|
|
November 2001 Warna |
|
SD di Amerika: Relaksasi di Kelas Dalam proses belajar-mengajar di Indonesia ada kesan murid dan guru terbebani kurikulum. Metode pengajarannya pun bersifat satu arah. Akibatnya, hasil yang diperoleh kurang maksimal. Tidak ada salahnya kalau metode yang diterapkan di Amerika Serikat berikut dipelajari. Kalau mungkin, ditiru dengan beberapa penyesuaian.
Berguru pada kakak kelas Salah satu sekolah yang dikunjungi bernama Liesman Elementary School. Salah satu yang menarik di sini adalah murid ternyata dapat pula dijadikan asisten guru. Itulah yang tampak di suatu ruang kelas khusus untuk belajar komputer. Di kelas tersebut setiap komputer dihadapi oleh dua orang murid. Setelah dijelaskan oleh guru baru diketahui bahwa salah satu dari murid itu bertindak sebagai "guru" dan yang seorang lagi bertindak sebagai murid. Sang "guru" berasal dari kelas V dan si murid kelas III. Menurut keterangan guru tersebut, sistem pengajaran yang dinamai mix class ini berlangsung sekali seminggu. Setiap kali pertemuan berlangsung selama 45 menit. Mata pelajaran yang menggunakan sistem mix class ini tidak cuma komputer, tapi juga beberapa mata pelajaran lain. Sistem mix class yang sudah berlangsung lama ini masih diteruskan karena ternyata bermanfaat bagi siswa. Murid yang mengajar akan semakin menguasai mata pelajaran yang diajarkannya. Selain itu, mereka menjadi lebih bertanggung jawab dan cepat matang dalam arti positif.
Sementara, murid merasa lebih nyaman belajar dengan kakak kelas. Mereka
lebih mudah dan lebih berani mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan
pelajaran. Pada diri mereka juga tertanam sikap positif yaitu perlunya
saling menolong sesama murid. Dengan begitu mereka juga akan terdorong untuk
melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Conference Sign Up Berkonsultasi dengan guru adalah hal yang sangat langka ditemui di sekolah-sekolah kita. Apalagi pada tingkat sekolah dasar. Bahkan mahasiswa pun sangat jarang membicarakan kesulitan mereka dengan dosen penasihat akademis yang sudah ditetapkan untuk mereka. Umumnya mahasiswa cuma datang ke dosen penasihat akademis ketika harus meminta tanda tangan sebagai tanda persetujuan pengisian kartu rencana studi setiap awal semester. Hal sebaliknya terjadi di Amerika. Mengkonsultasikan masalah dengan guru adalah hal lazim. Sejak sekolah dasar murid-murid sudah dibiasakan untuk berani membicarakan masalah yang mereka hadapi, terutama yang berkaitan dengan pelajaran, dengan guru.
Demikian banyaknya murid yang ingin berkonsultasi dengan guru, pihak sekolah
harus menyiapkan sebuah papan tulis kecil yang ditempelkan di dinding kelas.
Pada bagian atas papan tulis tertulis "Conference sign up"
yang maksudnya kira-kira pendaftar untuk konsultasi. Setiap murid yang akan
berkonsultasi dengan guru menuliskan namanya di papan tulis tersebut.
Kemudian guru menuliskan waktu yang disediakan bagi setiap murid yang telah
mendaftar. Biasanya jadwal konsultasi yang disediakan guru adalah ketika jam
istirahat.
Mendidik dengan tulisan Cara lazim mendidik murid untuk berbuat sesuatu yang baik adalah dengan berulang-ulang memberitahukan apa saja hal baik yang harus dilakukan kepada mereka. Namun, jika terlalu sering mengulang hal-hal yang sama, murid juga jadi bosan mendengarkannya. Guru yang terlalu sering memberitahukan hal yang sama kepada murid akan dinilai sebagai guru cerewet. Selain itu guru pun belum tentu ingat dengan rinci hal-hal yang perlu disampaikannya kepada murid setiap waktu. Dengan beberapa pertimbangan tadi, di ruang-ruang kelas banyak ditempelkan pesan-pesan tertulis untuk murid. Melalui pesan-pesan tertulis itu guru (sekolah) mendidik murid. Setiap saat murid dihadapkan pada pesan-pesan yang ada di sekitarnya. Secara periodikal, pesan-pesan tertulis ini diganti dengan pesan lain. Semua materi yang perlu disampaikan kepada murid melalui pesan-pesan tertulis akhirnya dapat diketahui murid. Agar murid lebih punya perhatian terhadap pesan-pesan yang ditempelkan, guru dapat menunjuk pesan tertulis yang relevan ketika menegur atau mengingatkan murid yang membuat kesalahan. Murid dapat pula diminta menunjukkan pesan mana yang telah dilanggarnya. Pesan-pesan yang ditulis antara lain seperti: How to be good students (cara menjadi murid yang baik); How to improve your reading skill (cara meningkatkan keterampilan membaca), dan sebagainya. Salah satu contoh pesan tertulis yang ditempelkan di dinding kelas yang sempat penulis catat adalah seperti di bawah ini. How to apologize: 1. Look at the person 2. Use a pleasant voice 3. Say, "I am sorry." And tell why. 4. Don't repeat the same behavior Dalam bahasa Indonesia, pesan tersebut kira-kira menjadi, Cara meminta maaf: 1. Lihat (tatap) orang tersebut 2. Gunakan suara lembut (menyenangkan) 3. Katakan, "Saya minta maaf." Lalu sebutkan alasannya
4. Jangan ulangi kesalahan (sikap) yang sama.
Belajar sambil tiduran di lantai kelas Betul, murid diperbolehkan oleh gurunya untuk tiduran di lantai saat belajar. Umumnya sekolah dasar di sana memiliki ruang belajar berlantaikan karpet empuk. Juga tersedia beberapa bantal yang bisa digunakan murid sebagai alas kepala waktu berbaring di lantai. Setelah semua murid mendapatkan posisi yang nyaman, umumnya tiduran, guru membacakan sebuah buku cerita. Waktu membacakan cerita, guru juga duduk santai di lantai. Semua murid dengan penuh perhatian menyimak apa yang dibacakan guru. Buku cerita tersebut dibacakan guru secara bersambung. Jadi setiap ada mata pelajaran membaca, guru melanjutkan membacakan cerita yang belum selesai untuk murid. Setelah kegiatan membacakan buku cerita selesai, guru menyuruh murid mengambil buku cerita yang telah dipilihnya dari lemari buku ruangan tersebut. Kemudian setiap murid membaca buku cerita pilihannya dengan gayanya masing-masing. Sama dengan buku cerita yang dibacakan guru, buku cerita yang dibaca murid pun harus diselesaikan secara bersambung. Kegiatan belajar semacam ini juga ditemukan pada sekolah dasar lain yang saya kunjungi. Jam pelajaran berakhir setelah kegiatan membaca mandiri selesai. Selanjutnya murid menuju kelas lain untuk belajar matematika. Sedangkan Mrs. Platt, begitu sang guru dipanggil, menunggu murid dari kelas lain untuk belajar membaca.
|
|||||