globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Tragedi Manajemen Anggaran

 

Ada semacam keyakinan bahwa para manajer Barat memiliki keunggulan dalam manajemen perencanaan ketimbang manajer Timur. Keyakinan itu makin diperkuat fakta krisis ekonomi multidimensional yang melanda sebagian besar negara Asia sejak 1996 yang memang dapat dikatakan sebagian besar adalah akibat kekeliruan manajemen perencanaan, terutama dalam hal anggaran! Anggapan itu mungkin benar, namun bukan berarti para ahli manajemen perencanaan Barat tidak pernah keliru! Sebab seahli-ahlinya para ahli yang paling ahli pun, mereka tetap manusia biasa, yang tidak sempurna, maka tidak mungkin lepas dari kekeliruan.

Salah satu kisah rekor kekeliruan manajemen anggaran paling parah dalam sejarah ekonomi umat manusia, adalah kasus produksi perdana pesawat terbang supersonik jenis Concorde, yang didanai para pembayar pajak dua negara adikuasa ekonomi, yakni tak kurang dari Prancis dan Inggris. Biaya keseluruhan produksi perdana 16 pesawat terbang Concorde semula dianggarkan pada tahun 1962, antara 150 dan 170 juta ponsterling saja.

Pada tahun 1978, ketika 16 Concorde rampung diproduksi British Aircraft Corporation di Bristol, Inggris, publik dikejutkan kenyataan bahwa biaya membengkak lebih dari 13 x (tiga belas kali!) lipat dari anggaran, menjadi total lebih dari 2 miliar ponsterling! Bahkan setiap pesawat saja sudah sekitar 14% melebihi anggaran total segenap 16 pesawat!

Prestasi kekeliruan anggaran ini hanya diungguli oleh kasus pembengkakan biaya pembangunan Gedung Opera di Kota Sydney yang 14 x (empat belas kali!) lipat anggaran. Belum terhitung biaya perawatan per tahun, pada awalnya saja sudah langsung ikut meledak menjadi "hanya" Aust $ 6 juta, yang berarti 83% dari anggaran pembangunan seluruh gedung, yang semula cuma Aust $ 7,2 juta itu! Biaya perawatan setinggi itu sudah terjadi di masa sang gedung baru saja rampung, sehingga kini tentu lebih tinggi lagi!

Tragedi malapetaka anggaran merupakan bukti bahwa di dalam manajemen anggaran, faktor inflasi yang bersifat tak menentu arah dan bentuk, namun lazimnya selalu meningkat itu, memang sulit diperhitungkan apalagi dikendalikan, oleh manusia biasa! Akibat manajemen anggaran yang keliru, maka seluruh aspek perencanaan pembangunan Gedung Opera, landmark kebanggaan Kota Sydney yang dibangun selama 16 tahun itu ikut kacau balau!

Meski namanya Gedung Opera, ruang pergelaran utama yang dirancang dan dibangun terlalu luas dengan kapasitas 2.690 kursi penonton, sama sekali tidak ideal - baik akustik maupun visualnya - untuk jenis pergelaran opera, yang lazimnya tidak layak menggunakan dukungan teknologi pengeras suara elektronik dan menuntut jarak panggung dengan penonton yang masih dalam jangkauan daya indera lihat. Maka akhirnya pada realita praktiknya, Main Hall, ruang utama Opera House itu hanya dimanfaatkan untuk pergelaran konser orkes simfoni superlengkap, atau konser musik rock dengan pengeras suara maksimal, sementara opera dan balet terpaksa dipergelarkan di ruang bukan utama, Opera Theater, dengan kapasitas 1.547 tempat duduk saja.

Di samping itu, berkat protes para pencinta lingkungan hidup yang gigih didukung aksi pemogokan para pekerja konstruksi, demi kelestarian tiga pohon tua di taman suaka dekat bangunan spektakular itu, akhirnya Gedung Opera Sydney yang tersohor itu, praktis tidak memiliki kawasan parkir, para penonton terpaksa memarkir kendaraan pribadi masing-masing di nun kejauhan nyaris dua kilometer, sebelum harus repot dilangsir dengan bus khusus ke Sydney Opera House.

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Click to add search to YOUR web site!

sing tak go gawe hompej

Counter by Pandawa