|
|
September 2001 |
|
IT'S A NICE DAY,
BERSAMA LOKO TUA
Tak diminati di negeri sendiri, atraksi loko tua diburu turis mancanegara.
Juli lalu, para penggemarnya dari seantero dunia, bernostalgia di kawasan
hutan Cepu, Jawa Tengah, memakai lokomotif bikinan tahun 1928 dan melewati
rel yang ditanam tahun 1915.
Tampaknya
seperti mainan, tapi ini benar-benar rangkaian loko dengan enam lori
yang mengangkut 30 m3 kayu jati. (Foto: Ibas)
Dalam peta wisata nasional, Kota Cepu tak masuk hitungan turis domestik.
Tapi kawasan gersang ini diam-diam menyimpan potensi wisata. Rangkaian
lokomotif uap tua yang dioperasikan oleh Perum Perhutani, Kesatuan
Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu, untuk mengangkut kayu.
Cepu memang kesohor dengan hutan jatinya. Adalah Belanda yang mula-mula
membangun hutan tahun 1870-an. Negeri kincir angin itu rupanya punya
perhitungan matang. Mereka beranggapan perpaduan jenis tanah margalit di
Cepu plus musim hujan dan kemarau yang tegas bakal melahirkan hutan jati
yang subur. Ramalan itu tepat. Cepu tumbuh sebagai kawasan hutan jati yang
dibanggakan. Kini dengan luas sekitar 33.000 ha, kayu jati asal Cepu dikenal
sebagai kayu pilihan dengan kualitas jempolan. Kuat dan awet. Itu sebabnya
orang sering mengibaratkan kayu jati asal Cepu sebagai sejatining
kayu.
Di tengah hamparan hutan jati itu berkembang sebuah objek wisata yang
dikenal dengan loko tur (Loko Tour). Istilah ini muncul setelah tahun 1990
para peminat lokomotif tua mulai berdatangan untuk menikmati dan
bernostalgia dengan loko-loko uzur penarik lori tadi. "Sebelumnya loko
hanya dipakai untuk angkutan kayu rutin," kata Sisworo, pengelola tur
yang juga humas Perhutani KPH Cepu.
Atraksi utama loko tur adalah melihat kegiatan hutan jati dengan menggunakan
lokomotif tua dengan kondisi rel dan kereta yang asli. Kabarnya loko merek
Du Croo & Brauns itu satu-satunya kereta bikinan tahun 1920 yang masih
jalan. "Ini barang langka yang diburu para penggemar kereta kuno di
seluruh dunia," ujar Sisworo.
Tanggal 31 Juli lalu menjadi acara istimewa bagi para peserta tur yang
terdiri atas 18 orang wisatawan mancanegara dan dua wisatawan lokal. Menurut
Sisworo, yang menjadi tour leader, peserta berasal dari AS, Belanda,
Inggris, Swedia, dan Austria.
Sedangkan yang lokal berasal dari Bandung yaitu Cheng dan Harriman. Keduanya
dari Indonesian Railway Modellers Club (IRMC), perkumpulan orang dengan hobi
sama, membikin miniatur lokomotif, yang didirikan tahun 1994 dan berpusat di
Bandung. "Kami bercita-cita, semua loko di Indonesia ada
miniaturnya," jelas Harriman, sekretaris IRMC.
Rob yang nyentrik
Du Croo & Brauns
beraksi dengan semburan asap tebalnya. Satu-satunya yang masih jalan
di dunia. (Foto: Ibas)
"Kepala suku" atau orang yang dituakan dari para penggemar loko
tua itu adalah Rob Dickinson, pria asal Inggris yang ahli komputer.
Apresiasinya pada kereta tua telah mengantarnya keliling Pulau Jawa. Sudah
puluhan kali Rob keluar-masuk Museum KA Ambarawa, KA di PG Asembagus, PG
Semboro di Jember, dll.
Ia bisa menghabiskan waktu sampai dua bulan dalam setahun untuk menikmati
loko-loko gaek itu, termasuk yang di Cepu. "Di sinilah tempat atraksi
loko uap tua paling menarik di seluruh dunia," ungkap Rob memuji.
Melalui situs di internet yang beralamat di http://dialspace.dial.pipex.com/steam/java1997.htm,
Rob menginformasikan kegiatannya berkunjung ke sentra-sentra loko tua sejak
tahun 1997.
Rangkaian tur dimulai pada 30 Juli malam. Semua peserta dijamu makan malam
di halaman belakang Wisma Perhutani. Halaman asri itu disulap menjadi tempat
pesta kebun yang dihiasi lampu warna-warni dan gubuk-gubuk. Di latar depan
dibangun panggung sederhana untuk atraksi musik. Malam itu Rob tampil nyentrik.
Pria yang mengeksplorasi loko tua sejak tahun 1990 itu mengenakan sarung
bergaris-garis. Santap malam dan ramah tamah itu berakhir pukul 22.30 WIB.
Esoknya usai sarapan peserta digiring dari Wisma Perhutani menuju
"stasiun" KA milik Perhutani, di belakang Kantor Perhutani Cepu.
Rob dan kawan-kawan sudah siap dengan "senjata" mereka: topi
rimba, ransel, kamera foto dan video. Kamera dan video perekam adalah
perlengkapan standar. Bagi mereka, memiliki gambar kereta tua dalam keadaan
jalan merupakan harta yang tak ternilai.
Di "stasiun" pemberangkatan yang bersebelahan dengan bengkel
kereta, dua loko tua siap bertugas: Berliner Maschinenbau bikinan Jerman
tahun 1928 dengan 10 roda gerak serta Du Croo & Brauns Amsterdam dengan
enam roda penggerak. Keduanya tampak perkasa dan angker dengan cat hitamnya.
Sejak pukul 03.00 WIB loko uap itu telah menjalani ritus rutin. Mulai dengan
pemanasan ketel dengan bahan bakar kayu jati. Masinis menyiapkan kayu bakar
sebanyak 10 stafel meter, ukuran isi kayu versi Belanda yang
kira-kira sama dengan 4 m3 kayu. Kayu sebanyak itu cukup untuk
menempuh jarak sampai 45 km.
Tergantung tingkat kekeringan kayu, setelah sekitar dua jam tekanan uap di
ketel sudah mencapai 10 - 11 atm. "Hanya pada tingkat tekanan itu
kereta bisa digerakkan," jelas Ngasirin, teknisi pada bengkel traksi.
Masinis bisa membaca tekanan operasional itu pada alat manometer yang
terpasang di ruang masinis di depan ketel.
Di lapangan para petugas sejak pagi memeriksa rel untuk menerima beban
kereta. "Ini prosedur tetap. Satu petugas memeriksa lintasan sepanjang
5 km," jelas Sisworo yang juga menjadi perwakilan Indonesia bagi para
penggemar loko tua di dunia.
Duduk di atas lori
Lebih enak duduk di atas
gelondongan daripada di dalam gerbong yang nyaman. (Foto: Ibas)
Tepat pukul 08.00 WIB kereta dua loko yang menarik enam gerbong dengan
masinis Asmadi (45) mulai menggerakkan roda-rodanya menyusuri rel tua
selebar 1,067 mm yang ditanam sejak tahun 1915. Kini rel yang dibangun
belanda itu nampak sudah tak lurus lagi.
Jess ... jess... jess... peserta tur serentak berlompatan naik ke lori-lori.
Mereka menuju tempat yang strategis untuk menikmati perjalanan. Sebagian
duduk-duduk di palangan besi di atas lori, sebagian lainnya berdiri dekat
tandon air yang memasok air ke ketel.
Baru 500-an m kereta berjalan, tiba-tiba peluit berbunyi dua kali. Tuit ..!
tuit ..! isyarat pengereman. Dua palang tuas di tiap-tiap ujung lori
diputar.
Rangkaian kereta berhenti. Ada apa? Rupanya satu peserta yakni John Rombouts
dari Tehachapi, Kalifornia, AS, tertinggal di bengkel. Pria yang juga
menjabat walikota di kotanya itu keasyikan mengambil gambar sampai tidak
mendengar kereta berangkat.
Atraksi loko uap di Indonesia rupanya punya tempat tersendiri di hatinya. Ia
menunjukkan sebuah buku yang diterbitkan di Amsterdam, Belanda. Buku itu
memuat ratusan gambar yang menunjukkan neneknya yang pernah tinggal di Jawa
tahun 1840-an. Salah satu gambar itu menunjukkan aktivitas loko di sebuah
pabrik gula di Purworejo, Jawa Tengah. "Salah satu alasan saya ke sini
juga karena itu," ujar John yang datang bersama dua saudaranya yang
mukim di Inggris dan Belanda. Dengan bangga ia mengaku, nenek moyangnya
berasal dari Keraton Solo. Moyangnya asal Belanda datang ke Indonesia dan
menikahi gadis asal Solo.
John lalu dijemput dengan mobil. Dengan tenaga penuh kereta bergerak lagi.
Masih di lingkungan Kantor Perhutani, kali ini loko tua melewati kawasan
tempat penimbunan kayu (TPK), tempat pengumpulan kayu berbentuk gelondongan
yang berasal dari hutan. TPK Cepu tergolong besar dibandingkan dengan
TPK-TPK lain di Pulau Jawa. Di TPK kayu dipilah-pilah berdasar panjang dan
kualitasnya. Sehari-harinya loko itu mengangkut kayu dari hutan dan
dikumpulkan di sini.
Setiba di TPK, Rob meminta kami untuk turun dan mengambil posisi di tempat
yang strategis. Ternyata ini adalah perintah untuk mengabadikan gambar loko
secara eksklusif. Bule-bule itu pun berhamburan turun lantas mencari tempat
yang paling menguntungkan. Sebagian peserta berdiri di atas tumpukan balok
kayu, sebagian lagi mengambil tempat persis di depan kereta. Rob sendiri
menaiki bangunan kayu yang biasa digunakan polisi hutan mengawasi kawasan
TPK dan mengarahkan kamera ke loko yang siap beraksi.
Saat itu pukul 09.00 pagi, sinar matahari masih bersahabat untuk mendapatkan
gambar yang dramatis. Segera loko dimundurkan lagi dan bersiap untuk maju.
Jess ... jess ... loko antik itu maju dengan kecepatan penuh. Semburan asap
tipis muncul di kanan-kiri loko. Dari lubang ketel, asap tebal putih ke luar
membubung tinggi.
Puluhan meter di depan peserta, kamera pun beraksi. Jeprat ... jepret ....
Kamera video tak ketinggalan merekam gambar dan bebunyian. Adegan ini
diulang, kali ini dengan loko kecil berada di depan. Herannya, kendati
berukuran lebih kecil, semburan asap dari ketel uapnya lebih banyak dan
dramatis.
Puas dengan atraksi itu, peserta kembali naik ke atas kereta dan berjalan
menuju Stasiun Bergaja, sekitar 10 km dari Cepu. Stasiun di tengah hutan itu
hanya punya dua rel sejajar. Juga tak ada kepala stasiun yang biasa berdiri
di depan saat kereta lewat. Yang menonjol justru sebuah tandon air dari batu
bata berkapasitas 10 m3 air yang sudah ada sejak jaringan rel
dibangun. Air itu didatangkan dari sumber air di atas gunung yang dialirkan
melalui selang.
Seperti orang kehausan. Kereta kuno itu sangat haus air. Cadangan air yang
digunakan untuk menghasilkan uap panas hampir terkuras. Bak air cadangan pun
diisi air sampai 3 m3. Hampir 1 jam kereta ngaso.
Ditaburi pasir agar tak selip
Lorong jembatan yang
sempit, tapi kereta masuk juga. (Foto: Ibas)
Perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini jalan agak menanjak. Beban berat
membuat tapakan roda di atas rel kurang kuat. Akibatnya roda sering selip.
Untuk menghindarinya dua petugas duduk di bagian depan loko sambil
menebarkan pasir pada kedua sisi rel. Kereta pun melaju melintasi areal
pertanian serta menembus hutan jati dari berbagai kelas umur.
Ketika sinar matahari mulai terik, kereta berhenti di depan sebuah SD di
Kecamatan Sambong. Kesempatan ini tak disia-siakan peserta. Mereka
mengunjungi dan melihat-lihat SD di pinggir hutan itu. Beberapa peserta
tampak menyumbangkan alat-alat tulis. Salah satunya Carin Eilerts De Haan,
Wakil Kepala Sekolah dari St. Mary' School di Inggris. "Pensil dan
buku-buku tulis ini saya beli di Cepu, anak-anak pasti senang
menerimanya," katanya.
Sementara itu lori kosong itu mulai diisi kayu gelondongan hasil tebangan
sebelumnya yang ditumpuk di pinggir rel. Kayu sebanyak 30 m3 itu telah
dipotong sepanjang 2 m dengan diameter 40 - 50 cm hasil tanaman tahun 1959.
Untuk mengangkut kayu sebanyak itu satu regu angkut terdiri atas delapan
orang dibagi tiga bagian. Empat orang bertugas memikul kayu ke tepi lori.
Kayu itu lantas digelindingkan ke atas lori oleh dua orang dengan
menggunakan balok kayu yang dimiringkan. Sesampai di atas lori, sudah siap
dua orang yang bertugas menatanya.
Pengangkutan kayu tradisional itu menjadi atraksi menarik bagi peserta.
Mereka tak mau kehilangan momentum berharga yang di negara asalnya sudah
lama ditinggalkan. Di AS, menurut John, proses penebangan kayu dan
pengangkutan sudah dilakukan secara mekanis sehingga sangat efisien. Di
Indonesia, hutan jati berada dalam kepungan penduduk, ekploitasi kayu secara
mekanis pasti memunculkan problem sosial yang besar.
John tak henti-henti bertanya bagaimana siklus hutan jati ini, mulai dari
tahap penanaman sampai pemanfaatan kayu. Dengan rinci Sisworo yang juga
ketua Cepu Heritage Club menjelaskan mulai dari pemilihan biji, penanaman,
pemeliharaan, proses penebangan, dan pemanfaatan kayu. "Ini cara
kampanye paling efektif untuk menjelaskan pada dunia luar bahwa kita bisa
mengelola hutan secara lestari," jelas Sisworo, yang kendati seorang
sarjana hukum, pengetahuan soal hutannya tak kalah dengan insinyur
kehutanan.
Bir di tengah hutan
Berliner Maschinenbau
bikinan Jerman beroperasi sejak 1928, masih perkasa hingga kini. (Foto:
Ibas)
Obrolan tentang hutan terus berlangsung sambil menikmati makan siang di
rumah dinas polisi hutan. Menunya nasi dengan lauk ayam goreng, oseng-oseng
buncis, sambal goreng krecek, dan krupuk udang. Barangkali lantaran perut
sudah keroncongan dan suasana tepian hutan yang nyaman, sajian itu
benar-benar membangkitkan selera. Apalagi Sisworo menyediakan minuman
kesukaan mereka, bir. Bule-bule itu pun mengacungkan jempol atas bir yang
bisa didatangkan ke tengah hutan.
Penyakit turunan menyerang. Perut kenyang, kantuk pun datang. Sambil
bersandar seadanya di kursi, dinding tembok, bahkan telentang di lantai,
sebagian peserta terlelap tidur. "Mereka memang terkenal cuek. Bisa
istirahat dan tidur di mana saja," jelas Sisworo. Ia mencontohkan Rob
yang setiap datang selalu menggunakan ransel, topi, dan sepatu yang itu-itu
juga. Hanya kaus kakinya yang berganti-ganti.
Jeda hampir tiga jam itu jelas memulihkan tenaga untuk kembali menikmati
pesona hutan. Keenam lori sudah penuh tumpukan kayu. Asmadi, masinis kawakan
yang bertugas sejak tahun 1978 kembali menggeber kereta menyusuri jalan
besi. Kereta diarahkan ke Tegal Panggung.
Menurut dia, sejauh ini tak ada kerewelan kereta yang serius. Loko tetap
bisa lancar menarik kayu sebanyak 30 m3. "Yang penting kayu untuk
pemanas ketel harus kering, sehingga ketel cepat panas dan loko
bertenaga," katanya sambil memasukkan potongan kayu ke dalam lubang
ketel.
Ruangan masinis yang sempit itu amat gerah karena berada di samping ketel,
apalagi udara siang kali itu amat garang. Tapi Asmadi yang dibantu juru api
tak peduli. Baginya yang penting kereta bisa melaju hingga kecepatan
maksimal, sekitar 25 - 30 km/jam, dan para tamu senang.
Di atas sebuah jembatan, Asmadi diminta memaju-mundurkan kereta untuk
diambil gambarnya. Ia pun melakukannya dengan antusias. "Mereka suka
sekali memotret kereta ini. Saya sudah beberapa kali diberi gambarnya,"
katanya bangga.
Bagi Rob dan kawan-kawan proses pengambilan gambar dan bebunyian bukan soal
sepele. Dengan teliti ia mengatur posisi setiap orang. Bunyi misalnya, harus
cuma berasal dari bunyi lokomotif. Ketika di permukaan tanah berserakan daun
jati, ia akan menyingkirkannya terlebih dulu. Daun jati kering akan
menimbulkan bunyi berisik jika terinjak. Ini sangat mengganggu kejernihan
bunyi yang masuk dalam video.
Mereka juga rewel dengan sudut pengambilan gambar dan kebutuhan penyinaran
pada saat pemotretan. Rob rela menunggu beberapa saat sampai matahari
kembali muncul dari balik awan. "Mereka minta pengambilan gambar mulai
pukul 06.00 - 10.00 dan pukul 14.00 - 17.00, makanya kereta saya
istirahatkan siang hari sambil menaikkan kayu," kata Sisworo yang hapal
dengan karakter Rob dkk.
Usai menyusuri kawasan hutan, loko tua itu kembali ke Cepu di bawah naungan
lembut sinar matahari sore. Total perjalanan istimewa siang itu berkisar 30
km pulang-pergi. Dalam perjalanan pulang loko perkasa ini kembali mengisi
air di Stasiun Bergaja.
"Supaya jangan sampai kehabisan air," kata Asmadi.
Para maniak loko tua itu tampak sangat puas. Mungkin mereka akan kembali
lagi setahun mendatang menikmati ritus yang sama. "It's a nice day,"
seru mereka. (G. Sujayanto) Baca
juga:
|
|||||||||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|