|
|
November 2001 Warna |
|
CARA MUDAH MEMILIH RAKET TENIS Memilih raket tenis memang tidak mudah. Untuk mengurangi frekuensi gonta-ganti raket, kita mesti memperhatikan variabel yang melekat pada sebuah raket saat memilihnya. Apa saja?
Sebelumnya kita juga memiliki Yayuk Basuki. Pada 1991 ia berhasil menduduki peringkat 50 dunia. Peringkat ini berhasil dipertahankannya selama enam tahun. Bahkan, atlet profesional ini sempat bertengger di peringkat 20 WTA, di antaranya sebagai hasil turnamen Australia Terbuka 1998. Sudah tentu prestasi mereka tergantung banyak faktor. Salah satunya, raket yang sesuai dengan kondisi fisik dan tipe permainan mereka. Memang, perlu waktu untuk menemukan raket yang paling cocok, bahkan untuk pemain kaliber dunia sekalipun. Untuk atlet top macam Yayuk dan Angie penentuan pilihan semata-mata didasarkan pada kemampuan raket pilihan itu dalam mendukung prestasi mereka.
Sebaliknya, pada pemain yang memandang tenis sekadar untuk berolahraga,
pemilihan raket tenis umumnya lebih didasarkan pertimbangan harga. Kondisi
fisik dan gaya permainan acap kali tidak diperhitungkan. Yang terjadi
kemudian, kemampuan bermainnya berkembang lambat. Itu tidak akan terjadi
jika ia memilah dan memilih secara cermat raket tenis yang paling pas
baginya.
Dari luas bidang pukul hingga anyaman senar Di toko alat-alat olahraga, pasti bisa ditemukan banyak tipe raket tenis dengan berbagai ukuran. Tipe raket tertentu akan cocok untuk petenis yang memiliki gaya permainan tertentu pula. Nah dalam tiap tipe raket melekat beberapa variabel, yaitu luas bidang pukul (hitting area), panjang, fleksibilitas, material, bobot, ukuran pegangan, dan jumlah anyaman senar. Variabel-variabel inilah yang mesti kita perhatikan ketika memilih sebuah raket tenis. Luas bidang pukul (LBP) raket yang tersedia sekarang setidaknya ada tiga ukuran yakni mid-size, oversize, dan super oversize. Ukuran-ukuran ini menentukan stabilitasnya ketika raket digunakan. Sekadar gambaran, raket oversize memiliki stabilitas lebih rendah ketimbang yang midsize. Yang dimaksud stabilitas adalah seberapa jauh pegangan oleng ketika pukulan meleset di luar hitting area yang paling enak (sweet spot). Variabel ini perlu diperhitungkan karena tidak ada pemain yang selalu dapat memukul bola tepat pada sweet spot, bahkan pemain tingkat dunia sekalipun.
Panjang raket yang tersedia pun sekarang bervariasi antara 27 - 28,5 in (sekitar 68,6 - 72,4 cm). Keuntungan memakai raket panjang adalah jangkauan lebih baik, terutama saat melakukan service. Dengan raket panjang kemungkinan bola service masuk lebih besar. Bisa dibayangkan, pemain jangkung macam Pete Sampras dan Goran Ivanisevic, yang bertinggi badan di atas 190 cm akan dengan mudah menghunjamkan bola service-nya berkat kelebihan jangkauan tangan mereka. Apalagi bila menggunakan raket panjang. Sebaliknya, raket panjang menghambat manuver di muka net. Semakin pendek ukuran raket, semakin cepat dan mudah manuver bisa dilakukan pemain. Bahan baku rangka raket tenis kini juga semakin bervariasi. Ini mencerminkan kesinambungan inovasi pembuat raket untuk memenuhi fungsi raket. Raket harus kuat untuk menahan tegangan senar dan beban tumbukan bola yang berulang-ulang. Raket juga harus cukup ringan agar mudah digerakkan dengan cepat dan mempunyai stabilitas tinggi. Dalam sejarah pertenisan, ada banyak bahan yang telah digunakan dalam pembuatan raket. Dari kayu hingga titanium. Bahan baku tersebut bagaimana pun ikut menentukan fleksibilitasnya. Raket berbahan kayu bersifat kaku (stiff. Bahan serat kaca (fiberglass) akan membuat raket menjadi lentur. Graphite dan high-modulus graphite memberikan kekakuan. Kevlar dan keramik pun memberi sifat sangat kaku pada raket. Sementara titanium memberikan sifat ringan dan kuat pada sebuah raket. Raket lentur akan menambah daya dorong (power). Sebaliknya, yang kaku akan memperbaiki kontrol karena rangka tidak terdefleksi saat bertumbukan dengan bola. Bobot raket juga bervariasi dari yang ringan hingga berat. Bobotnya mulai dari sekitar 8,5 oz (sekitar 240 g) seperti pada Wilson Hyper Hammer 3.3 sampai 13 oz (sekitar 370 g) seperti pada Pro Kennex Black Ace Tour. Raket ringan akan kalah stabil dibandingkan dengan yang berat. Namun, raket ringan dapat bermanuver lebih cepat. Sementara yang berat akan lebih mantap atau tak mudah oleng jika memukul bola di luar sweet spot. Karena raket sekarang cenderung menjadi ringan, stabilitas cenderung pula menjadi korbannya, sehingga stabilitas raket ini mendapatkan perhatian lebih besar dalam pembuatan raket ringan. Untuk memperbaiki stabilitas itu, pembuatnya menempuh berbagai cara. Pada Prince seri Triple Threats umpamanya, diaplikasikan jalinan graphite, titanium, dan copper pada rangkanya di posisi pk. 2.00, 10.00, dan pegangan. Cara ini diklaim dapat meningkatkan stabilitas. Sedangkan Wilson pernah membuat Perimeter Weighting System, yaitu pemberat pada posisi pk. 9.00 dan 3.00. Pada seri hyper carbon digunakan bahan ultra high modulus graphite di titik-titik tertentu pada rangka.
|
|||||||