globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

September 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MAIN FUTSAL UNTUK BUANG SIAL

Pernah dengar nama Pele, Zico, atau Ronaldo? Kecuali Anda tinggal di luar planet Bumi, "ikon" berbau Brasil tadi mestinya tak asing lagi. Tapi tahu enggak, sebelum tenar sebagai pesebakbola lapangan rumput, ketiganya jagoan futsal. Itu lo, main bal-balan di dalam gedung.

lapangan futsalKonon, futsal-lah Kawah Candradimuka yang membuat Negeri Samba berjaya menjadi kampiun bola sepak. Sayang, Indonesia baru mempropagandakan olahraga ini setahun terakhir. Kalau saja kesadaran ini tumbuh lebih awal, impian PSSI untuk menampilkan sebuah tim di pentas dunia barangkali sudah lama terlaksana.

Selain Brazil, ada beberapa negara lagi yang kompetisi futsalnya sudah berjalan lancar. Tengok saja Spanyol, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat. Selain sekolah-sekolah sepakbola, "PSSI" mereka juga sangat mengandalkan bibit-bibit unggul yang beraksi di lapangan tertutup. Ini salah satu kunci, mengapa suplai pemain-pemain top seperti tak ada habis-habisnya, mirip air yang mengucur deras dari mata air.

Ambil contoh Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam ini Futsal National Championship-nya (putaran ke-16 baru berakhir Maret 2001 lalu) diadakan secara rutin saban tahun. Tak tanggung-tanggung, untuk menangguk pemain berbakat sebanyak-banyaknya, kejuaraan diadakan dalam banyak kategori. Mulai usia di bawah hingga 10 tahun, di bawah hingga 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, 19 tahun, hingga kelas bebas yang paling bergengsi.

Bahkan, buat kaum hawanya sudah menunggu kejuaraan khusus di bawah usia 12, 14, 16, dan 19 tahun. Nah, dengan jenjang selengkap itu, tidak mengherankan kalau bibit-bibit unggul yang siap diolah menjadi pemain profesional nan terampil gampang ditemukan. Soalnya, pengalaman menunjukkan, futsal memang arena belajar yang pas buat peminat sepakbola pemula.

Dominasi Brasil

Di belantara sepakbola mancanegara, aksi gocek bola di dalam ruangan sebenarnya bukan barang baru. Para futsaller Amerika Latin percaya, kisahnya berawal dari Montevideo, ibukota Uruguay, tahun 1930, saat Juan Carlos Ceriani menyelenggarakan pesta menyepak kulit bundar 5 lawan 5. Kejuaraan yang diikuti para pemain muda itu diadakan di arena mirip lapangan basket. Tentu saja, tanpa dinding pembatas di sekelilingnya, hingga bola mudah "lari" ke mana-mana.

Namun literatur FIFA menyebutkan, sebelum populer di negara-negara Amerika Selatan, permainan ini sudah kerap dimainkan di Amerika Utara, tepatnya Kanada, sejak 1854. Baru kemudian dikembangkan oleh Juan Carlos Ceriani, sekaligus membuka mata dunia pada tahun 1930-an.

Lantas, mengapa pula permainan ini dinamai futsal? Dalam bahasa Spanyol dan Portugis (bahasa ibu penduduk Amerika Latin), sepakbola (soccer atau football) lebih dikenal sebagai futbol atau futebol. Nah, dalam bahasa yang sama, sepakbola "gedongan" ini kemudian dinamai futsal. Buntut "sal" (artinya ruangan), dicomot dari bahasa Prancis (salon) atau Spanyol (sala).

Toh, istilah futsal sempat bersaing ketat dengan indoor soccer atau indoor football versi negara-negara Eropa. Namun badan sepakbola sedunia, FIFA kemudian mengadopsi futsal sebagai nama resmi bal-balan dalam ruangan. Organisasi terbesar di dunia ini (jumlah anggotanya 200-an negara, lebih banyak dari PBB) juga menetapkan ukuran lapangan dan aturan main baku yang membuat olahraga ini makin dikenal banyak negara.

Bahkan di negeri gila sepakbola seperti Brasil, popularitas futsal tak kalah dengan futbol. Pahlawan-pahlawan Negeri Samba yang kini melegenda, semisal Pele, Zico, Socrates, Bebeto atau Ronaldo, adalah alumni lapangan sintetis yang pernah memahirkan kemampuan goceknya di stadion tertutup. Toh, selama dua dasawarsa, perkembangan futsal masih sebatas kompetisi lokal.

Kejuaraan resmi antarnegara pertama baru diselengarakan tahun 1965, untuk memperebutkan South American Cup, yang dilaksanakan dan dijuarai oleh Paraguay. Selanjutnya, di bawah naungan Federation of Internationale De Futbol Sala (FIFUSA), Piala Dunia Futsal pun digelar. Negara pertama yang mendapat kehormatan sebagai tuan rumah sekaligus kampiunnya adalah Brasil pada 1982. Piala Dunia kedua (1985) dilangsungkan di Spanyol; juaranya masih Brasil. Baru pada Piala Dunia 1988 di Australia, dominasi Brasil dihancurkan tetangganya, Paraguay.

Setelah FIFUSA melebur ke FIFA pada 1989, penyelenggaraan Piala Dunia Futsal dimodernisasi, agar lebih berbau dolar dan tentu saja, diminati sponsor. Sejak detik itu, dimulai pula usaha memasyarakatkan futsal ke seluruh jagad raya. Negara-negara yang sebelumnya tak memiliki tradisi sepakbola stadion tertutup, kini mulai membuka peluang berkembangnya sport hemat lahan ini.

Hingga detik ini, perebutan Piala Dunia Futsal versi FIFA telah empat kali diselenggarakan. Pertama, tahun 1989 (di Belanda), lagi-lagi menobatkan Negeri Samba sebagai yang terbaik, setelah menumbangkan tim tuan rumah di final, dengan skor 2-1. Piala Dunia berikutnya, 1992 di Hongkong, Brasil kembali menegaskan dominasi, kali ini menyikat Amerika Serikat di final dengan skor telak, 4-1.

Gelar itu dipertahankan Brasil di Piala Dunia 1996, setelah menghancurkan ambisi tim tuan rumah, Spanyol, di babak final. Piala Dunia terakhir di Guatemala (2000), makin seru. Babak penyisihannya saja diikuti tim dari 70 negara, sebuah kemajuan sangat signifikan. Mengingat empat tahun sebelumnya di Spanyol, hajatan hanya dihadiri 46 negara.

Kali ini, Spanyol sukses menuntut balas, dengan balik menumbangkan favorit Brasil di final, 4-3. Konon, partai yang dihadiri 7.500-an penonton itu berlangsung sangat dramatis, dan tercatat sebagai salah satu pertandingan paling seru dalam sejarah futsal dunia. Karena dua gol Javi Rodriguez (Spanyol) yang membuat Brasil tak berkutik lahir hanya lima menit sebelum pertandingan 2 x 20 menit itu berakhir.

Bikin gatal pemodal

Makin mendunianya futsal, membuat para pemilik kapital mulai gatal. Piala Dunia terakhir misalnya, biayanya ditanggung bersama penyandang dana seperti Adidas, Budweiser, Coca Cola, Fuji Film, Hyundai, hingga McDonald’s. Di mata mereka, kepopuleran sepakbola alternatif ini terasa menjanjikan. Apalagi data menunjukkan, sudah hampir 100 negara dan 12 jutaan pemain kini rutin memainkan futsal.

Perhatian lebih tadi membuat futsal tak lagi dianggap sebagai "pelengkap penderita" sepakbola konvensional. Salah satu dampaknya, penghargaan terhadap para pemain makin hari kian meningkat. Yang paling berpengaruh dan menjadi dambaan setiap pemain futsal adalah pemilihan World Futsal Player of The Year yang diberikan saban tahun.

Tahun lalu, Manoel Tobias Da Cruz (Brasil) terpilih sebagai pemain terbaik dunia. Diikuti Daniel Ibanes Caetano (Spanyol) serta Flavio Sergio Viana (entah apa hubungannya dengan pembalap tim Ferrari F1, Michael Schumacher, Viana biasa dipanggil "Schumacher" oleh fansnya) sebagai pemain terbaik kedua dan ketiga.

Tobias, yang lahir di Salgueiro, Brasil, 19 April 1971 sejak awal memang bertekad mengangkat futsal menjadi tontonan dunia. Prestasi terhebatnya, mengantar Brasil menjadi juara dunia tahun 1982 dan 1986. "Setelah pensiun nanti, saya akan jadi pelatih futsal," kata ayah satu anak dan pengagum Zico ini, bak menegaskan kembali kecintaannya pada olahraga yang telah memberinya nafkah bertahun-tahun.

Tapi, lepas dari tradisi Brasil sebagai negara sepakbola. Kalau diteliti lebih jauh, olahraga di lahan sintetis ini sebenarnya "makanan" orang Asia. Teorinya, dengan arena pertandingan hanya setengah lapangan bola biasa, serta durasi jauh lebih pendek (2 x 20 menit), mobilitas, kegesitan, dan kecepatan bergerak sangat diutamakan. Faktor yang oleh sebagian besar pengamat sepakbola, dianggap sebagai kelebihan pemain Asia.

Bayangkan, betapa seorang pemain dipaksa untuk cepat mengambil keputusan. Lantaran aturan main menyebutkan, tiap eksekusi (tendangan maupun lemparan) harus dilakukan dalam waktu empat detik. Lewat dari itu, diganjar pelanggaran. Jadi, yang namanya menggocek, mengumpan, dan mencetak gol memang benar-benar harus dilakukan dengan skill tinggi.

Federasi Sepakbola Asia juga punya alasan lain untuk optimistis. Yakni keyakinan bahwa di lapangan futsal, ukuran tubuh tak banyak berpengaruh. Alasannya, beda dengan sepakbola, bal-balan indoor melarang kontak badan langsung. Dengan kependekannya, pemain Asia justru lebih bisa berkelit di saat-saat sulit.

Buat penonton, dinamisnya pergerakan pemain niscaya membangkitkan emosi tersendiri. Di negara-negara yang kompetisinya sudah berjalan lancar, pertandingan-pertandingan futsal selalu berlangsung menegangkan. Di Spanyol misalnya, rata-rata sekitar 7 - 8 ribu penonton memadati stadion tiap digelar pertandingan.

Makanya, saat wabah futsal melanda Indonesia, tak sedikit pihak yang menyambut gembira. Ia tidak hanya membuka cakrawala dan wacana baru buat atlet, tapi juga tontonan alternatif buat masyarakat. Lantaran di dalam gedung dan melibatkan anak usia sekolah pula, "Malah bisa sekaligus dikemas jadi acara piknik keluarga. Selama ini, sepakbola terkesan milik laki-laki dewasa. Apalagi belakangan ini, stadion sering jadi tempat berantem," ujar seorang ibu, yang mengaku memiliki dua putra penyuka berat sepakbola.

Keuntungan lain, futsal bisa jadi pemecahan masalah langka dan mahalnya lahan untuk bersepakbola ria, seperti disuarakan banyak pencinta olahraga. Mending membuat stadion baru, lapangan yang ada saja kerap disulap jadi tempat niaga. Kalau pun ditemukan lokasi yang pas, harga lahannya belum tentu cocok dengan kocek pemerintah maupun para pembina olahraga.

Sikap PSSI sendiri? Meski terlambat, induk organisasi sepakbola nasional ini cukup tanggap menyikapi wabah futsal. Ronny Pattinasarani, Direktur Pembinaan Usia Dini PSSI mengakui, sepakbola dalam ruangan merupakan tempaan yang baik buat para pemain yunior. "Sampai hari ini, kami masih terus melakukan sosialisasi," ujar Ronny di sela-sela kesibukannya menjadi komentator sepakbola di sebuah stasiun televisi swasta.

Tak heran, belakangan ini jadwalnya dipadati dengan acara kunjungan ke berbagai propinsi. Sebagai duta PSSI, dia ditugasi menatar para pelatih sekaligus memperkenalkan futsal ke daerah-daerah. Kalau selama ini dunia sepakbola kita selalu sial, siapa tahu bisa diobati lewat kehadiran futsal. Namanya juga usaha, ya! (Muhammad Sulhi)

Baca juga: Lain Futbol, Beda Futsal - Perlengkapan Vital Futsal

Artikel Warna lainnya:

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal

Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku

Warna - Jeda - Dialog


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej