globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

November 2001

Warna

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Manula Peneliti di Berkeley

Untuk ketiga kalinya kembali ke tempat sama yang jauh letaknya adalah kesempatan langka. Apalagi kalau itu berlangsung dalam rentang waktu 31 tahun, tentu banyak hal telah berubah. Termasuk diri si pelaku. Ahli folklor dan guru besar Antropologi UI, Prof. Dr. James Danandjaja (67), memang harus berjuang ketika melakukan penelitian selama enam bulan di University of California, Berkeley, tahun 2000 lalu.

 

 
foto: dok. james danandjaja

Gerbang Sather Gate, pintu gerbang tradisional Kampus Berkeley. Dibangun oleh Jane Kay Sather untuk mengenang suaminya Peder Sather.

Saya beruntung memperoleh tiga kali beasiswa Fullbright grant. Pertama, sebagai mahasiswa S2 dalam Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Folklor, lebih dari 30 tahun lalu. Kedua, sebagai guru besar tamu untuk mengajar Folklor Indonesia dan Etnografi Bali, Trunyan, 20 tahun lalu. Dan yang ketiga melakukan penelitian di perpustakaan dalam rangka penulisan buku tentang folklor Amerika dalam bahasa Indonesia, tahun 2000.

Grant yang ketiga lebih karena track record saya lumayan baik. Yakni saban kali mendapat grant, saya selalu menghasilkan naskah yang diterbitkan. Mengingat usia yang makin tua, saya berharap buku folklor Amerika mendatang bukan Swan Song (nyanyian terakhir angsa sebelum meninggal).

 

Awal mula julukan "Mafia Berkeley"

Setiba di Berkeley, rasa bahagia dapat mengunjungi kampus almamater bercampur dengan rasa gamang. Hampir semua guru besar dan kawan saya sudah pensiun, bahkan ada yang sudah meninggal. Untung, yang tersisa masih ingat saya. Salah satunya Prof. Dr. Elizabeth Colson, ahli Antropologi Afrika. "Jimmy, is that you?" sambutnya dengan menyebut nama panggilan saya.

Waktu saya menyampaikannya ke Prof. Dr. Laura Nader, ia berkomentar, "Siapa yang bisa lupa pada you, with your ever smiling face?" Lebih luar biasa adalah Prof. Dr. George M. Foster yang sudah sangat sepuh, mendekati 90 tahun, sehingga berjalan pun sangat susah. Namun pikirannya masih sangat jernih. Buktinya, ia masih ingat saya pernah makan siang di rumahnya.

Kini nama Prof. Foster dan istrinya diabadikan untuk ruang perpustakaan Department of Anthropology UC-Berkeley di Gedung Kroeber. Dua puluh tahun lalu nama itu belum ada. Berkat sumbangan dana pribadi mereka untuk menyelamatkan perpustakaan, nama mereka pun diabadikan. Karena urusan fulus pula, Lowie Museum pada jurusan Antropologi kini menjadi Hearst Museum of Anthropology.

Kedatangan pertama saya pada 1969 sangat berkesan. Karena bersama kelompok dari Program Ilmu Sosial Dasar yang beranggotakan tujuh orang - Juwono Soedarsono, Soerjono Soekanto, Gondomono, Basoeki Soehardi, Imran Manan, Pajung Bangun, dan Budiman Kristiananta - bertepatan dengan gerakan Kebebasan Berbicara dalam rangka anti-Perang Vietnam di UC-Berkeley. Oleh redaktur Majalah Rampart yang kekiri-kirian kelompok kami dijuluki "Berkeley mafia". Tetapi kemudian julukan ini menempel pada para ekonom yang berhasil membenahi ekonomi Indonesia di masa Orde Baru seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, dll.

 
foto: ibas
foto: ibas

Lain sekarang lain dulu, 30 tahun silam. Di samping beruang batu maskot UC-Berkeley. Kalau diperhatikan, ada yang tidak berubah, apanya ya?

Dipinjami televisi milik sendiri

Tidak mudah melakukan penelitian di UC-Berkeley di usia senja. Banyak kendala fisik, sehingga saya tidak mampu berjalan di area kampus yang berbukit-bukit itu. Untuk urusan administrasi saya harus menuju gedung yang letaknya berjauhan. Karena keharusan, saya pun melakukannya dengan tertatih-tatih.

Untung saya memperoleh apartemen di Kota Oakland yang hanya beberapa blok dari perbatasan Kota Berkeley, sehingga dapat mencapai kampus dengan bus. Bus di Berkeley dan Oakland sangat ramah pada orang usia lanjut. Bagi orang tua dan penyandang cacat tubuh tersedia tempat duduk di deret paling depan. Kursi dapat dilipat agar dapat dipasangi kursi roda bagi yang lumpuh.

Itu sebabnya, selama di AS saya tidak mengecat rambut, sehingga rambut saya berwarna milenium alias perak. Saat baru tiba dengan warna rambut hitam hasil pengecatan, saya diprotes oleh mantan guru besar saya, "Jim, biarkan rambutmu berwarna perak. Hargailah usia tuamu!" Selain itu ongkos mengecat di Berkeley sedikitnya AS $ 20 (sekitar Rp 180.000,-). Sedangkan di Depok cuma Rp 24.000,-.

Selain itu, di AS orang tua (senior citizen) sangat dihargai. Orang berusia di atas 60 bisa memperoleh kartu pengenal usia lanjut. Mereka dapat membeli karcis bus setengah harga. Saya sebenarnya malas mengurus, namun didesak oleh pegawai penjual karcis abonemen. "Itu hakmu, pergunakanlah hak itu!" anjurnya.

Di AS orang tua sangat dimanja. Di University of California tidak ada lagi dosen yang boleh dipensiunkan. Bila seorang guru besar telah sampai usia pensiun dan bersedia dipensiunkan, ia akan mendapat banyak sekali kompensasi, sehingga mereka menjadi orang yang sangat berkecukupan setelah pensiun. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Seorang pensiunan guru besar hidup sangat merana, karena gaji sewaktu belum pensiun saja tidak mencukupi. Umumnya masa pensiun bagi guru di Indonesia sangat mengerikan. Sangat berbeda dengan di AS, karena di sana ada gerakan ageist, yakni gerakan perlindungan bagi orang lanjut usia dari diskriminasi.

Namun, jangan mengira bahwa AS adalah surga. Terbukti ada warganegara yang tersisihkan. Di beberapa bagian Kota San Francisco dan Oakland ada daerah kumuh. Saban hari saya menjumpai orang-orang yang mengalami gangguan mental. Omong sendiri, bernyanyi-nyanyi, mengucap mantra, mencerca sopir bus, dsb. Kebanyakan mereka orang Amerika Afrika, dulu disebut Negro.

Selama di AS, saya selalu berjaket hitam. Rupanya, saya dikira pengungsi (refugee), sehingga pernah dipanggil oleh sopir bus untuk meneliti karcis abonemen saya. Di bus banyak penumpang cacat tubuh. Ada seseorang berusia kurang dari 30-an, tak hanya buta, separuh wajahnya pun rusak bekas tersiram air keras. Di dalam bus, kadang ada orang lumpuh akibat stroke. Itu semua menyadarkan saya, betapa gawat hidup manusia di dunia ini.

Untuk menghilangkan home sick, saya membuat jadwal kegiatan yang sangat padat. Untung setiba di Berkeley, mantan guru saya, Prof. Dr. Herbert Phillips, meminjamkan televisi putrinya, Heather. Lucunya, TV merek Toshiba itu milik saya 20 tahun lalu.

Dulu, karena harus kembali ke Indonesia, saya hadiahkan TV itu untuk Heather yang baru berusia tujuh tahun. Ia sangat girang karena petang harinya berencana mengadakan pesta pajamas party bersama kawan-kawan perempuan yang akan menginap di rumahnya, dan semuanya mengenakan piyama. Kini Heather menjelma jadi remaja putri yang kuliah di UC-Berkeley.

TV itu masih prima. Heather pun sudah memiliki TV model mutakhir, sehingga TV hadiah dari saya itu dipinjamkan kepada saya. Heather bilang, kelak ia akan mewariskan TV mungil itu kepada putrinya.

 

 

<<  2  >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/