|
|
September 2001 |
|
MAIN FUTSAL UNTUK BUANG SIAL Pernah dengar nama Pele, Zico, atau Ronaldo? Kecuali Anda tinggal di luar planet Bumi, "ikon" berbau Brasil tadi mestinya tak asing lagi. Tapi tahu enggak, sebelum tenar sebagai pesebakbola lapangan rumput, ketiganya jagoan futsal. Itu lo, main bal-balan di dalam gedung.
Selain Brazil, ada beberapa negara lagi yang kompetisi futsalnya sudah
berjalan lancar. Tengok saja Spanyol, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat.
Selain sekolah-sekolah sepakbola, "PSSI" mereka juga sangat
mengandalkan bibit-bibit unggul yang beraksi di lapangan tertutup. Ini salah
satu kunci, mengapa suplai pemain-pemain top seperti tak ada habis-habisnya,
mirip air yang mengucur deras dari mata air.
Ambil contoh Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam ini Futsal National
Championship-nya (putaran ke-16 baru berakhir Maret 2001 lalu) diadakan
secara rutin saban tahun. Tak tanggung-tanggung, untuk menangguk pemain
berbakat sebanyak-banyaknya, kejuaraan diadakan dalam banyak kategori. Mulai
usia di bawah hingga 10 tahun, di bawah hingga 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun,
19 tahun, hingga kelas bebas yang paling bergengsi.
Bahkan, buat kaum hawanya sudah menunggu kejuaraan khusus di bawah usia 12,
14, 16, dan 19 tahun. Nah, dengan jenjang selengkap itu, tidak mengherankan
kalau bibit-bibit unggul yang siap diolah menjadi pemain profesional nan
terampil gampang ditemukan. Soalnya, pengalaman menunjukkan, futsal memang
arena belajar yang pas buat peminat sepakbola pemula.
Dominasi Brasil
Di belantara sepakbola mancanegara, aksi gocek bola di dalam ruangan
sebenarnya bukan barang baru. Para futsaller Amerika Latin percaya,
kisahnya berawal dari Montevideo, ibukota Uruguay, tahun 1930, saat Juan
Carlos Ceriani menyelenggarakan pesta menyepak kulit bundar 5 lawan 5.
Kejuaraan yang diikuti para pemain muda itu diadakan di arena mirip lapangan
basket. Tentu saja, tanpa dinding pembatas di sekelilingnya, hingga bola
mudah "lari" ke mana-mana.
Namun literatur FIFA menyebutkan, sebelum populer di negara-negara Amerika
Selatan, permainan ini sudah kerap dimainkan di Amerika Utara, tepatnya
Kanada, sejak 1854. Baru kemudian dikembangkan oleh Juan Carlos Ceriani,
sekaligus membuka mata dunia pada tahun 1930-an.
Lantas, mengapa pula permainan ini dinamai futsal? Dalam bahasa Spanyol dan
Portugis (bahasa ibu penduduk Amerika Latin), sepakbola (soccer atau football)
lebih dikenal sebagai futbol atau futebol. Nah, dalam bahasa
yang sama, sepakbola "gedongan" ini kemudian dinamai
futsal. Buntut "sal" (artinya ruangan), dicomot dari bahasa
Prancis (salon) atau Spanyol (sala).
Toh, istilah futsal sempat bersaing ketat dengan indoor soccer atau indoor
football versi negara-negara Eropa. Namun badan sepakbola sedunia, FIFA
kemudian mengadopsi futsal sebagai nama resmi bal-balan dalam
ruangan. Organisasi terbesar di dunia ini (jumlah anggotanya 200-an negara,
lebih banyak dari PBB) juga menetapkan ukuran lapangan dan aturan main baku
yang membuat olahraga ini makin dikenal banyak negara.
Bahkan di negeri gila sepakbola seperti Brasil, popularitas futsal tak kalah
dengan futbol. Pahlawan-pahlawan Negeri Samba yang kini melegenda,
semisal Pele, Zico, Socrates, Bebeto atau Ronaldo, adalah alumni lapangan
sintetis yang pernah memahirkan kemampuan goceknya di stadion tertutup. Toh,
selama dua dasawarsa, perkembangan futsal masih sebatas kompetisi lokal.
Kejuaraan resmi antarnegara pertama baru diselengarakan tahun 1965, untuk
memperebutkan South American Cup, yang dilaksanakan dan dijuarai oleh
Paraguay. Selanjutnya, di bawah naungan Federation of Internationale De
Futbol Sala (FIFUSA), Piala Dunia Futsal pun digelar. Negara pertama yang
mendapat kehormatan sebagai tuan rumah sekaligus kampiunnya adalah Brasil
pada 1982. Piala Dunia kedua (1985) dilangsungkan di Spanyol; juaranya masih
Brasil. Baru pada Piala Dunia 1988 di Australia, dominasi Brasil dihancurkan
tetangganya, Paraguay.
Setelah FIFUSA melebur ke FIFA pada 1989, penyelenggaraan Piala Dunia Futsal
dimodernisasi, agar lebih berbau dolar dan tentu saja, diminati sponsor.
Sejak detik itu, dimulai pula usaha memasyarakatkan futsal ke seluruh jagad
raya. Negara-negara yang sebelumnya tak memiliki tradisi sepakbola stadion
tertutup, kini mulai membuka peluang berkembangnya sport hemat lahan
ini.
Hingga detik ini, perebutan Piala Dunia Futsal versi FIFA telah empat kali
diselenggarakan. Pertama, tahun 1989 (di Belanda), lagi-lagi menobatkan
Negeri Samba sebagai yang terbaik, setelah menumbangkan tim tuan rumah di
final, dengan skor 2-1. Piala Dunia berikutnya, 1992 di Hongkong, Brasil
kembali menegaskan dominasi, kali ini menyikat Amerika Serikat di final
dengan skor telak, 4-1.
Gelar itu dipertahankan Brasil di Piala Dunia 1996, setelah menghancurkan
ambisi tim tuan rumah, Spanyol, di babak final. Piala Dunia terakhir di
Guatemala (2000), makin seru. Babak penyisihannya saja diikuti tim dari 70
negara, sebuah kemajuan sangat signifikan. Mengingat empat tahun sebelumnya
di Spanyol, hajatan hanya dihadiri 46 negara.
Kali ini, Spanyol sukses menuntut balas, dengan balik menumbangkan favorit
Brasil di final, 4-3. Konon, partai yang dihadiri 7.500-an penonton itu
berlangsung sangat dramatis, dan tercatat sebagai salah satu pertandingan
paling seru dalam sejarah futsal dunia. Karena dua gol Javi Rodriguez
(Spanyol) yang membuat Brasil tak berkutik lahir hanya lima menit sebelum
pertandingan 2 x 20 menit itu berakhir.
Bikin gatal pemodal
Makin mendunianya futsal, membuat para pemilik kapital mulai gatal. Piala
Dunia terakhir misalnya, biayanya ditanggung bersama penyandang dana seperti
Adidas, Budweiser, Coca Cola, Fuji Film, Hyundai, hingga McDonald’s. Di
mata mereka, kepopuleran sepakbola alternatif ini terasa menjanjikan.
Apalagi data menunjukkan, sudah hampir 100 negara dan 12 jutaan pemain kini
rutin memainkan futsal.
Perhatian lebih tadi membuat futsal tak lagi dianggap sebagai
"pelengkap penderita" sepakbola konvensional. Salah satu
dampaknya, penghargaan terhadap para pemain makin hari kian meningkat. Yang
paling berpengaruh dan menjadi dambaan setiap pemain futsal adalah pemilihan
World Futsal Player of The Year yang diberikan saban tahun.
Tahun lalu, Manoel Tobias Da Cruz (Brasil) terpilih sebagai pemain terbaik
dunia. Diikuti Daniel Ibanes Caetano (Spanyol) serta Flavio Sergio Viana
(entah apa hubungannya dengan pembalap tim Ferrari F1, Michael Schumacher,
Viana biasa dipanggil "Schumacher" oleh fansnya) sebagai pemain
terbaik kedua dan ketiga.
Tobias, yang lahir di Salgueiro, Brasil, 19 April 1971 sejak awal memang
bertekad mengangkat futsal menjadi tontonan dunia. Prestasi terhebatnya,
mengantar Brasil menjadi juara dunia tahun 1982 dan 1986. "Setelah
pensiun nanti, saya akan jadi pelatih futsal," kata ayah satu anak dan
pengagum Zico ini, bak menegaskan kembali kecintaannya pada olahraga yang
telah memberinya nafkah bertahun-tahun.
Tapi, lepas dari tradisi Brasil sebagai negara sepakbola. Kalau diteliti
lebih jauh, olahraga di lahan sintetis ini sebenarnya "makanan"
orang Asia. Teorinya, dengan arena pertandingan hanya setengah lapangan bola
biasa, serta durasi jauh lebih pendek (2 x 20 menit), mobilitas, kegesitan,
dan kecepatan bergerak sangat diutamakan. Faktor yang oleh sebagian besar
pengamat sepakbola, dianggap sebagai kelebihan pemain Asia.
Bayangkan, betapa seorang pemain dipaksa untuk cepat mengambil keputusan.
Lantaran aturan main menyebutkan, tiap eksekusi (tendangan maupun lemparan)
harus dilakukan dalam waktu empat detik. Lewat dari itu, diganjar
pelanggaran. Jadi, yang namanya menggocek, mengumpan, dan mencetak gol
memang benar-benar harus dilakukan dengan skill tinggi.
Federasi Sepakbola Asia juga punya alasan lain untuk optimistis. Yakni
keyakinan bahwa di lapangan futsal, ukuran tubuh tak banyak berpengaruh.
Alasannya, beda dengan sepakbola, bal-balan indoor melarang kontak
badan langsung. Dengan kependekannya, pemain Asia justru lebih bisa berkelit
di saat-saat sulit.
Buat penonton, dinamisnya pergerakan pemain niscaya membangkitkan emosi
tersendiri. Di negara-negara yang kompetisinya sudah berjalan lancar,
pertandingan-pertandingan futsal selalu berlangsung menegangkan. Di Spanyol
misalnya, rata-rata sekitar 7 - 8 ribu penonton memadati stadion tiap
digelar pertandingan.
Makanya, saat wabah futsal melanda Indonesia, tak sedikit pihak yang
menyambut gembira. Ia tidak hanya membuka cakrawala dan wacana baru buat
atlet, tapi juga tontonan alternatif buat masyarakat. Lantaran di dalam
gedung dan melibatkan anak usia sekolah pula, "Malah bisa sekaligus
dikemas jadi acara piknik keluarga. Selama ini, sepakbola terkesan milik
laki-laki dewasa. Apalagi belakangan ini, stadion sering jadi tempat
berantem," ujar seorang ibu, yang mengaku memiliki dua putra penyuka
berat sepakbola.
Keuntungan lain, futsal bisa jadi pemecahan masalah langka dan mahalnya
lahan untuk bersepakbola ria, seperti disuarakan banyak pencinta olahraga.
Mending membuat stadion baru, lapangan yang ada saja kerap disulap jadi
tempat niaga. Kalau pun ditemukan lokasi yang pas, harga lahannya belum
tentu cocok dengan kocek pemerintah maupun para pembina olahraga.
Sikap PSSI sendiri? Meski terlambat, induk organisasi sepakbola nasional ini
cukup tanggap menyikapi wabah futsal. Ronny Pattinasarani, Direktur
Pembinaan Usia Dini PSSI mengakui, sepakbola dalam ruangan merupakan tempaan
yang baik buat para pemain yunior. "Sampai hari ini, kami masih terus
melakukan sosialisasi," ujar Ronny di sela-sela kesibukannya menjadi
komentator sepakbola di sebuah stasiun televisi swasta.
Tak heran, belakangan ini jadwalnya dipadati dengan acara kunjungan ke
berbagai propinsi. Sebagai duta PSSI, dia ditugasi menatar para pelatih
sekaligus memperkenalkan futsal ke daerah-daerah. Kalau selama ini dunia
sepakbola kita selalu sial, siapa tahu bisa diobati lewat kehadiran futsal.
Namanya juga usaha, ya! (Muhammad Sulhi) Baca juga: Lain Futbol, Beda Futsal - Perlengkapan Vital Futsal Artikel Warna lainnya: |
|||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|