|
|
November 2001 Warna |
|
Kiat Ibu Hamil Mengemudi Tuntutan zaman telah memaksa wanita untuk juga aktif di belakang kemudi kendaraan roda empat. Biasanya kemampuan itu dapat dinikmati dan dimanfaatkan sebebas-bebasnya sampai tiba saatnya ia hamil. Bagaimana kiat menyiasatinya?
Lalu apakah wanita yang mengandung dinilai tak dapat melakukan aktivitas
sehari-hari seperti biasa? Jawabannya beraneka. Ada yang pro tak sedikit
pula yang kontra. Mengemudi mobil misalnya. Meski tergolong salah satu dari
sekian aktivitas berisiko tinggi, kegiatan ini mau tak mau tetap harus
dilakukan oleh sebagian wanita hamil. Oleh karena itu pemahaman yang baik
sangat penting, sehingga mengemudi mobil pun tetap dapat dijadikan kegiatan
yang aman dan nyaman bagi para calon ibu.
Kelas berat? Jangan! Hal pertama yang harus dicamkan adalah: jangan memforsir diri. Bagaimana pun menjadi wanita hamil memang susah-susah gampang. Ada pantangan yang harus ditaati mulai jenis makanan-minuman sampai tingkat risiko aktivitas yang dilakukan. Namun semua toh tujuannya baik yaitu agar proses perkembangan bayi yang sedang dikandung berjalan normal dan kesehatan si calon ibu sendiri tetap terjaga prima. Para ahli kandungan bersepakat bahwa hingga usia kandungan tujuh bulan, seorang wanita hamil masih diperbolehkan mengemudi dengan bebas. Ini karena ukuran membuncitnya perut masih relatif kecil. Lagi pula posisi janin masih mobile. Masih dapat bergerak agak bebas dalam air ketuban yang juga bersifat meredam getaran. Lain cerita jika si calon ibu sering mengalami perdarahan atau pernah melakukan aborsi. Untuk kelompok ini para ahli kandungan menyarankan agar lebih menahan diri dan tidak terlalu sering mengemudi, meski usia kehamilannya belum mencapai tujuh bulan. Sedangkan untuk usia kandungan tujuh bulan ke atas, mereka malah dianjurkan untuk sama sekali tidak mengemudi lagi. Bagaimana kalau terpaksa sekali, karena terdesak keadaan? Ya ..., bolehlah, namun dengan beberapa persyaratan: tidak merasa sakit, nyeri, mual, atau mengalami kontraksi berlebihan pada otot perut dan panggul. Jenis mobil yang dikendarai wanita hamil sebaiknya yang bersuspensi lembut. Sistem suspensi yang begini akan menjamin getaran yang tidak terlampau hebat; juga cepat hilang. Umumnya karakteristik getaran ini dihasilkan oleh sistem suspensi yang menggunakan per keong (helical spring), seperti yang banyak diadopsi oleh sedan, mobil-mobil kecil, van, dan sebagian minibus keluaran terbaru. Hanya saja kabin minibus umumnya agak tinggi, sehingga cukup sulit untuk menaikinya. Ada baiknya pula menghindari mobil-mobil "kelas berat" seperti jip (apalagi yang offroad). Jip biasanya menggunakan pegas daun (leaf spring), yang lebih kaku dan keras dibandingkan dengan per keong. Tentu saja ini memang sesuai dengan beratnya medan jelajah jip yang tidak mengedepankan kenyamanan, tapi mengutamakan stabilitas dan ketangguhan berkendara. Begitu pun, meski mengendarai mobil ber-per keong, rute jalan yang berlubang-lubang atau jelek sekali sebaiknya tetap dihindari. Memilih jalan yang relatif mulus dan mengemudi dengan halus manakala menemui jalan berlubang atau polisi tidur akan menghindarkan pengemudinya dari guncangan terlalu keras. Jika si calon ibu mengalami kontraksi ringan, ia sebaiknya beristirahat sejenak dengan merebahkan posisi jok sampai merasa normal kembali. Namun, apabila kontraksi terjadi berulang dan cukup berat, ia harus cepat berkonsultasi dengan dokter. Jika kemudian dokter menyarankan agar tidak mengemudi untuk sementara waktu, itu tentu demi bayi dalam kandungan yang toh jauh lebih berharga ketimbang memaksa diri melakukan aktivitas harian normal.
|
|||||