|
|
September 2001 |
|
Hernia, Jangan Dianggap Sepele Namanya terkesan indah. Bisa-bisa kita membayangkan seorang wanita cantik. Padahal hernia itu nama gangguan kesehatan yang umumnya diderita pria. Meski kebanyakan menyerang manula, ia juga bisa terjadi pada anak-anak. Oleh khalayak ramai, hernia dikenal sebagai turun berok atau burut.
Pak Jaya, 51 tahun, datang ke dokter mengeluh
ada benjolan sebesar telur puyuh di lipat paha sebelah kanan. Benjolan itu
keluar kalau ia berdiri, batuk-batuk, dan sehabis buang air besar, dan
menghilang di pagi hari. Setelah diperiksa, ternyata Pak Jaya menderita
hernia. Dokter pun menganjurkannya untuk berkonsultasi dengan dokter
spesialis bedah.
Nama penyakit ini berasal dari bahasa Latin, herniae, yang berarti
penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek)
pada dinding rongga itu. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu
kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah
perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.
Hernia dibedakan atas beberapa jenis. Penamaannya disesuaikan menurut
letaknya. Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi di lipat paha. Jenis
ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau
burut. Bila terjadi di paha disebut hernia femoralis, di pusar dinamai
hernia umbilikalis, dan di sekat rongga badan dijuluki hernia diafragmatika.
Selain itu, ada jenis hernia insisional, yakni yang terjadi setelah suatu
pembedahan. Karena setelah pembedahan biasanya kekuatan jaringan tidak
seratus persen kembali seperti semula, daerah itu kemudian menjadi lemah dan
dapat mengalami hernia.
Otot dinding rongga perut melemah
Masyarakat awam menyangka, hernia merupakan gangguan kesehatan hanya pada
kalangan estewe (setengah tua) atau usia lanjut. Padahal, sebenarnya
hernia dapat juga terjadi pada anak-anak. Ia juga lebih sering dialami
laki-laki ketimbang perempuan. Ini terjadi karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Pada janin
laki-laki, testis (buah pelir) turun dari rongga perut menuju skrotum
(kantung kemaluan) pada bulan ketujuh hingga kedelapan usia kehamilan.
Lubang yang berupa saluran itu akan menutup menjelang kelahiran atau sebelum
anak mencapai usia satu tahun. Ketika dewasa, daerah itu dapat menjadi titik
lemah yang potensial mengalami hernia.
Penderitanya sering mengeluhkan adanya benjolan yang tidak nyeri namun cukup
mengganggu. Seberapa jauh mengganggunya, tergantung seberapa besar
penonjolannya. Penonjolan muncul karena adanya kelemahan anatomis pada otot
dinding perut menimbulkan penonjolan di tempat yang lemah tadi. Kondisi
menjadi lebih parah bila ada dorongan akibat peningkatan tekanan di dalam
rongga perut. Misalnya, akibat mengejan ketika buang air, batuk-batuk, atau
mengangkat beban berat.
Usus yang hampir terjepit
perlu segera ditangani (atas). Jenis hernia yang banyak dialami wanita,
bagian usus keluar sampai paha (bawah). (Repro: Complete Family
Health Encyclopedia)
Menurut dr. Rudi Hartanto, dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Siloam
Gleneagles, Tangerang, pada bayi dan anak-anak, hernia merupakan keadaan
bawaan sejak lahir (kongenital) dan berisi cairan. Jadi bukan hernia
inguinalis pada umumnya yang berisi bagian usus. Hernia pada anak-anak
terjadi karena hubungan antara rongga perut dan kantung kemaluan, yang
merupakan tempat testis bergerak turun dari rongga perut ke kantung kemaluan
ketika anak masih dalam kandungan, tetap ada.
Pada orang dewasa, hernia terjadi karena dua faktor utama. Pertama, adanya
otot dinding rongga, misalnya perut, yang lemah. Kedua, dorongan yang
menyebabkan tekanan di dalam rongga perut meningkat. Biasanya hernia pada
orang dewasa ini terjadi pada usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding
rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan
tubuh mengalami proses degenerasi. Pada wanita, kegemukan juga dapat
memungkinkan timbulnya daerah yang lemah. Keadaan-keadaan itu, jika ditambah
dengan faktor kedua tadi, dapat mengakibatkan usus terdorong ke dalam
"daerah perbatasan" yang lemah tadi dan menonjol ke luar.
Pendapat lain menyatakan, kebiasaan merokok, penyakit yang mengenai jaringan
ikat, dan penyakit gula (diabetes melitus) juga dapat mempengaruhi timbulnya
hernia. Ketiganya berkaitan dengan gangguan metabolisme pada jaringan ikat.
Hernia ringan bisa bersifat reponibel, yaitu bagian usus yang keluar dapat
masuk kembali ke rongga perut jika penderita berbaring atau didorong sendiri
oleh penderita. Yang celaka bila hernia sudah masuk ke tahap selanjutnya,
yang ireponibel. Pada tahapan ini isi hernia yang keluar tidak bisa masuk
kembali meskipun didorong dari luar.
Kita juga perlu waspada jika cincin hernia berdiameter kecil. Pasalnya, bila
sudah ada usus yang keluar, dengan tekanan rongga perut yang bertambah,
bagian usus dapat keluar lebih banyak lagi dari lubang itu. Bila terus
berlanjut, bisa menjadi hernia inkaserata, yakni bagian usus yang terjebak
tidak dapat kembali. Atau menjadi hernia strangulata karena usus yang
terjebak tadi dapat mengalami pembusukan dan mati karena tidak mendapat
pasokan darah.
Lebih baik segera dioperasi
Hernia pada orang dewasa sebaiknya ditangani sedini mungkin. Bila didiamkan
dan bertambah parah, nyawa bisa jadi taruhannya.
"Terapinya tak ada jalan lain, kecuali operasi," dr. Rudi
menegaskan. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Karena penyebabnya
keadaan anatomi yang melemah atau mengalami kelainan, pembedahan memang
menjadi satu-satunya terapi.
Pembedahan untuk menangani hernia ini termasuk tindakan bedah yang sering
dilakukan. "Di rumah sakit ini," ujar dr. Rudi yang berperawakan
tinggi dan ramah, "operasi penderita hernia merupakan tindakan bedah
kedua tersering setelah operasi usus buntu (apendisitis)."
Pada orang dewasa, pembedahan dilakukan untuk menutup lubang dan memperkuat
bagian yang lemah. Otot perut dirapatkan menutupi lubang yang ada. Pada
zaman baheula, operasi dilakukan dengan menempatkan penderita dalam
"posisi Trendelenburg" (kepala di bawah) agar isi hernia masuk
kembali ke rongga perut oleh gaya gravitasi Bumi.
Mula-mula usus yang keluar
dimasukkan kembali. Lalu lubang ditutup, bila perlu dipasang
"mesh" untuk memperkuat.
(Repro: Complete
Family Health Encyclopedia)
Pembedahan dapat dilakukan terencana, tidak harus segera. Khusus untuk
hernia inkarserata dan strangulata, tindakan operasi harus segera dilakukan.
Bila tidak, bagian isi hernia yang terjepit lalu membusuk dan bisa menjadi
sumber infeksi ke seluruh dinding usus (peritonitis). Akibat yang lebih
buruk adalah kematian bagi penderitanya.
Setelah operasi, semuanya jadi beres? Belum tentu. Penderita biasanya masih
mengeluh soal lain. Setelah operasi ia merasakan bagian yang dioperasi
seperti tertarik dan nyeri.
Untuk mengatasi keluhan tadi, kini tersedia jala sintetis yang dikenal
dengan mesh. Penggunaannya menguntungkan bagi penderita pascaoperasi,
karena otot perutnya tidak lagi ditarik, sehingga penderita tidak akan
merasa nyeri.
Selain tindakan bedah konvensional, kini juga ada terapi dengan teknik bedah
laparoskopi. Keuntungan teknik ini antara lain, luka operasinya kecil
sehingga penyembuhannya pun lebih cepat. Namun, teknik ini lebih rumit dan
lebih mahal. Celakanya, hasil yang diperoleh dinilai tidak begitu maksimal,
sehingga para dokter lebih memilih teknik biasa.
"Pada anak-anak, sebelum anak mencapai usia satu tahun, biasanya belum
dilakukan tindakan. Diharapkan, lubang akan menutup sendiri mengikuti
pertumbuhannya," tambah dokter lulusan Belgia ini. "Namun, jika
setelah berusia satu tahun, lubang masih terbuka, dokter akan menganjurkan
operasi. Kalau dibiarkan, lubang dapat bertambah besar. Ketika anak mulai
berjalan dan beraktivitas, lubang tadi dapat terus membesar akibat dorongan
terus-menerus. Akibatnya, tidak hanya cairan yang keluar, usus pun dapat
keluar, sehingga berlanjut menjadi hernia." Pada anak-anak, tindakan
hanya ditujukan untuk menutup lubang.
Jangan sampai kambuh
Penderita hernia pascaoperasi bisa mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan
terjadi dalam beberapa bulan atau setahun, hal ini mungkin merupakan akibat
dari pembedahan yang dilakukan. Namun, bila kekambuhan terjadi setelah dua
tahun atau lebih, tampaknya terjadi kelemahan fasia yang progresif.
Hati-hati bila kekambuhan terjadi berulang. Kemungkinan hernia berkembang
menjadi hernia inkarserata dan strangulata menjadi lebih besar.
Untuk mencegah kekambuhan, penderita harus menghindari hal-hal yang dapat
meninggikan tekanan di dalam rongga perut, misalnya batuk dan bersin yang
kuat, konstipasi (sembelit), mengejan, serta mengangkat barang berat.
Misalnya, untuk menghindari batuk-batuk yang persisten, kalau ia perokok
sebaiknya berhenti merokok. Jangan sampai ia harus mengejan, kalau ada
kesulitan buang air kecil atau besar, sebaiknya segera berobat dan diatasi
dulu. Kalau pekerjaan penderita sering menuntut dirinya mengangkat beban
berat, sebaiknya ia minta dipindahtugaskan. Pada wanita yang kegemukan,
dianjurkan untuk mengurangi bobot badan.
Terapi nonbedah berupa pemakaian penopang (truss) hanya bersifat
menunjang, sama sekali tidak memperbaiki hernia itu, apalagi menyembuhkan.
Cara ini diperuntukkan bagi penderita yang menolak operasi atau, karena
keadaan yang tidak memungkinkan, tidak dapat dioperasi. Namun, untuk
penderita yang menolak operasi, perlu dijelaskan bahwa keadaan penyakitnya
dapat berlanjut dan akhirnya tetap diperlukan operasi. Pada keadaan lanjut
itu, operasi akan menjadi lebih sulit, apalagi kalau sampai isi hernia tidak
bisa dikembalikan ke tempat asalnya atau membusuk.
Jadi, dalam memandang hernia sebagai suatu penyakit, yang penting adalah
penanganan secara dini dan pencegahan risiko lebih lanjut. (Beatricia
Iswari) |
||||||||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|