globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

September 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Meredam Risiko PJK

Selama ini banyak orang tahu berbagai faktor yang bisa menyeret seseorang menderita penyakit jantung koroner (PJK). Ternyata, masih ada faktor lain, yang "tersembunyi", ikut andil dalam pemunculan si PJK. Dengan diet tertentu biang kerok itu bisa diredam.

 

Selama ini kegemukan sudah jamak dianggap sebagai faktor risiko PJK. (Foto: Ibas)

PJK dikenal orang sebagai serangan jantung yang sangat menakutkan karena sifat serangannya mirip ninja, mendadak dan fatal. Penyakit ini diperkirakan akan menjadi pembunuh manusia nomor satu di dunia pada masa mendatang. Kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, dan kegemukan, selama ini telah diketahui akrab sebagai faktor risikonya.

Namun, ada sebagian orang tidak dalam kondisi atau berperilaku seperti di atas, toh mendapat serangan jantung juga. Sebaliknya, ada pula orang dengan faktor risiko tersebut yang hidup sampai usia lanjut tanpa pernah mengalami serangan jantung. Ternyata, menurut hasil penelitian WHO (Monica Core Study) di 26 negara, hanya 20% penderita penyakit koroner dan stroke berkaitan dengan faktor risiko tadi. Karena itu, di samping faktor-faktor tersebut, diperkirakan ada pula faktor-faktor lain yang turut memicu munculnya serangan jantung koroner.

"Oknum-oknum biologis" dalam pembuluh darah itu kini sudah mulai diteliti karena dianggap berperan penting dalam proses pengerasan dan penyempitan pembuluh nadi koroner (aterosklerosis), yang dapat membawa akibat serangan jantung. Mereka adalah Lp(a), LDL(low density lipoprotein) teroksidasi, homosistein, fibrinogen, dan endapan kalsium. Untungnya, ulah kelimanya bisa diredam dengan pendekatan nutrisi atau medik.

 

Tercantol dan teroksidasi

Lp(a) merupakan salah satu bentuk lipoprotein (kompleks protein-lemak yang mengikat dan mengangkut kolesterol). Ia banyak mengandung LDL-kolesterol dan ditandai oleh apo-a, yaitu bagian protein dalam Lp(a). Jenis lipoprotein ini ternyata mengganggu penghancuran fibrin, suatu substansi dalam bekuan darah yang meningkatkan pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Penelitian Universitas Tufts dan New England Medical Center Hospital menunjukkan, peningkatan kadar Lp(a) berlebihan dijumpai pada 19% penderita penyakit koroner usia-muda.

Mengapa Lp(a) menimbulkan masalah? Jawabannya mungkin terletak pada desain unik Lp(a). LDL-kolesterol yang terkandung dalam Lp(a) merupakan bola kolesterol yang terbungkus seutas benang lipoprotein. Ketika LDL-kolesterol berjalan di dalam pembuluh nadi, benang lipoprotein tercantol plak ateroma (massa plak yang berdegenerasi dan menebal) dan muatan kolesterolnya tumpah berantakan. Pada Lp(a) juga terdapat utas benang protein tambahan yang berfungsi mirip penghancur bekuan darah (clotbuster) alami. Karena plak ateroma mengandung bekuan darah, ilmuwan mencurigai benang protein mirip clotbuster ini sebenarnya tidak menghancurkan bekuan darah, tetapi justru menyumbat pembuluh darah dengan menggaet lebih banyak kolesterol.

Kendati pemeriksaan laboratorium dapat mengungkapkan kadar Lp(a), tetapi tidak ada obat atau diet yang dapat menurunkan kadarnya. Barangkali, yang mampu menurunkan kadarnya cuma terapi estrogen pada wanita pascamenopause dan pemberian niasin oleh dokter.

LDL sendiri merupakan lipoprotein yang mengangkut kolesterol dan mengandung fosfolipid, asam lemak tidak-jenuh, serta antioksidan alami vitamin E (alfa-tokoferol). Jika LDL-kolesterol teroksidasi, berbagai macam produk oksidasi, yang umumnya berbahaya bagi sel normal, akan terbentuk dan merusak dinding dalam pembuluh darah. Endapan LDL-kolesterol teroksidasi juga bakal menyulitkan sel-sel makrofag (suatu bentuk sel darah putih) untuk membersihkan endapan tersebut dari dinding pembuluh darah. Sel-sel makrofag juga sulit "memakan" LDL-kolesterol teroksidasi, sehingga kadar LDL-kolesterol akan meninggi di dalam darah.

Nah, untuk mencegah oksidasi LDL-kolesterol kita bisa memasok antioksidan dari luar, yakni kombinasi selenium, vitamin E, dan C. Selenium bisa diperoleh dari bawang putih, vitamin E dari biji-bijian atau kacang-kacangan utuh, sementara vitamin C dari sari buah seperti jambu dan jeruk. Konsumsi tahu, tempe, susu kedelai dengan bawang putih dan jus buah/sayuran dapat memberikan kombinasi ketiga unsur gizi di atas secara alami. Unsur-unsur antioksidan lain seperti flavonoid, karotenoid, dan ubikuinon juga dapat diperoleh dari ketiga jenis makanan tersebut.

 

Perbanyak konsumsi biji-bijian dan sereal

Homosistein juga merupakan "oknum biologis" yang dicurigai berkaitan erat dengan PJK. Ia merupakan senyawa hasil metabolisme metionin, yaitu salah satu asam amino esensial yang cuma bisa diperoleh manusia dari makanan. Peranannya sebagai penyebab penyakit koroner, khususnya pada usia muda, dikemukakan pertama kali oleh McCully pada tahun 1969. Bersama-sama dengan Wilson, peneliti ini mengajukan teori homosistein pada aterosklerosis yang disusun berdasarkan penelitian terhadap anak-anak penderita homosisteinuria.

Biji-bijian dan kacang-kacangan bisa menurunkan faktor risiko PJK. (Foto: Ibas)

Peningkatan angka kejadian penyakit koroner pada kadar homosistein tinggi disebabkan oleh sifat homosistein yang mudah mengalami oksidasi untuk membentuk radikal bebas seperti superoksid dan oksigen reaktif. Radikal bebas ini akan merusak dinding dalam pembuluh darah. Di samping itu, kadar homosistein yang tinggi juga meningkatkan penjendalan darah (trombosis).

Kadar homosistein dalam darah dapat meningkat (nilai normalnya berkisar 5 - 15 µmol/L) jika seseorang mengkonsumsi protein secara berlebihan. Asupan protein berlebih tadi akan meningkatkan pula asupan metionin (daging dan ikan mengandung 2,7 g metionin/100 g, telur 3,2 g/100 g, dan susu 2,9 g/100 g). Orang yang memakan lebih dari 2 porsi makanan sumber protein per hari misalnya, akan mengkonsumsi lebih dari 2 g metionin/hari. Padahal, asupan metionin yang dianjurkan cuma 0,9 g per hari. Yang celaka kalau metionin tadi dimetabolisasi jadi homosistein. Kenaikan kadar homosistein ini lebih lanjut akan meningkatkan risiko serangan jantung koroner. Wajar bila risiko penyakit koroner pada usia muda tampak lebih besar pada kelompok masyarakat dari tingkat sosioekonomi menengah ke atas, yang umumnya mengkonsumsi makanan tinggi protein.

Sebenarnya, homosistein dapat dimetabolisasi oleh tubuh menjadi senyawa tidak berbahaya, seperti sistein atau diubah kembali menjadi metionin. Syaratnya, ada sejumlah enzim yang bekerja dengan bantuan beberapa anggota vitamin B-kompleks. Vitamin B6 misalnya, diperlukan untuk kerja enzim yang mengubah homosistein menjadi sistein. Asam folat dan vitamin B12 untuk kerja enzim yang mengubah kembali homosistein menjadi metionin. Kekurangan ketiga jenis vitamin, yang banyak terdapat dalam biji-bijian dan sereal utuh, ini dapat menaikkan kadar homosistein. Selanjutnya, akan membawa risiko penyakit koroner.

Dengan demikian, pencegahan PJK akibat kenaikan kadar homosistein sebenarnya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi benih (germ) biji-bijian dan sereal utuh. Hanya sayangnya, sereal dan biji-bijian yang dikonsumsi masyarakat modern ini sudah tidak utuh lagi. Umpamanya, beras digiling berkali-kali. Beras macam ini lebih disukai ketimbang beras tumbuk karena penampilannya lebih baik, citarasanya lebih enak, dan awet. Gaya hidup kurang sehat dalam masyarakat modern, seperti banyak merokok, minum minuman keras atau kopi secara berlebihan, dan kurang berolahraga juga turut menaikkan kadar homosistein.

 

Kegemukan dan penderita tekanan darah tinggi

Peningkatan kadar fibrinogen pun diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko serangan koroner. Dalam penelitian pada tahun 1986 sejumlah ilmuwan di Inggris menemukan, kelompok dengan kadar fibrinogen tinggi berisiko penyakit jantung iskemik (gangguan aliran darah) lebih tinggi, yakni sebesar 84%, dibandingkan dengan kelompok yang kadar fibrinogennya rendah. Kaitan ini dicoba dijelaskan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin banyak fibrinogen dalam darah, semakin besar bekuan darah yang akan terbentuk ketika sebuah plak ateroma pecah.

Kadar fibrinogen tinggi sering dijumpai pada penderita kegemukan dan tekanan darah tinggi. Karena itu, Dr. Daniel Rader, Direktur Program Kardiologi Pencegahan pada Universitas Kalifornia mengatakan, "Pengendalian bobot badan dan tekanan darah dapat menurunkan kadar fibrinogen." Di samping itu, latihan jasmani yang tepat dan dilakukan secara teratur dapat pula mengurangi kadar fibrinogen. Selanjutnya, tentu saja risiko PJK diharapkan menurun.

Terakhir, endapan kalsium juga dianggap sebagai biang keladi tampilnya PJK. Endapan bisa terlihat dengan menggunakan alat CT scan mutakhir, yang bisa membuat foto pembuluh darah di antara detak-jantung. Dari hasil kerja alat tersebut terlihat bayangan kalsium lebih tajam. Dr. Brundage, seorang spesialis kardiologi pada Bend Memorial Clinic di Oregon, AS, mengatakan "Jika alat scanning ultracepat ini menunjukkan kalsium dengan jumlah besar dalam pembuluh nadi, maka pasien tersebut menghadapi peningkatan risiko untuk mengalami penyumbatan yang berbahaya." Scanner ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi sumbatan pembuluh nadi jauh sebelum pemeriksaan angiografi dapat membuktikannya.

Dengan deteksi endapan kalsium lebih dini, pencegahan infark dapat dilakukan melalui tindakan bedah pembuluh darah (angioplastik) dan pemasangan stent - yaitu, semacam pipa yang disisipkan ke dalam pembuluh nadi yang akan tersumbat - di samping pengobatan dan diet untuk menurunkan kadar kolesterol.

Meskipun kelima "oknum biologis" di atas sudah dapat dilacak lewat tes laboratorium, biaya masih relatif mahal. Karenanya, tes laboratorium tersebut jarang dimintakan oleh dokter.

 

Waspadai virus

Di samping mereka, masih ada faktor lain yang membawa risiko pada diri seseorang untuk terkena penyakit koroner. Beberapa jenis virus, seperti cytomegalovirus dan virus Herpes simplex, ternyata dalam sejumlah penelitian juga memiliki kaitan dengan risiko aterosklerosis. Salah satu buktinya adalah ditemukannya antigen virus herpes dan rangkaian asam nukleat virus tersebut dalam plak ateroma.

Di samping itu, radikal bebas seperti superoksid yang dihasilkan oleh sel darah putih untuk menghancurkan virus mungkin juga mengakibatkan cedera sel pada dinding pembuluh darah yang selanjutnya akan menimbulkan plak dan endapan kalsium.

Pemeriksaan terhadap TORCH (singkatan TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex) kini sudah dapat dilakukan. Namun demikian, untuk membuktikan korelasi antara aterosklerosis dan infeksi virus tetap diperlukan penelitian lebih lanjut.

Sementara itu, tes canggih untuk mendeteksi faktor genetik, sebagai salah satu faktor risiko PJK, kini sudah dapat dilakukan di negara maju lewat pemeriksaan DNA. Dr. Roger Williams dari University of Utah School of Medicine mengatakan, "Dengan mengenali gen yang meningkatkan risiko penyakit koroner, kita akan dapat melakukan DNA scanning untuk menentukan apakah kita memerlukan terapi pencegahan serangan jantung."

Semua tes di atas tentunya sangat mahal sehingga tidak semua orang - bahkan di negara maju sekalipun - mampu menjalaninya, kendati beberapa rumah sakit di negara maju sudah memiliki fasilitas pemeriksaan. Namun demikian, bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial berlebih dan ingin mengecek kondisi jantung serta pembuluh darahnya secara dini dengan cara-cara yang lebih teliti dan canggih, fasilitas tersebut mungkin dapat dimanfaatkannya (dr. Andry Hartono, DAN).

 

Baca juga:

Artikel Warna lainnya:

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal

Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku

Warna - Jeda - Dialog


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej