globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

November 2001

Warna

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

JANGAN TERSESAT OLEH TAWARAN

Hampir tak ada bagian lain dari dunia perdagangan masa kini yang lebih kontroversial daripada iklan. Dimaui, diminati, bahkan dicari-cari, namun acap mengundang protes, kecaman, bahkan antipati. Kalau ini menjadi persoalan yang tak terselesaikan, jangan-jangan memang begitu dinamika iklan.

 

ilustrasi: anton Hampir setiap hari koran memuat keluhan dan keberatan konsumen dalam hubungannya dengan produk. Ada yang merasa, kenyataan yang didapat tak sesuai dengan yang diiklankan. Ada yang kecewa karena "janji" si produk tak sesuai harapan. Ada pula yang mengecam cara beriklan sebuah produk menyesatkan.

Belum lagi kritik dari sisi kemasan dan pelabelan. Ketika kritik itu diperdalam, kegemparan dan kontroversi pun bermunculan. Seperti pernah terjadi pada produk biskuit yang diisukan beracun. Juga sebuah produk mi instan yang diduga mengandung lemak babi, sebuah penyedap masakan dianggap haram bagi umat Islam. Contoh mutakhir, sebuah produk minuman kebugaran terjungkal dari pasar karena mengandung kafein dalam takaran yang lebih tinggi daripada tulisan di kemasan.

 

Sulit dipahami awam

Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan memang telah berlaku sejak 21 Juli 2000. Namun, ketika aturan itu dipenuhi, persoalan bukannya tidak ada. Sebuah produk pemanis pernah diprotes oleh seorang apoteker yang rajin menyampaikan kritik mengenai banyak hal di media massa.

Apoteker itu, Drs. Sunarto Prawirosujanto, lewat Warta Konsumen Agustus 2000 mengecam klaim "No Sugar" pada pemanis itu karena sorbitol, pemanis yang digunakan, tergolong sugar (gula). Ia juga mengritik, gambar jagung di kemasan menyesatkan. Masalahnya, sorbitol dibuat dari glukosa. Glukosa bisa dibuat dari tepung jagung, tepung kentang, tepung tapioka, atau tepung lain. Setahu Drs. Sunarto, sorbitol produksi Indonesia dibuat dari tepung tapioka. Kalau dalam brosur disebut bahwa isinya adalah gula jagung (jagungli), padahal isi sebenarnya adalah sorbitol dan aspartame, itu menyesatkan.

Corn sugar atau gula jagung, menurut Sunarto, sinonim dari glukosa/dekstrosap, bukan sinonim dari sorbitol. "Dalam brosur hanya disebutkan, isinya gula jagung, padahal 85% kemanisan produk itu berasal dari aspartame," tulisnya.

Catatan lain dalam kritik sang apoteker adalah betapa gampangnya kemasan atau iklan mencantumkan nama atau istilah teknis yang tidak banyak diketahui awam. Masih untung kalau sesuatunya itu aman-aman saja. Bagaimana kalau berisiko atau bahkan berbahaya?

Ini memang persoalan lama. Produsen mencantumkan banyak istilah yang tidak diketahui awam, namun asumsinya konsumen tahu arti istilah itu. Atau setidaknya, timbul kesan bahwa manfaat produk itu akan sama dengan pernyataan iklannya.

Ada kesenjangan antara produk dengan konsumen. Misalnya, betapa tidak mudah konsumen memahami enzim protease dalam sebuah produk sabun deterjen bisa "membersihkan sendiri" cucian tanpa harus dikucek. Sama tak mudahnya memahami betapa lyophilized marine protein, kolagen terhidrolisa, OPC dari biji anggur merah, beta-karoten, vitamin E dan C, selenium, horsetail, EPO, dan aloe vera yang terkandung dalam sebuah pil bisa menghilangkan flek hitam di kulit wajah. Bahkan kelas konsumen telepon selular pun tak banyak yang paham istilah "Calendar with SyncML", "5 Lines LCD with Grayscale", dsb. pada iklan produk telepon selular. Sama tak pahamnya konsumen mobil akan aneka istilah "Body Monocoque", "Direct Injection", "Side Impact Protection System", dll.
foto: ibas

Cerdas, pintar, tumbuh pesat karena makan roti diolesi mentega merek tertentu.

Barangkali perlu lebih banyak mediator, selain lembaga semacam Yayasan Lembaga Konsumen Indonedia dan media massa, untuk menjembatani kesenjangan ini. Sebab, idealnya, setiap iklan atau publikasi sudah mengandung kebenaran tanpa lebih dahulu diperdebatkan, sudah mengandung kejelasan tanpa harus diterangkan oleh pihak di luar iklan itu sendiri.

Tapi, apakah bisa? Kita pesimistis melihat banyaknya iklan yang dimuati istilah dan terminologi teknis, namun hanya sedikit orang yang memahami, dan belum tentu menjadi konsumennya. Padahal jelas, iklan ditujukan kepada sebanyak mungkin khalayak sasaran. Tapi karena seolah-olah yang diajak berdialog lewat medium iklan hanya kalangan yang tahu istilah itu, artinya banyak iklan yang tidak sampai pada sasaran. Bisa diduga, pencantuman istilah atau terminologi teknis sekadar sebagai "gagah-gagahan" atau "mentereng-menterengan" agar produk itu dianggap berbobot, dan syukur-syukur bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

<<  2  >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/