|
|
September 2001 Dialog |
|
INDONESIAN LEGENDS Saya pelajar berumur 17 tahun, bertempat tinggal di Jakarta. Akhir-akhir ini kita sering melihat tingkah-polah elite politisi kita y ang menurut hemat saya berkepribadian sempit, kekanak-kanakan, dan saya yakin masih banyak sikap yang kurang baik lainnya. Sikap itu, menurut saya, erat kaitannya dengan pendidikan yang mereka lalui di masa lalu baik di dalam keluarga, masyarakat, da n sekolah. Kalau diamati, sikap mereka sangat berbeda sekali dengan para pendahulunya, para pahlawan, para founding fathers kita. Si kap luhur yang kita temui pada diri para pendahulu kita, nenek moyang kita, tampaknya sudah sangat jarang kita temui di dalam masyar akat, dan hal itu juga tergambar dalam diri para wakil rakyat. Ketika membaca artikel di Intisari tentang sifat-sifat para pendahulu kita, saya sangat senang dan tersentuh, karena mereka sem ua mempunyai sikap mulia yang saya yakin sangat didambakan masyarakat kita akhir-akhir ini. Lalu saya berpikir, alangkah baiknya jik a Intisari mau membuat suatu buku tentang para anak bangsa yang berhasil mengharumkan nama bangsa. Sebaiknya, buku ini tidak hanya b erisi tentang cerita para pahlawan, tetapi juga mereka yang berjasa di bidang bisnis, ekonomi, iptek, olahraga, sosial kemanusiaan, dsb. Beberapa bulan lalu saya membeli buku Time American Legends yang bercerita tentang pahlawan, icon, dan pemimpin mereka yang tel ah ikut ambil bagian dalam perjalanan sejarah bangsa Amerika, dan bahkan dunia. Hal inilah yang membuat saya berpikir alangkah baikn ya kalau kita juga bisa membuat buku serupa, karena saya yakin bahwa banyak anak bangsa kita yang sebenarnya tidak kalah prestasinya dengan mereka. Lewat buku itu diharapkan, bangsa kita kembali diingatkan serta merenungkan sikap luhur mereka dalam mencapai tujuan dan berkarya. Singkatnya, kita setidaknya belajar melalui para leluhur kita. Tak hanya itu kita setidaknya juga bisa mengingatkan pada dunia luar bahwa kita mempunyai nenek moyang yang hebat, sehingga mereka tidak hanya mengetahui hal-hal yang buruk saja dari bangsa kita. Lewat hal ini saya berharap kita akan berusaha mengembalikan kejayaan bangsa kita seperti dahulu, dan bangsa-bangsa lain akan s egan dengan kita. Untuk memudahkan pembuatan , mungkin sebaiknya dibatasi rentang masanya, yaitu mereka-mereka yang hidup dalam kump ulan masa tertentu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana menghargai jasa pahlawannya. Danny Wijaya wijayadanny@*****.com
Usul Anda menarik. Mudah-mudahan kami bisa mewujudkannya. Terima kasih atas usul Anda.
SATU LAGI PROTES ANIME
Saya ingin mengajukan protes terhadap artikel tentang anime yang telah dimuat di Intisari edisi Juni 2001 yang berjudul "Kontroversi di Balik Film Kartun" yang ditulis oleh Sdr. Andrian W.D. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini di Indonesia sedang terjadi booming film-film kartun Jepang (anime) dan film-film superhero Jepang (tokusatsu). Hal ini bisa dibuktikan dengan mudahnya seseorang untuk bisa mendapatkan CD anime dan tokusatsu di Indonesia. Bahkan ada beberapa judul anime dan tokusatsu yang bisa didapatkan dengan mudah di tempat-tempat penjualan CD grosiran seperti Glodok dengan harga per keping CD-nya hanya Rp 4.000 - Rp 5000,-. CD-CD seperti Crayon Shinchan, Kamen Rider, Kuuga, dan judul-judul lainnya bisa didapatkan dengan mudah. Booming film kartun dan film superhero Jepang ini tentunya mengingatkan kita pada tahun 1980 -an di mana juga terjadi booming film kartun dan film superhero Jepang. Pada waktu itu, nyaris semua anak di Indonesia tahu tentang film kartun Voltes V dan film superhero Goggle V yang memang sempat menjadi fenomena di akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Yang ingin saya pertanyakan sekarang adalah kenapa orang-orang sekarang menganggap bahwa film-film kartun buatan Jepang itu tidak mendidik dan justru bersifat merusak. Kenapa pendapat seperti itu tidak muncul waktu tahun 1980-an ketika booming anime juga sempat terjadi? Saya merasa, kalau orang-orang punya pendapat anime itu tidak mendidik adalah karena generalisasi yang timbul akibat film-film seperti Crayon Shinchan. Kita semua tahu kalau Shinchan adalah sebuah fenomena di mana-mana sejak pertama kali hadir di Indonesia. Kehadiran seorang anak kecil berusia lima tahun yang masih duduk di bangku TK namun mempunyai sifat layaknya seorang pria dewasa itu benar-benar membawa perubahan di Indonesia. Sifatnya yang kurang ajar menurut orang-orang tua di sini ternyata disukai oleh anak-anak dan remaja-remaja di sini. Saya sendiri juga kurang menyukai karakter yang satu ini karena menurut saya sifatnya tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tapi apakah kita bisa memberikan penilaian yang sama terhadap seluruh film kartun Jepang yang masuk ke Indonesia? Saya rasa tidak karena tidak semua film kartun itu tidak mendidik. Ada beberapa kartun yang justru memberikan pendidikan kepada anak-anak meskipun mungkin agak tersamar. Doraemon, misalnya. Karakter-karakter di dalam Doraemon tidaklah sempurna seperti Nobita yang cengeng, Giant yang kasar dan suka berkelahi, Suneo yang suka menyombong dan Doraemon yang kadang-kadang terlalu baik hati. Karakter-karakter itu dibuat sesuai dengan sifat-sifat manusia pada umumnya dan sifat-sifat orang Jepang khususnya. Sifat-sifat yang dimiliki oleh karakter-karakter yang terdapat dalam Doraemon itu benar-benar universal sehingga aman untuk dinikmati oleh anak-anak di Indonesia karena sifat-sifat seperti cengeng atupun sombong itu sifatnya universal. Ada saja orang yang punya sifat seperti itu di mana saja di dunia ini. Mengenai pendapat Sdr. Andrian W.D. yang menyebutkan bahwa ada beberapa judul anime yang sadis, saya tidak bisa menyangkalnya. Saya akui kalau memang ada beberapa judul anime yang hanya cocok ditonton oleh anak-anak 15 tahun ke atas, bahkan 17 tahun ke atas. Tapi hal seperti itu tentunya juga tidak bisa dijadikan patokan untuk melakukan generalisasi bahwa kartun Jepang itu tidak mendidik. Apakah kita bisa membuat sebuah generalisasi hanya berdasarkan beberapa judul anime saja? Menurut saya, tidak. Saya juga ingin mengomentari pendapat Sdr. Andrian W.D. yang membandingkan film kartun Amerika dengan anime. Saya secara pribadi mempunyai kesan kalau penulis lebih condong ke kartun Amerika karena secara tidak langsung menganggap film kartun Amerika lebih bagus daripada anime. Mungkin banyak orang yang sependapat dengan Anda, khususnya orang-orang tua, tapi saya rasa kita tidak bisa langsung menyatakan bahwa film kartun Amerika itu lebih bagus daripada film kartun Jepang. Apakah Anda pernah menyaksikan film kartun Disney atau film-film kartun seperti Tom and Jerry dan sebangsanya? Apakah Anda pernah memikirkan bahwa banyak sekali adegan yang tidak masuk akal di dalam film itu? Misalnya saja, Tom yang mencoba untuk terbang seperti burung dengan menggunakan sayap buatan. Bukankah adegan semacam itu bisa saja ditangkap oleh anak-anak yang polos yang kemudian ingin mencoba melakukannya? Anak-anak akan berpendapat bahwa mereka juga bisa terbang seandainya mereka bisa membuat sayap seperti yang dibuat Tom. Apakah menurut Anda hal itu tidak membahayakan? Meskipun sudah menonton didampingi orang tua, bisa saja anak-anak mencoba melakukannya di saat mereka kebetulan lepas dari pengawasan orang tua. Semua hal bisa saja terjadi, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Saya hanya ingin mengatakan bahwa janganlah kita memvonis sesuatu terlalu cepat. Kita tentunya tidak bisa membandingkan film ka rtun Amerika dengan anime karena keduanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Anime lebih didasari oleh budaya Timur (dan hal itu tampak dalam beberapa judul anime) dan film kartun Amerika lebih didasari oleh budaya Barat (seperti kekerasan dan sebagainya ). Keduanya tentunya tidak sejalan. Menurut saya, baik buruknya sesuatu itu relatif. Mungkin saja Anda berpendapat bahwa anime itu tidak mendidik dan sadis, tapi di lain pihak ada orang lain yang berpendapat bahwa anime itu justru lebih mendidik karena kerealistisannya. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri sebagai seorang penonton. Tidak bisa dipungkiri bahwa anime memiliki sisi-sisi negatif namun kita bisa mencoba untuk melihat sisi-sisi positif yang ada di dalamnya. Ingat, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kardono Limjadi hearts_of_fire@*****.com |
|||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal |