globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

September 2001

 Inilah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Frase "Para Politisi", Bakukah?

Salah seorang peminat bahasa mengajukan pertanyaan sebagai berikut. Apakah frase para politisi itu bentuk yang baku atau tidak? Jawaban saya seperti di bawah ini.

Mari kita tinjau frase itu dari unsur pembentuknya. Unsur pertama para adalah kata yang biasa digunakan di depan kata benda dengan makna menyatakan "jamak". Kalau dikatakan para guru, maka yang dimaksud ialah bukan seorang atau dua orang guru, tetapi guru dalam jumlah yang banyak. Terbayang dalam pikiran kita mungkin sepuluh orang atau lebih. Begitu juga kalau dikatakan para undangan, para menteri, para olahragawan.

Unsur kedua, politisi diserap dari bahasa Belanda: politik, politikus, politisi. Seseorang yang berkecimpung dalam bidang politik disebut politikus. Kalau jumlahnya banyak, disebut politisi. Nah, bentuk politisi sudah mengandung pengertian bahwa benda yang dimaksud (orang) berjumlah banyak. Kalau diberi lagi di depannya kata para menjadi para politisi, maka pernyataan jumlah banyak itu menjadi dua kali. Berlebih-lebihan, bukan? Yang seperti itu disebut pleonastis. Sama dengan bila dikatakan para guru-guru karena perulangan kata benda guru menyatakan benda yang banyak.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat menggunakan frase para politikus atau menggunakan bentuk politisi saja (tanpa para). Dalam kalimat: Para politikus (atau: Politisi) di ibu kota terus saja beradu pendapat mengenai macam-macam masalah kenegaraan dewasa ini.
Kita juga melihat kata serapan lain dari bahasa Belanda seperti itu: kritik, kritikus, kritisi. Jangan menggunakan bentuk para kritisi, tetapi gunakan bentuk para kritikus, atau kritisi saja.

Kritikus ialah seorang yang ahli mengkritik (tentu saja dalam bidang ilmu atau masalah yang dikuasainya). Kalau jumlahnya banyak, kita sebut kritisi. Perhatikan! Kritisi itu orang dengan jumlah yang banyak. Kesalahan sekarang yang tampak dalam pemakaian bahasa (sering muncul di surat-surat kabar) ialah penggunaan bentuk kata kerja mengkritisi. Tidak mungkin bukan? Tidak mungkin kata kritisi diberi awalan meng-. Kalau kata kritisi diberi awalan meng-, lalu apa arti kata itu? Kata kerjanya sesuai dengan yang dimaksudkan ialah mengkritik artinya "melancarkan kritik, kecaman". Lawan bentuk kata kerja itu ialah dikritik.

Jangan mengkritik tanpa alasan dan argumentasi yang kuat, harus diingat bahwa tidak ada orang yang senang dikritik. Kritik memang dapat dilancarkan kalau itu memang perlu sekali.

Bentuk penggunaan kata yang berlebih-lebihan itu dikatakan pleonasme atau pleonastis. Kita masih dapat mengemukakan banyak contoh lain baik dengan penggunaan kata saja maupun penggunaan kata dengan bentuk yang arti gramatikalnya sudah terkandung pada kata yang sudah digunakan itu. Perhatikan contoh berikut.

  • Manusia yang hidup harus saling hormat-menghormati.
  • Hanya itu saja harapan saya satu-satunya yang masih tertinggal.
  • Menteri Luar Negeri baru saja mengunjungi beberapa negara-negara sahabat.

Mari kita bahas bentuk pleonasmenya itu. Kata saling mengandung makna "dari dua belah" pihak. Bentuk perulangan hormat-menghormati pun menyatakan makna "saling". Jadi, pernyataan itu menjadi berlebih-lebihan. Harusnya digunakan: saling menghormati atau hormat-menghormati saja.

Kata hanya bersinonim dengan kata saja. Hanya itu sama artinya dengan itu saja. Jadi, gunakan kata hanya saja atau kata saja. Jangan dua-duanya sekaligus.

Kata beberapa mengandung pengertian lebih dari dua, sedangkan perulangan kata negara-negara juga menyatakan pengertian seperti itu. Jadi, pernyataannya menjadi berlebih-lebihan. Gunakan saja bentuk negara-negara atau beberapa negara.

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal
Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku
Warna - Jeda - Dialog


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej