globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Robohnya Simbol Kebanggaan, Runtuhnya Keangkuhan

Tragedi Selasa Kliwon, 11 September 2001, yang melanda New York, Washington DC, dan Shanksville, memantikkan api pertempuran nan tak kunjung padam antara Amerika (dan sekutunya) dengan pihak yang membenci mereka. Amerika meradang, dendam alang-kepalang, namun sekaligus dipaksa untuk mengkaji kembali kebijakan dan perlakuannya pada banyak negara, yang justru acap dianggap "teror".

repro: TST

Telak betul serangan itu. Pagi hari ketika kehidupan di pusat keuangan Amerika (dan dunia) hendak bergerak, sebuah Boeing-767 American Airlines Penerbangan 11 dari Boston menuju Los Angeles menabrak menara utara gedung kembar World Trade Center New York, pada pukul 08.48 waktu setempat atau 13 jam lebih awal dari WIB. Ketika orang belum menyadari bencana itu, pukul 09.03 menara selatan juga ditabrak pesawat terbang. Kali ini Boeing-767 milik United Airlines Penerbangan 175 jalur Boston - Los Angeles, yang berangkat dari Boston pukul 07.58.

Di Washington DC, gedung Departemen Pertahanan AS (The Pentagon) ditabrak Boeing-757 American Airlines Flight 77 pada pukul 09.43. Pesawat itu baru berangkat dari Bandara Dulles, Washington DC, pukul 08.10, dan sedianya menuju Los Angeles. Selang 27 menit kemudian, Boeing-757 milik United Airlines Flight 93 meledak setelah menghunjam tanah di Shanksville, dekat Pittsburgh. Pesawat komersial itu berangkat dari Newark pukul 08.10, dan mestinya menuju San Francisco.

Pesawat Boeing-767 beratnya 160 ton, termasuk 45 ton bahan bakar jet berbasis kerosene. Sedangkan Boeing-757 beratnya 100 ton termasuk 30 ton BBM. Ketika dua Boeing-767 menabrak menara kembar WTC, sekitar 90.850 l BBM langsung meledak menjadi api. Panas 1.0000 C melelehkan baja yang menopang kekuatannya.

Pukul 10.05, menara selatan WTC runtuh. Menara utara yang lebih dahulu digasak pesawat, baru runtuh pada pukul 10.28. Keduanya menyisakan bagian bawah bangunan berupa lengkungan gotik dari baja yang lunglai. Bahkan kemudian meruntuhkan bangunan lain. Sedangkan Pentagon hancur di salah satu sisi, menyisakan puing dan kebakaran yang hingga 24 jam kemudian belum bisa dipadamkan. Ribuan orang hilang, meninggal, cacat, dan hampir 300 petugas pemadam kebakaran New York tewas.

Orang terperangah. Selama ini yang dipahami orang Amerika adalah bencana di tempat lain, atau bencana ciptaan menjadi tontonan semacam film. Tapi "Tragedi 911", diambil dari bulan dan tanggal kejadian, bulan September tanggal 11, betul-betul bencana nyata.

Tamparan keras ke muka

Sejak Pearl Harbor 7 Desember 1941, wilayah Amerika tak pernah mendapat serangan secara terbuka. Padahal musuh Amerika tidak pernah hilang. Maka Amerika amat terkejut ketika 26 Februari 1993, sekelompok orang meledakkan bom di tempat parkir gedung World Trade Center New York. Enam orang tewas, lebih seribu luka-luka, dan ledakan setengah ton bom dalam mobil itu membekaskan lubang selebar tujuh meter sedalam lima lantai. Tapi tak cukup menghancurkan gedung itu. Lantas ada sekelompok ekstremis domestik yang dimotori Timothy McVeigh meledakkan gedung federal Alfred P. Murrah di Oklahoma City pada 19 April 1995, menewaskan 168 orang.

Miliaran dolar dana dikucurkan untuk membangun sistem pertahanan dan operasi peredaman gerakan yang oleh AS disebut terorisme itu. Tahun 2000 lalu, misalnya, mereka membelanjakan AS $ 200 juta untuk kegiatan itu. Tapi segala upaya bobol oleh sesuatu yang boleh jadi tidak terdapat dalam satu pun literatur atau wacana pertahanan Amerika. Tragedi 11 September 2001 menjadi tamparan amat keras ke muka negara pemenang Perang Dingin itu.

Menara kembar World Trade Center di P. Manhattan, New York, dan Pentagon di Washington DC, diserang bukan tanpa tujuan. Keduanya simbol kekuatan ekonomi dan pertahanan Amerika. Banyak pengamat berkomentar, itu puncak dari resistensi terhadap dominasi Amerika, baik secara ekonomi, politik, maupun militer.

Penyerangan ke Pentagon juga mengandung makna realistis maupun simbolis. Gedung perkantoran terbesar di dunia (luas bangunannya 11,71 ha dalam areal 235,53 ha) itu, selain menjadi pusat pengendalian juga simbol kekuatan militer AS.

Gedung segilima rancangan George Edwin Bergstrom itu dibangun sejak 1941 dengan dana AS $ 83 juta dalam periode 16 bulan, dan mulai difungsikan pada 15 Januari 1943. Dalam keseharian tercatat 25.000 pekerja di bangunan lima lantai setinggi 23,5 m yang memiliki 7.754 buah jendela itu. Untuk mengukur kebesaran bangunan yang menyatukan 17 departemen perang itu, setiap sisinya memiliki panjang 280 m alias tiga kali panjang lapangan sepakbola.

Memang, tak sampai seperlima bangunan yang hancur dan tak sampai seperlima pegawai tewas pada 11 September. Namun serangan itu bisa dipahami sebagai sikap yang melampaui rasa keberanian menantang pertahanan (sekaligus persenjataan) Amerika.

Letkol. (Purn.) Oliver North, dalam wawancara dengan FoxNews, Kamis, 13 September, menyimpulkan, tindakan itu merupakan puncak dari segala kenekatan di era perang modern. "Amerika tidak siap dengan serangan semacam itu," kata North.

Ketidaksiapan Amerika, oleh mantan presiden George Bush (senior) dalam pidato di Boston 13 September, dinilai karena sikap mengabaikan hal-hal kecil. "Intelijen kita terlalu mengandalkan peralatan dan sistem modern. Tak ada lagi sistem intelijen tradisional yang mengandalkan pengamatan jarak dekat, komunikasi dari mulut ke mulut."

Pencitraan cara Barat

Apa pun penyesalan dari mereka yang berkompeten di angkatan bersenjata AS, yang pasti, tragedi 11 September telah menyayat-nyayat rasa kemanusiaan. Namun dicerna lewat logika sederhana orang tahu, kejadian itu berlangsung karena dorongan suatu sebab. Bukankah serangan terhadap kepentingan Amerika selama ini dilatari balas dendam? Bagaimana dengan serangan AS ke Irak? Bagaimana pula dengan dukungan terhadap Israel, baik di Lebanon tahun 1982 maupun di Palestina? Bagaimana pula Kolombia hendak dijadikan semacam Vietnam baru?

Menarik penjelasan wartawan John Pilger dalam publikasi lewat email pada 13 September yang mengingatkan agar dunia tak larut dalam publikasi AS tentang tragedi itu. "Sebab dua hari sebelumnya, delapan orang di Irak bagian selatan mati karena bom dari pesawat AS dan Inggris, dan setahu saya tak satu pun media Barat memberitakannya. Lagi pula, jumlah korban WTC dan Pentagon tak sebanding dengan sekitar 200.000 warga Irak yang, menurut Health Education Trust di London, tewas selama penyerbuan yang oleh Amerika disebut Perang Teluk."

Pilger mengutip pendapat Richard Falk, guru besar hubungan internasional di Universitas Princeton, "Kebijakan luar negeri negara Barat ditampilkan melalui ukuran kebenaran Barat, sepihak dan menurut nilai-nilai Barat."

Jadi, simpul Pilger, dalam kacamata Barat, para penyerang gedung WTC dan Pentagon adalah orang yang sangat bersalah, sangat berdosa, tanpa perlu dipahami kenapa mereka berbuat begitu.

Kemungkinan PD III

Presiden George W. Bush sudah menyampaikan ancang-ancangnya untuk "Perang jangka panjang". Mereka yang cemas menilai konsolidasi kekuatan Amerika adalah embrio meletusnya Perang Dunia III. Amerika sanggup memulainya, kalau mau, mengingat kini kekuatan militernya tersebar di 50 negara.

Apalagi orang menghubungkan gejala itu dengan ramalan Nostradamus (Michel De Nostredame, 14 Desember 1503 - 2 Juli 1566). Ramalannya yang tersusun dalam beberapa bab (Century) dan setiap bab terdiri atas beberapa bait empat baris (Quatrain), memang memuat cerita tentang kehancuran sebuah kota baru. Banyak orang meyakini hal itu sebagai pertanda mulainya PD III.

Pada Century I Quatrain ke-87 Nostradamus menulis, "Ledakan besar akan menggetarkan Kota Baru. Dua karang besar akan berperang dalam waktu lama, dan Dewa Perang akan mengakibatkan sungai dialiri darah."

Erika Cheetam, penyunting buku The Prophecies of Nostradamus (1973), menafsirkan The New City sebagai New York. Serangan atas kota itu akan menggerakkan Amerika, sang Dewa Perang, ke dalam peperangan dalam jangka waktu lama.

Pada Century VI Quatrain ke-97 Nostradamus menulis, "Langit akan terbakar pada 450, api mendekati Kota Baru. Seketika jilatannya menyambar sebagai pertanda mereka ingin menunjukkan bukti kepada Normans."

Istilah Normans diartikan Erika Cheetam sebagai Prancis. "Tapi saya cenderung menyimpulkannya sebagai pusat kekuatan yang tak lain adalah Pentagon," komentar Ir. H. Anwarudin Hadisusilo (73), aktivis pada Metafisika Study Club Jakarta, yang telah lama mempelajari ramalan Nostradamus.

"Bahwa angka 450 disebut oleh Cheetam sebagai letak Kota New York yang 40 - 450 paralel di peta Amerika, saya rasa kok salah. New York dalam peta geografi berada di sekitar 23,5 - 300 Lintang Utara. Apalagi ada yang mengartikan api menjulang membentuk sudut 45<SUP0< sup>, atau panasnya 450. Saya cenderung menyimpulkan, pesawat yang di Pentagon itu ditabrakkan dalam sudut 450," tambah ahli teknik tamatan The University of New South Wales, 1959, ini.

"Secara teknis, kalau tujuannya mencari efek kerusakan paling besar, pesawat dihunjamkan vertikal di tengah Pentagon. Tapi itu tidak mungkin. Maka dipilih sudut maksimal dari yang memungkinkan, yaitu 450. Sebab kalau terlalu datar akan menabrak gedung lain karena tinggi Pentagon hanya 23,5 m."

Tapi, apakah serangan ke New York akan memicu PD III?

"Saya ngeri menjawabnya. Lagi pula perang masa kini tidak cuma berwujud benturan frontal pasukan antarnegara."

Namun satu hal disampaikan oleh Anwarudin, yakni serangan 11 September 2001 didorong oleh sebuah kekuatan amat besar, lebih besar daripada yang bisa dilakukan oleh Amerika.

"Secara spiritual kita bisa memahami, itu pelajaran bagi keangkuhan Amerika. Balasan bagi kesewenang-wenangan di banyak negara dalam pelbagai bentuk dominasi, yang kadang kala merupakan teror. Jadi, bukan mereka yang menyerang malah disebut teroris. Mereka justru memuncaki perlawanan dengan kepasrahan dan keputusasaan tingkat tertinggi," sambung Anwarudin.

Barangkali benar, perang akan terjadi. Namun negara semaju Amerika tentu tak akan gegabah menyulut sumbu ledakan global. Sebab pelajaran besar baru saja terjadi: negara yang begitu perkasa bisa berantakan. Simbol-simbol kebanggaan runtuh, menunjukkan juga Runtuhnya Keangkuhan - persis judul lagu karya Tarida Panjaitan Hutauruk di tahun 1980-an.

Amerika kalah. Tapi, mereka pasti bilang, "Untuk sementara." (SL)

Baca juga:

Artikel Warna lainnya:

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal

Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - TerCubuk

Warna - Jeda - Dialog

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej