|
|
September 2001 |
|
GEDUNG TERTUTUP BISA MENYEBABKAN SAKIT
Benda bening alias kaca bisa berfungsi meredakan panas matahari yang masuk ke dalam ruangan. Apalagi bila ditambah dengan AC, udara akan terasa lebih nyaman. Tapi hati-hati ruangan tertutup ber-AC ini justru bisa menjadi "sarang" penyakit yang dikenal dengan sindrom gedung sakit.
Simak
gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta. Nyaris tak ada yang bebas dari unsur
kaca. Bukan hanya jendelanya, sebagian dinding yang mengitarinya pun hampir
sebagian besar memanfaatkan kaca. Dengan kaca sebuah bangunan atau gedung
menjadi tampak "wah". Sejalan
dengan perkembangan disain arsitektur bangunan yang mengarah pada bentuk-bentuk
kontemporer, seperti bentuk-bentuk lengkung, maka kaca pun dituntut untuk bisa
memenuhi keinginan tersebut. Penggunaan kaca lengkung untuk bangunan meliputi
baik untuk interior maupun eksterior, seperti bentuk muka bangunan, sudut
bangunan/jendela sudut, lemari panjang, perabot rumah tangga, dan dekorasi
interior.
Kini,
kaca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan arsitektur modern.
Terbukti, dengan keragaman dimensi dan ketebalan para perencana bangunan
mendapatkan keleluasaan untuk berkreasi dengan dinding-dinding atau
jendela-jendela yang besar.
Mengatur sinar
Tak
hanya berfungsi keindahan, kaca yang dipasang pada bangunan-bangunan pun punya
kemampuan untuk mengatur sinar matahari yang masuk kedalam sebuah bangunan.
Berdasarkan teori, kaca dengan ketebalan dan jenis tertentu bisa mengurangi
intensitas yang masuk. Sifat ini digunakan oleh para arsitek untuk meredam panas
yang masuk ke dalam ruangan terutama di daerah tropis, seperti indonesia.
Sementara di daerah berhawa sejuk dan dingin, jenis kaca yang banyak
meneruskan sinar sering digunakan untuk mendapatkan efek pemanasan. Dengan
mempertimbangkan kondisi wilayah, maka pemilihan kaca yang tepat memungkinkan
sebuah gedung memperoleh efek penyinaran yang pas.
Lepas
dari persoalan makro bangunan itu, penempatan jendela-jendela kaca pada sebuah
gedung mestinya harus diperhitungkan secara serius. Soalnya hal ini sangat
menentukan apakah sebuah gedung bisa mendapatkan penyinaran optimal atau tidak.
Jendela
merupakan salah satu komponen penting yang diperhatikan sebagai sumber
pencahayaan dalam mengatur suhu ruangan. Peran jendela juga sampai pada soal
pemanasan suhu ruangan, proses pendinginan, dan pertukaran udara kedalam dan
keluar ruangan. Lebih dari itu jendela juga dipandang sebagai sebuah aksen yang
estetik.
Lantaran
begitu pentingnya jendela, sampai-sampai para perencana gedung bangunan sangat
memperhatikan keberadaan jendela ini. Dengan kaca yang terpasang pada jendela
maka cahaya yang tidak dikehendaki di musim panas bisa dicegah, misalnya dengan
memantulkan sinar infra merah. Sementara di musim dingin, penggunaan kaca yang
berlapis (bahan transparan tipis) akan menurunkan radiasi panas yang memantul ke
dalam gedung. Dengan demikian akan meningkatkan nilai penyinaran yang melewati
jendela. Salah satu kaca yang paling banyak dipakai
adalah kaca bening. Kaca ini merupakan kaca dengan permukaan yang sangat bersih,
rata, dan bebas distorsi. Akibatnya hampir sebagaian besar sinar yang lewat
(90%) akan diteruskan. Kaca ini banyak dipakai pada bagian luar dan dalam
bangunan. Baik untuk rumah tinggal, bangunan umum, perkantoran, pertokoan,
bangunan tinggi, dll.
Tingkat
ketebalan kaca bening ini mulai dari 2 mm - 19 mm. Pada ketebalan 3 mm, energi
sinar yang diteruskan sebesar 85%, dipantulkan 8%, sementara yang diserap 7%.
Sedang pada tingkat ketebalan 8 mm, sinar yang diteruskan sebesar 75%,
dipantulkan 7%, dan diserap 14%
Sementara kaca warna merupakan kaca yang diberi warna dengan menambahkan
sedikit logam pewarna seperti koblat, besi, silinieum, dll pada bahan baku kaca.
Dengan pemberian warna, kaca warna akan mempunyai kemampuan untuk menyerap
sebagian panas matahari (rata-rata daya serapnya 55%) sehingga akan mengurangi
beban pendingin ruangan dan memberikan rasa nyaman pada penghuni
bangunan.
Karena
kemampuan meneruskan cahaya pada kaca warna, jauh lebih rendah dari kaca bening
(90%), maka cahaya-cahaya yang menyilaukan akan dapat dikurangi menjadi lebih
lembut dan sifat daya tembus pandangnya menjadi rendah. Sehingga sepanjang hari,
dimana tingkat penerangan diluar lebih terang dibandingkan di dalam bangunan,
kaca warna ini dapat melindungi kebebasan pribadi penghuninya.
Warna
kaca warna antara lain blue dan dark blue, light blue, grey dan
dark
grey, bronze, dan dark green, light green. Warna-warna itu akan memberikan penampilan
menawan pada bangunan dan tidak akan banyak mempengaruhi beda penglihatan dari
warna-warna benda diluar bangunan jika dilihat dari dalam ruangan pada siang
hari.
Perlu
diingat makin tebal kaca warna, maka warna akan semakin gelap dan tingkat
penyerapan panasnya akan semakin tinggi. Dalam hal penghantaran panas kaca warna
mempunyai sifat yang lebih lunak dalam menghantarkan panas matahari. Kaca warna
dark blue dengan ketebalan 3 mm misalnya, akan meneruskan panas sebesar 63%,
memantulkan 6%, sementara sisanya sebesar 31% diserap. Pada ketebalan 6 mm, 43%
energi sinar diteruskan, 5% dipantulkan, dan 52% sisanya diserap.
Untuk
mempercantik penampilan kaca diproses lagi dan dilapisi dengan pelapis
transparan tipis dari oksida logam (sebagai lapisan pemantul) melalui proses pyrolysis yang merupakan proses canggih dari teknologi
glaverbel, Belgia. Lapisan kaca reflektif ini memiliki daya
tahan dan kualitas penampilan yang tetap. Kaca ini juga akan memantulkan cahaya
dan panas sekaligus menurunkan beban energi pengkondisian udara. Pelapis ini
dilapiskan hanya pada satu sisi kaca dan terdiri dari tiga jenis coating yaitu
silver, supersilver, dan classic.
Meskipun
memantulkan sebagian besar cahaya dan energi matahari, namun masih memiliki
transmisi cahaya yang baik, sehingga suasana luar masih bisa dnikmati, tidak
silau dan tidak melelahkan mata.
Pada
kaca coating dengan warna dark blue
setebal 5 mm maka sinar yang diteruskan sebesar 47%, dipantulkan 29%, sementara
sinar ultra violet yang akan diteruskan cuma sebesar 22%.
Ketiga
jenis kaca diatas yaitu: kaca bening, warna, dan coating merupakan jenis kaca
yang paling banyak digunakan dalam dinding dan jendela yang berhubungan dengan
langsung dengan sinar matahari. Disamping bersifat dekoratif, pemilihan jenis
serta ketebalan yang tepat akan dapat mengurangi intensitas penyinaran yang
nyata. Polusi dalam
gedung
Kendati
sebuah gedung menggunakan kaca dan memakai AC untuk "menjinakkan" panasnya udara
luar, bukan berarti orang-orang yang tinggal didalamnya bebas polusi. Polusi
jenis ini sumber terbesarnya justru datang dari dalam gedung itu sendiri. Kondisi
inilah yang kemudian memunculkan istilah sick building
syndrom (sindrom gedung sakit). Menurut Prof. Dr. Juli Soemirat
Slamet, MPH, Ph.D, ahli lingkungan dari ITB, sindrom gedung sakit adalah
gejala-gejala gangguan kesehatan, umumnya berkaitan dengan saluran pernapasan.
Sekumpulan gejala ini diidap oleh orang yang hidup atau bekerja di gedung atau
rumah yang ventilasinya tidak direncanakan dengan baik.
Gangguan
ini bukan berupa penyakit yang spesifik, tetapi merujuk pada standar tertentu.
Misalnya saja berapa kali seseorang dalam jangka waktu tertentu menderita
gangguan saluran pernafasan. Sementara secara lebih spesifik dalam Intisari, Juni 1998, dr. Tjandra Yoga Aditama, D.S.P., D.T.M &
H, dokter spesialis paru mengatakan, "Keluhan-keluhan yang ditemui pada sindroma
ini antara lain batuk-batuk kering, sakit kepala, iritasi di mata, hidung, badan
lemah, dll." Menurutnya keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya
dalam waktu dua minggu. Sindrom gedung sakit baru dapat dipertimbangkan bila
lebih dari 20% pengguna gedung mempunyai keluhan-keluhan di atas.
Berdasarkan penelitian The National Institute for Occupational
Safety and Health (NIOSH) ada enam sumber utama pencemaran udara di
dalam gedung. Yaitu pencemaran alat-alat di dalam gedung (17%), pencemaran dari
luar gedung (11%), pencemaran bahan bangunan (3%), pencemaran mikroba (5%),
gangguan ventilasi (52%), dan sumber yang tidak diketahui
(12%).
Juli
Soemirat menengarai salah satu penyebab gedung sakit lantaran pengelola gedung
tidak menghitung secara benar berapa banyak AC yang dibutuhkan. Umumnya yang
diperhatikan hanya asal dingin. Padahal semakin dingin sebuah ruangan semakin
banyak orang berkumpul sehingga makin banyak yang terkena dampak buruk.
Dari
pengamatannya, Juli Soemirat melihat bahwa banyak filter AC tidak pernah dicuci
dan diberi desinfektan. Padahal asalkan patokan pembersihan filter dilakukan
dengan benar, maka akan mencegah berkembangnya sindrom gedung sakit. "Kami
pernah melakukan penelitian terhadap beberapa gedung ber AC di Bandung dan
masalah yang timbul antara lain adalah jumlah AC yang kurang memadai dan adanya
bakteri patogen pada filternya," jelas Juli Soemirat.
Oleh
karena itu, pakar lingkungan ITB ini berpendapat, untuk bisa mengatasi masalah
lingkungan di negeri ini yang menjadi ujung tombak sebenarnya seorang Menteri
Negara Lingkungan Hidup yang benar-benar menguasai bidangnya. Ia harus diberi
wewenang untuk memberikan pertimbangan pertama yang mendahului pertimbangan lain
dalam pengambilan keputusan antardepartemen.
Di AS
isu polusi udara dalam ruangan ini mencuat ketika Environmental
Protection Agency (EPA) pada tahun 1989 mengumumkan studi, polusi
udara dalam ruangan lebih berat ketimbang di luar. Menurut EPA sebagian
masyarakat justru terkena polusi di dalam ruangan. Seperti lingkungan rumah,
kantor, atau di dalam mobil yang selama ini dianggap bebas polusi.
Salah
satu penyebab polusi di dalam ruangan adalah bensene - bahan
kimia penyebab leukemia yang berasal dari bahan bakar, produk-produk rumah
tangga, dan asap tembakau. Oleh karena itu tinggal bersama dengan perokok
berisiko terpapar bensene secara luar biasa.
Dari
hasil pengamatan terungkap paparan bensene dari dalam ruangan 45% dari rokok
atau perokok pasif, 36% dari gasoline seperti produk-produk
lem, dan 16% berasal dari sumber lain yang ada di dalam rumah macam cat dan
penyimpanan bahan bakar. Hanya 3% dari polusi industri.
Toh
tetap ada jalan keluar untuk mengurangi polusi dalam ruangan. Berdasarkan hasil
penelitian Dr. B.C. Wolverton dari Wolverton Environmental
Services di Picayune, Mississipi merekomendasikan 10 jenis tanaman
penyaring udara paling efisien. Yaitu palem kuning, waregu,
palem bambu, palem funiks, karet kebo, paku sepat, Dracaena deremensis,
Hedera helix, Ficus maclellandi, dan Spathiphyllum
speciosum.
Tanaman-tanaman itu bisa menyerap bahan formalin (penumpas kuman), bensen
(pembersih noda), dan tri kloro etilin (pelarut tinta cetak
dan cat), rata-rata antara 40 - 80%. "Mereka menyaring udara secara alami,"
tulis Dr. Wolverton dalam bukunya How to Grow Fresh Air,
terbitan Penguin Books tahun 1997.
Upaya
pencegahan lain bisa meliputi usaha agar udara segar masuk ke dalam ruangan
secara baik dan terdistribusi merata ke semua bagian di dalam suatu
gedung.
Khusus
di Indonesia menurut dr. Tjandra sumber utama polusi indoor
adalah rokok. Jadi kalau Anda merokok hentikanlah kebiasaan itu. (G.
Sujayanto) |
|||||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal |