|
|
Oktober 2001 |
|
|
Relasi yang Berdaya Sembuh
Akhir-akhir ini carut-marut relasi antarinsan di Indonesia semakin diwarnai berbagai kerusakan yang amat memprihatinkan. Warga Indonesia menuding sesamanya sebagai penjahat, lalu dia menghasut kerumunan warga lainnya untuk segera menghakimi orang yang dituding sebagai penjahat itu. Dalam sekejap, orang malang itu benar-benar tewas ditendangi, dipukuli, bahkan dibakar beramai-ramai. Kejadian seperti itu merepresentasikan fenomena: Warga Indonesia membunuh warga Indonesia. Fenomena seperti itu tidak hanya terjadi dalam skala kecil sekelompok warga masyarakat seperti terlukiskan dalam kisah di atas. Ia juga menjelma dalam skala lebih besar, berupa pembunuhan massal yang terjadi antara satu suku dan suku lainnya, atau kelompok satu dengan kelompok lain. Bahkan fenomena warga Indonesia membunuh warga Indonesia, terjadi juga di tengah pertikaian elite politisi, insan-insan yang biasa disebut sebagai "kaum intelektual".
Memang di situ kata "membunuh" tidak berarti menghilangkan nyawa secara fisik. Namun dalam kenyataan politik sehari-hari, elite politisi yang satu berupaya mati-matian, dengan menghalalkan segala cara termasuk memanipulasi hukum dan aturan, untuk menyingkirkan elite politisi lain. Mereka membolak-balik Buku Tata Tertib atau Kitab Hukum, bukan untuk menertibkan perilaku dan tindakan agar semuanya sesuai dengan tata tertib dan hukum, namun justru untuk mencari celah-celah yang memungkinkan mereka mewujudnyatakan tindakan yang bisa secara telak menyingkirkan lawan politiknya. Di tengah merebaknya fenomena warga Indonesia membunuh warga Indonesia, relasi antarinsan menjadi terkorbankan. Di tengah perebakan fenomena itu, orang Indonesia makin melupakan betapa sesungguhnya kualitas relasi antarinsan adalah hal teramat penting demi perwujudan kehidupan yang bisa dinikmati secara wajar dan aman. Siapa bisa hidup enak dan wajar di tengah suasana yang diresapi rasa takut, waswas, curiga, permusuhan, dan rasa tidak tenteram? Tiada satu orang pun, termasuk setiap elite politisi, yang kini gemar merusak kualitas relasi antarinsan dengan berbagai sikap, dan tindakan yang cuma dilandasi nafsu menyingkirkan sesamanya. Di tengah kondisi seperti sekarang ini, kita harus berjuang untuk kembali mengingat, betapa memang kualitas relasi antarinsan sangat penting untuk perwujudan kehidupan yang bisa dinikmati. Bahkan lebih dari itu, kualitas relasi antarinsan sangat menentukan kualitas kehidupan pada umumnya. Relasi antarinsan yang buruk pasti akan menyebabkan kehidupan sehari-hari yang buruk, sehingga tidak bisa dinikmati oleh siapa pun. Mungkin ilustrasi berikut ini bisa menggugah kembali ingatan kita akan pentingnya kualitas relasi antarmanusia. Nini adalah seorang ibu muda berusia 29 tahun yang sering dilanda ketakutan. Lantaran tidak tahan mengalami serangan ketakutan berulang-ulang, akhirnya ia berkonsultasi dengan seorang konselor. Menurut pengakuannya, Nini sering dilanda ketakutan parah hanya karena masalah sepele atau kejadian kecil yang mengusik rasa aman dalam dirinya. Ketika mendengar berita bahwa rumah tetangga di seberang jalan dibobol pencuri, seketika Nini merasa amat ketakutan, sampai dia merasakan betapa dirinya bakal tidak bisa meneruskan kehidupan. Dalam kondisi ketakutan itu, dia merasa seperti "nyawanya mau dicabut". Pada suatu hari suami Nini terserang flu dan suhu tubuhnya cukup tinggi. Begitu melihat suhu badan suaminya mencapai 39,6oC, Nini kontan panik sampai-sampai ia tidak lagi bisa mengendalikan diri. Sudah banyak orang menasihati Nini agar belajar menenangkan diri. Teman-temannya mengatakan bahwa ketakutan yang dialami Nini terlalu berlebihan. Di sana-sini kawan-kawan menyampaikan ucapan yang menenangkan Nini, dan membesarkan hati ibu muda ini. Meskipun bisa menerima semua nasihat dan ucapan itu, toh setiap kali Nini tetap dilanda serangan ketakutan luar biasa. Rupa-rupanya, sekadar nasihat atau ucapan yang memberikan jaminan rasa aman, tidak cukup untuk membantu Nini keluar dari kepungan rasa takut yang tiba-tiba menyerang dirinya. Dalam percakapan dengan konselor terungkap bahwa sejak kecil hingga saat sebelum menikah, Nini sangat dekat dengan ayahnya. Dia melukiskan ayah kandungnya sebagai "orang yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan baik". Relasi sehari-hari dengan sang ayah merupakan "sumber rasa aman" bagi Nini. Frase "relasi sehari-hari" itu patut diberi tekanan. Rasa aman yang bisa dinikmati Nini tidak berasal dari ucapan atau omongan yang membesarkan hati. Rasa aman itu hanya bisa diperoleh atau bersumber dari relasi sehari-hari riil yang dialami Nini. Tidak heran, ketika teman-teman dan kerabat mengobral kata-kata atau nasihat guna menenteramkan hatinya, Nini tetap dilanda ketakutan. Bagi Nini, kata-kata dan nasihat-nasihat, betapa pun bagusnya, tidak akan memberi rasa aman yang riil. Dalam
kenyataannya, sejak saat pernikahannya tiga tahun lalu, ibu muda ini
kehilangan relasi riil sehari-hari yang memberinya rasa aman. Salah satu
konsekuensi pernikahannya adalah kenyataan bahwa ia harus meninggalkan sang
ayah. Padahal sejak masa kecil, keberadaan ayah di sisinya sangat penting
untuk Nini, karena relasi riil sehari-hari yang terjalin dengan ayah
kandungnya sungguh merupakan sumber rasa aman baginya. Toh, Nini masih beruntung, memiliki suami yang sudi belajar dan memahami dirinya. Penjelasan konselor tentang hilangnya relasi yang menjadi sumber rasa aman dalam kehidupan Nini, segera menyadarkan sang suami untuk segera berubah dan mengambil alih peran ayah mertua. Demi penyembuhan Nini, sang suami mau memperjuangkan secara sadar perwujudan relasi riil sehari-hari dengan Nini, yang memberi rasa aman buat Nini. Lewat perwujudan relasi riil seperti itu, Nini mengalami kesembuhan. Dia tidak lagi diserang ketakutan yang tidak masuk akal. Kisah itu menegaskan betapa pentingnya kualitas relasi antarmanusia demi suatu kehidupan yang bisa dinikmati dengan baik dan wajar. Bahkan kualitas relasi antarmanusia yang baik punya daya menyembuhkan. Maka dengan mudah bisa kita mengerti hal sebaliknya: relasi antarinsan yang buruk pun bisa memiliki daya mewujudkan penyakit, ketidaktenteraman, kecurigaan, rasa waswas, dan rasa tidak aman. (dr. Limas Sutanto, Sp.K.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang) |
||||||
|
|
|||||||