globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Oktober 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SINGAWALANG, SI TANGGUH MELAWAN TBC

 

TBC kini harus kembali diwaspadai. Ia sudah menjangkiti dan menyebabkan kematian banyak orang. Tapi tak perlu cemas. Dengan daun singawalang ternyata penyakit menahun ini bisa ditaklukkan.

 

Diam-diam penyakit menular yang satu ini sangat mengerikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan penderitanya di Indonesia mencapai 583.000 orang dan ada kecenderungan bertambah 262.000 orang lagi di masa mendatang. Yang menyedihkan, seperti dikutip Kompas, 16 September 2001, setiap tahun sekitar 140.000 penderitanya meninggal. Itu artinya, setiap empat menit seorang penduduk Indonesia meninggal karena menderita penyakit ini. Yang lebih menakutkan, dalam setahun seorang penderita dapat menulari 10 orang lainnya. Itulah penyakit tuberculosis (TBC). Kalau perkiraan WHO di atas benar, maka dalam tahun depan akan ada 5.830.000 penderita!

Bila keadaan ini tidak segera ditangani, akan banyak nyawa melayang. Selama ini tindakan pencegahan yang populer di masyarakat adalah vaksinasi BCG pada balita.

Namun, masih ada "lubang" yang memungkinkan penyakit ini lolos. Kalau sudah berjangkit pengobatannya lebih sulit lagi. Ada prasyarat yang mesti dipenuhi, yakni tersedianya obat (perlu cukup uang), disiplin, dan sabar dalam menjalani pengobatan. Sayangnya, meski obat mampu disediakan toh dengan pertimbangan tertentu masih ada orang yang ragu menjalani pengobatan. Antara lain dengan alasan ngeri terhadap kemungkinan efek sampingan obat yang harus diminum tak kurang dari enam bulan. Karenanya, pengobatan alternatif dari bahan alami pun dicoba. Salah satu tanaman yang disebut-sebut bisa mengobati penyakit satu ini adalah singawalang (Petiveria alliacea).

 

Populer di Haiti

Singawalang merupakan salah satu tanaman dalam famili Phytolaccaceae (gandola-gandolaan). Sebagai tanaman introduksi, singawalang masuk ke Indonesia melalui India. Terna kecil berbentuk semak-semak merunduk ini tingginya bisa mencapai 1 m. Berdaun jorong dengan panjang 6 – 19 cm, meruncing atau lancip, tajam lampai, dan tak bertajuk. Buahnya longkah berbentuk garis seperti taji sepanjang 6 mm.

Singawalang dapat tumbuh subur di kebun-kebun di daerah panas. Ciri khasnya, berbau seperti marga bawang (Allium). Ia dapat memberi bau tak enak pada susu dan daging dari ternak yang memakan daunnya.

Karena berkhasiat obat, pada 10 April 1993, presiden RI ketika itu, Soeharto, menjulukinya daun tangguh. Budidayanya pun telah berhasil dilakukan untuk diambil daunnya sebagai bahan obat kanker.

Berdasarkan pengamatan lapangan maupun studi etnobotani di salah satu kampung di Bogor, diketahui tanaman singawalang sudah lama digunakan masyarakat secara turun-temurun sebagai obat tradisional penderita muntah darah (pneumonia) akibat penyakit TBC. Pengobatan tradisional ini juga banyak membantu penderita di sebagian belahan dunia. Upaya penelitian pun dilakukan dalam bidang etnobotani maupun farmakologi terhadap singawalang.

Singawalang, sudah dibudidayakan.

Di daerah asalnya, yakni Amerika tropis, singawalang digunakan sebagai bahan obat insektisida dan obat batuk rejan secara tradisional. Oleh penduduk setempat tanaman ini juga digunakan sebagai obat minum peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak (ekspektoran), peluruh keringat (sudorifik), peluruh cacing (vermifuga), pereda kekejangan (antipasmodik), dan obat bagi penderita penyakit saraf.

Di Haiti, daun dan akarnya yang ditumbuk digunakan sebagai obat isap bagi penderita radang sakit kepala sebelah (migren). Serbuk daunnya dimanfaatkan pula sebagai bahan obat cuci mulut pasien yang sakit gigi. Sementara masyarakat Dominika memanfaatkan air rebusan akar singawalang untuk mengobati penyakit rematik dan radang paru-paru (pneumonia) (Weniger B., 1988)

Penelitian terhadap khasiat singawalang juga dilakukan dalam proyek penelitian yang disebut TRAMIL. Penelitian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu, macam etnologi, botani, fitokimia, farmasi, kedokteran, dan masyarakat umum. Tujuannya, mengkaji lebih mendalam pengobatan tradisional yang bersifat populer, termasuk dengan ramuan tanaman singawalang, di Haiti, Republik Dominika, dan negara lainnya di kawasan Karibia.

Menurut Weniger B. dkk. dalam Elements For A Caribbean Pharmacopeia (1988), berdasarkan hasil analisis kimia di dalam tanaman singawalang terkandung senyawa triterpenes jenis isoarbinol, asetat, cinnamate isoarbinol, dan coumarin. Akar dan batangnya mengandung bahan jadian sulfur, benzthydroxyethyltrisulfide, trithiolaniacine, benzenic, bensaldehyde, dan benzoic acid.

 

Banyak manfaatnya, tapi sedikit beracun

Dari hasil uji coba pada hewan tikus di laboratorium Universitas Illionis Chicago, diketahui tanaman singawalang memiliki aktivitas antiradang (inflamantori), karena dengan segera menyalurkan nanah akibat radang. Ia juga mampu bertindak sebagai pereda sakit akibat timbunan asam asetat dalam selaput perut tikus.

Tes perlakuannya dimulai dari rebusan daun kering singawalang dengan dosis tepat disesuaikan dengan bobot tikus. Hasil pengamatan yang dilakukan, ternyata dengan dosis 6,25 g/kg bobot badan singawalang mengalangi timbunan cairan dan gas dalam jaringan (edema) pada kaki tikus. Pada dosis 10 g/kg terjadi pengurangan asam asetat yang mengakibatkan menggeliatnya tikus-tikus tersebut, tetapi tidak terdapat gejala keracunan setelah pengamatan selama tujuh hari berturut-turut.

Dari pengamatan in vitro, diketahui senyawa aktif singawalang mampu melawan bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan jamur Histoplasma capsulatum. Atas dasar itu, senyawa ini dapat digunakan sebagai bahan obat antibakteri maupun antijamur. Namun, dalam ekstrak encer ia tidak menunjukkan pengaruhnya.

Senyawa tadi juga merangsang aktivitas darah putih (phagocytic) di sistem limpa, butiran getah bening, tulang belakang, dan hati (reticuloendothelial system) dalam membunuh kuman-kuman dan unsur-unsur asing lainnya. Sebaliknya, ia tidak aktif sebagai antitumor. Hasil itu diperoleh dari uji coba dengan dosis 360 mg/kg terhadap 100 ekor tikus, yang pada akhirnya separuh jumlah tikus tadi mati (LD50).

Berdasarkan analisis dan uji coba tersebut diperoleh gambaran, tanaman obat singawalang sedikit beracun. Namun, bila dimanfaatkan dengan hati-hati ia dapat digunakan sebagai bahan obat radang sakit kepala sebelah (migren) dan obat kumur untuk penderita sakit gigi. Sedangkan berdasarkan aktivitas biologi, singawalang dapat digunakan sebagai obat rematik, radang paru-paru (pneumonia), dan gas dalam perut (flatulence)

Berdasarkan pengalaman, setelah pengobatan selama seminggu penderita mulai merasakan tanda-tanda kesembuhan. Meski begitu sebaiknya penderita tetap memeriksakan diri ke dokter. Jika dari hasil diagnosis ia dinyatakan sembuh, lanjutkan pengobatan pencegahan dengan mengurangi hari minum menjadi tiga hari dalam seminggu. Hentikan pengobatan bila terasa sembuh betul. (Drs. Samiran)

 

Baca juga:

Dosis Pemakaian

TBC Bisa Juga Menyerang Ginjal

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa