|
|
Oktober 2001 Flona |
|
IKAN NAPOLEON, SI BURUK RUPA YANG LEZAT
Ikan satu ini kurang dikenal di negeri kita. Padahal di Hongkong, ia
merupakan makanan begitu bergengsi, sampai-sampai para taoke harus
belanja ke Indonesia. Kehidupan unik “kerajaan” ikan ini mulai terusik.
Tapi di kalangan pecinta makanan ikan laut di Hongkong sana, ikan ini
benar-benar sajian favorit. Kabarnya, daging mereka sangat lezat dan lembut,
lalu, dia juga merupakan simbol status sosial dan ekonomi bagi penyantapnya.
Menu ikan, yang di Hongkong disebut sio moy, ini biasanya dihidangkan
pada acara atau peringatan khusus, umpamanya pesta ulang tahun kelahiran
atau perkawinan. Permintaan tertinggi terjadi pada Hari Ibu. Syukur,
barangkali itu merupakan bentuk penghargaan yang tinggi pada kaum ibu.
Sajian ikan “buruk rupa” ini sering pula hadir saat ada jamuan makan
dengan relasi bisnis.
Soal harganya, jangan tanya. Sekilonya di sana mencapai AS $ 80. Padahal,
para taoke belanja ke para nelayan penangkapnya di Indonesia cuma
dengan harga AS $ 20, meski di tingkat nelayan harga itu sudah menggiurkan.
Akibatnya, penangkapan terhadap ikan jenis ini jadi membabi buta. Kalau
menangkapnya cep … pakai tangan, mungkin tak masalah. Yang celaka, mereka
diburu menggunakan bom rakitan atau racun potasium sianida (NaCN). Terumbu
karang tempat mereka hidup, kongko-kongko, dan mencari makan jadi hancur
atau mati.
Beruntung, para pecinta terumbu karang dan penghuninya segera teriak
kencang. Pemerintah negara-negara yang wilayahnya menjadi habitat mereka
segera pasang kuda-kuda. Larangan penangkapan terhadap mereka pun
diberlakukan. Di antaranya oleh Filipina dan Indonesia. Kedua negara memang
merupakan pemasok utama ikan napoleon untuk Hongkong. Maldivas kemudian
mengikuti jejak keduanya. Tapi, sebenarnya masih ada negara lain yang
“diam-diam” juga memasok ikan besar ini ke Hongkong. Di antaranya
Australia, Cina, Malysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Thailand, dan
Vietnam.
Di Indonesia sendiri larangan itu tidak cuma penangkapan, tetapi juga
perdagangan mereka. Dalam SK Menteri Pertanian No. 375/Kpts/IK.250/5/95
disebutkan penangkapan cuma diizinkan Menteri Pertanian untuk penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan serta pembudidayaannya. Nelayan tradisional
juga diizinkan menangkap menggunakan alat dan tata cara yang tidak merusak
sumber daya alam. Sedangkan dalam SK Menteri Perdagangan No. 94/Kp/V/95
dicantumkan larangan mengekspor ikan napoleon dalam keadaan hidup atau mati,
bagian-bagiannya, maupun barang-barang yang terbuat dari ikan tersebut.
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild
Flora and Fauna) pun memasukkan ikan napoleon ini sebagai satwa yang
haram diperdagangkan. Sayang, implementasinya belum seperti diharapkan.
Gara-gara “selir” berebut kekuasaan
Pantas saja kalau kerusakan terumbu karang akibat serbuan serampangan
terhadap si napoleon laut ini, bikin teriak banyak pihak. Pasalnya, kalau
habitatnya luluh lantak mereka bisa kehilangan tempak tinggal dan
dikhawatirkan punah. Padahal, mereka susah banget dikembangbiakkan di luar
kampung halaman. Kalau cuma untuk hidup, bisa saja di miniatur laut seperti
yang ada di Sea World Indonesia. Di sana saat ini ada beberapa ekor ikan
napoleon. Tapi untuk punya keturunan, enggak janji! Penelitian yang
dilakukan para bapak dan ibu di Loka Budidaya Air Payau Situbondo misalnya,
mengungkapkan peluang mereka bisa beranak pinak di kolam percobaan sangat
kecil. Meski telah berhasil dipijahkan, tingkat kelulushidupan (survival
rate)-nya cuma 2 –3 % (Kompas, 5 Juli 1999). Artinya, setiap
100 ekor anak napoleon yang berhasil menetas, cuma 2 – 3 ekor yang mampu
bertahan hidup. Selebihnya, ya menghadap Yang Maha Kuasa tak lama setelah
turun ke dunia (air). Mungkin, tempat percobaan itu memang asing di mata si
ikan napoleon.
Di kampung halaman mereka, dalam wilayah perairan terumbu karang
Indo-Pasifik (Asia Tenggara dan Pasifik) dengan kedalamam 2 – 60 m, mereka
bisa melihat pemandangan terumbu karang yang indah melambai-lambai. Mereka
juga bisa bertegur sapa dengan tetangga sesama penghuni terumbu karang.
Tempat favorit mereka adalah gua, celah, atau laguna di perairan terumbu
karang. Sekarang bisa dimengerti, kebiasaan hidup di laut “beriman”
(bersih, indah dan nyaman) menjadikan mereka stres berat bila dipaksa hidup
di rantau orang. Tak terkecuali yang baru menetas. Wajar, kalau orok ikan
napoleon tak banyak yang bisa bertahan.
Lebih-lebih siklus hidup bangsa ikan napoleon di tempat asalnya tergolong
unik. Mereka termasuk dalam binatang hermaprodite protogynus. Di sini ikan
napoleon jantan ada dua tipe, yakni mereka yang terlahir sebagai jantan dan
tetap sebagai jantan sejati sampai akhir hayat, dan mereka yang memulai
hidup sebagai betina dan dalam masa kehidupan berikutnya berubah fungsi
sebagai jantan! Perubahan menjadi jantan biasanya terjadi setelah berumur 5
- 10 tahun atau berbobot badan kurang dari 10 - 15 kg. Namun, pergantian
kelamin dan bagaimana perubahan kelamin terjadi masih menyimpan misteri.
Dramatis
Ada sejumlah faktor yang diperkirakan bisa mendorong perubahan jenis kelamin
tadi. Yakni hubungan antarikan napoleon jantan dan dominasi sosial, atau
dalam hal lebih spesifik, ukuran tubuhnya. Jenis Cleaner wrasse (Labroides
dimidiatus), yang masih saudara ikan napoleon dalam keluarga besar Wrasse
(Labridae), merupakan contoh paling baik. Pada ikan jenis ini seekor
jantan yang besar bisa menjadi “raja” dan menguasai sebuah harem dengan
sejumlah betina, bisa sampai enam ekor. Di dalam harem ini terbentuk hirarki
yang jelas di antara para selir di harem tadi. Yang berbadan paling besar
boleh menjadi ratu dan menempati kedudukan tertinggi. Ikan betina ini dalam
aturan mainnya mendapatkan kekuasaan sangat besar atas betina lainnya.
Dialah satu-satunya yang dapat hidup di sisi sang raja.
Jika ratu atau betina lain menyatakan berhenti (menjadi selir), mangkat,
atau berhalangan tetap, ikan betina yang berkedudukan lebih rendah berhak
menggantikannya dengan naik ke jenjang sosial lebih tinggi, tanpa melalui
sidang Majelis Permusyawaratan Wrasse. Sementara bila si raja lengser
keprabon, betina terbesar bakal ikut bersaing dalam suatu perebutan
kekuasaan melawan ikan jantan dari kampung tetangga yang akan mencoba
mengambil alih kekuasaan atas wilayah dan penghuni harem. Kalau betina itu
besar dan cukup agresif untuk menahan kudeta tersebut, dalam beberapa jam
dia bakal bertindak sebagai raja, tetapi masih betina. Ia segera menjalankan
roda pemerintahan dan beberapa hari kemudian berubah menjadi ikan jantan
sejati.
Dalam menjaga keutuhan rumah tangganya, ikan napoleon jantan dewasa terkenal
galak. Pejantan lain jangan sekali-kali mengganggu. Begitu ada pejantan lain
yang dianggap mau coba-coba main mata dengan pasangan hidupnya, sang raja
segera memberi pelajaran oknum tak tahu diri itu. Kalau perlu sampai titik
darah penghabisan.
Ikan napoleon betina bertelur sepanjang tahun di pinggir atau bagian luar
lereng terumbu karang. Proses bertelur ini terjadi dalam kelompok maupun
berpasangan. Kegiatan bertelur dalam kelompok sungguh dramatis. Aktivitas
itu dimulai dengan berkeliling bersama secara perlahan membentuk suatu
kelompok. Saat anggota kelompok bertambah, mereka berenang lebih cepat dan
lebih cepat lagi, akhirnya makin rapat membentuk kelompok besar. Pada puncak
hiruk-pikuk tadi, seluruh kelompok naik ke arah permukaan laut kemudian
secepat kilat berbalik arah dan meninggalkan sebuah massa telur dan sperma
di belakang yang segera terbawa oleh arus.
Jika proses bertelur dilakukan secara pasangan, yang jantan menyiapkan
tempat bertelur pada seonggok karang atau batu yang menyolok. Dari sini dia
menarik perhatian betina yang lewat, yang kira-kira bisa memberi harapan.
Caranya, di atas calon pasangan dia bergerak ke atas dan ke bawah dan
menggetarkan tubuhnya sembari berenang kembali. Kalau siap menerima
pinangannya, si betina akan membalasnya dengan memberi sinyal ke ikan jantan
yang meminangnya. Dengan bangga si betina melengkungkan tubuhnya membentuk
huruf “S” sembari mempertontonkan perut buncitnya yang berisi telur.
Mereka kemudian bertelur dalam suatu gerakan naik turun secara cepat ke
permukaan. Proses bertelur ini berlangsung singkat dalam suatu hari,
tergantung pada kondisi setempat. Di areal dengan arus pasang surut yang
kuat, bertelur terjadi hanya setelah puncak pasang naik, keadaan yang ideal
untuk memindahkan telur ke luar terumbu karang.
Punya banyak nama
Ketika muda, ikan napoleon terlihat pucat dengan garis-garis vertikal lebih
gelap. Begitu dewasa, warna tubuhnya menjadi hijau kebiru-biruan dengan
garis-garis lebih jelas. Bibirnya menebal macam bibir Mick Jagger. Bagian
atas kepalanya pun, di atas mata, menjadi benjol ke depan. Karena
“ponok”nya itu, orang pun menamainya Wrasse kepala berponok (Humphead
wrasse).
Wajahnya memiliki garis-garis tak beraturan. Di belakang matanya terdapat
dua garis pendek berwarna hitam. “Goresan” hitam ini menyerupai ornamen
wajah suku Maori di Selandia Baru. Maka, ikan napoleon pun mendapat julukan
lain, Maori wrasse.
Dalam keluarga besar ikan terumbu karang, ikan napoleon yang berukuran
paling besar. Bisa mencapai panjang lebih dari dua meter. Yang pernah
dicatat, seekor ikan napoleon memiliki panjang 2,29 m dan bobotnya 191 kg.
Karena ukurannya yang besar itu, orang pun menjulukinya sebagai Giant
(maori) wrasse.
Di alam bebas, ikan napoleon dikenal sangat hati-hati terhadap ikan-ikan
lainnya. Namun, di taman laut, dimana ikan-ikan dilindungi, mereka sering
kali menjadi jinak dan dapat disentuh oleh penyelam. Umumnya, mereka hidup
sendiri-sendiri. Cuma kadang-kadang mereka terlihat berenang-renang
berpasangan. Paling pol, mereka berkelompok hingga empat ekor. Pada
masa bertelur Maori wrasse terlihat bergerombol dalam jumlah banyak.
Kalau siang hari ikan napoleon menjelajahi kampung halamannya yang penuh
terumbu karang yang indah. Kalau malam hari beristirahat guna melepas lelah
di dalam gua terumbu karang atau di bawah langkan karang.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sepanjang hari mereka secara tenang tapi
pasti melahap ikan-ikan kecil, kerang-kerangan, bintang laut, teripang, atau
cacing laut. Tulang-tulang dekat kerongkongannya (pharyngeal bones)
bertindak sebagai geligi kedua yang memecahkan, menggiling, dan membantu
dalam pemrosesan makanan.
Masa hidup mereka belum banyak diketahui orang. Namun, dipercaya mereka bisa
hidup 25 tahun atau lebih. Itu kalau tidak makin banyak yang diburu.
Tragisnya, nelayan tradisional kebanyakan menggunakan cara-cara terlarang,
misalnya menyemprotkan potasium sianida ke tempat-tempat napoleon
bersembunyi. Beberapa saat kemudian, ikan napoleon dan bakal teler.
Ikan-ikan lainnya yang saat itu berada di sekitarnya juga ikut lemas. Untuk
bisa mengambil ikan napoleon, nelayan biasanya membongkar terumbu karang
tempat si ikan napoleon tadi ngumpet. Inilah yang bikin terumbu karang
rusak. Sesampai di kapal, mereka cepat-cepat diberi oksigen. Napoleon yang
sudah meninggalkan kampung halaman ini pun segar kembali. Sebaliknya,
terumbu karang tempat mereka bersembunyi luluh lantak, sehingga perlu waktu
puluhan tahun untuk mengembalikan kondisinya. (I Gede Agung Yudana)
Baca juga
|
|||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
Air & Udara - Flona
- Infotekno - Langlang
- Perkara - Terapi
- Terapi Alternatif - TerCubuk |