globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

November 2001

Warna

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

 TRAGEDI MANUSIA PERAHU AFGHANISTAN

Perjuangan manusia menggapai hidup yang lebih baik kadang berujung tragedi. Sebanyak 139 pengungsi korban perseteruan politik Afghanistan, dalam perjalanan dari Jatijajar, Gombong, Jawa Tengah, tengah malam buta 17 Agustus 2001 terdampar di pantai Kalidua, 3 km dari pantai Permisan, Pulau Nusakambangan. Wartawan Intisari G. Sujayanto dan Sabar Basuki ikut dalam proses evakuasi dan merasakan sebagian dari tragedi yang membelit para manusia perahu itu.

 
Foto: Ibas

Murtaza, sedang dimandikan dan dikafani oleh ibu-ibu setempat, dibantu Darmawan, petugas LP, selanjutnya disembahyangkan di masjid. Korban meninggal lainnya langsung dilarung ke laut.

Berita terdamparnya sebuah kapal di kawasan P. Nusakambangan tersiar samar-samar seusai upacara 17 Agustus di depan LP Batu, sekitar pukul 09.00 WIB. Tetapi kabar buruk itu tak segera mendapat tanggapan serius dari pihak berwenang lantaran miskinnya informasi. Alhasil, berita itu dibiarkan berlalu. Padahal pada saat bersamaan berkumpul empat kepala lembaga pemasyarakatan (Kalapas) yang notabene adalah para petinggi pulau bui itu.

Usai upacara bendera kami mampir ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, tempat "Raja Kayu" Bob Hasan, terpidana kasus korupsi, mendekam sambil menunggu kasasi. Di sana kami menyaksikan Kalapas membacakan remisi di tengah lapangan.

Dari LP yang didominasi napi kriminal, kami menuju LP Besi yang berjarak 1,5 km. LP ini didirikan di tempat agak tinggi dan sejak tahun 1999 dikhususkan bagi terpidana kasus narkotika. Menurut penuturan Ferdy, pegawai LP Batu, delapan orang dari 211 orang napi narkoba menyandang gelar sarjana hukum. Mengherankan bukan?

Setelah urusan rampung kami memutuskan kembali ke Cilacap dengan diantar oleh dua karyawan LP Batu menuju dermaga Sodong. Sodong merupakan dermaga penyeberangan ke Wijaya Pura di Cilacap. Tak lama perahu penyeberangan datang, kami pun meninggalkan Nusakambangan.

Berita terdamparnya kapal di pantai Permisan pun lenyap dari ingatan saat kami tiba di dermaga Wijaya Pura. Saat kami menukarkan kartu tamu dengan kartu pers yang ditinggalkan sebelumnya, saya bertanya-tanya sendiri,

"Kok masih ada Pak Rohcmadi BCiP, Kalapas Permisan?" Tapi belum sempat menjawab, ia sudah mengajak kami kembali ke Nusakambangan.

"Ayo naik lagi, ada kapal terdampar," katanya. Rupanya kabar samar itu sudah menampakkan titik terang. Bahkan seorang petugas di dermaga Wijaya Pura memastikan, dua orang tewas dalam musibah itu. Sementara rombongan pertama korban sedang menuju ke LP Permisan.

 

Tak boleh menginap

"Bila informasi itu akurat, inilah kecelakaan kapal terbesar di Nusakambangan," kata Rochmadi sambil sibuk mengatur transportasi bersama anak buahnya. Korban harus segera dievakuasi keluar dari P. Nusakambangan. Sesuai peraturan, siapapun, selain petugas LP dan karyawan yang berdomisili di situ, tidak diizinkan menginap.

Persoalan baru muncul, satu-satunya bus milik Departemen Kehakiman yang dipakai untuk antar-jemput pegawai LP, satu roda belakangnya sedang diperbaiki. Tapi Rochmadi tak ambil pusing. Akhirnya dengan menggunakan bus butut itu, plus dua mobil Taft pinjaman dari PT Semen Nusantara, rombongan kecil itu berangkat menuju Permisan. Bus kecil itu ditumpangi hanya oleh enam orang, kami berdua bersama pengemudi, Pak Rohcmadi, dan dua orang reserse berpakaian sipil dari Polres Cilacap.
Foto: Ibas

Perjalanan menembus hutan tropis menuju LP Permisan melewati sungai berair jernih.

Dalam perjalanan ke Permisan, yang berjarak 14 km arah barat dermaga Sodong, bus dengan tiga roda belakang itu mampir ke bengkel untuk memasang satu ban belakang dan menambah tekanan angin. Di sepanjang jalan Rohcmadi dan salah seorang reserse berbincang serius soal langkah-langkah evakuasi manusia perahu yang bakal dilaksanakan. Juga antisipasi, andai pengungsi cuma bisa berbahasa Inggris. Soal ini Rochmadi akan meminta bantuan satu napi yang lancar berbahasa inggris.

Kami berenam sudah tak sabar, ingin segera tiba untuk mengetahui kondisi korban. Sekitar pukul 13.30 bus tiba di LP Permisan. Beberapa petugas LP memberi tahu, dua manusia perahu sudah berada di ruang tamu Kalapas. Di kursi tamu sederhana dua pemuda duduk dengan wajah kuyu. Yang seorang berpostur tinggi, kulit kuning, hidung mancung, dan rambut pirang. Pria ini memakai baju hawaii lusuh dan hanya bersandal jepit. Sementara temannya, bertubuh lebih pendek, berambut ikal, mengenakan kaos bermotif garis, juga cuma bersandal.

 

Paspor dirampas

Di ruangan berukuran 3 x 3 m yang berada di samping pintu gerbang LP Permisan, tempat Robot Gedeg menunggu eksekusi mati, keduanya menjelaskan dalam bahasa Inggris riwayat perjalanan sebelum terdampar di pulau itu. Mereka, Nawroz Ali (28) dan Abdul Ghani (21), adalah dua orang pertama yang tiba di Permisan dari pantai Kalidua, 6 km atau dua jam jalan kaki dari Permisan.

"Waktu itu pukul 02.00, ombak besar menghantam lambung kapal. Kapal pecah, air pun masuk ke kapal. Pikiran kami cuma satu. Bertahan hidup! Bahu-membahu kami selamatkan anak-anak, wanita, dan diri-sendiri," kata Nawroz dengan emosi tertahan.

Sementara Abdul Ghani, tak paham awal perjalanan maut itu, "Yang jelas mula-mula kami menumpang bus dari seputar Jakarta di malam hari, dan tiba di suatu tempat esok harinya." Dari pengakuan Ghani akhirnya diketahui, manusia perahu ini berlayar dari pantai Jatijajar, di kawasan selatan Kota Gombong, Jawa Tengah pada pukul 16.00.

"Sore itu kami menaiki kapal dengan memakai perahu-perahu kecil. Kami tidak saling kenal. Dalam rombongan itu ada banyak kelompok. Setelah semua masuk ke kapal, pemilik kapal merampas semua identitas termasuk paspor. Lalu ia menyerahkan tanggung jawab pada nakhoda dan para awak kapal," kata Nawroz Ali.

Sebenarnya kapal motor tua dengan cat yang memudar itu cuma berkapasitas 40 orang, tetapi kali itu dijejali 139 penumpang. Dengan tujuan mencari suaka, mereka mencarter kapal dengan tujuan P. Christmas, 350 km barat daya P. Jawa, yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 50 jam. "Perjalanan itu sangat lambat. Sebenarnya kami amat takut, tetapi kami pasrah," tandas Ali yang di negerinya bekerja sebagai karyawan hotel.
Foto: Ibas

Fatimah, ibu Murtaza, menangisi putranya. Melalui pendekatan yang memakan waktu tiga hari, baru ia setuju putranya dikubur di makam napi di belakang bekas rumah sakit di kawasan LP Batu, P. Nusakambangan.

Di tengah perbincangan itu serombongan pengungsi datang, jumlahnya kira-kira 30 orang, dengan barang bawaan yang masih bisa diselamatkan. Sebagian kaki mereka melepuh atau tergores, seperti terkena benda tajam. Para istri karyawan LP Permisan dengan sukarela menyediakan air putih dan roti yang dibungkus dalam kantong plastik. Para pengungsi langsung melahap makanan itu layaknya orang kelaparan.

Ikut dalam rombongan itu, Murtaza, bayi berusia 2 bulan yang sudah terbujur kaku. Atas inisiatif karyawan LP, bayi malang itu dimandikan. Fatimah, ibu sang bayi, cuma menatap dengan pandangan kosong. Sesekali ia mengusap air mata yang mulai kering.

Rupanya Murtaza kemasukan air saat proses penyelamatan. "Ia sebenarnya berada dalam gendongan ibunya. Tetapi gelombang besar mengempas dan menenggelamkannya ke laut. Saat matahari terbit, baru ketahuan ia sudah tergeletak di pantai," jelas Ali, saksi peristiwa itu.

<<  2  >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/