|
|
November 2001 Warna |
|
Tukang Becak Myanmar Fasih Berbahasa Inggris Sebagai staf salah satu organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saya kerap ditugaskan melakukan inspeksi ke berbagai negara di Asia maupun Afrika. Perjalanan terakhir saya ke Yangon, ibukota Myanmar. Karena pos saya di Wina, Austria, saya harus menempuh perjalanan cukup panjang ke negara tersebut.
Rupanya penerbangan internasional ke sana sangat terbatas. Untungnya, setiba
di Bangkok, Thailand, ada penerbangan menuju Dhaka (Bangladesh) yang mampir
di Yangon. Dengan Boeing 737-300 Biman Air milik Bangladesh, akhirnya saya
tiba di Yangon setelah menikmati santapan sederhana berupa dua potong kue
kering dari tepung terigu dan sepotong pastel.
Prianya bersarung Minggu pukul 13.00 pesawat mendarat di Yangon. Saya kaget, karena suasananya seperti hari Jumat di tanah air. Setiap lelaki dewasa mengenakan sarung dan bersandal jepit. Termasuk di antaranya U Myo Min, dokter Myanmar lulusan Universitas Tsukuba Jepang yang menjemput saya. Ternyata tak hanya masyarakat biasa, dokter dan pejabat tinggi - kecuali militer - mengenakan pakaian harian yang sederhana itu.
Sebagai petugas dari PBB, saya tidak diwajibkan menukar uang dolar dengan uang setempat yakni Foreign Exchange Certificate (FEC) yang nilainya sebanding dengan dolar AS. Namun di pasar gelap saya berhasil memperoleh 38.000 kyat(mata uang yang berlaku sehari-hari) untuk AS $ 100. Beruntung saya menginap di sebuah hotel berbintang empat yang terletak tidak jauh dari pagoda. Setiap sore tampak betapa indah patung Buddha bermandikan sinar matahari senja. Di hari pertama, tugas saya mengunjungi sebuah rumah sakit umum Yangon. Rumah sakit itu dibangun oleh pemerintah kolonial Inggris lebih dari 100 tahun lalu, yakni tahun 1899. Bangunan asli dengan bata telanjang merah marun itu tampak anggun, namun kurang terawat. Di sana-sini di antara susunan batu merah, tumbuh lumut dan daun pakis. Perluasan rumah sakit pun dilakukan hanya dengan tambal sulam karena kurang dana. Rumah sakit pemerintah satu-satunya di Yangon ini mempunyai kapasitas 1.500 tempat tidur. Petugas yang melayaninya sekitar 1.800 pegawai, di antaranya 300 dokter dan 400 tenaga paramedis. Myanmar cukup bangga karena mempunyai banyak dokter spesialis lulusan Inggris dan Amerika. Namun karena situasi politik yang tidak menentu, kini pemerintah lebih mengutamakan mengirimkan dokter spesialis mudanya belajar ke Jepang, Singapura, atau Thailand. Ruang-ruang pasiennya pun tampak sederhana. Perbedaan antara kelas yang satu dengan yang lain tidak tampak mencolok. Malah di sana tidak tersedia kelas VIP atau VVIP, sebagaimana yang ada di Indonesia. Di ibukota tersebut terdapat sejumlah rumah penduduk dan vila besar dengan halaman luas, yang sayangnya tampak lusuh. Saya bayangkan, dulunya bangunan itu pasti amat indah.
Acara menarik saya alami saat saya diajak ke sebuah restoran terapung di
tengah kota. Tempat ini terkesan mewah dengan gapura berbentuk burung garuda
raksasa berwarna keemasan, di atas jembatan yang menghubungkannya dengan
daratan. Restoran Karwei yang relatif masih baru itu menghidangkan makanan
khas Burma dan Eropa. Sebagai acara hiburan disuguhkan tarian modern
Myanmar, akrobat, dan pertunjukan boneka.
Lima kali pemeriksaan
Setelah menyelesaikan tugas di Yangon, hari ke-4 saya terbang ke Mandalay. Di luar dugaan, ternyata tidak sulit memperoleh tiket pesawat ke kota ini. Harga tiketnya pun murah, sehingga saya dapat mengajak serta rekan saya. Dengan Myanma (tanpa "r") Air yang menggunakan pesawat Boeing 737 yang tampak kurang terawat, kami menuju Mandalay. Sekilas, bandara di Yangon mengingatkan pada lapangan udara Halim Perdanakusuma Jakarta. Kami harus melewati paling tidak lima pemeriksaan administratif maupun barang. Tiket dicap, paspor diperiksa dan dicatat, tapi anehnya petugas tidak memberikan boarding pass. Tiket terdiri atas beberapa halaman dengan tulisan lokal. Satu-satunya tulisan yang saya pahami hanya tanggal, nama saya, tujuan, dan harga tiket. Herannya, jam keberangkatan dan nomor tempat duduk pun tidak tercantum. Saya hanya pasrah pada teman saya. Pagi itu ada beberapa penerbangan dengan pintu keberangkatan yang sama. Pengumuman keberangkatan dilakukan secara lisan dengan berteriak. Tiap kali ada teriakan teman saya harus bertanya agar tidak salah naik pesawat. Kejutan berikutnya menanti dalam kabin pesawat. Benar, karena tidak ada nomor tempat duduk, setiap menumpang dipersilakan memilih sendiri kursinya. Hebatnya, tidak satu penumpang pun main dorong atau berebut tempat. Beruntung saya berhasil duduk di sebelah teman saya. Sebagian besar penumpang adalah penduduk setempat, pedagang, atau orang yang akan menengok sanak keluarga. Hal lain, tidak ada peragaan cara mengenakan sabuk pengaman, rompi air, dan tabung oksigen oleh pramugari, karena penumpang dianggap sudah mengerti! Pemandangan di perjalanan cukup indah. Di bawah tampak jelas amparan sawah luas yang dibelah oleh Sungai Irawadi. Penerbangan ternyata tidak langsung ke Mandalay, melainkan mendarat sebentar di Bagan, sebuah desa berbandara. Tempat ini terdiri atas beberapa pagoda besar maupun kecil. Suasananya benar-benar sepi, sepertinya tidak ada perumahan penduduk. Pilot maupun awak pesawat tidak menginformasikan sedikit pun bahwa pesawat akan mendarat di situ. Setiba di Mandalay, kami disambut udara panas dan kering menyengat. Sekali lagi kami dijemput oleh staf rumah sakit setempat yang juga cuma bersarung dan bersandal jepit! Namun para pria berwajah ramah itu lancar berbahasa Inggris.
|
|||||||||