|
|
September 2001 |
|
CERDAS MENGARUNGI RIMBA MOBIL BEKAS Namanya barang second, mobil bekas jelas beda dengan mobil baru. Ibaratnya, sama saja dengan membeli sisa umur mobil yang bersangkutan. Sebagai calon pemilik baru, Anda tentu ingin sisa umur relatif panjang. Masalahnya, bagaimana cara mendeteksi panjang-pendeknya sisa umur kendaraan itu? Soalnya, para penjual pasti mati-matian memunculkan kesan dagangannya sehat walafiat. Bagi calon pembeli, situasinya bak memasuki rimba raya nan penuh bahaya.
Tapi, tak usah keder dulu. Ada baiknya sebelum turun ke lapangan, siapkan mental dengan berbagai pengetahuan. Sebab, seseram apa pun rimba itu, asal tahu rahasia dan caranya, urusan pilih-pilih mobil bekas dijamin bakal beres.
Pilih sesuai kebutuhan Langkah pertama, tetapkan tujuan dan jenis mobil bekas yang diminati. Jika Anda butuh kendaraan untuk transportasi sehari-hari, sebaiknya pilih mobil serbaguna (multipurpose vehicle - MPV) atau kendaraan niaga yang berwujud minibus. Kalau tak menginginkan mobil "besar", sedan kecil atau jip ber-cc kecil pun layak dilirik. Tapi jika mempunyai dana lebih, pilihan bisa lebih beragam. Tak ada salahnya membeli sedan mewah, bahkan mobil built-up yang diimpor dalam jumlah terbatas. Sekali lagi, penetapan tujuan ini penting, supaya Anda nantinya tak mudah terbujuk rayuan salesman, hingga tergoda membeli mobil yang tak sesuai kebutuhan (panduannya, lihat tabel). Langkah kedua, jika kendaraan diproyeksikan akan dijual kembali, pilihlah varian mobil populer dan banyak dipakai orang. Maksudnya, agar bisa dipastikan terjaminnya suku cadang, fasilitas perawatan, serta perbaikannya. Keuntungan lain, harga jual kembali tetap tinggi. Yah, karena memang banyak orang yang menginginkan. Cat dan aksesori mobil, sebisa mungkin mengikuti trend yang sedang berkembang. Bila terlalu mencolok, ngejreng atau bergaya anak baru gede (ABG), sebaiknya dihindari. Umumnya, warna-warna seperti itu bukan kelir asli yang dikeluarkan pabrik cat atau perakitnya, melainkan hasil pekerjaan bengkel cat oven. Bakal menyulitkan jika suatu saat, mobil Anda tergores. Bukan mustahil, komposisi campuran cat tidak bisa diperoleh dengan tepat. Mau dipaksakan pakai warna tak sesuai? Mobil bisa belang-belang. Pemilihan warna juga berkaitan dengan nilai jual kembali. Lazimnya, warna yang aneh tak banyak membuat pembeli tertarik. Begitu pun aksesori yang berlebihan, perlu mendapat perhatian. Jika rusak, tentu bakal susah mencari gantinya. Minimal, harus mengeluarkan uang ekstra untuk memperbaiknya. Langkah persiapan ketiga, melakukan survei harga pasar untuk jenis dan varian mobil yang sedang diincar. Bisa jadi, sebuah mobil tua yang terawat baik, harganya jauh lebih mahal ketimbang tunggangan bertahun muda tapi kurang dirawat. Makanya, kumpulkan informasi harga dari media cetak, internet, dan rekan-rekan Anda yang memiliki pengetahuan tentang jenis mobil tersebut. Jangan bosan membandingkan harga antar-showroom, karena pasti ada perbedaannya.
Selami pikiran penjual Tiga langkah di atas sudah Anda lalui? Sekarang, mestinya mental Anda sudah siap memasuki rimba mobil bekas. Tapi, meski punya kepercayaan diri tinggi, tetap harus hati-hati. Jangan pula apriori, menganggap semua keterangan pedagang sebagai akal-akalan untuk menutupi segala kekurangan.
Pada tahap ini, Anda harus mengetahui dan memahami pikiran dan strategi penjual. Soal iklan di media cetak misalnya. Teorinya, dengan menggunakan lebih banyak baris, pesan yang ingin disampaikan penjual lebih banyak, sehingga iklan mereka lebih mencolok dibanding yang lain. Namun, jangan beranggapan semakin panjang iklan, makin bonafid pemasangnya. Belum tentu lo, apalagi keakuratan data yang mereka tampilkan tidak bisa dijamin kebenarannya. Sebenarnya, iklan cuma titik awal perburuan Anda. Cek kelengkapan surat mobil (STNK dan BPKB). Cocokkan nomor mesin dan nomor rangka yang tercantum pada STNK dan BPKB dengan fakta sebenarnya. Nomor-nomor tadi lazimnya ditulis timbul pada bagian tertentu mesin dan rangka mobil. Teliti baik-baik, walaupun agak kotor tertutup bekas oli atau debu tebal. Jika ada bekas goresan tak wajar atau nomornya seperti diganti baru, waspadalah. Kalau masih juga penasaran, cek nomor polisi mobil tersebut di kantor pelayanan satu atap (samsat) setempat. Penjual pasti akan menyiapkan mobilnya hingga bagian terkecil, agar Anda terkesan hingga mengabaikan detil. Kalau perlu, mereka rela mengeluarkan rupiah untuk mempercantik mobil di salon. Hasil maksimal yang bisa diperoleh, tunggangan jadi lebih bersih, baik eksterior maupun interior. Namun kerusakan seperti penyok atau lubang bekas karat tentu tak dapat ditutupi dengan mudah. Untuk itu, cermati tiap bagian kendaraan dan manfaatkan sebagai senjata dalam proses tawar menawar. Ketika penjual merasa salon tak mampu menyembunyikan cacat, mereka pasti berpaling ke bengkel ketok bodi atau cat. Di tangan ahlinya, penyok-penyok tadi akan hilang tak berbekas. Namun jangan kecil hati. Anda dapat tetap mengenali apakah sebuah roda empat pernah penyok atau tidak dengan mengamati catnya. Teorinya, menyamakan cat baru dengan cat lama amat sulit. Akan selalu tampak perbedaan, baik warna maupun kilaunya. Sinar matahari dapat diandalkan untuk pengamatan yang lebih teliti. Lakukanlah dari berbagai jarak dan sudut pandang berbeda, agar perbedaan cat lama dan baru terlihat jelas. Jika ketemu bagian yang dicurigai, raba dengan ujung jari. Bila tidak mulus/rata, berarti telah ada pengecatan ulang. Untuk lebih meyakinkan, lakukan test drive. Langkah ini banyak manfaatnya untuk mengenali karakter kendaraan. Rasakan tarikannya, posisi pedal-pedal gas, kopling dan rem, serta kemampuan manuver di jalan. Deteksi juga getaran tak wajar yang diteruskan sistem suspensi ke kabin mobil. Perhatikan, klakson, wiper, dan lampu-lampu harus berfungsi normal.
Cash atau kredit? Selamat! Sampai tahap di atas, Anda mungkin sudah dapat menentukan, mobil apa yang bakal dibawa pulang. Tapi, sebelum bertransaksi, tentukan sistem pembayaran. Kalau punya cukup dana, pembayaran tunai tentu lebih praktis, karena tanpa beban bunga. Tapi bila kantung pas-pasan, terpaksalah mengangsur. Pihak penjual, terutama showroom, biasanya mempunyai sistem suku bunga kredit sendiri. Namun dalam dunia finansial, lazimnya terdapat dua jenis suku bunga, yaitu flat rate (FR) dan effective rate (ER). Meski jumlahnya sama, FR dan ER menawarkan kewajiban kredit berbeda. Contohnya, untuk kredit sebesar Rp 50 juta, dengan suku bunga 10% dan jangka waktu pelunasan tiga tahun. Dengan FR, kewajiban bunga dihitung dari kredit awal, yakni Rp 50 juta dan berlaku hingga mobil lunas. Artinya, tiap tahun Anda harus membayar bunga 10% x Rp 50 juta = Rp 5 juta. Jadi, kewajiban bunga total dalam tiga tahun Rp 15 juta dan kredit mobil yang harus dilunasi menjadi Rp 65 juta per 3 tahun, atau Rp 21,67 juta per tahun. Sedangkan dengan sistem ER, ceritanya berbeda, karena kewajiban bunga dihitung dari saldo kredit. Jadi, dengan saldo kredit Rp 50 juta, bunga pada tahun pertama 10% x Rp 50 juta = Rp 5 juta. Sementara angsuran pokoknya Rp 50 juta : 3 = Rp 16,67 juta. Pada tahun kedua, angsuran pokok tetap Rp 16,67 juta, tetapi bunganya hanya 10% x Rp (50 juta - 16,67 juta) = Rp 3,33 juta. Bunga pada tahun ketiga lebih kecil lagi, yaitu Rp 1,67 juta. Total jenderal, kredit mobil Anda menjadi Rp (50 juta + 5 juta + 3,33 juta + 1,67 juta) = Rp 60 juta per 3 tahun. Atau Rp 20 juta/tahun. Artinya, dalam sistem ER, kewajiban pembeli kendaraan lebih ringan ketimbang memakai sistem FR. Meski praktiknya, tak ada pemberi kredit mematok suku bunga FR sama dengan ER, karena jelas pengangsur bakal cenderung memilih ER. Biasanya, bunga FR akan lebih rendah ketimbang ER. Makanya, tanyakan dengan jelas bagaimana perhitungan lembaga keuangan tempat Anda ngutang. Pada dasarnya, sistem FR layak dipilih jika jangka waktu pinjaman bersifat pendek (di bawah tiga tahun) dan perbedaan suku bunga FR dengan ER cukup signifikan. Patokannya, jika suku bunga FR tak melebihi 60% ER, namanya signifikan. Cermati juga klausul perjanjian kreditnya. Mintalah informasi sejelas mungkin. Kalau perlu, secara tertulis, agar tak terkecoh nantinya. Selamat berburu! (Ir. Doan Syahreza Auditya)
Baca juga: Artikel Warna lainnya: |
|||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|