|
|
September 2001 |
|
BELAJAR DARI WANITA PEMIMPIN DUNIA
Di mata mayoritas lelaki, perempuan itu makhluk berhati pualam yang harus
diberi perlindungan dan kasih sayang. Bagaimana jadinya jika jutaan pria di
sebuah negeri justru memilih perempuan jadi pemimpin, seperti Megawati
Soekarnoputri sebagai presiden ke-5 RI? Tentu ini bukan tanda kekalahan kaum
laki-laki. Wong mereka ikut berjingkrak saat Mbak Mega menang!
Barangkali, begitulah demokrasi seharusnya, tak mengenal perbedaan jender.
Agar lebih familiar, kita sorot saja para pemimpin wanita abad XX -
XXI. Sebagian besar masih menumpang nama besar suami, ayah, atau mertua.
Namun, tak sedikit yang mencuat karena kecerdasan, ketegasan, dan
ketabahannya dalam mencapai tujuan. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari
mereka?
Tegas menjaga integritas
Kalau keberhasilan pemimpin diukur berdasar kemampuannya menyelesaikan
persoalan genting, mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Margaret Hilda
Thatcher (76) mungkin jagonya. Wanita kelahiran Grantham itu selama 10 tahun
menjadi singa podium Majelis Rendah, sebelum dipercaya menjadi Menteri
Pendidikan dan Sains (1970 - 1974).
Tak lagi menjadi menteri (1975), ahli kimia lulusan Hardvard University ini
pun bersaing memperebutkan jabatan pimpinan Partai Konservatif, dan menang.
Empat tahun kemudian, dia sukses besar dalam Pemilu, membawanya langsung ke
kursi PM. Tapi, tugas istri Denis Thatcher ini jelas tak mudah.
Banyak tantangan menuntutnya bertindak tegas, terutama soal keutuhan
wilayah. Ujian terberat datang saat Argentina menyerang dan menduduki
Kepulauan Falkland. Sejenak, dunia seperti lupa Thatcher itu wanita, karena
keberaniannya melebihi lelaki. Dia langsung memerintahkan Menhan John Nott
mengirim ribuan pasukan dengan kawalan 50 kapal perang. Akhirnya, tak kurang
dari satu bulan, Argentina menyerah. Thatcher pun dijuluki "Wanita
Besi".
Julukan itu mengental saat dia kukuh membela privatisasi fasilitas publik,
termasuk layanan kesehatan. Thatcher juga menghadapi pemogokan buruh tambang
yang dimotori Nation Union of Miners, serta "berperang" melawan
program ekonomi sosialis yang diprakarsai Partai Buruh.
Namun, dia tetap konsisten. Sikap yang membuatnya didukung banyak pihak,
hingga dipercaya memerintah dalam tiga periode (hasil Pemilu 1979, 1983, dan
1987). Dialah Perdana Menteri Inggris pertama di abad XX, yang memerintah
tiga periode berturut-turut.
Tahun 1980, Thatcher dipaksa mengundurkan diri sebagai PM, menyusul sikap
kerasnya terhadap rencana penyatuan Eropa. Sebuah akhir perjalanan yang
khas. Karena sampai titik darah penghabisan, dia tetap membesi, keras tanpa
kompromi.
Tak suka politik
Cory, sebutan akrab Corazon Aquino, justru kebalikan dari Thatcher.
Aktivitas politiknya dimulai tanpa sengaja. Andai orang-orang suruhan
Presiden Ferdinand Marcos tak menembak mati suaminya, ceritanya mungkin
berbeda.
Benigno Aquino, saat itu memang sosok istimewa. Dia memegang berbagai rekor,
mulai walikota termuda (umur 22 tahun), gubernur termuda (29 tahun), hingga
presiden termuda, kalau Marcos tidak memenjarakannya tanpa alasan jelas,
menjelang Pemilu 1973. Tujuh tahun Ninoy - panggilan akrab Benigno - menjadi
tahanan politik.
Atas jaminan Amerika, ia dilepas untuk menjalani operasi jantung di New
York. Tiga tahun kemudian (1983), Benigno memutuskan kembali ke Filipina.
Tahun itu juga, Cory dihadapkan pada pilihan rumit. Saat pemakaman, sekitar
dua juta orang simpatisan meminta Cory memimpin barisan.
Sementara di "belahan bumi lain", Marcos masih jadi hantu
menakutkan bagi siapa pun. Dia tak kenal kata kalah selama jadi politikus.
"Lihat, di sini tidak ada orang miskin seperti negara lain,"
sumbar Imelda Marcos, sang first lady. Padahal, statistik mencatat,
tujuh dari sepuluh orang Filipina hidup di bawah garis kemiskinan.
Di tengah kondisi demikian, Cory melamar untuk posisi presiden. Siapa pun
saat itu pasti mengakui, kekuatan Cory terletak pada kehidupan politiknya
yang tanpa dosa dan kemampuannya menggerakkan revolusi menjadi kekuatan
moral. Di tengah kejenuhan memandang politisi korup, maka nilai-nilai
kejujuran, harapan, dan persahabatan yang diusungnya terasa menyejukkan.
Dalam Pemilu Februari 1986, Marcos mengklaim sebagai pemenang. Namun, jutaan
rakyat menyaksikan berbagai kejanggalan, di antaranya tidak terdaftarnya
sekitar tiga juta pemilih tanpa sebab masuk akal. Saat Menhan Juan Ponce
Enrille bergabung dengan khalayak, Marcos lari tunggang langgang ke Hawaii.
Sejarah dunia mencatat revolusi ini sebagai paling unik, mengingat wajah
kemanusiaannya begitu kental. Cory berhasil mengombinasikan politik dan
humanisme secara bersamaan. Dua hal yang dalam teori politik kerap
berseberangan. Anggota Kongres AS, Stephen Solarz bahkan menyebutnya "probably
the most popular head of state in the world".
Dengan kekuatan moralnya, Cory bertahan dari upaya kudeta 1987, berdamai
dengan pemberontak komunis (sesuatu yang sulit dilakukan Marcos),
meringankan beban utang luar negeri, membangun kembali sistem politik yang
demokratis serta menyelenggarakan Pemilu damai pada 1992. Ia bisa saja
terpilih kembali. Tapi, wanita yang identik dengan warna kuning ini lebih
memilih menjadi kekuatan moral. Menjadi "hati" bangsanya.
Curangi Pemilu
Thatcher dan Cory merupakan contoh baik, betapa ketangguhan berpolitik dan
kekuatan moral bisa menjadi kekuatan besar di tangan wanita. Bagaimana jika
salah satunya ditinggalkan? Kiprah mantan Perdana Menteri India, Indira
Gandhi, layak disimak.
Indira Priyadarshini Gandhi terlahir sebagai putri Jawaharlal Nehru,
pahlawan kemerdekaan India. Menjadi PM India pada 1966 - 1977 dan 1980 -
1984, Gandhi sebenarnya termasuk pemimpin cakap. Maklum, Nehru mendidiknya
secara spartan. Antara lain menyekolahkannya di Oxford University, Inggris.
Saat India merdeka (1947), Nehru dipilih menjadi PM pertama. Sejak itu,
Gandhi mulai merasakan "nikmatnya" menjadi penguasa, karena dia
kerap mondar-mandir istana.
Sepeninggal Nehru (1964), Gandhi dipercaya Lal Bahadur Shastri memimpin
Departemen Penerangan. Bahkan setelah Shastri meninggal (1966), Gandhi
ditetapkan sebagai PM pengganti. Kiprahnya berlanjut dengan memenangi pemilu
1971. Kemenangan itu diprotes keras pihak oposisi karena dianggap penuh
kecurangan.
Tak seperti Thatcher yang tetap di rel demokrasi, Gandhi justru mengumumkan
negara dalam keadaan bahaya. Walau tuduhan kecurangan kemudian ditepis
Mahkamah Agung, maklumat tetap diberlakukan. Dalam sekejap, semua urusan
negara ada di ketiaknya. Satu per satu lawan politik dihotel-prodeokan.
Tak heran, dia kalah mutlak dalam Pemilu 1977. Hebatnya, perempuan kelahiran
Allahabad (1917) ini berhasil merebut kembali singgasananya (1980), juga
lewat Pemilu. Sayang, ia tak belajar dari kegagalan. Pada 1984 upayanya
menumpas ekstremis Sikh dengan kekerasan, membangkitkan kemarahan seorang
sikh pengawal kepresidenan. Peluru dihadiahkan buat sang PM. Berakhirlah
hidup dan karier politik Gandhi.
Bagaimana dengan Dyah Permata Megawati Setiawati alias Megawati
Soekarnoputri? Jika bisa menjadi seorang Thatcher, Cory, atau belajar dari
kesalahan Gandhi tentu hebat. Tapi, tiap pemimpin mempunyai karakter dan
jalan hidup sendiri. Jadi, Mbak Mega memang sebaiknya tetap menjadi Megawati
Soekarnoputri. Cuma, belajar dari pengalaman tidak ada salahnya, 'kan? (Muhammad
Sulhi)
Baca juga: Artikel Warna lainnya: |
|||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|