globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MCK TERPADU DATANG, GOT JOROK HILANG

 

Ini terjadi di kawasan Jln. Tirta Rona, Tlogomas, Kec. Lowokwaru, Kodya Malang, Jawa Timur. Bukan MCK terpadu seperti kawasan bantaran sungai lainnya (yang artinya mandi, cuci, dan kakus menyatu di pinggir sungai), tapi terpadu dalam teknologi pengolahan sehingga tidak mencemari lingkungan. Apa sih hebatnya teknologi MCK itu? Sampai-sampai penggagasnya, Agus Gunarto, memperoleh banyak penghargaan dari dalam negeri maupun luar negeri.

 

Kehebatan temuan itu karena kesederhanaan teknologi yang diterapkan dan melibatkan warga setempat, namun berdampak sosial yang begitu besar. Pasalnya, dengan adanya temuan MCK berwawasan ramah lingkungan itu, perilaku warga menjadi berubah. Kalau dulu warga terbiasa berak di sungai, kini tidak lagi. Karena di rumah mereka sudah tersedia kakus.

Ada dampak sosial lainnya. Kebiasaan sebagian masyarakat memecah batu kali untuk dijual mulai ditinggalkan. Mereka mulai beralih menyewakan tempat kos - karena sudah ada fasilitas WC - sebagai sumber pendapatan. Maklum kawasan itu dekat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Teknologi terapan ini dikatakan sederhana karena memang penemunya "orang biasa", bukan ahli di bidang itu. Selain tentu saja tak ada yang rumit dari teknologi MCK terpadu ini. Bahkan, "Orang tidak lulus SD pun bisa membuatnya," kata Agus Gunarto mengibaratkan. Dana yang dibutuhkan tidak besar. Bahkan ketika pertama kali diperkenalkan konsep ini, semua dana berasal dari partisipasi warga yang notabene bukan kalangan berpunya.

Gara-gara paket misterius

Lazimnya kawasan padat, selain dihuni oleh masyarakat jelata, juga menyisakan persoalan sanitari akibat limbah hasil aktivitas manusia. Dari beragam limbah tadi, limbah manusialah (tinja) yang sering bikin masalah. Selain berbau tidak sedap, bila penanganannya tidak benar bisa menjadi sumber penyakit. Makanya, lantas muncul aturan bahwa posisi septic tank setidaknya berjarak 6 m dari sumber air. Untuk daerah padat tentu sulit mematuhi aturan itu.

Bagi kawasan dekat bantaran kali, urusan buang hajat memang jadi mudah. Tinggal lari ke sungai, beres! Ngapain repot-repot bikin jamban yang tentunya perlu biaya. Barangkali begitu pikiran sempit mereka. Bagi yang tinggal jauh dari kakus alam (sungai) sih enggak masalah. Nah, bagi yang dekat? Ya, jadi problem.

"Pas turun hujan jadi ngambang semua itu 'pisang goreng tanpa kulit'. Bisa nempel di mana-mana. Atau malah digondol anjing ke jalan-jalan. Ini bisa menimbulkan muntaber," ungkap Agus.

Repotnya lagi jika kebeletnya pas tengah malam. Selain gelap, di pinggir kali ada kuburannya. Hi..., lagi enak-enaknya jongkok disapa pocong. "Boleh ditemani enggak?" Bisa-bisa rasa kebelet yang sudah di ujung rambut jadi nyungsep lagi ke perut. Atau, kepepetnya terpaksa buang hajat di kantung plastik, baru keesokan hari dilempar ke sungai.

Yang juga menjadi masalah, manakala air sungai sedang pasang. Karena terbungkus plastik, paket berisi "bom" itu pun mengambang. Adakalanya tersangkut di rumpun bambu yang tumbuh di pinggir kali. Begitu air surut, paket-paket tadi masih keenakan nangkring di ranting bambu. Tatkala terik mentari menggoreng mereka, hmmm ... bau tak sedap pun merebak.

Sebagai Ketua RT, Agus Gunarto, sempat pusing memikirkan masalah ini. Apalagi banyak tetangga yang bertengkar gara-gara saling tuduh sebagai pemilik paket misterius itu. Ketika masih berwujud makanan mungkin banyak yang mengaku, tapi kalau sudah melewati usus, nanti dulu. "Saya lalu memutuskan membuat semacam penampungan tinja saja," tegas Agus, yang saat itu sebagai sopir bemo.

Pembalut jadi masalah

Pada awalnya niat yang muncul pada tahun 1985 itu tidak mendapat tanggapan warga. Sopir bemo aja kok dipercaya, begitu kira-kira alasan mereka.

Pada tahun itu terjadi wabah diare dan menewaskan lima anak dari beberapa keluarga miskin. Hal ini mendorong para ibu di wilayah itu untuk memulai suatu perubahan di bidang drainase dan sanitasi. Namun, anak-anak masih suka buang hajat di saluran tak jauh dari rumahnya. Selain tidak higienis, lingkungan juga jadi jorok.

Inisiatif para ibu tadi mendorong enam keluarga memulai aksi massa mengatasi persoalan sanitasi. Agus Gunarto menjadi fasilitastor dan pemimpin kelompok ini. Ia mencari solusi sistem sanitasi dari teman-teman dan koleganya. Dengan bersusah payah, Agus pun membuat bak berukuran 4 m x 8 m dengan kedalaman 2 m. Lokasinya tak jauh dari sungai, di tanah tak bertuan dekat kuburan.

Bak itu terbagi dalam dua bagian. Satu bagian sebagai penampung limbah padat, dan satu lagi untuk menampung limbah cair yang meluap dari bak penampung limbah padat. Di dalam bak limbah cair ditebarkan ikan lele. Maksudnya, "Kalau lele mati berarti ada racunnya." Untuk menyamarkan kolam penampungan dan sekaligus menaungi lele, di atasnya diberi tanaman eceng gondok. Eceng gondok ternyata mampu menyerap logam berat yang terdapat dalam air limbah. Hasilnya, kolam penampungan tidak mengeluarkan bau menyengat.

Untuk biaya pembuatan bak penampungan, masing-masing KK ditarik sumbangan Rp 35.000,-. Pembayarannya pun dapat diangsur selama dua tahun. Dengan dana seadanya itu, Agus membangun jaringan pipa pralon dari WC rumah warga ke bak penampungan.

Sepuluh tahun kemudian, warga mulai sadar dan menyambut gagasan itu. Dari hanya tiga KK yang mau menyetorkan tinja ke bak penampungan, bertambah menjadi lima KK, meningkat lagi menjadi 15 KK, bertambah terus hingga 60 KK. Pembayaran angsuran sumbangan pun juga lancar. Dari sini Agus berkesimpulan bahwa masyarakat sebenarnya tidak sulit diajak berubah. Asal jelas tujuannya.

Sementara angsuran sumbangan berjalan lancar, belakangan muncul kendala baru. Saluran pembuangan mampet! Biang keladinya, pembalut yang dibuang ke saluran pembuangan. Kalaupun tak bikin mampet, pembalut wanita yang tak bisa terurai itu mengotori bak penampungan.

Untuk mengatasi masalah pembalut, lantas dibikin bak penyaring berbentuk lingkaran berdiamater 2 m. Bak lingkaran ini dibagi menjadi dua bilik dengan sekat berada di tengah menghadap ke corong pembuangan limbah. Sekat ini seperti saringan dengan lubang-lubang sebesar ibu jari.

Dengan begitu, limbah MCK membentur saringan dan hancur berkeping-keping. Sementara pembalut tadi tetap saja membandel tak bisa terurai, dan tertinggal di bak filter. Tak salah kalau Agus sedikit menggugat ke produsen pembalut. "Mestinya mereka ikut bertanggung jawab." Tak lupa Agus memberi PR bagi "tukang" insinyur di Universitas Brawijaya, bagaimana menguraikan limbah bulanan wanita itu.

Dari bak penyaring yang kemudian dinamakan tanki AG ini (sesuai dengan inisial penemunya) limbah langsung masuk ke kolam penampung. Limbah padatnya mengendap, dan limbah cair mengalir ke kolam penampung berikutnya.

Sebelum dibuang ke sungai, air limbah dialirkan dulu ke kolam berikutnya yang berisi grasak (batu-batu koral kecil) dan arang atau pasir. Dari sini masuk ke kolam berisi ikan sebelum akhirnya mengalir ke kali. Sementara limbah padatnya mengendap di dasar bak penampungan, kemudian diangkat dan dijadikan pupuk. "Bagus banget. Sudah diteliti Dinas Kesehatan dan menjadi bahan skripsi anak Unibraw. Jepang pernah menyurati saya minta dikirim 2 ton (limbah padat) per bulan. Mana bisa saya. Wong di sini baru bisa sekuintal setahun. Mungkin kalau seluruh Indonesia dikumpulkan bisa, ya? Sekilonya dihargai Rp 2.000,-. Bisa jadi jutawan saya," kelakarnya.

Pernah gagal tidak total

Meski tidak atau belum sempat menjadi jutawan, tapi Agus menuai hasil lainnya. Beberapa penghargaan – baik tingkat dalam negeri maupun luar negeri – menghampiri pria berperawakan kecil ini. Tahun 1996 ia memperoleh penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional bidang Lingkungan Hidup dari Menpora. Berturut-turut kemudian Kalpataru untuk kategori Pengabdi Lingkungan (1997), Asian Inovation Award dari Majalah Review (1998), Heroes of Today dari Majalah Reader’s Digest Hongkong (1999), serta World Technology Award 2001 untuk kategori Social Entrepreneurship dari World Technology Network (2001).

Limbah yang mengendap sangat bagus sebagai pupuk. (Yds)

Selain memperoleh penghargaan, karya Agus juga diminati banyak daerah. Di Malang sendiri, selain di Tlogomas, MCK tepadu ini sudah diaplikasikan di daerah Watugong, Mergosono, Bareng, Samaan, dan Gadang. Semuanya adalah komunitas miskin dan motor penggeraknya adalah wanita. Hal inilah yang membuat Agus ingin bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Wanita. Tempat lain di luar Malang yang mengadopsi temuan Agus ini adalah RS Marsudi Waluyo, Singosari (1999), Pasuruan dan Bangil (awal 2000), Probolinggo (1999), Bandung (1998), serta yang terjauh Kendari, Sulawesi Tenggara (2000).

Akan tetapi, karena konsep Agus tidak didukung dengan pemikiran seorang teknolog – Agus sendiri sarjana ekonomi – maka tidak semua aplikasi MCK di lima wilayah tadi berjalan seperti yang diharapkan. "Ya, ada yang gagal. Yakni di Gadang. Tapi bukan berarti tidak bisa digunakan, lo. Gagal di sini dalam artian, tidak bisa digunakan banyak orang. Harusnya bisa sampai 30 KK tapi kenyataannya baru 10 - 15 KK."

Belakangan setelah ia diikutkan kursus sanitasi lingkungan di P3GT (?) Yogya oleh Bank Dunia, baru menemukan penyebab kegagalan itu. "Menurut perhitungan saya, sudut kemiringannya kurang." Yang ideal, tambahnya, sudut kemiringan pipa saluran limbah ketika masuk ke bak filter 30 o. Miring sekali juga tidak bagus karena air mengalir terlalu cepat. Tumbukan limbah ke penyaring menjadi tidak efektif. Semakin lambat malah semakin bagus. Jika kontur daerah datar, mau tidak mau harus memakai pompa."

Melalui kursus selama sebulan itu ia makin faham istilah perlimbahan. Misal, BOD (biological oxygen demand, kadar oksigen bilogi) dan COD (chemical oxygen demand, kadar oksigen kimiawi). "Saya sering ditanya oleh para tamu soal parameter itu. La, saya mana tahu?" tuturnya.

Rata-rata penuruan BOD dan COD MCK terpadu di lima lokasi menunjukkan hasil lumayan. Untuk BOD penurunannya bisa mencapai 55% dan COD 47%. Sedangkan kadar kesolidan limbah (total suspended solid, TSS) bisa turun sampai 67%. Perbedaan kinerja MCK tepadu utamanya tergantung pada kualitas konstruksi dan pengoperasian sistem itu. Di Tlogomas sendiri, BOD awal terukur 202 turun menjadi 60, COD awal terukur 331 turun menjadi 120.

Tak berpikir soal paten

Dengan hasil tersebut, sudah sewajarnya kalau tanki AG bisa digunakan secara massal. Apalagi dilihat dari biaya, tanki AG relatif tidak rakus. Biaya pemeliharaannya juga tidak banyak. "Operatornya cukup satu orang. Itu pun hanya bertugas mengambil dedaunan yang ada di kolam ikan," jelas Agus Gunarto. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, otomatis tidak perlu lagi listrik. Lahan yang diperlukan juga tidak begitu luas. Di Tlogomas yang menampung limbah MCK 67 KK (dengan perkiraan jumlah warga 585 jiwa) hanya membutuhkan lahan sekitar 150 m2.

Kelebihan MCK terpadu terlihat jelas di Tlogomas. Dekat MCK terpadu bikinan Agus berdiri bangunan kokoh di atas lahan seluas sekitar 900 m2. Bangunan bikinan LIPI yang konon berbiaya semiliar ini fungsinya sama dengan milik Agus. Bedanya, yang ini serba otomatis. Instalasi pengolah limbah itu, menurut Agus, merupakan karya seorang guru besar dari Austria.

"Saya tidak tahu, kenapa mereka bikin di situ. Kok tidak mencari tempat lain? Untuk diaplikasikan di tempat lain model LIPI ini juga sulit. Selain mahal, lahan harus luas, masih menggunakan listrik. Siapa yang mau menanggung? Kalau punya saya tidak perlu pakai listrik. Masyarakat bisa membuatnya sendiri," kata Agus tanpa bermaksud promosi. Anehnya, untuk mengoperasikan instalasi itu, LIPI minta jatah dari warga yang menyetor ke MCK-nya Agus. "Saya kasih 20 KK," kata Agus dengan nada keheranan.

Kini, tawaran untuk MCK terpadu ini berdatangan. Ketika Intisari berkunjung ke sana, Agus Gunarto menyatakan bahwa ia diundang Gubernur Jawa Barat untuk menjajaki pemasangan MCK terpadu di Garut. Simpati juga berdatangan dari berbagai penjuru setelah membaca temuan Agus dari media.

Di kantornya, yang sebagian besar karyawannya wanita, Agus menunjukkan surat dari Seminari St. Paulus Palembang. Isinya tentang saran untuk mematenkan temuan itu. Soal ini, "Saya belum memikirkannya. Yang penting temuan ini bisa berguna bagi masyarakat," tuturnya. Salah satu manfaat, yakni lingkungan tempat tinggal Agus menjadi asri. "Dulu di sini ada got, kotor lagi. Sekarang sudah hilang," kata Agus menunjuk jalan masuk ke kawasan MCK terpadu di Tlogomas. (Yds Agus Surono)

Baca juga:

Satu lagi dari Agus

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Click to add search to YOUR web site!

sing tak go gawe hompej

Counter by Pandawa