|
|
September 2001 |
|
ABIOCOR, Jantung Buatan Yang Menjanjikan
Ini terobosan terbaru di kancah bongkar-pasang jantung manusia. Sama sekali
bukan pencangkokan jantung hewan yang kontroversial. Juga bukan cangkok
jantung palsu seperti tahun 1980-an. AbioCor siap menggantikan secara
permanen jantung yang rusak berat. Ukurannya relatif lebih kecil, ringan,
dan kompak. Rumah sakit di AS, Jewish Hospital, menjadi pioner dalam mencoba
AbioCor.
Tanggal 2 Juli 2001, para ahli bedah jantung di University of Louisville,
AS, berhasil membongkar jantung manusia yang nyaris tidak berfungsi dan
memasang jantung buatan sebagai pengganti permanen. AbioCor Implantable
Replacecement Heart, begitu nama lengkap jantung buatan itu.
Resipien pertamanya, pria (50 tahun) penderita gagal jantung fase akhir.
Kerusakan jantungnya parah. Sekaligus juga menderita diabetes, penyakit
ginjal, dan mengalami kerusakan otot jantung hebat.
Repro:
TST
Proses bongkar-pasang berlangsung selama tujuh jam di Jewish Hospital, salah
satu rumah sakit jantung terbaik di AS. Tim klinis di bawah pimpinan ahli
bedah dari University of Louisville, Laman A. Gray, Jr., M.D., dan Robert D.
Dowling, M.D., terdiri atas 14 perawat, dokter pembantu, anestesiolog, dan
staf pendukung lain. Proses pembedahannya sendiri berjalan lancar.
Selain pertama di dunia untuk jenis penanaman jantung buatan secara
permanen, peristiwa ini merupakan langkah percobaan yang berani. Meski
begitu, langkah ini menjanjikan harapan baru bagi ribuan penderita gagal
jantung.
Menambah umur 30 hari
Saat ini pasien yang identitas lengkapnya masih dirahasiakan itu tengah
memusatkan diri pada pengembalian kekuatan selama proses pemulihan.
Penyembuhannya, menurut para ahli bedah, lebih baik dari yang diharapkan.
"Kondisi pasien lebih baik ketimbang saat sebelum penanaman
(AbioCor)," kata Gray. Fisik resipien pascaoperasi, setidaknya empat
minggu sejak pembedahan, cukup kuat, bahkan mampu wara-wiri berkursi roda di
luar kamar rumah sakit. Juga dapat berdiri dan berjalan pelahan, dengan
dibantu tentu saja. Sempat pula menulis pesan kepada keluarga, tim klinis,
dan teman. Fungsi ginjal dan hatinya pun tetap stabil, serta paru-parunya
baik-baik saja. Pihak rumah sakit juga menyatakan, pasien terjaga dan
responsif dan tidur pun nyenyak.
Sejak AbioCor dipasang, pasien itu sempat mengalami pendarahan di sekitar
lokasi jantung palsunya. Tapi tim dokter telah berupaya mengeringkan cairan
dari sekitar tempat baterai alat itu.
"Tujuan percobaan jantung buatan adalah untuk memperpanjang dua kali
usia harapan hidup pasien hingga 60 hari," kata David Lederman,
presiden Abiomed, perusahaan pembuat alat itu, seperti dikutip Straits
Times. Setiap pasien, tambahnya, tentu memiliki peluang meninggal
pascapenanaman AbioCor. Perlu dimengerti bahwa penerapan teknologi baru
mungkin saja mengalami kegagalan.
Diharapkan, pemasangan permanen jantung buatan itu bisa menambah umur
penderita gagal jantung yang sudah kritis ("divonis" tinggal 30
hari umurnya), paling tidak 30 hari lagi. Harapan itu kelihatannya tidak
masuk akal, namun menjadi kenyataan. Bahkan merupakan langkah awal yang amat
penting untuk meraih tujuan yang lebih baik.
AbioCor, jantung pengganti "siap tanam" pertama di dunia ini,
dirancang sebagai pengganti permanen bagi pasien gagal jantung fase akhir.
Ibaratnya, pasien berada di bibir jurang kematian, dan tak mungkin dilakukan
pencangkokan jantung, ataupun dibantu dengan terapi lain (www.jewishhospital).
"Teknologi ini sebagai langkah kritis dalam menyelamatkan pasien
penderita penyakit jantung fase akhir yang tidak punya peluang hidup,"
jelas Robert Dowling, M.D. "Jantung pengganti AbioCor menjadi solusi
permanen bagi pasien, memberikan mereka kesempatan untuk memperpanjang
hidup."
Sungguh menggembirakan, penelitian tahap praklinis itu pun sukses.
Keberhasilan uji praklinis AbioCor memberikan bukti nyata kepada Badan
Pengawasan Makanan dan Obat, AS (FDA) bahwa jantung buatan terbaru, AbioCor,
memang cocok secara biologis dan mampu menyokong harapan hidup pasien.
Otomatis perusahaan Abiomed pun menerima izin dari FDA untuk melanjutkan
penelitian.
Investigational Device Exemption (IDE) yang diberikan oleh FDA memungkinkan
dilakukan uji klinis lanjutan, yakni penanaman AbioCor dalam tubuh lima
pasien. Keberhasilan uji itu didasarkan pada tinjauan periodik terhadap
kelangsungan hidup dan kualitas hidup resipien (penerima) AbioCor.
"Mengukur seberapa baik ia (jantung buatan) bekerja bukan berdasarkan
seberapa lama ia memperpanjang hidup, tapi seberapa bagus kualitas
hidupnya," kata Dr. David Ledderman, CEO Abiomed.
Yang jelas, sukses awal itu berkat penelitian dan pengembangan AbioCor oleh
Abiomed, Inc., di Danvers, Massachusetts, lebih dari 20 tahun. Ditambah lagi
tiga tahun bekerja sama dengan University of Louisville dan Jewish Hospital,
sebagai pusat uji in-vivo praklinis AbioCor.
Bagaimana cara kerjanya
Omong-omong tentang jantung palsu mengingatkan kita pada Barney Clark,
resipien jantung buatan model terdahulu, yang disebut Jarvik 7, pada
1980-an. Teknologi serupa kini telah mengalami kemajuan dahsyat dengan
kehadiran AbioCor. "Jarvik 7 sangat sederhana dibandingkan dengan
standar sekarang," kata Dr. Mehmet OZ, kardiolog pada Colombia
University yang juga akan menanam salah satu dari alat baru itu (cnn.com).
Jarvik 7 juga dinilai kurang praktis. Jantung buatan terdahulu ini
dihubungkan ke panel besar melalui pipa dan kabel. Kabel menjulur keluar
dari rongga dada menembus kulit dan dihubungkan ke baterai eksternal. Pasien
harus terus-menerus terbaring. Meski bagian dari alat itu ditanam dalam
tubuh pasien, tapi karena dihubungkan ke mesin berukuran besar, otomatis
pasien (Barney Clark) tak bisa bergerak leluasa.
Kala itu pemasangan jantung buatan setidaknya dimaksudkan untuk menjaga
supaya pasien tetap hidup hingga mendapatkan organ jantung siap cangkok.
Tapi sayang, akhirnya Clark meninggal 112 hari setelah penanaman jantung
buatan akibat terserang stroke dan infeksi gara-gara alat itu.
Sementara itu AbioCor memang sengaja dikembangkan sebagai jantung pengganti
secara permanen. Ia dipasang permanen dalam rongga dada pasien. Jadi, tidak
terdapat pipa atau kawat yang menjulur keluar tubuh. Juga tidak dihubungkan
ke panel. Abiomed di Massachusetts mengembangkan jantung pengganti (AbioCor)
dengan baterai dalam (internal) yang dapat diisi ulang secara kontinyu untuk
jangka pendek.
Baterai itu menyimpan cukup tenaga untuk tetap menghidupkan atau memompa
jantung selama 45 menit, tanpa suplai energi baterai eksternal. Hal ini
memungkinkan pasien untuk melakukan kegiatan seperti mandi dan berenang.
Pada sejumlah kasus, pasien mengenakan baterai luar (eksternal) ukuran
"kecil", sekitar 1,8 kg. Kemudian ia mengirim sinyal elektrik
melalui kulit ke baterai internal dan menjaga detak jantung.
Apalagi dari segi ukuran, AbioCor relatif kecil, kira-kira seukuran buah
jeruk. "Pompa darah" berbahan titanium dan plastik ini cukup
ringan dan kompak. Bobotnya berkisar antara 0,9 kg - 1,8 kg. Ini merupakan
lompatan teknologi jantung buatan. Bandingkan dengan jantung palsu generasi
terdahulu (tahun 1980-an) yang berukuran besar (karena dipenuhi kapel dan
pipa); sekitar 2,25 kg beratnya. Yang pasti, AbioCor tidak berisik sehingga
perlu stetoskop untuk mendengarkan suara detaknya. Pompa dan klepnya dari
Angioflex, material buatan Abiomed.
"Saya kira ini (AbioCor, Red.) sebagai langkah maju demi
perkembangan jantung buatan," kata Dr. David Faxon, presiden American
Heart Association, seperti dikutip Straits Times.
Meski ada baterai internal, suplai energi dari baterai luar (eksternal)
tetap dibutuhkan. Baterai yang terpasang pada sabuk terhubung ke coil
yang ditanam di bawah kulit. Pengiriman tenaga dari baterai diteruskan ke
AbioCor melalui coil.
Jadi, begitu jantung pengganti ini ditanam secara sempurna, pasien penerima
tetap dapat bergerak leluasa. Siap melakukan kegiatan rutin, tanpa harus
selalu tiduran. Karena tubuh pasien tidak ditembus pipa dan kabel, otomatis
menghindari penetrasi ke kulit yang selanjutnya dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya infeksi.
Seperti halnya jantung asli, AbioCor Implantable Replacement Heart terdiri
atas bilik-bilik. Hanya saja jantung beneran punya empat bilik,
sedangkan AbioCor memiliki dua bilik pompa darah. Pompa sebelah kanan
menyuplai darah ke paru-paru, sementara pompa sebelah kiri mengirim darah
untuk organ vital lain. Masing-masing pompa mampu mengalirkan lebih dari 8 l
darah per menit.
Mirip jantung manusia, AbioCor mampu merespons segala derajat aktivitas. Ini
berkat adanya sensor aktif. Karena itu pula, secara otomatis AbioCor dapat
meningkatkan atau mengurangi laju pemompaan jantung. Sistem pemantau aktif
juga merangkap sebagai alarm kalau terjadi ketidakteraturan.
Pasien diseleksi betul
Sukses uji praklinis mengantar Abiomed mendapatkan izin dari FDA untuk
melakukan lima penanaman AbioCor berikutnya. Kandidat resipien dipilih
secara saksama. Mereka berusia di atas 18 tahun, dan harus yang mengalami
gangguan jantung sangat parah. Meskipun sudah menjalani pengobatan secara
maksimal, mereka diperkirakan cuma tinggal 30 hari masa hidupnya.
Syarat yang juga penting, tubuh mereka harus bisa "menerima"
jantung asing itu. Begitu pula organ vital lain harus berfungsi secara
normal. Mereka tidak mempunyai kecenderungan infeksi atau gangguan saraf,
dan pasien itu tidak dapat berjalan atau melakukan kegiatan rutin
sehari-hari.
Penilaian terhadap setiap resipien AbioCor harus disampaikan kepada FDA, 60
hari setelah penanaman. Jika hasil uji dari lima resipien itu bagus,
perusahaan Abiomed berpeluang mendapat izin melanjutkan percobaan lanjutan
kepada 15 pasien.
Lima rumah sakit terkenal, di antaranya Brigham & Women's and
Massachussets General di Boston, Hahnemann University Hospital di
Philadelphia, Jewish Hospital di Louisville, Texas Heart Institute di
Houston, dan UCLA Medical Center di Los Angeles, siap melakukan uji klinis
AbioCor untuk tahap berikutnya.
Dari penderita gagal jantung di AS, menurut Robert Dowling bersama koleganya
dari University of Louisville, sekitar 2000-an cangkok jantung dilakukan per
tahun. Padahal diperkirakan, banyak pasien bisa memanfaatkan AbioCor. Bisa
mencapai 100.000 kandidat resipien jantung pengganti (AbioCor) yang
potensial.
Menurut sejumlah dokter, termasuk Dr. Robert Higgins, ketua bagian
kardiologi pada Medical College of Virginia di Richmond, jantung pengganti
dimungkinkan untuk menggantikan donor jantung. "Diharapkan, suatu hari
mekanisme ini bisa membawa pasien menuju ke hidup yang relatif normal,"
ujar Dr. John Watson dari National Heart, Lung and Blood Institute,
penyumbang dana AS$ 20 juta untuk penelitian lanjut jantung buatan AbioCor.
Mudah-mudahan jantung pengganti ini jadi berita gembira. Bisa memperpanjang
usia harapan hidup dan menjanjikan hidup yang memuaskan bagi penderita
jantung yang "divonis" tak mungkin akan hidup lebih lama. (Rye/dari
pelbagai sumber)
Artikel Infotekno yang lain: Fisikamania: Perahu Pasar |
|||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|