|
|
Oktober 2001 Halaman Hijau |
|
KONSUMSI YANG DIBUTUHKAN, BUKAN YANG DIINGINKAN Menyadari bumi tempat kita berpijak hanya satu, maka Organisasi Konsumen Internasional khususnya di wilayah Asia – Pasifik (CI – ROAP) merumuskan Program Kehidupan Berkelanjutan (Living As If the Earth Mattered). Tema besar itu kemudian dijabarkan dalam program konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption), suatu gerakan moral yang dilakukan secara sadar terhadap pola atau perilaku berkonsumsi dengan meminimalkan dampak pada lingkungan. Kunci dari konsumsi berkelanjutan adalah kebutuhan, bukan keinginan. Kita seharusnya mengonsumsi apa yang kita butuhkan saja, dan bukan pada apa yang kita inginkan. Inilah inti dari konsumerisme. Sebab, jika kita berbicara keinginan, maka langit pun tidak bisa menjadi batas. Tapi jangan dikacaukan dengan konsumtivisme. Sejatinya kedua kata itu berada dalam kutub yang berlawanan. Konsumtivisme justru mengarah kepada kerusakan alam akibat masih lemahnya apresiasi konsumen akan aspek lingkungan. Nah, konsumsi berkelanjutan mencoba memformulasikan tingkat apresiasi itu. Apa contoh nyata yang bisa kita lakukan sesuai dengan program itu? Mengelola sampah domestik, syukur-syukur daur ulang; membiasakan diri menanam bahan makanan yang dikonsumsi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran; menggunakan produk ramah lingkungan; mengakrabi dan mengutamakan produk lokal; menggunakan transportasi berwawasan lingkungan; membeli pakaian hanya jika benar-benar perlu; memperbaiki barang yang rusak dan mendayagunakan barang bekas; adanya etika moral produsen; serta turut aktif dalam kampanye lingkungan.
Hal tersebut di atas merupakan beberapa indikator yang bisa dipakai sebagai tolok ukur seberapa besar apresiasi kita pada potensi alam yang sesungguhnya terbatas. Untuk mengetahui sebaran beberapa indikator tadi dalam masyarakat, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan survei di beberapa kota di Jawa dengan kategori masyarakat pedesaan dan perkotaan pada tahun 1998. Hasilnya, berturut-turut, untuk rumah tangga wilayah perkotaan dan pedesaan menunjukkan angka 37,6% dan 37,4%. Artinya, dari 1.000 responden yang disurvei (906 kuesioner kembali dan memenuhi seluruh pertanyaan yang disediakan) belum ada separo dari mereka yang "selalu dan sering" menerapkan pola konsumsi berkelanjutan. Sisanya lebih banyak cuek bebek. Ada beberapa poin yang direspon positif di atas 50% baik oleh rumah tangga pedesaan maupun rumah tangga perkotaan: tidak membuang sampah sembarangan, mencari makanan atau produk lokal, membeli pakaian hanya jika memerlukan, serta lebih suka membeli barang bekas daripada barang baru. Dibandingkan dengan rumah tangga perkotaan, rumah tangga pedesaan lebih unggul dalam hal memperbaiki barang yang rusak. Masyarakat perkotaan cenderung membeli yang baru. La iya, ngapain, repot-repot memperbaiki, toh banyak yang baru. Kira-kira begitu kilah mereka. Merujuk hasil itu, ada hal mendasar yang perlu dipahami bahwa masyarakat konsumen (berarti semua komponen masyarakat, tidak ada dikotomi desa atau kota), baik secara sadar maupun tanpa sadar, mempunyai kontribusi perusakan terhadap alam. Pertanyaannya, sejauh mana kita berupaya untuk mampu meminimalisasi adanya dampak kerugian akibat pola konsumsi yang tidak bisa kita hindari. Setidaknya bila setiap individu atau rumah tangga telah tumbuh kesadaran untuk menerapkan pola konsumsi berkelanjutan, maka potensi alam bisa lebih lama kita nikmati. Bukankah sering didengungkan bahwa kita meminjam bumi ini dari anak cucu kita? Nah, kalau meminjam, ya mari kita kembalikan dengan kondisi yang baik. Jangan terus dirusak begitu. Itu namanya tidak tahu diri! (Prehati, staf bidang pendidikan YLKI) |
|||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
Air & Udara - Flona
- Infotekno - Langlang
- Perkara - Terapi
- Terapi Alternatif - TerCubuk |