|
LAUT SELATAN, MENGAPA SERING MENELAN KORBAN?
Sudah tak terhitung berapa banyak korban berjatuhan di sana. Legenda
menyebut, itu karena ulah dendam Ratu Penguasa Laut Selatan. Tetapi
penjelasan ilmiahnya bicara lain.
|

|
|
Pantai
Karangpapak, Pelabuhanratu, berpanorama indah dengan pantai landai
berpasir. |
Mungkin masih lekat dalam ingatan, sekitar pertengahan tahun lalu terjadi
peristiwa tragis di Pantai Rancabuaya, Garut Selatan. Sejumlah mahasiswa
dari berbagai perguruan tinggi di Bandung yang sedang berperahu karet tewas
digulung ombak dan terseret arus Pantai Laut Selatan (sebutan populer untuk
kawasan sepanjang pantai Samudera Indonesia, terutama yang berbatasan dengan
Pulau Jawa bagian selatan - Red.).
Tidak lama berselang Pikiran Rakyat (2 dan 3 Januari 2001)
memberitakan, 15 orang tewas digulung ombak dan terseret arus di sepanjang
Pantai Pelabuhanratu, Sukabumi, dan tujuh orang di sepanjang Pantai
Pangandaran, Ciamis. Liputan Petang SCTV, 3 Januari 2001, pun
melaporkan tewasnya 15 wisatawan di Pantai Congot, Pantai Ketawang, dan
Pantai Jatimulya, semuanya di Jawa Tengah.
Kebanyakan korban adalah wisatawan domestik berusia muda, sekitar 15 - 28
tahun. Mereka berlibur ke Pantai Laut Selatan untuk menikmati keindahan
panorama bentang alam pantai, sekaligus merasakan sensasi deburan ombak yang
menggelegar karena saking besarnya.
Mendadak sontak segala keceriaan musnah. Yang tertinggal hanya kepedihan
akibat jatuhnya korban jiwa karena tergulung ombak dan terseret arus Pantai
Laut Selatan yang terkenal ganas dan tidak terduga.
Lantas muncul sejumlah pertanyaan, apa penyebab utama terjadinya musibah
itu? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apa yang mesti dilakukan agar hal
serupa tidak terulang?
Bagaimanapun, evaluasi atas peristiwa itu dan tindak lanjutnya jangan sampai
menjadi kontraproduktif, khususnya bagi dunia pariwisata, dan mengurangi
kecintaan terhadap pantai dan bahari.
Meski dengan data minim, pihak berwenang telah mencoba menjelaskan, ada tiga
faktor penyebab terjadinya musibah itu. Wisatawan kurang disiplin mematuhi
rambu-rambu larangan berenang yang dipasang oleh petugas. Kurangnya jumlah
petugas penjaga pantai. Minimnya peralatan dan perlengkapan untuk mengawasi
pantai.
Ketiga biang keladi itu bermuara kepada kesalahan manusia (human error).
Ya, wisatawan, ya, petugas. Sedangkan penyebab alamiahnya belum terungkap.
Diambil Nyi Loro Kidul
Perihal musibah itu, penduduk setempat mempunyai jawaban sederhana, yakni
para korban dipilih oleh Nyi Loro Kidul sebagai tumbal Laut Selatan. Menurut
kepercayaan mereka, para korban mungkin keturunan selir Prabu Siliwangi yang
akan dijadikan budak atau balatentara Ratu Laut Selatan. Itu sebabnya korban
biasanya masih muda belia.
 |
|
Konfigurasi
penampang landai berpasir di Samudera Indonesia, dengan zone pecah
gelombang dekat ke pantai sehingga zone paparannya relatif sempit. |
Boleh percaya boleh tidak. Namun, legenda Penguasa Laut Selatan itu hidup
secara turun-temurun di sanubari masyarakat Pulau Jawa, khususnya kaum
nelayan dan penduduk sepanjang pantai selatan Pulau Jawa (di tengah
masyarakat itu terdapat banyak versi yang berkaitan dengan legenda Penguasa
Laut Selatan - Red). Menurut legenda masyarakat pesisir selatan Jawa
Barat, Nyi Loro Kidul adalah penjelmaan dari Putri Kadita, salah satu putri
tercantik Prabu Siliwangi.
Syahdan pada masa Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran, ia
memiliki seorang permaisuri cantik dan sejumlah selir. Suatu ketika sang
permaisuri melahirkan anak perempuan cantik pula, bahkan melebihi kecantikan
ibundanya. Ia dinamai Putri Kadita, putri nan cantik jelita.
Kebaikan hati dan kecantikan Putri Kadita menimbulkan rasa iri para selir
yang takut tersisih dari hadapan Prabu Siliwangi. Mereka bersekongkol
menghancurkan kehidupan Putri Kadita dan ibunya. Keduanya diguna-guna hingga
menderita sakit kulit yang sangat parah di sekujur tubuh. Di bawah pengaruh
sihir para selir, Prabu Siliwangi pun mengusir keduanya dari keraton karena
dikhawatirkan mereka akan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan.
Dalam kondisi mengenaskan, Putri Kadita dan ibunya pergi tanpa tujuan yang
jelas. Sang permaisuri tewas dalam pengembaraan, sedangkan Putri Kadita
terus berjalan ke selatan sampai akhirnya tiba di sebuah bukit terjal di
Pantai Karanghawu dengan deburan ombak dahsyat dan pemandangan alam yang
indah. Karena amat kelelahan, Putri Kadita tertidur pulas.
Dalam tidur ia bermimpi bertemu dengan orang suci yang menasihati agar sang
putri menyucikan diri dengan melompat ke laut untuk mendapatkan kesembuhan,
mengembalikan kecantikannya, sekaligus beroleh kekuatan supranatural untuk
membalas penderitaan yang dia alami.
Begitu terbangun, tanpa ragu Putri Kadita melompat dari tebing curam ke
tengah gulungan ombak, dan tenggelam ke dasar Laut Selatan. Mimpinya pun
menjadi kenyataan. Selain sembuh dan kembali cantik, ia juga beroleh
kekuatan supranatural serta keabadian. Namun, sang putri harus tetap
bersemayam di Laut Selatan. Sejak itu ia menjelma menjadi Nyi Loro Kidul (loro
= derita, kidul = selatan), sang Ratu Penguasa Laut Selatan. Konon
banyak nelayan yang secara tidak terduga (bahasa Sunda: kawenehan)
melihat sosok putri cantik jelita yang tiba-tiba muncul dari balik gulungan
ombak.
Dengan kekuatan supranaturalnya Nyi Loro Kidul acap membalas dendam atas
penderitaan yang pernah dia alami dengan meminta korban, khususnya keturunan
para selir Prabu Siliwangi yang pernah menyakitinya. Benarkah demikian?
Entahlah.
Untuk meredam kemarahan Nyi Loro Kidul, setiap 6 April nelayan Pelabuhanratu
melakukan Upacara Laut berupa persembahan kepala kerbau dan sesaji lain.
Tujuannya, agar mendapat keselamatan, perlindungan, dan hasil tangkapan ikan
yang melimpah. Sebagai upaya melestarikan legenda itu, Samudera Beach Hotel
di Pelabuhanratu pun menyediakan kamar khusus bernomor 308 sebagai tempat
peristirahatan sang Ratu.
<<
1 2 >>
|