globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MENGINTIP DAPUR THE SCHUMACHERS

 

"Untung saja cuma ada dua Schumacher." Kalimat Mika Hakkinen, musuh bebuyutan Schumi ini panjangnya cuma enam kata. Tapi aktualisasinya bisa jadi bahan kajian bertahun-tahun. Maklum, klan Schumacher kini sedang jadi buah bibir. Tahun 2001, Michael dinobatkan sebagai juara dunia 4 kali F1, sementara Ralf mengukuhkan diri sebagai penantang paling serius. Tapi, apa cuma soal kebut-kebutan yang menarik dari duo beken ini? Kalau kita masuk ke "dapur mereka", ternyata banyak kisah melankolis, bahkan romantis. Penasaran?

 

Kedua orang tua The Schumachers, Rolf Schumacher dan Elisabeth pasti tak punya stok kata lagi untuk melukiskan kebahagiaan mereka. Seperti dibilang Michael, "Barangkali kini, merekalah orang tua paling bangga dan bahagia di dunia." Meski boleh jadi, di saat setiap gelaran Grand Prix jadi ajang "pesta keluarga", terbayang juga masa sulit, kala air mata bahkan peluh menetes. Saat menyaksikan bocah kesayangan mereka berpanas-panasan di trek gokart, hingga drama-drama kecelakaan nyaris merenggut nyawa.

Schumi dan Ralf memang akrab dengan trek balap, tapi mereka bukan keluarga pembalap. Kalaupun Michael kecil (umur 5 tahun mulai menjajal trek) punya akses ke sana, itu lantaran ayahnya karyawan sirkuit. Dari seringnya nonton, dua bocah kelahiran Hurth-Helmurheim, Jerman, ini tertarik duduk di belakang kemudi gokart. Jadi, dorongan ngebut itu bak panggilan takdir.

"Soal uang juga kerap jadi kendala. Kami 'kan keluarga sederhana," jelas Michael, kelahiran 3 Januari 1969. Sementara aktivitas mereka di gokart butuh doku tak sedikit. Saking sulitnya mencari duit, Michael pernah berpikir pensiun dari balap gokart saat umur 10 tahun. Untungnya, dalam perjalanan kemudian, banyak sponsor yang terpikat pada style Schumi. Kalau tidak, pemilik rumah di Vufflens-le-chateau, Swis ini mungkin akan tetap jadi warga negara biasa, sama seperti kita.

 

Lebih suka anak perempuan

Inilah enaknya keluarga penuh perhatian. Meski tak yakin bakal sukses, Rolf tetap setia menemani anak-anaknya berlatih. Dengan sabar, dia mentoleransi minat balap Michael dan Ralf. Saat anak seusia mereka belajar menyanyi di TK, Michael dan Ralf malah asyik di dalam gokart. "Saya kenal gokart sejak usia 3 tahun. Tapi bukan karena Michael. Memang suka aja," ujar penyuka jus apel ini.

Sebagai abang, Michael sering memperbantukan diri jadi mekanik Ralf. Schumi juga kerap menceritakan pengalamannya pada sang adik. "Tapi lebih sering saya cuekin. Bukan enggak menghormati dia. Saat itu saya lagi enggak mau mendengar siapa pun," ucap lajang yang tinggal di Monte Carlo, Monako ini. Belakangan, dia mendapat balasan setimpal dari "sahabatnya", seorang pembalap gokart berusia 10 tahun. "Masa dia cuekin semua nasihat saya, sama seperti saya dulu enggak mau mendengar omongan Michael," tambahnya.

Ralf kecil memang sering bikin jengkel Michael. "Jujur saja, kami dulu sering berantem. Habis, dia itu sering mau enaknya sendiri. Saat saya kerja keras mempersiapkan latihan, eh, dia menghilang tak tentu rimbanya. Setelah gawean beres, baru nongol," sungut Michael, yang lebih tua 6,5 tahun.

Kalau di trek sering bikin marah, saat di rumah Ralf ternyata ngegemesin. Konon, Elisabeth sebenarnya berharap anak keduanya lahir perempuan. "Mama memang ngebet berat," kenang Michael. Tapi karena yang lahir Ralf, apa boleh buat, rezeki dari Tuhan pantang ditolak. Kompensasinya, Elisabeth membiarkan rambut kedua anaknya panjang tergerai bagai perempuan. Nah, penampilan Ralf ternyata "sangat memuaskan" sang ibu.

"Habis, tampangnya maniiis banget. Apalagi rambutnya tak cuma panjang, tapi juga blonde. Kalau ingat itu, saya dan Ralf suka cekikikan bareng," ujar Michael. Suami Corinna Betsch ini menambahkan, Ralf beruntung, karena hadir saat ekonomi keluarganya mulai membaik. Makanya, masa kecil adiknya itu jauh lebih manis. Mainannya pun lebih banyak. "Tapi saya enggak pernah iri, lo," sambung ayah Gina Maria dan Mick Schumacher ini cepat.

Meski harus berseteru di sirkuit, mereka tetap menjaga kehangatan kakak-adik. Padahal, adegan saling salip dan menutup jalan masing-masing seolah jadi pemandangan biasa. "Di beberapa sirkuit, saya sempat jengkel juga. Tapi begitulah Michael," pasrah sang adik.

Di luar sirkuit, hubungan mereka bisa dibilang sangat dekat. Tak heran dulu banyak yang curiga, masuknya Ralf ke tim pertamanya, Jordan, lantaran lobi Schumi. Gosip murahan yang akhirnya lenyap menyusul prestasi Ralf yang kian mengilap. Tapi persoalan lain muncul, terutama saat sebagian komunitas F1 mencap Schumi (kemudian disusul Ralf) sebagai pembalap arogan.

Ralf sendiri berkomentar, "Saya tak mau direpotkan persoalan sosialisasi sesama pembalap. Coba perhatikan, ada enggak pembalap yang mau menghabiskan waktunya dengan pembalap lain?" andalan tim Williams ini balik bertanya. Pendapat Ralf diangguki Schumi. "Saya juga sudah berusaha bersahabat dengan pembalap lain. Tapi kok ya susah." Akhirnya mereka sampai pada prinsip: Kalau kita sudah punya teman baik di luar trek, mengapa harus juga punya sahabat pembalap?

Sebuah prinsip yang rasanya mudah dimengerti, mengingat 10 bulan dalam setahun, mereka harus berkeliling dari satu medan ke medan lainnya. Waktu agak luang praktis hanya bulan November dan Desember. Sementara itu, tingkat persaingan antartim sangat panas. Susah, memang.

 

Maniak anjing dan olahraga

Cap arogan juga sering mereka dapat dari khalayak. Namun Ralf punya penjelasan sendiri. Katanya, "Tim F1 memang terdiri atas banyak orang penting, namun perhatian terbanyak pasti tertuju ke pembalap. Padahal, jika Anda sedang benar-benar kelelahan sehabis berlomba puluhan putaran, apakah harus juga melayani kerumunan orang yang mengelu-elukan? Sebuah dilema memang. Sepertinya hanya ada dua pilihan, menjadi arogan atau orang penuh perhatian," jelas Ralf.

Michael dan Ralf memang cocok dalam banyak hal. Termasuk soal binatang peliharaan. Mereka penggemar fanatik anjing. Di rumahnya, Schumi memelihara empat ekor anjing, sedangkan Ralf menyimpan dua ekor. "Kami juga maniak olahraga," ucap keduanya senada seirama. Kalau sedang kumpul bareng, mereka kerap menghabiskan waktu dengan main tenis, latihan kebugaran, joging, hingga bersepeda bersama-sama.

Michael sendiri tercatat punya banyak cara menghabiskan waktu luang. Jika tak ada kunjungan famili atau teman, pecinta musik rock ini berolahraga terjun bebas atau bersafari pakai sepeda motor. Tapi yang bisa disebut sebagai olahraga kedua Schumi (setelah ngebut) adalah sepakbola. Hampir di setiap waktu senggangnya, lelaki setinggi 1,74 m ini menyempatkan diri menyepak si kulit bundar. Eh, si plontos Ronaldo itu salah satu teman dekatnya.

"Kalau saya sih, begitu pulang ke rumah, langsung puas-puasin main jetski atau backgammon," tutur Ralf, yang punya tinggi tubuh 1,78 m. Soal calon istri bagaimana, Ralf? "Ha, ha, ha, dia pasti ingin juga punya anak seperti saya. Soalnya dia suka anak-anak. Problemnya, sampai saat ini, dia gonta-ganti pasangan terus. Kalau hatinya sudah benar-benar menetap, baru tanyain lagi soal itu," canda Michael.

"Dulu, saya selalu menempatkan diri sebagai pelindung Ralf. Tapi situasinya sudah berubah. Kami tak lagi sekadar kakak-adik, tapi pembalap andal," Schumi menjelaskan. "Kadang kami ngobrol ngalor-ngidul soal balapan atau hubungan sesama pembalap. Tapi tak pernah membicarakan kebijakan tim masing-masing. Terlalu besar risikonya membocorkan rahasia perusahaan. Biar saudara sendiri, pantang diberitahu," tegas pembalap Scuderia Ferrari ini.

Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya menyalip sang kakak saat lomba? "Wah, senang banget. Ini salah satu hal yang selalu ingin saya lakukan," cetus Ralf. Tapi pria kelahiran 30 Juni 1975 ini tak ingin menjadikan Schumi sebagai sansak untuk meraih prestasi. "Saya tak pernah suka membanding-bandingkan. Cuma orang-orang di sekitar kami yang suka melakukan itu," ujarnya lagi, kali ini rada serius.

Schumi pun setuju. "Kami harus bersaing memperebutkan gelar juara dunia. Namun pada dasarnya saya senang jika dia sukses. Biar begini, saya 'kan pernah jadi mekanik gokartnya," Michael kembali mengungkit masa lalu. Peluang buat Ralf memang terbentang luas. "Apalagi dia sangat disiplin," ulas Schumi. Terutama menyangkut makanan dan minuman beralkohol.

Bisa jadi, ini lantaran Ralf pernah punya pengalaman buruk soal makan. Konon, waktu umur 14, beratnya pernah lebih dari 80 kilogram. Untuk anak seumur dia, jelas terlalu gendut. "Dengan gemas saya bilang padanya, gaya hidup seperti itu harus diubah," cerita Michael. "Kini malah gaya makan saya yang sering dikritiknya."

"Faktor positif lain, Ralf mulai mau mendengarkan pendapat saya," ujar salah satu olahragawan terkaya di dunia ini. Misalnya, beberapa tahun lalu Michael pernah menasihati Ralf agar lebih kalem di lintasan. Sekaligus minta agar jam terbangnya di Formula 3 ditambah, sebelum menerima tawaran tim F1. Kurangnya pengalaman, membuat Schumi khawatir Ralf akan mengalami sesuatu yang buruk. Setelah dituruti, petuah si sulung ini ternyata berhasil membentuk Ralf yang lebih matang.

"Tapi kadang masih juga bandel. Suatu hari dia sedang mencari mobil dan minta saran saya tentang Ferrari Maranello 550. Saya bilang, mobil itu sangat berbahaya jika dipakai ngebut di jalan. Toh, masih juga dia beli," sindir Michael. Saling mengkhawatirkan kondisi masing-masing, jelas terlihat dari wajah kedua saudara ini.

Diam-diam, Ralf pun rupanya sangat peduli pada kesehatan kakaknya. Saat Michael mengalami kecelakaan di Silverstone (Inggris, 1999), sang adik terlihat sangat berduka. Saat itu, Schumi harus beristirahat tiga bulan karena patah kaki. "Saya tak lihat langsung kejadiannya. Karena itu buru-buru ke rumah sakit begitu lomba usai. Sedih juga melihat Michael terbaring di sana. Kalau bisa, rasanya saya ingin menggantikan tempatnya," tutur Ralf pelan.

Uhuk, uhuk (jadi ikut sedih, nih)! (Muhammad Sulhi)

 

Baca juga: Prestasinya tak tertandingi

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Click to add search to YOUR web site!

sing tak go gawe hompej

Counter by Pandawa