|
|
Oktober 2001 |
|
Belanja Obat Lewat Internet Tak
lama lagi, kita mungkin bisa beli obat tanpa harus datang ke apotek. Cukup
dengan menyalakan komputer dan klik ... klik ... obat yang kita perlukan pun
akan segera datang. Namun, cara belanja obat secara elektronik ini masih
menyisakan sedikit kekhawatiran.
Di AS sudah umum
Belakangan, dunia kesehatan memang makin kuat merambah internet. Baik
informasi yang berhubungan dengan penyakit, obat, maupun produk-produk yang
berhubungan dengan kesehatan secara umum. Tentu saja, ini memberikan wajah
baru bagi dunia pelayanan medis. Karena servis dapat diberikan, tanpa adanya
interaksi langsung antara pasien dengan tenaga medis, apoteker maupun
penjual obat.
Di Amerika Serikat, peran internet sudah berkembang sangat pesat. Pada tahun
1999 misalnya, terdapat 200 situs farmasi yang sekaligus menjual produk
kesehatan, termasuk obat melalui layar komputer. Bahkan, sebuah laporan
memperkirakan adanya kecenderungan meningkatnya angka penjualan obat lewat
internet (e-commerce). Diramalkan, pada tahun 2004 nilai transaksinya
mencapai AS $ 20 juta hingga AS $ 25 juta. Jauh lebih tinggi ketimbang hasil
penjualan tahun 1999 yang hanya AS $ 1,9 juta. Salah satu situs farmasi
penting dan cukup terkenal dalam penjualan obat dunia maya ini adalah
Merckmedco.com. Menurut Dow Jones, situs ini sanggup melayani lebih dari
85.000 resep setiap pekannya.
Penjualan obat via internet tampaknya akan menjadi nge-trend di masa
depan. Barangkali karena banyaknya kemudahan buat konsumen yang ditawarkan.
Terutama dalam mengakses informasi sebanyak-banyaknya dan
selengkap-lengkapnya sebelum membeli suatu produk. Termasuk kesempatan
membandingkan harga, tentunya. Keuntungan lain, lantaran tak ada kontak
langsung, konsumen bakal terjaga privasinya. Terutama jika obat-obat yang
dibeli masuk kategori untuk kepentingan sangat pribadi.
Belanja obat lewat internet juga sangat menghemat waktu. Terutama buat
orang-orang tertentu, seperti eksekutif supersibuk, penderita cacat maupun
para manula yang memiliki kendala dalam mengunjungi rumah obat konvensional.
Tak heran, banyak yang memprediksi, dengan berbagai kemudahan tersebut,
nantinya layar monitor bakal menggantikan tugas apoteker. Terlalu ekstrem
mungkin, tapi siapa tahu?
Masih perlu kehati-hatian
Toh, tak ada gading yang tak retak. Seperti mata uang mempunyai dua sisi,
belanja obat lewat internet pun tidak hanya menawarkan kemudahan dan
keuntungan kepada konsumen. Selalu saja terbuka peluang terjadinya
penyelewengan, bahkan penipuan. Terutama karena sistem pelayanannya tidak
mengenal kontak langsung. Satu-satunya komunikasi antara calon pembeli dan
penjual hanyalah pengisian kuesioner. Dengan keterbatasan arus informasi
tersebut, pasien mungkin kehilangan kesempatan memperoleh diagnosis yang
tepat terhadap penyakit yang dideritanya.
Ketidakakuratan diagnosis tentu berpengaruh ke soal obat. Sulit untuk
memastikan, apakah obat yang dibeli nantinya sesuai dengan yang dibutuhkan.
Atau apakah spesifikasinya sesuai dengan yang dipromosikan. Bahkan bukan tak
mungkin, obat yang datang justru sudah kedaluarsa.
Lebih jauh lagi, dengan banyaknya situs yang menawarkan obat-obat mujarab,
konsumen kadang tak lagi memperhatikan keandalan sebuah situs. Sebagai awam,
memang sulit membedakan, mana situs farmasi yang benar-benar menawarkan obat
berkhasiat, aman, serta memenuhi standar pembuatan obat yang baku.
Itu sebabnya, sebuah lembaga nirlaba di AS, National Association of the
Boards of Pharmacy (NABP) memperkenalkan program Verified Internet
Pharmacy Practice Sites (VIPPS), yang dibuat untuk memberdayakan
konsumen, agar tidak terjebak situs-situs ilegal yang belum teruji
keseriusannya. Situs-situs yang mau masuk kategori "aman" harus
taat pada aturan yang dibuat NABP. Syarat lainnya, mengizinkan seluruh
informasi situs disimpan dalam bank data VIPPS. Serta memperbolehkan tim
NABP mengawasi pelaksanaan kegiatan dan memberi saran. Hingga saat ini, ada
sekitar 15 situs farmasi telah memperoleh sertifikasi VIPPS (baca boks:
"Alamat Apotek-apotek Elektronik").
Lalu, bagaimana perkembangan apotik masa depan ini di Indonesia? E-commerce
memang mulai banyak dilirik sebagai salah satu alternatif melakukan
transaksi jual beli. Namun, sejauh ini belum ada situs khusus farmasi
Indonesia yang menawarkan transaksi jual beli obat melalui internet. Kalau
pun ada yang menawarkan transaksi produk-produk kesehatan, masih sebatas
makanan atau minuman menyehatkan, bukan berbentuk obat-obatan.
Namun sebagai warga dunia, tak ada salahnya jika para pengguna internet
mengakses situs-situs farmasi luar negeri. Sambil menunggu berkembangnya
situs-situs sejenis bernuansa lokal. Agar nantinya sudah siap lahir batin,
ketika apotek internet marak di tanah air. (Oeke Yunita, dosen Fakultas
Farmasi, Unika Widya Mandala, Surabaya)
Baca juga:
Artikel Warna lainnya:
|
|||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
Air & Udara - Flona
- Infotekno - Langlang
- Perkara - Terapi
- Terapi Alternatif - TerCubuk |