|
|
Oktober 2001 |
|
|
MCK TERPADU DATANG, GOT JOROK HILANG
Ini terjadi di kawasan Jln. Tirta Rona, Tlogomas, Kec. Lowokwaru, Kodya Malang, Jawa Timur. Bukan MCK terpadu seperti kawasan bantaran sungai lainnya (yang artinya mandi, cuci, dan kakus menyatu di pinggir sungai), tapi terpadu dalam teknologi pengolahan sehingga tidak mencemari lingkungan. Apa sih hebatnya teknologi MCK itu? Sampai-sampai penggagasnya, Agus Gunarto, memperoleh banyak penghargaan dari dalam negeri maupun luar negeri.
Ada dampak sosial lainnya. Kebiasaan sebagian masyarakat memecah batu kali
untuk dijual mulai ditinggalkan. Mereka mulai beralih menyewakan tempat kos
- karena sudah ada fasilitas WC - sebagai sumber pendapatan. Maklum kawasan
itu dekat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Teknologi terapan ini dikatakan sederhana karena memang penemunya
"orang biasa", bukan ahli di bidang itu. Selain tentu saja tak ada
yang rumit dari teknologi MCK terpadu ini. Bahkan, "Orang tidak lulus
SD pun bisa membuatnya," kata Agus Gunarto mengibaratkan. Dana yang
dibutuhkan tidak besar. Bahkan ketika pertama kali diperkenalkan konsep ini,
semua dana berasal dari partisipasi warga yang notabene bukan kalangan
berpunya.
Gara-gara paket misterius
Lazimnya kawasan padat, selain dihuni oleh masyarakat jelata, juga
menyisakan persoalan sanitari akibat limbah hasil aktivitas manusia. Dari
beragam limbah tadi, limbah manusialah (tinja) yang sering bikin masalah.
Selain berbau tidak sedap, bila penanganannya tidak benar bisa menjadi
sumber penyakit. Makanya, lantas muncul aturan bahwa posisi septic tank
setidaknya berjarak 6 m dari sumber air. Untuk daerah padat tentu sulit
mematuhi aturan itu.
Bagi kawasan dekat bantaran kali, urusan buang hajat memang jadi mudah.
Tinggal lari ke sungai, beres! Ngapain repot-repot bikin jamban yang
tentunya perlu biaya. Barangkali begitu pikiran sempit mereka. Bagi yang
tinggal jauh dari kakus alam (sungai) sih enggak masalah. Nah, bagi yang
dekat? Ya, jadi problem.
"Pas turun hujan jadi ngambang semua itu 'pisang goreng tanpa
kulit'. Bisa nempel di mana-mana. Atau malah digondol anjing ke
jalan-jalan. Ini bisa menimbulkan muntaber," ungkap Agus.
Repotnya lagi jika kebeletnya pas tengah malam. Selain gelap, di pinggir
kali ada kuburannya. Hi..., lagi enak-enaknya jongkok disapa pocong.
"Boleh ditemani enggak?" Bisa-bisa rasa kebelet yang sudah di
ujung rambut jadi nyungsep lagi ke perut. Atau, kepepetnya terpaksa
buang hajat di kantung plastik, baru keesokan hari dilempar ke sungai.
Yang juga menjadi masalah, manakala air sungai sedang pasang. Karena
terbungkus plastik, paket berisi "bom" itu pun mengambang.
Adakalanya tersangkut di rumpun bambu yang tumbuh di pinggir kali. Begitu
air surut, paket-paket tadi masih keenakan nangkring di ranting
bambu. Tatkala terik mentari menggoreng mereka, hmmm ... bau tak sedap pun
merebak.
Sebagai Ketua RT, Agus Gunarto, sempat pusing memikirkan masalah ini.
Apalagi banyak tetangga yang bertengkar gara-gara saling tuduh sebagai
pemilik paket misterius itu. Ketika masih berwujud makanan mungkin banyak
yang mengaku, tapi kalau sudah melewati usus, nanti dulu. "Saya lalu
memutuskan membuat semacam penampungan tinja saja," tegas Agus, yang
saat itu sebagai sopir bemo.
Pembalut jadi masalah
Pada tahun itu terjadi wabah diare dan menewaskan lima anak dari beberapa
keluarga miskin. Hal ini mendorong para ibu di wilayah itu untuk memulai
suatu perubahan di bidang drainase dan sanitasi. Namun, anak-anak masih suka
buang hajat di saluran tak jauh dari rumahnya. Selain tidak higienis,
lingkungan juga jadi jorok.
Inisiatif para ibu tadi mendorong enam keluarga memulai aksi massa mengatasi
persoalan sanitasi. Agus Gunarto menjadi fasilitastor dan pemimpin kelompok
ini. Ia mencari solusi sistem sanitasi dari teman-teman dan koleganya.
Dengan bersusah payah, Agus pun membuat bak berukuran 4 m x 8 m dengan
kedalaman 2 m. Lokasinya tak jauh dari sungai, di tanah tak bertuan dekat
kuburan.
Bak itu terbagi dalam dua bagian. Satu bagian sebagai penampung limbah
padat, dan satu lagi untuk menampung limbah cair yang meluap dari bak
penampung limbah padat. Di dalam bak limbah cair ditebarkan ikan lele.
Maksudnya, "Kalau lele mati berarti ada racunnya." Untuk
menyamarkan kolam penampungan dan sekaligus menaungi lele, di atasnya diberi
tanaman eceng gondok. Eceng gondok ternyata mampu menyerap logam berat yang
terdapat dalam air limbah. Hasilnya, kolam penampungan tidak mengeluarkan
bau menyengat.
Untuk biaya pembuatan bak penampungan, masing-masing KK ditarik sumbangan Rp
35.000,-. Pembayarannya pun dapat diangsur selama dua tahun. Dengan dana
seadanya itu, Agus membangun jaringan pipa pralon dari WC rumah warga ke bak
penampungan.
Sepuluh tahun kemudian, warga mulai sadar dan menyambut gagasan itu. Dari
hanya tiga KK yang mau menyetorkan tinja ke bak penampungan, bertambah
menjadi lima KK, meningkat lagi menjadi 15 KK, bertambah terus hingga 60 KK.
Pembayaran angsuran sumbangan pun juga lancar. Dari sini Agus berkesimpulan
bahwa masyarakat sebenarnya tidak sulit diajak berubah. Asal jelas
tujuannya.
Sementara angsuran sumbangan berjalan lancar, belakangan muncul kendala
baru. Saluran pembuangan mampet! Biang keladinya, pembalut yang dibuang ke
saluran pembuangan. Kalaupun tak bikin mampet, pembalut wanita yang tak bisa
terurai itu mengotori bak penampungan.
Untuk mengatasi masalah pembalut, lantas dibikin bak penyaring berbentuk
lingkaran berdiamater 2 m. Bak lingkaran ini dibagi menjadi dua bilik dengan
sekat berada di tengah menghadap ke corong pembuangan limbah. Sekat ini
seperti saringan dengan lubang-lubang sebesar ibu jari.
Dengan begitu, limbah MCK membentur saringan dan hancur berkeping-keping.
Sementara pembalut tadi tetap saja membandel tak bisa terurai, dan
tertinggal di bak filter. Tak salah kalau Agus sedikit menggugat ke produsen
pembalut. "Mestinya mereka ikut bertanggung jawab." Tak lupa Agus
memberi PR bagi "tukang" insinyur di Universitas Brawijaya,
bagaimana menguraikan limbah bulanan wanita itu.
Dari bak penyaring yang kemudian dinamakan tanki AG ini (sesuai dengan
inisial penemunya) limbah langsung masuk ke kolam penampung. Limbah padatnya
mengendap, dan limbah cair mengalir ke kolam penampung berikutnya.
Sebelum dibuang ke sungai, air limbah dialirkan dulu ke kolam berikutnya
yang berisi grasak (batu-batu koral kecil) dan arang atau pasir. Dari sini
masuk ke kolam berisi ikan sebelum akhirnya mengalir ke kali. Sementara
limbah padatnya mengendap di dasar bak penampungan, kemudian diangkat dan
dijadikan pupuk. "Bagus banget. Sudah diteliti Dinas Kesehatan dan
menjadi bahan skripsi anak Unibraw. Jepang pernah menyurati saya minta
dikirim 2 ton (limbah padat) per bulan. Mana bisa saya. Wong di sini baru
bisa sekuintal setahun. Mungkin kalau seluruh Indonesia dikumpulkan bisa,
ya? Sekilonya dihargai Rp 2.000,-. Bisa jadi jutawan saya," kelakarnya.
Pernah gagal tidak total
Meski tidak atau belum sempat menjadi jutawan, tapi Agus menuai hasil
lainnya. Beberapa penghargaan – baik tingkat dalam negeri maupun luar
negeri – menghampiri pria berperawakan kecil ini. Tahun 1996 ia memperoleh
penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional bidang Lingkungan Hidup
dari Menpora. Berturut-turut kemudian Kalpataru untuk kategori Pengabdi
Lingkungan (1997), Asian Inovation Award dari Majalah Review (1998), Heroes
of Today dari Majalah Reader’s Digest Hongkong (1999), serta
World Technology Award 2001 untuk kategori Social Entrepreneurship dari
World Technology Network (2001).
Limbah
yang mengendap sangat bagus sebagai pupuk. (Yds)
Selain memperoleh penghargaan, karya Agus juga diminati banyak daerah. Di
Malang sendiri, selain di Tlogomas, MCK tepadu ini sudah diaplikasikan di
daerah Watugong, Mergosono, Bareng, Samaan, dan Gadang. Semuanya adalah
komunitas miskin dan motor penggeraknya adalah wanita. Hal inilah yang
membuat Agus ingin bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Wanita. Tempat lain
di luar Malang yang mengadopsi temuan Agus ini adalah RS Marsudi Waluyo,
Singosari (1999), Pasuruan dan Bangil (awal 2000), Probolinggo (1999),
Bandung (1998), serta yang terjauh Kendari, Sulawesi Tenggara (2000).
Akan tetapi, karena konsep Agus tidak didukung dengan pemikiran seorang
teknolog – Agus sendiri sarjana ekonomi – maka tidak semua aplikasi MCK
di lima wilayah tadi berjalan seperti yang diharapkan. "Ya, ada yang
gagal. Yakni di Gadang. Tapi bukan berarti tidak bisa digunakan, lo. Gagal
di sini dalam artian, tidak bisa digunakan banyak orang. Harusnya bisa
sampai 30 KK tapi kenyataannya baru 10 - 15 KK."
Belakangan setelah ia diikutkan kursus sanitasi lingkungan di P3GT (?) Yogya
oleh Bank Dunia, baru menemukan penyebab kegagalan itu. "Menurut
perhitungan saya, sudut kemiringannya kurang." Yang ideal, tambahnya,
sudut kemiringan pipa saluran limbah ketika masuk ke bak filter 30 o.
Miring sekali juga tidak bagus karena air mengalir terlalu cepat. Tumbukan
limbah ke penyaring menjadi tidak efektif. Semakin lambat malah semakin
bagus. Jika kontur daerah datar, mau tidak mau harus memakai pompa."
Melalui kursus selama sebulan itu ia makin faham istilah perlimbahan. Misal,
BOD (biological oxygen demand, kadar oksigen bilogi) dan COD (chemical
oxygen demand, kadar oksigen kimiawi). "Saya sering ditanya oleh
para tamu soal parameter itu. La, saya mana tahu?" tuturnya.
Rata-rata penuruan BOD dan COD MCK terpadu di lima lokasi menunjukkan hasil
lumayan. Untuk BOD penurunannya bisa mencapai 55% dan COD 47%. Sedangkan
kadar kesolidan limbah (total suspended solid, TSS) bisa turun sampai
67%. Perbedaan kinerja MCK tepadu utamanya tergantung pada kualitas
konstruksi dan pengoperasian sistem itu. Di Tlogomas sendiri, BOD awal
terukur 202 turun menjadi 60, COD awal terukur 331 turun menjadi 120.
Tak berpikir soal paten
Dengan hasil tersebut, sudah sewajarnya kalau tanki AG bisa digunakan secara
massal. Apalagi dilihat dari biaya, tanki AG relatif tidak rakus. Biaya
pemeliharaannya juga tidak banyak. "Operatornya cukup satu orang. Itu
pun hanya bertugas mengambil dedaunan yang ada di kolam ikan," jelas
Agus Gunarto. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, otomatis tidak perlu lagi
listrik. Lahan yang diperlukan juga tidak begitu luas. Di Tlogomas yang
menampung limbah MCK 67 KK (dengan perkiraan jumlah warga 585 jiwa) hanya
membutuhkan lahan sekitar 150 m2.
Kelebihan MCK terpadu terlihat jelas di Tlogomas. Dekat MCK terpadu bikinan
Agus berdiri bangunan kokoh di atas lahan seluas sekitar 900 m2.
Bangunan bikinan LIPI yang konon berbiaya semiliar ini fungsinya sama dengan
milik Agus. Bedanya, yang ini serba otomatis. Instalasi pengolah limbah itu,
menurut Agus, merupakan karya seorang guru besar dari Austria.
"Saya tidak tahu, kenapa mereka bikin di situ. Kok tidak mencari tempat
lain? Untuk diaplikasikan di tempat lain model LIPI ini juga sulit. Selain
mahal, lahan harus luas, masih menggunakan listrik. Siapa yang mau
menanggung? Kalau punya saya tidak perlu pakai listrik. Masyarakat bisa
membuatnya sendiri," kata Agus tanpa bermaksud promosi. Anehnya, untuk
mengoperasikan instalasi itu, LIPI minta jatah dari warga yang menyetor ke
MCK-nya Agus. "Saya kasih 20 KK," kata Agus dengan nada keheranan.
Kini, tawaran untuk MCK terpadu ini berdatangan. Ketika Intisari
berkunjung ke sana, Agus Gunarto menyatakan bahwa ia diundang Gubernur Jawa
Barat untuk menjajaki pemasangan MCK terpadu di Garut. Simpati juga
berdatangan dari berbagai penjuru setelah membaca temuan Agus dari media.
Di kantornya, yang sebagian besar karyawannya wanita, Agus menunjukkan surat
dari Seminari St. Paulus Palembang. Isinya tentang saran untuk mematenkan
temuan itu. Soal ini, "Saya belum memikirkannya. Yang penting temuan
ini bisa berguna bagi masyarakat," tuturnya. Salah satu manfaat, yakni
lingkungan tempat tinggal Agus menjadi asri. "Dulu di sini ada got,
kotor lagi. Sekarang sudah hilang," kata Agus menunjuk jalan masuk ke
kawasan MCK terpadu di Tlogomas. (Yds Agus Surono) Baca juga: |
||||||
|
|
|||||||