Teknik toleransi perut dikembangkan oleh Dr. Robert Catchart yang berpengalaman dalam pengobatan dengan vitamin C. Konsumsi vitamin C berlebihan akan menimbulkan diare. Karena larutan vitamin C pekat dalam usus akan menarik air dari sekeliling sel dan akhirnya kotoran dilepaskan dalam bentuk diare. Diare terjadi kalau ada kelebihan vitamin C yang mencapai usus halus dan tidak diserap tubuh. Toleransi perut ini mungkin akan berubah tergantung dari derajat kesehatan seseorang.
|
|||||||||