|
|
September 2001 |
|
Merawat Jompo di Australia Kuliah dengan biaya sendiri di negeri orang bukan perkara gampang, terutama bagi orang yang modalnya pas-pasan. Tak heran banyak yang menyiasati dengan menyambi bekerja. Ternyata, selain tambahan uang saku, pengalaman pribadi pun turut diperkaya.
Benar kata peribahasa "di mana ada kemauan, di situ ada jalan". Terbukti, sambil kuliah mengambil gelar Master of Industrial Relations and Human Resource Management (MIRHRM) di The University of Sydney, Australia, tahun 1999, saya bisa gonta-ganti pekerjaan untuk mencari pengalaman, sekaligus tambahan uang saku. Saya menjalani pekerjaan paruh waktu pada musim sekolah (20 jam/minggu) dan full time saat liburan. Jenisnya, mulai cleaner (tukang bersih-bersih) dari rumah ke rumah, note-taker (pencatat bahan kuliah) untuk siswa cacat, tukang seterika di binatu, memberi kursus privat Bahasa Indonesia, house-keeper hotel berbintang selama musim Olimpiade, Assistance in Nursing (AIN) atau Asisten Juru Rawat di Nursing Home (semacam panti jompo) sampai yang lumayan bonafide, Assistance to Human Resource Consultant di sebuah kantor konsultan di Australia. Semua pekerjaan itu legal. Artinya saya bekerja setelah mempunyai Tax File Number (Nomor Arsip Pajak) sehingga setiap uang yang saya terima dikenai pajak. Dari sederet pengalaman kerja itu, yang paling unik dan berkesan adalah menjadi Asisten Juru Rawat selama sekitar satu tahun di Wesley Height Nursing Home, Manly, NSW. Tidak perlu pengalaman kerja Wesley Height Nursing Home, Manly, yang didirikan pada tahun 1976 merupakan salah satu nursing home yang punya akreditasi dan dilengkapi fasilitas modern. Seperti kebanyakan nursing home di Australia, Wesley Height Nursing Home dikelola oleh Uniting Church (Persekutuan Gereja). Terletak di kawasan Sydney dan relatif dekat dengan pantai Manly yang terkenal di Australia dan di kalangan wisatawan mancanegara. Nursing Home ini mempunyai kapasitas penghuni 60 orang atau 30 orang dalam satu lantai. Penghuni memilih tinggal di sini karena berbagai alasan. Biasanya karena usia tua, sementara keluarga tidak punya waktu untuk melayani, atau karena ingin bertemu dan bersosialisasi dengan sesama manula. Awalnya adalah rasa ingin tahu dan tawaran gaji di akhir pekan yang lumayan. Saya penasaran dengan pekerjaan sebagai Asisten Juru Rawat yang setiap hari muncul di koran, terutama koran lokal. Disebutkan, pengalaman tidak diperlukan, malah orang yang berminat akan mendapat pelatihan. Akhirnya saya datang ke Wesley Height Nursing Home yang letaknya sekitar 3 km dari apartemen saya. Bahasa Inggris menjadi modal utama saya selain motivasi kerja. Pengetahuan cara menghadapi manula yang hampir semua mengidap Alzheimer atau dementia (pikun) merupakan nilai plus. Yang pasti, profesi ini menuntut kesehatan dan sikap sabar, sayang, pandai membujuk, lembut, dan pandai menghibur. Asisten Juru Rawat dipanggil dengan sebutan nurse sementara juru rawat dipanggil sister. Soal sebutan sister pernah membuat saya malu. Saya memanggil brother pada perawat laki-laki, padahal harusnya tetap sister. Setelah wawancara dengan Director of Nursing (DON) selama dua jam, minggu berikutnya saya diminta mengikuti on the job training, yang juga dibayar. Hari biasa bayarannya sekitar A $ 15/jam, di hari libur sekitar A $ 20/jam, sedangkan pada hari libur nasional seperi Natal, Tahun Baru, dan Paskah hampir A $ 30/jam. Saat pelatihan saya mendampingi seorang Asisten Juru Rawat senior. Selama satu minggu saya harus mengikuti irama kerjanya yang cepat, cekatan, dan perfect. Hari pertama saya belajar memandikan penghuni yang usianya ... 99 tahun ! Karena ia sudah tidak bisa berdiri, kami harus mengangkatnya bersama-sama pada hitungan ketiga dan dipindah ke shower chair, kursi yang tengahnya berlubang untuk memandikan pasien. Untuk memindahkan pasien pun ada caranya. Kalau tidak, bisa-bisa kita mengalami salah urat, tulang retak, dan sebagainya. Selain itu tentu harus dilakukan dengan lembut dan baik bagi si pasien. Selama pelatihan kami mempraktikkannya dengan dipandu oleh seorang fisioterapis. Bila terpaksa bekerja sendiri tanpa dibantu teman, kami boleh memakai lifter atau alat angkat selama si pasien tidak "non weight baring" artinya pasien masih bisa berdiri tapi tidak sempurna atau lumpuh. Alat angkat itu memberikan kenyamanan bagi si pasien saat diangkat, juga bagi orang yang mempergunakannya sehingga tidak pegal-pegal. Salah satu tugas yang sering menjadi hambatan bagi Asisten Juru Rawat baru adalah menolong penghuni untuk buang air, kecil maupun besar. Hari-hari pertama di pelatihan saya benar-benar merasa jijik dan sempat mual ketika membantu penghuni untuk ke toilet. Tapi setelah seminggu saya pun terbiasa dengan tugas itu. Ada istilah tertentu untuk menjelaskan kalau penghuni mau buang air kecil. Mereka akan mengatakan Number One (nomor 1) untuk buang air kecil dan Number Two (nomor 2) untuk buang air besar. Istilah ini biasanya dipakai anak-anak. Istilah ini kadang membuat saya tersenyum-senyum sendiri ketika dosen di kampus menerangkan sesuatu di kelas. Misalnya, ketika sang dosen mengatakan, "Apa jawaban untuk nomor 1 dan nomor 2?" Saya pun terbayang mengantar penghuni ke toilet. Tidur dengan Teddy Bear Saya biasa bekerja shift pagi dari pukul 07.00 - 13.00 siang. Tapi di musim liburan saya bekerja double shift dari pagi sampai malam. Di musim liburan sekolah banyak mahasiswa internasional seperti dari Republik Czek, Filipina, dan Jepang bekerja paruh waktu menggantikan pegawai yang cuti. Untuk shift pagi ada empat Asisten Juru Rawat. Biasanya dua orang AIN bekerja dalam satu tim untuk melayani 15 penghuni. Tugas pagi hari adalah memandikan, mengganti baju, dan merapikan tempat tidur penghuni. Kemudian mereka dibawa ke ruang makan untuk sarapan. Biasanya kami membantu menyuapi atau mengawasi dan membujuk kalau mereka tidak mau makan. Lalu perawat membagikan obat sekaligus memeriksa kondisi mereka. Usai sarapan dilanjutkan dengan acara hiburan yang dipandu oleh Recreation Officer. Jenis hiburannya serupa dengan atraksi untuk anak-anak, misalnya melempar bola bergiliran. Tapi ada juga permainan orang dewasa seperti bingo, main kartu, mengisi TTS, menonton video, mewarnai gambar, merajut, dan sebagainya. Pukul 10.00 dan pukul 15.00 mereka mendapat makanan ringan. Jadwal makan siang pukul 12.00 dan makan malam pukul 18.00. Tiga jam sekali kami memeriksa kalau-kalau ada penghuni mengompol atau buang air di celana. Biasanya semakin tua seseorang semakin berkurang kesadaran mereka dalam melakukan hal itu. Bagi yang masih sadar, biasanya akan memanggil Asisten Juru Rawat untuk membantu ke toilet. Setiap penghuni mempunyai bel atau semacam penyeranta yang harus ditekan kalau ia memerlukan sesuatu. Bel akan muncul di monitor yang tergantung di koridor dan di monitor komputer, sehingga kami bisa mengetahui dari mana asal bel itu. Meski memiliki karakter tersendiri, umumnya semakin tua penghuni sifat mereka semakin seperti anak kecil. Tidak jarang penghuni wanita tidur dengan boneka Teddy Bear atau Barbie. Cara bicara dan perilaku mereka pun mirip anak berusia 3 tahun. Bedanya, penghuni ini lebih cerewet dan pelupa. Memandikan mayat Seumur-umur di Indonesia saya belum pernah memandikan mayat. Jangankan memandikan, mendekati mayat yang dimandikan pun baru sekali, ketika nenek saya meninggal. Saya takut, setelah memandikan mayat saya akan terbayang pada hal-hal seram. Tapi entah karena saya merasa kalau di luar negeri tidak ada kuntilanak atau cerita semacam Mak Lampir, saya pun tidak begitu takut ketika kebagian tugas memandikan mayat seorang penghuni yang meninggal karena serangan jantung. Sambil menunggu Funeral Service yang mengurusi pemakaman dan keluarga, mayat itu mesti dibersihkan dan dirapikan terlebih dahulu. Saya sendirian memandikannya di tempat tidur. Konon sering kejadian setelah ada yang meninggal bel berbunyi tanpa ada yang memijitnya. Saya pernah dibuat merinding dan lari tunggang langgang gara-gara kejadian itu. Bayangkan, bel salah seorang penghuni yang meninggal berbunyi terus-menerus ketika saya dinas malam. Hal itu sempat saya laporkan ke jururawat. Herannya sang jururawat cuma tersenyum. Malah katanya, "Itu biasa, enggak usah diperhatikan. Paling cuma korsleting." Karena tidak bisa berargumen, lama-kelamaan saya pun terbiasa dengan hal itu. Perasaan takut sedikit demi sedikit hilang. Ingin pulang Kalimat yang sering diucapkan oleh para penghuni adalah keinginan untuk pulang. Saya suka sedih dan terharu mendengar kalimat, "Saya ingin pulang ketemu ibu saya." Hampir semua penghuni memanggil ibu atau memanggil istri bagi penghuni laki-laki. Rupanya peran ibu atau istri paling membekas dalam ingatan mereka. Keinginan pulang ini sering menimbulkan masalah. Penghuni yang masih bisa berjalan terkadang berusaha ke luar dari gedung melalui lift dan berjalan tak tentu arah. Hal ini biasanya terjadi ketika para Asisten Juru Rawat sedang sibuk memandikan penghuni lain atau ketika membawa mereka ke ruang makan. Jika ini terjadi, pertama-tama kami mencari di sekitar gedung, mulai dari kamar-ke kamar, kalau-kalau penghuni salah masuk kamar. Setelah itu kami berkeliling di luar gedung dan menyusur jalan sekitar. Bila usaha ini tidak membuahkan hasil, kami menelepon dan minta bantuan polisi. Polisi di Australia cukup responsif. Biasanya dalam waktu singkat mereka sudah menemukan sang penghuni yang sempat raib.
Memang pelupa Tiba saatnya saya kembali ke Indonesia karena sekolah saya rampung. Karena sering bertemu dan kenal dekat dengan para penghuni, acara perpisahan ini pun diiringi linangan air mata. Saya peluk mereka satu per satu. Saya pun sempat menyanyi diiringi piano oleh sahabat saya, Asisten Juru Rawat dari Republik Czek. Sehari sebelum kembali ke Indonesia saya menyempatkan diri mampir mengunjungi penghuni untuk saying goodbye. Kali itu saya datang tanpa mengenakan seragam kerja. Saya berkata dalam hati, "Kali ini saya harus tegar. Tidak boleh ada acara tangis-menangis segala." Alamak, saya salah sangka! Ketika saya datang, sebagian besar dari mereka memandang saya dengan tidak acuh. Malah, mereka bingung ketika saya mengatakan mau pulang ke Indonesia. Astaga, saya lupa bahwa kebanyakan mereka mengidap Alzheimer atau dementia. Tak heran mereka tak mengenali saya karena saya tampil dengan cara berbeda, tanpa seragam. Bagaimanapun bekerja sebagai Asisten Juru Rawat bersama teman-teman dari mancanegara memberikan makna tersendiri. Satu hal, saya belajar untuk mengisi hari-hari dengan hal-hal yang lebih baik dan bermanfaat selagi masih muda. (Ade Tuti Turistiati) Artikel Warna lainnya: |
|||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|