globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Tetap Terang Meski Listrik Mahal

 

Tagihan listrik yang tinggi boleh jadi karena pemakaiannya yang salah. Pemilihan jenis lampu, pewarnaan dinding, sampai konstruksi rumah atau bangunan yang tidak memberi keleluasaan sinar matahari bisa menjadi penyebab.

 

Listrik bisa boros atau hemat tergantung cara pemakaian. Banyak terjadi, konsumsi listrik melambung tinggi untuk hal yang semestinya bisa dikurangi. Umpamanya, rumah yang dibangun dengan perencanaan pembangunan yang kurang tepat. Lampu dibiarkan menyala siang hari, selain karena rumah kosong, kebanyakan juga karena kurang jendela. Sering juga lampu dipasang lebih besar daripada seharusnya. Penyebabnya bisa karena cat tembok yang kurang serasi. Cat di teras, misalnya, yang seharusnya memantulkan cahaya justru dipilih warna yang menyerap cahaya. Juga rumah dengan konstruksi salah bisa menyebabkan siang hari selalu gelap, sehingga memerlukan lampu menyala 24 jam.

Banyak ragam peralatan rumah tangga juga menyebabkan penggunaan listrik menjadi banyak. Misalnya, pompa air, pemanas air, penyejuk ruangan (AC), seterika, oven microwave, dan perangkat hiburan elektronik. Semuanya memang tidak dapat dihindari.

Namun pada sisi lain, banyak energi alternatif yang belum dimanfaatkan. Sinar matahari merupakan salah satu energi serbaguna dan tepat guna. Masalahnya, matahari masih digunakan secara konvensional seperti untuk mengeringkan pakaian atau untuk teknologi makanan seperti pengeringan ikan asin, kerupuk, atau emping.

Memang sudah banyak pemanas yang menggabungkan dua sumber energi: sinar matahari untuk memanaskan air pada siang hari, sementara pada malam hari digunakan elemen panas. Sinar matahari juga dapat diubah menjadi listrik, biasa digunakan untuk pemancar gelombang (repeater) radio komunikasi, kapal pesiar pribadi, atau penutup pintu kereta api. Memang masih jarang digunakan pada rumah tinggal. Kendalanya, selain pemakai tidak mau repot soal perawatan baterai, instalasi dan teknologi solar cell juga masih mahal. Kalau teknologi kincir angin lebih terbatas lagi, karena hanya bisa diterapkan di lokasi yang diterpa angin kencang saja.

 

Siasat pencahayaan

Setiap lampu perlu diketahui peruntukannya. Sebaliknya, untuk setiap bagian rumah perlu diketahui jenis lampu yang cocok. Untuk lampu teras atau taman, umpamanya, tentu lebih baik jika dipilih jenis lampu hemat energi. Banyak jenis lampu yang dijual dengan klaim hemat energi. Biasanya jenis neon. Lampu ini serupa dengan neon yang digunakan pada papan iklan. Di tempat romantis bisa digunakan lampu pijar atau bohlam. Sebagai perbandingan, lampu TL 20 W menghasilkan 750 lumen, setara dengan 60 W lampu bohlam.

Untuk menghitung kekuatan cahaya dipakai standar bandingan terhadap lilin. Setiap batang lilin nilainya adalah 9/10 atau 0,9 candela, yang biasa disebut dengan satuan watt (W). Penjabarannya, misalkan lampu dengan kekuatan 50 lilin, artinya 50 x 9/10 = 45 candela alias 45 W.
Gampangnya, kekuatan cahaya disebut candela, arus cahaya disebut lumen, kekuatan pencahayaan disebut lux, dan kejernihan luminasi dihitung dalam satuan stilb. Kejernihan matahari ukurannya kurang-lebih 150.000 stilb. Sedangkan bulan 0,25 stilb, dan lampu TL 0,4 stilb.

Contoh aplikasinya, misalkan di suatu ruangan dengan panjang 16 m dan lebar 8 m harus dipasang kekuatan lampu 180 lux dengan perkiraan penyerapan cahaya 30%. Hitungannya begini. Luas ruangan 16 x 8 = 128 m2. Arus cahaya yang diperlukan adalah (180 x 128 x 100) : 30 = 76.800 lumen. Untuk menciptakan penerangan yang cukup di ruangan itu diperlukan lampu TL 40 W sebanyak 38 buah. Sedangkan kalau lampu pijar (bohlam) 60 W yang digunakan, diperlukan 102 buah lampu untuk menciptakan terang yang sama.

Nyalakan lampu dan peralatan elektronik sesuai keperluan. (Ibas)

Biasanya, (calon) pemilik rumah atau pembangun rumah tidak merencanakan soal cahaya secara akurat. Lebih banyak berdasarkan perasaan dan dugaan saja. Kalau Anda membeli rumah, apalagi rumah sederhana, yang disediakan fiting (rumah lampu) saja. Rasanya, belum pernah dengar ada data yang berisi saran, misalnya kamar tidur perlu berapa lux, ruang baca berapa, teras berapa, dan seterusnya. Rumah zaman dulu mungkin lebih seragam ukurannya, atau memang variasi arsitekturnya masih sedikit. Yang jelas, data rata-rata rumah zaman dulu standar, seperti kamar tidur 20 – 50 lux, kamar mandi dan dapur 50 – 100 lux, ruang keluarga 60 – 100 lux.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pola pancaran cahaya (refleksi). Untuk reflektor atau pemantul cahaya, Anda bisa menggunakan cat dinding ruangan atau menggunakan reflektor tambahan dari pelat. Kekuatan sinar cahaya akan sangat dirasakan pada penggunaan reflektor, sehingga dapat menghemat penggunaan lampu dan listrik. Lain halnya untuk ruangan yang memang membutuhkan efek tertentu. Efek romantis, misalnya, tentu hanya bisa didapat dari penggunaan lampu pijar.

Banyak di antara kita yang sering keliru menafsirkan, menganggap lampu jenis hemat energi sama dengan lampu neon (TL). Kedua jenis itu berbeda. Lampu TL belum tentu jenis yang hemat energi. Maka bisa dirasakan, cahaya jenis TL lebih terang. Pada kemasan memang diberikan informasi tambahan yang jelas. Sayang, kebanyakan pemakai awam dalam soal ini atau bahkan tidak peduli. Yang terjadi belakangan baru ribut ketika tagihan listrik naik. Mulai sekarang coba menggunakan cahaya lebih efektif.

 

Menghitung penghematan

Kemungkinan lain yang menyebabkan listrik boros karena pompa air adalah keran bocor. Maka menggunakan tandon air lebih efisien.

 

Tabel 1.

Pemilihan TL

 

Jenis lampu

Warna

Arus cahaya dalam lumen

TL 20 W

cahaya siang

750

TL 20 W

putih

850

TL 20 W

timah panas

950

TL 40 W

cahaya siang

1.900

TL 40 W

putih

2.000

TL 40 W

timah panas

2.000

Catatan: Data bisa berubah tergantung pabrik pembuatnya

 

Tabel 2.

Pemantulan Warna Dalam %

 

Warna

Terang

Sedang

Gelap

Kuning

70

50

30

Kuning–keabuan

65

45

25

Coklat

50

25

8

Merah

35

20

10

Hijau

60

30

12

Biru

50

20

5

Abu-abu

60

35

20

Putih

80

70

-

Hitam

-

4

-

 

Tabel 3.

Pemilihan Bohlam

 

Daya lampu

Kekuatan arus cahaya (lumen)

15 W

130

25 W

240

40 W

440

60 W

750

75 W

975

100 W

1.425

150 W

2.100

Catatan: Data bisa berubah tergantung pabrik pembuatnya

 

Berdasarkan data pada tiga tabel di atas, Anda dapat merencanakan pencahayaan. Sedangkan mengenai penghematan yang bisa dilakukan sekaligus perhitungannya diterangkan dalam simulasi berikut ini:

Misalnya, pemakaian listrik untuk rumah tangga mulai dari 450 VA sampai di atas 6.600 VA.

  • Pada daya 450 - 900 VA dihitung biaya pemakaian 0 – 60 jam, kenaikan terjadi jika pemakaian di atas 60 jam.

  • Pada daya 1.300 – 2.200 VA dihitung pemakaian sebanyak 0 – 20 kWh, kenaikan terjadi mulai dari pemakaian 20 – 60 kWh dan di atas 60 kWh.

Contoh, beberapa lampu yang kalau menggunakan jenis yang hemat energi cuma berjumlah 100 W, tetapi Anda, karena tidak tahu, harus menggunakan beberapa lampu pijar untuk memenuhi kebutuhan sinar yang sama padahal jumlah totalnya mencapai 1.000 W. Kalau misalnya seluruh lampu itu digunakan selama 13 jam/malam, pemakaian listriknya menjadi 1.000 W x 13 jam = 13.000 Wh atau 13 kWh. Kalau disebabkan oleh berbagai alasan lampu menyala 24 jam, terjadilah pemborosan 24 kWh – 13 kWh = 11 kWh.

Misalkan lampu menyala selama 30 hari, dikalikan 13 kWh menjadi 390 kWh. Sementara pemborosan yang terjadi sebesar 30 x 11 kWh = 330 kWh, coba saja dikonversi ke rupiah menurut tarif PLN sekarang.
Maka lebih baik menghemat tanpa harus gelap gulita. Pilih saja jenis lampu yang cocok, warna cat yang tidak menyerap cahaya, gunakan pemantul cahaya secara tepat, nyalakan lampu seperlunya, matikan AC, TV, dan perangkat elektronik lainnya pada saat tidak digunakan.
(Robert M.E.)

 

Baca juga:

Cara gampang agar cahaya lampu lebih efektif

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Click to add search to YOUR web site!

sing tak go gawe hompej

Counter by Pandawa