globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

 

Jamaika dulunya sasaran kaum bajak laut. Tapi kini dianggap sebagai tempat paling nikmat untuk bersantai. Bukan hanya semilir tiupan angin laut dan nyiur melambai meliuk di pantai pasir putihnya, tetapi juga alunan musik yang mengundang untuk bergoyang badan, reggae!

Alunan musik reggae meriah menyambut kedatangan kapal Ms. Statendam di pintu masuk pelabuhan Ocho Rios, Jamaika. Para wisatawan mancanegara dengan senyum lebar bergegas keluar dari lambung kapal menjejak tanah di negara Karibia.

Negara berbentuk demokrasi parlementer yang luasnya hanya 10.990 km2 itu bertetangga dengan Haiti di timur, Amerika Tengah di barat, Kepulauan Bahama di utara, dan beberapa negara Amerika Latin di selatan. Tahun ini Jamaika yang hanya dihuni sekitar 2,6 juta penduduk akan merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-39. Tepatnya, pada 6 Agustus 1962 Inggris telah memberikan kemerdekaan kepada bangsa ini.

Semula wilayah ini dihuni Indian Arawak. Namun kemudian sempat menjadi rebutan antara berbagai negara Eropa. Tak heran bila budaya Jamaika mendapat pengaruh dari berbagai macam budaya Eropa. Hal ini paling terasa dalam hal makanan yang mendapat pengaruh dari Prancis, Cajun, dll. Yang pasti, sesuai dengan letak geografisnya, makanan yang ditawarkan kebanyakan hidangan laut.

Musik hidup itu dimainkan oleh beberapa pemusik asli Jamaika yang bertubuh tegap dan berkulit gelap. Memang tampak gagah, man! Kata man dibaca seperti akhir kata "teman". Kata "man" memang sering diucapkan orang Jamaika pada awal dan akhir tiap kalimat.

Yang unik adalah cara memainkan alat musik perkusi yang menyerupai kaleng drum minyak tanah setinggi 40 cm. Sang percusiman - begitu mereka menyebut dirinya - menjelaskan, setiap sisi permukaan logam kaleng drum itu bila dipukul akan menghasilkan nada yang berbeda. Mengherankan, bayangkan hanya satu instrumen sudah dapat mengeluarkan berbagai nada. Mengenai bagian mana tepatnya yang harus dipukul untuk mengeluarkan nada tertentu memang hanya percusiman yang tahu. Hal itu tentu menuntut daya ingat yang cermat dan tentu saja kepekaan nada.

Cendera mata Jamaika, Bob Marley

Di kota-kota Jamaika banyak benda didominasi warna-warna merah, kuning, hijau (dan hitam), tiga warna yang bermakna khusus. Bahkan rumah-rumah mereka pun dicat tiga warna itu. (Foto-foto: Dok. Leo AG)

Suasana santai khas Jamaika pun mewarnai kehidupan Ocho Rios. Nama Ocho Rios diduga berasal dari kata bahasa Spanyol, yang artinya delapan sungai. Namun, versi lain menyebutkan nama itu bisa juga pelesetan dari kata Las Chorreras yang berarti air terjun. Memang sejumlah air terjun menjadi tempat wisata utama di sini. Yang pasti kepopuleran Ocho Rios tidak lepas dari air terjun Dunn, yang selama ini paling sering menjadi objek pemotretan. Banyak yang mengatakan, amat menyenangkan berenang di air dingin di bawah air terjun itu, atau memanjat tebingnya sampai ke puncak.

Selain bersantai di pantai berpasir dan tur ke air terjun ada jenis wisata unik, yakni menyusuri sungai Jamaika dengan raft bamboo; mungkin sejenis perahu getek. Kebanyakan wisata di Jamaika memang dikemas sebagai petualangan yang mengasyikkan. Tak heran karena perekonomian negara dengan pendapatan per kapita AS $ 3.350 itu amat mengandalkan sektor pariwisata. Meski sebenarnya mereka memiliki beberapa pabrik hasil tambang boksit dan hasil perkebunan berupa kopi Blue Mountain yang terkenal mahal itu.

Di kota tepi pantai ini kaum wisatawan cukup bercelana pendek dan berkemeja ala wisatawan Karibia. Segala sesuatu tak tampak formal. Beberapa mobil pribadi, biasanya sedan keluaran Jepang, hilir-mudik. Sebagaimana di beberapa negara kepulauan lain, mobil pribadi yang disewakan kepada pendatang selalu disertai supir berambut gimbal. Rambut khas ala Jamaika, yang dipilin dan dikepang kecil menjadi puluhan ikat, menghadirkan ingatan akan sang pemberontak bersenjatakan lagu-lagu reggae, Bob Marley. Musikus yang memang asli kelahiran Jamaika itu memang dikenal dengan lagu-lagu berlirik kritik yang bersemangat revolusi dan pemberontakan bagi penguasa.

Bob Marley menjadi pelopor yang menggerakkan massa Jamaika untuk menolak tindakan pemerintahan dan negara-negara penganut paham apartheid di benua orang kulit hitam. Lambang gerakan itu adalah Symbol of Rasta yang warna-warninya menyerupai warna bendera negara Etiopia di Afrika, yaitu merah, kuning dan hijau, semangat bersatunya orang kulit hitam. Hampir di setiap toko barang suvenir, mulai foto, kalender, mug, kaus oblong, bros, dan banyak lagi lainnya, menampilkan wajah Bob Marley dan kain berwarna merah, kuning, hijau.

Spirit dan gaya almarhum yang juga romantis tercermin dalam lagunya No Woman No Cry. Tak sedikit artis mancanegara tampak jelas mengekor habis gaya Bob Marley dalam bernyanyi dan mencipta lagu. Salah satu contohnya Maxie Priest.

Kepopuleran Bob Marley tampak nyata di makam Bob yang terletak di Kingston yang tidak pernah sepi pengunjung. Untuk menuju ke Kingston pun wisatawan tidak perlu takut tersesat. Caranya pun mudah, cukup datang di tiap perhentian yang biasanya selalu tersedia kendaraan umum berupa minibus ukuran sedang, mirip mobil omprengan malam lengkap dengan kondektur. Sang kondektur ini, seperti di Jakarta, akan berteriak-teriak memanggil calon penumpang dengan menyebutkan tempat tujuan. Nah, yang paling sering disebut adalah Kingston Town, nama ibukota Jamaika. Ibukota dapat dicapai dengan kendaraan roda empat selama sekitar tiga jam dari Ocho Rios.

Selain Ocho Rios dan Kingston Town, kota besar lain di Jamaika adalah Montega Bay yang dapat dicapai dengan penerbangan langsung dari Jakarta.

Bob Marley memang nyata populer di Jamaika, bahkan mengalahkan pamor Perdana Menteri Percival James Patterson. Anehnya, sang PM tidak duduk di peringkat kedua. Tokoh terkenal kedua setelah Bob Marley adalah Che Guevara, yang memang top di benua Amerika Selatan.

"Rumput" si daun surga

Selain masalah kendaraan umum, hal lain yang sedikit banyak mirip dengan di Indonesia adalah pasar tradisionalnya. Pada hari pasar di pusat kota Ocho Rios pasar tradisional itu menggelar berbagai macam buah-buahan yang juga nyaris sama seperti di Indonesia. Tapi ada satu hal yang membedakan, di sana banyak pedagang "daun surga".

"You wanna grass, man?" kata seorang pria bertubuh gelap menawarkan dagangan dengan sangat terang-terangan, bukan berbisik-bisik di tempat tersembunyi. Wah, ganja kok dibilang rumput! Tawaran itu mendapat sambutan dari beberapa orang yang disapanya. Saat tawar-menawar telah mencapai kesepakatan harga alias "Deal man!", si penjual akan membungkusnya hanya dengan pucuk daun pisang, layaknya menjual ikan pepes atau daun sirih saja.

Yang mengesalkan, para pedagang ganja itu suka "nakal". Sering mereka bekerja dengan "oknum" polisi untuk mengerjai wisatawan yang tidak berpengalaman. Mereka akan melapor pada oknum "polisi" yang selanjutnya mengancam akan melakukan proses verbal jika tidak membayar ganti rugi atas "pelanggaran undang-undang" yang jumlahnya bisa mencapai ratusan dolar.

Di pusat kota ada banyak laki-laki berambut gimbal yang lagi pulas "tidur" alias fly on. Heran, kok mereka bisa cuek bebek seenaknya? Kata seseorang, kalau polisi Jamaika menangkapi mereka, bisa-bisa kantor polisi dan penjara di Jamaika penuh sesak.

Menyusuri pertokoan pusat kota dan sepanjang pantai, para pedagang dan pemilik tokonya kebanyakan orang India. Yang mereka jual pun kebanyakan barang-barang palsu yang mengikuti mode global, seperti kaus bertuliskan "Hard Rock Café Jamaica".

Selain itu, ada lagi seorang ibu bertubuh besar, gendut, berkulit hitam dengan aneka pernik gelang di tangan dan kalung manik-manik di leher. Dengan bahasa tubuh yang luwes bergoyang-goyang ia akan menyapa calon konsumennya.

"Come to mama, man!" sambil bisik-bisik ke telinga calon konsumen. Nah, kalau yang ini bukan menawarkan ganja, tapi hiburan buat lelaki hidung belang. "You want black sweet Jamaican, man?"

Aduh, Mak, transaksinya tampak begitu terbuka. Tentu saja ini sempat membuat merinding bulu roma saya yang dibesarkan dengan cara berbeda di Indonesia.

Di kota Ocho Rios, memang banyak sekali "mama gendut" alias germo yang mengejar wisatawan hidung belang. Para germo itu juga merangkap menjadi supir dan pemilik mobil carteran yang di kursi belakangnya diisi para sweet Jamaican. Di tiap pusat perbelanjaan selalu ada saja mobil-mobil khusus seperti itu yang mangkal.

Batu hitam "ajaib"

Kebanyakan buah-buahan di Jamaika mirip dengan di Indonesia.

Bagaimana pun suasana paling nikmat di Jamaika memang bersantai di pantai sambil memandangi pasirnya yang putih dengan tidur-tiduran di kursi bambu yang bersih. Tampak para peselancar asyik bermain di gulungan ombak. Selain itu beberapa wanita berkulit putih hilir mudik dengan memanggul radio tape di pundak yang memutar lagu-lagu reggae dengan suara hingar-bingar. Perilaku memanggul tape bukan hanya dilakukan di pantai tapi juga di banyak tempat lainnya di pusat kota. Jadi, kalau melihat orang memanggul tape di jalan, jangan dikira mereka menuju tempat pegadaian atau pasar loak. Memang begitulah sudah tradisi mereka, alias tiada hari tanpa musik, tiada hari tanpa alunan goyang, lagu-lagu reggae.

Riang dan mudah bersahabat memang ciri khas masyarakat Jamaika. Bahkan mereka berpendapat, teman dan keluarga adalah hal yang paling penting. Mereka akan bahagia bila bisa membuat tamunya bahagia.

Salah satunya diwakili oleh seorang tukang es di tepi pantai. Dengan lincah tangannya mengepras sebutir kelapa muda yang lalu dibubuhi sedotan, es batu, dan sedikit "pemanis" merah muda menambah nikmat suasana pantai. Tampak beberapa orang menolak ditambahkannya tawaran pemanis, rupanya sekadar berjaga-jaga terhadap zat pewarna.

Yang hebat, si tukang es pun tak kalah gaya. Ia hanya bercelana pendek yang dipadu kemeja kembang-kembang yang semua kancingnya tidak terkait sehingga bajunya berkibar-kibar ditiup angin pantai. Sebagaimana pedagang lainnya, si tukang es pun doyan mengobrol. Dalam waktu singkat dengan gayanya yang cuek dan tangan ke sana kemari ia sudah berhasil menjalin keakraban.

Tapi, celakanya, ujung-ujungnya ia menawarkan batu hitam "ajaib". Batu yang disebut black stone itu berbentuk seperti permen pastilles, berukuran kecil dengan diameter 0,5 cm. Black stone itu ditawarkan dengan harga yang tidak murah, meski kalau pintar menawar bisa juga didapat dengan harga AS $ 20. Biasanya, batu ajaib dijual paling murah AS $ 20 per potong untuk yang berdiameter 0,5 - 1 cm.

Ketika transaksi disetujui, si penjual akan membungkus black stone dengan aluminium foil atau sesobek kertas timah dalam bungkus rokok. Tidak dengan bungkus yang lain, karena konon dapat menghilangkan khasiatnya. Batu hitam itu dipercaya berguna bagi laki-laki yang ingin tampil hebat di ranjang. Itu sebabnya, kata si tukang es, laki-laki Jamaika terkenal "perkasa" di ranjang.

Yang lucu cara memakainya. Mula-mula batu itu ditaruh di sebuah wadah kecil lalu ditetesi air. Konon dalam beberapa saat batu akan melunak. Bila batu sudah lunak, airnya bisa dioleskan di "senjata" kaum pria. Efeknya, konon "senjata" kaum pria menjadi kebas alias mati rasa. Karenanya, untuk menguji palsu tidaknya batu itu cukup ditetesi air lalu airnya dioleskan di bibir. Kalau bibir jadi mati rasa, artinya batu itu asli.

Batu bisa disimpan untuk dipakai lagi lain waktu; tentu dalam kondisi setelah mengeras seperti semula. Nah, kalau yang ini memang ajaib, tapi masalah khasiatnya, entahlah. Terus terang, saya tidak membeli karena tidak berani mencoba! (Leo Aryo Garindho)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Click to add search to YOUR web site!

sing tak go gawe hompej

Counter by Pandawa