|
|
Oktober 2001 Air & Udara |
|
Jangan Asal Semprot, Bahaya!
Semprot dulu, soal bahaya urusan belakangan. Aih, aih semoga tak seenteng
itu pula pada praktiknya. Apalagi jika itu menyangkut semprot-menyemprot
obat antinyamuk atau pengharum ruangan. Bakal jadi apa ruang udara di
sekitar kita nanti.
Gambaran seperti itu mungkin erat menempel di benak para konsumen di
Indonesia, sehingga sangat tergantung pada produk yang gencar tampil di
berbagai iklan. Celakanya, mereka tidak menghayati benar betapa besar
ancamannya jika menggunakan produk semacam itu secara sembarangan. Bukan
hanya terhadap kesehatan si pemakai tapi juga sampah ikutannya yang
bisa-bisa masuk kategori sampah bahan berbahaya dan beracun alias B3, yang
secara umum dapat meracuni alam dan penghuninya.
Bagaimana tidak. Karakteristik B3 di antaranya mudah meledak; mudah
terbakar; bersifat reaktif alias menghasilkan reaksi kimia yang melepaskan
uap beracun atau ledakan bila terkena air, udara atau bahan kimia lain;
beracun, baik secara akut maupun kronik; korosif, atau menyebabkan infeksi.
Bahkan, ada lembaga yang menambahkan unsur bahaya radioaktif, alias mampu
merusak dan menghancurkan sel dan kromosom yang dapat menyebabkan kanker,
mutasi, dan kerusakan janin.
Bahan kimia berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara. Termakan
atau terminum bersama makanan atau minuman yang tercemar, dihirup dalam
bentuk gas dan uap, termasuk yang langsung menuju paru-paru lalu masuk ke
dalam aliran darah. Atau terserap melalui kulit dengan atau tanpa terlebih
dahulu menyebabkan luka pada kulit.
Masalah lain, khususnya berkaitan dengan produk beraerosol, adalah penipisan
lapisan ozon stratosfer. Ozon stratosfer berperan melindungi kehidupan di
bumi dari radiasi ultra ungu. Program lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan
tingkat penipisan ozon sekarang ini akan menimbulkan penambahan jumlah
penderita penyakit kanker kulit secara signifikan, termasuk melanoma ganas,
dan pengidap katarak. Belum lagi ancaman pelemahan sistem kekebalan tubuh
manusia, kerusakan pada produk pertanian, dan penurunan populasi phytoplankton
pada dasar rantai pangan kelautan.
Studi YLKI tahun 1991 menunjukkan, konsumsi CFC berdasarkan sektor konsumen
terbanyak dalam aerosol 30%, dibandingkan dalam produk lain semisal, AC,
lemari es, dll.
Pestisida, ya memang racun
Namanya juga pestisida atau racun pembasmi hama, jadi pastilah mengandung
racun. Bila racun antinyamuk termasuk kelompok itu, artinya obat antinyamuk
juga mengandung racun. Hal itu dibuktikan dalam Penelitian YLKI tahun 1995
yang menemukan tiga bahan aktif di dalam obat antinyamuk yaitu jenis dichlorvos,
propoxur, pyrethroid, dan diethyltoluamide serta bahan
kombinasi dari ketiganya.
Menurut WHO Grade Class, dichlorvos atau DDVP (dichlorovynill
dimetyl phosphat) termasuk berdaya racun tinggi. Jenis bahan aktif ini
dapat merusak sistem saraf, mengganggu sistem pernapasan, dan jantung.
Lembaga di Amerika yang bergerak dalam perlindungan lingkungan yakni
Environment Protection Authority (US EPA) dan New Jersey Department of
Health merekomendasikan hal sama. Dichlorvos sangat berpotensi
menyebabkan kanker, menghambat pertumbuhan organ serta kematian prenatal,
merusak kemampuan reproduksi, dan menghasilkan susu. Bagi lingkungan, bahan
aktif jenis ini menimbulkan gangguan cukup serius bagi hewan dan tumbuhan,
sebab bahan ini memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat terurai baik
di udara, air, dan tanah.
Sementara, propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup
maupun terserap tubuh manusia dapat mengaburkan penglihatan, keringat
berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat
menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi, dan
berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi.
Pyrethroid oleh WHO juga dikelompokkan dalam racun kelas menengah.
Efeknya, mengiritasi mata maupun kulit yang sensitif, dan menyebabkan
penyakit asma. Pada obat antinyamuk, pyrethroid yang digunakan berupa
d-allethrin, transflutrin, bioallethrin, pralethrin,
d-phenothrin, cyphenothrin, atau esbiothrin. Untuk obat
antinyamuk jenis oles, zat aktif yang tercantum pada label adalah DEET Diethyltoluamid.
Efeknya juga mengiritasi kulit, selain membahayakan kulit yang luka, dan
selaput lendir tubuh.
Berbicara soal semua bahaya itu, harian Warta Kota, 15 September
2001, sampai memberitakan bahwa pemerintah harus segera menarik seluruh
produk obat antinyamuk cair dan bakar yang mengandung bahan-bahan berbahaya
tersebut. Itu karena, menurut Amir Hamzah Pane, Ketua Umum Indonesian
Pharmaceutical Watch (IPhW), "Pemerintah telah lalai, meregistrasi
produk yang membahayakan kesehatan tetapi tidak mencantumkan label
indikasinya."
Ironisnya, ada merek pestisida yang kemasannya justru bergambar bunga-bunga.
Ini tentu bisa menjerumuskan konsumen yang mengiranya sebagai produk aman,
atau bahkan menganggapnya sekadar produk pengharum ruangan. Begitu juga
dengan klaim "lembut dan wangi". Bagaimana pula dengan klaim
"ramah lingkungan"? Sering hanya berhenti pada klaim, tanpa
mencantumkan bahan pengganti CFC. Jadi?
Harum, bukan berarti aman
Tahun 1986 the National Academy of Sciences AS menentukan pengharum,
termasuk di dalamnya pengharum ruangan, sebagai salah satu dari enam
kategori bahan kimia yang perlu mendapatkan uji kemampuan meracuni saraf.
Itu karena, menurut www.therapure.com, kebanyakan pengharum ruangan
bekerja dengan mengganggu daya cium. Pengharum tersebut melapisi saluran
hidung dengan selaput minyaknya, atau melepaskan zat pemati saraf pencium!
Lembaga itu menyatakan, hampir sepertiga bahan kimia tambahan dalam parfum
dan produk wewangian masuk kategori beracun. Bahkan produk yang tak
mengandung "pewangi" pun sebenarnya menambahkan
"pewangi" yang tidak wangi untuk menyamarkan aroma khas bahan
tertentu.
Berbeda dengan obat antinyamuk yang digunakan secara lebih terbatas,
pemakaian produk pengharum ruangan justru cenderung tanpa aturan jelas.
Bebas disemprotkan ke seluruh ruangan duduk, digantung dekat AC, dipasang di
dalam mobil. Lalu bahan kimia itu akan secara teratur menguap ke udara,
menempel di rambut, pakaian, bahkan di berbagai perabot di sekitar kita.
Bisa dibayangkan, bagaimana bila bahan kimia ini terhirup atau masuk aliran
darah?
Hal itu didukung laporan National Institute of Occupational Safety and
Health yang menyatakan, dari 2.983 bahan berbahaya sekitar 884-nya digunakan
dalam industri wewangian.
Sedangkan bahan kimia berbahaya dalam pengharum ruangan, dari penelitian
mereka, di antaranya butane, propane, amonia, fenol, dan formaldehyde.
Efeknya pada kesehatan manusia antara lain mengiritasi mata, hidung,
tenggorok, kulit, mengakibatkan mual, pusing, perdarahan, hilang ingatan,
kanker dan tumor, kerusakan hati, menyebabkan iritasi ringan hingga menengah
pada paru-paru, termasuk gejala seperti asma. Sedangkan bahan lainnya
seperti benzyl acetate, benzyl alcohol, ethanol, limonene,
dan linalool bisa menyebabkan muntah, turunnya tekanan darah, merusak
sistem kekebalan tubuh, menurunkan kemampuan motorik spontan, dan depresi.
Yang jelas, laporan itu menguatkan publikasi National Institutes of Health
dalam tajuk "Issues and Challenges in Environmental Health" yang
menyebutkan bertambahnya penderita gangguan reaksi alergi dan hipersensitif.
Malah kondisi itu telah menjadi masalah yang memprihatinkan karena jumlah
pengidapnya mencapai sedikitnya 35.000.000 warga Amerika Serikat. Saat
mencium parfum tertentu, para penderita itu secara berbeda menampilkan
gejala alergi mulai bersin, terbatuk-batuk, atau mata berkaca-kaca, pusing,
sesak napas, dll.
Celakanya, dari amatan di lapangan, beberapa produk pengharum ruangan tidak
menyebutkan kandungan bahan. Itu pula sebabnya, YLKI menganjurkan untuk
membatasi penggunaan pengharum ruangan, khususnya bagi mereka yang sensitif.
Bersih lingkungan
Di lingkungan rumah tangga, sebenarnya hanya beberapa binatang kecil yang
perlu dibasmi, misalnya bila menyebarkan penyakit, merusak tanaman, merusak
makanan, atau merusak bangunan. Itupun sebisa mungkin dengan cara yang tidak
membahayakan lingkungan.
Usaha pertama adalah mencegah masuknya hama ke dalam rumah. Misalnya
menggunakan tirai atau kawat nyamuk, menutup lubang dan celah-celah, menjaga
kebersihan rumah dari sampah tercecer atau tertimbun, serta menjaga tempat
sampah selalu tertutup. Meletakkan perangkap nyamuk atau tikus di
lokasi-lokasi strategis.
Langkah berikut, memusnahkan habitat hama dengan secara rutin membersihkan
rumah dan halaman, terutama tempat-tempat persembunyian hama seperti nyamuk,
lalat, dan kecoa, serta memusnahkan telur-telurnya. Kecoa cenderung tinggal
dan bertelur di tempat-tempat terlindung yang hangat seperti sudut rak dan
laci, di celah-celah kayu yang lembap, di bawah tempat cuci piring, dan
tempat-tempat sampah. Lalat senang tinggal di tempat sampah, tempat-tempat
lembap dan bau, seperti alas tidur binatang peliharaan dan tempat menyimpan
kompos. Nyamuk berkembang biak di air tergenang seperti di parit, dalam
ban-ban bekas, dalam vas yang lama tidak diganti, dan kubangan sekitar
rumah. Membersihkan debu di rak-rak buku, lemari pakaian, meja tulis rak-rak
makanan, wadah makanan, dan sudut-sudut rumah akan membantu mengurangi
serangan hama.
Untuk mengusir hama, sebaiknya dipergunakan pestisida organik dan pengusir
hama dari tumbuh-tumbuhan yang mudah terurai di alam. Meski diakui
efektivitas pestisida organik tidak seketika, alias perlu aplikasi
berulang-ulang. Misalnya: Membakar kulit duku atau kulit durian kering dapat
mengusir nyamuk. Menaruh daun mindi kering di bawah kasur dapat mengusir
kutu busuk dan bila ditaruh di bawah alas tumpukan baju di dalam lemari
pakaian dapat mengusir kutu baju. Wangi alami bunga lavender, minyak cengkeh
untuk mengusir kutu baju, nyamuk, kecoa, dan lalat. Yang tak kalah asyik,
menangkap nyamuk dengan menggunakan pemukul nyamuk listrik, atau bagian
dalam tutup panci yang diolesi minyak goreng. Sementara mencegah serangan
nyamuk kala santai bisa dioleskan minyak kayu putih atau minyak tawon.
Pestisida sintetis memang harus dibiasakan menjadi alternatif terakhir. Itu
pun harus dipilih yang tidak terlalu berbahaya bagi manusia dan lingkungan,
serta digunakan dalam dosis rendah. Bila menggunakan metode ini sebaiknya
bersamaan dengan metode-metode ramah lingkungan lain.
Udara segar alami
Bagaimana dengan bebauan tak enak di dalam rumah? Hal itu tak perlu
dikhawatirkan benar bila rumah memiliki ventilasi yang baik dengan sirkulasi
udara yang lancar dan penerangan alami yang memadai.
Namun, ada kalanya untuk membangkitkan suasana pada momen tertentu aroma
wangi khas diperlukan. Daripada menggunakan beberapa merek pengharum ruangan
yang tak jelas kandungan bahan kimianya, bisa dicoba pewangi alamiah,
misalnya irisan daun pandan, kuntum melati, atau mawar.
Tanpa sadar sebenarnya cara tersebut merupakan praktik aromaterapi. Selain
cara tradisional itu, ada cara praktis dan cukup aman, yakni menggunakan
minyak atsiri. Minyak atsiri merupakan cairan lembut, bersifat aromatik, dan
mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri diperoleh dari ekstrak bunga,
biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan tertentu. Satu
jenis minyak atsiri, umumnya memiliki beberapa khasiat berbeda, misalnya
sebagai antiseptik dan antibakteri.
Penelitian menunjukkan, minyak atsiri yang disemprotkan ke udara membantu
menghilangkan bakteri, jamur, bau pengap, dan bau yang tidak mengenakkan.
Selain menyegarkan udara, aroma alami minyak atsiri juga dapat mempengaruhi
emosi dan pikiran, serta menciptakan suasana tenteram dan harmonis.
Minyak atsiri murni adalah substansi yang amat kuat, 75 - 100 kali lebih
potensial dibandingkan bahan asalnya. Karenanya dalam penggunaannya harus
hati-hati, misalnya dengan selalu melarutkannya dengan cairan pembawa.
Penguap, penyemprot listrik, dan penyemprot aroma khusus dapat digunakan
untuk menyebarkan minyak atsiri dalam ruangan. Untuk penggunaan pertama kali
atau jika belum terbiasa, gunakan minyak atsiri seperlunya saja.
Agaknya mulai sekarang kita perlu melatih diri-sendiri dan lingkungan untuk
menggunakan bahan-bahan aman bagi kesehatan dan lingkungan. Kalau bukan kita
sendiri yang memulai, siapa lagi? (Dari pelbagai sumber/Sht)
Baca juga
|
|||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
Air & Udara - Flona
- Infotekno - Langlang
- Perkara - Terapi
- Terapi Alternatif - TerCubuk |