globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Sepenggal Kisah di Pulau Komodo

Cerita tentang pulau "naga" terdengar seperti dongeng. Serupa tak sama dengan Taman Jurasik, karena dihuni "naga" dari zaman prasejarah berlidah kuning terbelah dengan gigi serupa pedang. Itulah komodo, yang bisa melahap seekor babi sekali telan.

Sang "naga" raksasa, binatang kuno sisa zaman prasejarah. (Repro: Stern)

Angin serasa mati, terik matahari menyengat kulit, ketika kapal Starship mencapai Komodo. Di pulau yang terletak 400 km timur dari Bali itu bertemu Samudera Hindia dan Pasifik. Cadar halus awan merah muda melingkari puncak gunung berapi, sementara di belakang laut biru tampak jelas pantai pasir berkelok-kelok.

Sejak dua tahun silam Starship keliling dunia mencari mukjizat alam terakhir. Melacak ikan paus pembunuh hingga British Columbia, Kanada, atau berlayar menuju Papua Niugini demi kuda laut mini. Setiap hari hasil dan foto-foto penyelidikan dimasukkan internet. Di kapal hightech itu via satelit terjadi pertukaran informasi dari seluruh dunia. Di antaranya informasi ilmiah tentang cara menangani komodo sang kanibal prasejarah.

Mencari makam sang baron

Pencarian komodo yang sering makan korban, di antaranya seorang baron dari Swis, dimulai di hutan lebat, tepat di belakang pantai. Petugas taman nasional Yusuf Jenata memandu tim ekspedisi. Kata Yusuf, sejak ada turis hilang tak berbekas dan sebuah tim kamerawan dari Singapura diserang komodo, tidak ada orang berani masuk taman nasional itu sendiri.

"Wanita yang sedang datang bulan dilarang masuk taman, karena binatang itu mampu mencium darah segar dari jarak empat kilometer," tambah Yusuf yang mengenakan seragam hijau sambil membawa kayu besi bercabang untuk menghalau komodo.

Orang juga tidak boleh beristirahat dengan tiduran. Itu bisa dianggap sebagai undangan untuk makan besar. Andaikata diserang? "Segera panjat pohon atau lari secepatnya. Komodo dewasa yang memiliki panjang 3 m dengan berat rata-rata 60 kg bisa lari sampai kecepatan 20 km," pesan Yusuf.

Tampak jejak baru di pasir, jejak dari cakar besar dan ekor panjang nan kuat. "Itu si Awas. Komodo jantan berumur 30 tahun. Beratnya 60 kg panjangnya tiga meter. Ia sangat agresif. Hati-hati, ini memang wilayahnya," ujar Yusuf yang kenal betul si Awas. Setahun silam Awas mencoba "mencomot" seorang anak dari kamp taman nasional. Untung ada petugas mengetahuinya dan berhasil menghalaunya dengan tongkat.

Makin masuk ke hutan, jalan makin sempit. Di bawah akar pohon asam yang bercabang banyak tampak lubang besar di tanah. Lubang sedalam 5 m tempat komodo berlindung kala hari dingin dan basah. Lubang itu kosong. Di tempat peralihan di savana, tempat komodo berwarna tanah itu bisa berjam-jam mengintai babi hutan dan rusa, pun sepi. Di kejauhan orang hanya mendengar jeritan kakaktua dan gemerisik dedaunan kering terinjak.

Baru menjelang sore, saat matahari tetap bersinar terik, muncul "naga" pertama. Binatang sepanjang 2,5 m dengan kulit seperti baju besi itu sedang tiduran di atas pasir panas di sebuah tempat terbuka di hutan. Tampak kaki depannya yang kukuh dengan moncong amat elastis. Itu sebabnya komodo dapat menelan utuh seekor babi.

Ia mengangkat kepala, menjulurkan lidah kuning bercabang, dengan sensor halusnya mencium "tamu" yang datang. Komodo memang memiliki daya penciuman yang lebih baik daripada kemampuan penglihatan dan pendengarannya. Lalu ia kembali tidur dengan kepala tertunduk dan mata terpejam. Rupanya ia tengah berjemur agar suhu badannya naik dari 28o menjadi 38oC, suhu untuk berburu. Panas tubuh komodo, sebagaimana reptil lain, memang bisa berubah-ubah.

Pencarian makam sang baron dari Swis dilanjutkan. Setelah meninggalkan hutan lebat, melintasi savana, masih harus mendaki gunung penuh pohon lontar yang menjulang tinggi.

Akhirnya, di tempat datar di sebuah bukit kecil tampak salib kayu kusam di rerumputan. Di permukaannya tertulis: "Untuk mengenang Baron Rudolf von Reding Biberegg, lahir di Swis tanggal 8 Agustus 1895 dan hilang di pulau ini tanggal 18 Juli 1974." Kisah bermula saat sang Baron melakukan petualangan. Katanya kepada pengawalnya, ia ingin tinggal di bukit itu lebih lama. Namun, sejak itu ia tidak muncul lagi. Yang ditemukan hanya kamera dan ikat pinggangnya yang koyak.

Sering masuk desa

Prosesi menelan babi, utuh-utuh, tanpa membuang bulu atau tulangnya.

Kisah tentang sang baron bukan cerita seram satu-satunya. Seperti yang dikisahkan masyarakat Labuanbajo, kota pelabuhan kecil di Pulau Flores, sekitar 32 km dari pulau itu.

Pernah seorang anak laki-laki berusia dua tahun diterkam komodo. Untung tetangganya berhasil menarik badannya yang sudah separuhnya ada di kerongkongan komodo, lalu menghalau binatang itu. Malangnya, anak itu sudah mati kehabisan darah. Ada lagi seorang guru SD yang digigit betis kanannya saat ia sedang berjalan kaki.

Kabar terakhir seekor komodo di Kampung Komodo, satu-satunya kampung di pulau itu, menerkam seorang anak laki-laki. Meski bisa lepas dari serangan mematikan itu, anak itu tetap sakit, malah tak bisa bicara. Berbagai peristiwa tragis itu bagi masyarakat lokal tidak dianggap luar biasa. Mereka realistis saja menanggapi jatuhnya korban dan kerugian materi.

Kampung Komodo yang dihuni 1.400 penduduk terletak di sebuah teluk yang terlindung. Rumah panggung mereka terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Di sebuah rumah panggung kecil bercat hijau-biru dengan atap seng bergelombang, Hery (11) tinggal bersama orang tua dan empat saudaranya. Ia duduk diam di kursi plastik merah. Di bagian dalam lengannya tampak jelas bekas luka yang panjang.

Kata sang paman yang duduk di sebelahnya, Hery tidak bisa mengatasi trauma akibat terkaman ora, sebutan lokal komodo. "Ora telah mengambil jiwanya," kata pamannya.

Awalnya, Hery dan teman-teman masuk hutan mencari buah asam ketika tiba-tiba komodo muda nyelonong ke arahnya, lalu menerkam tangan dan punggungnya. Teman-temannya berhasil menghalau binatang itu dengan sambitan batu. Hery pun segera dilarikan ke rumah sakit di Labuanbajo. Untung ia selamat. "Namun dia tidak akan hidup lama. Bakteri membuat tubuhnya lemah. Air liur komodo mengandung lebih dari 50 bakteri berbeda yang berakibat infeksi buruk," ujar sang kata paman.

Tak adakah yang bisa dilakukan untuk Hery? "Tidak, itu harus diterima. Ora minta korban," jawab si paman sementara Hery sesekali mendongakkan kepala dengan wajah sedih.

Komodo memang sering masuk desa, tapi mereka jarang menerkam orang dewasa. Di perkampungan mereka memangsa kambing, anjing, dan ayam. Atau masuk ke gubuk mencari tikus dan sisa ikan. Biasanya penduduk Kampung Komodo membiarkannya. Mereka pun diam saja kalau komodo menggali tulang belulang nenek moyangnya. Binatang itu seakan-akan dianggap memiliki kekuatan yang lebih tinggi.

Pak Ishaka, pemahat terkemuka setempat, bahkan menaruh kambing dan rusa sebagai korban di atas makam nenek moyangnya. "Agar saya bisa berhubungan dengan roh nenek moyang," kata pria kecil kurus bergigi kuning itu.

Sejak 15 juta tahun silam

Komodo termasuk makhluk tertua di dunia. Diduga lebih dari 15 juta tahun silam mereka datang ke Australia dan Indonesia. Tahun 1912 hewan purba ini ditemukan oleh seorang letnan Belanda. Ia mengira komodo itu bisa mencapai enam meter, namun selama ini komodo terpanjang yang ditemukan panjangnya 3,13 m dengan berat 166 kg.

Tidak ada yang tahu batas usia tertua komodo. Tidak jelas pula mengapa jumlah jantan tiga kali lebih banyak daripada betina, atau mengapa mereka hanya ditemukan di Pulau Komodo dan P. Rinca, tetangga Pulau Komodo. Hanya sedikit ahli yang cukup lama mengikuti perkembangan komodo, akibatnya komodo masih akan menjadi teka teki alam untuk waktu yang cukup lama.

Betina komodo bisa bertelur sampai 25 butir dalam sarang jauh di dalam tanah. Sekitar delapan bulan kemudian, setelah musim hujan, telur itu menetas mengeluarkan bayi sepanjang 30 cm dengan berat 80 g. Sampai umur dua tahun anak komodo tinggal di dalam pohon agar tidak dimangsa rekan sejenis yang lebih tua.

Ternyata tidak mudah menemukan si Awas. Beberapa kali dijumpai gundukan putih di jalan dengan tulang mencuat dan bulu hitam panjang. Itu kotoran komodo yang mengandung sisa babi hutan yang tidak tercerna. Awas sendiri tidak tampak di wilayahnya.

Tiba-tiba dari hutan terdengar bunyi keras gemerisik dari semak-semak. Langkah berat teratur mendekat. Seekor komodo muncul di antara bunga anggrek. Satu lagi menyusul di belakangnya. Mereka bergegas melintas semak-semak. Yusuf menduga, pasti ada mangsa, sehingga mereka tertarik ke sana.

Hati-hati Yusuf dan timnya mengikuti jejak mereka. Sekitar 200 m di tempat terbuka, seekor komodo jantan dewasa sepanjang tiga meter dengan bobot 60 kg menghadapi babi hutan, hasil buruannya. Komodo itu meraih lalu menancapkan gigi ke leher mangsanya. Dengan moncong terbuka ia menguntal kepala dan memasukkannya ke dalam kerongkongannya. Setelah kepala, menyusul kemudian tubuh, dan akhirnya seluruh bagian babi termasuk kulit, bulu, kaki, dan ekor. Semua ludes hanya dalam 60 detik!

Bau darah segar mengundang makin banyak komodo. Rupanya tak jauh dari situ ada seekor komodo lain menangkap babi yang lebih besar. Ternyata komodo itu si Awas. Yusuf langsung mengenalinya dari bekas luka yang tampak jelas di kepalanya. Yusuf tampak ekstrahati-hati dan menjaga jarak dengannya.

Awas menghadapi mangsa dengan gagah sambil memandang teliti satu per satu temannya yang berdatangan. Semua berlangsung cepat. Saat Awas merobek perut mangsanya, ternyata ada komodo lain yang punya nyali mencoba merebut santapannya. Perkelahian berdarah di antara empat komodo raksasa tak terhindarkan. Terjadi tarik-menarik, saling cakar berebut mangsa diselingi suara geraman.

Babi diputar-putar di langit, yang tumpah dan terburai segera mengisi rongga mulut mereka. Semua diselesaikan dalam suasana hiruk pikuk. Bau busuk mengerikan menusuk pernapasan seiring turunnya gelap malam di delapan derajat selatan khatulistiwa.

"Berebut" pangan dengan manusia

Komodo membutuhkan sekitar 50 kg daging seminggu. Selama ini mereka tidak kekurangan mangsa di Komodo dan Rinca. Namun kondisi itu berubah, saat tiga tahun lalu krisis ekonomi menghantam Indonesia. Banyak perusahaan ditutup, jutaan karyawan kehilangan pekerjaan, penghasilan turun.

Sebagian masyarakat di pulau tetangga Sumbawa mencari sumber penghasilan baru. Ditemukanlah perdagangan daging dari P. Komodo. Sejak itu secara teratur di malam hari ada sekelompok orang masuk ke taman nasional. Dalam seminggu tak kurang dari 50 ekor rusa dan kerbau terbunuh. Di pasar di Sumbawa mereka mendapat sampai Rp 30.000,- per kg daging.

Penjagaan di Taman Nasional Komodo ditingkatkan menjadi 106 petugas yang dididik secara militer. Namun pemburu gelap memiliki perlengkapan yang lebih baik, dengan bahan peledak dan pistol otomatis. Tembak menembak sering terjadi bahkan sampai menimbulkan korban dari dua belah pihak. "Pemburu liar memang tidak takut mati," kata Yusuf.

Kini masih ada 1.600 komodo raksasa di Komodo, 1.500 di Rinca, serta sekitar 200 ekor di kebun binatang mancanegara. Kalau rusa dan kerbau habis, komodo juga akan punah. Antar sesama mereka akan saling terkam, saling mangsa. Atau paling, bagi yang tak berdaya, hanya bisa berbaring di rumput menanti ajal.

Seperti yang dilakukan komodo betina berusia 40-an tahun. Di pinggiran sungai bermandikan matahari sore ia tiduran, diam menunggu. Kerbau lewat, kuda liar datang, ia diam saja. Hilangkah naluri berburunya? Tubuhnya yang menampilkan tonjolan iga tergeletak lunglai. Berapa lama ia akan menunggu? Yang pasti entah sehari atau seminggu maut pasti menjemput, saat komodo yang lebih muda melahapnya. (*/I)

 

Artikel Warna lainnya:

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal

Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - TerCubuk

Warna - Jeda - Dialog

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej