|
|
September 2001 |
|
Rokok: Risiko Janin dan Impotensi Di satu sisi rokok dibenci. Pada lain sisi ia dicintai sampai mati. Penyakit akibat rokok bertebaran, korban juga berjatuhan. Namun, para nikotinis alias perokok tetap mengabaikan. Serangan jantung? Stroke? Kanker? Anggaplah itu risiko. Namun kalau risiko itu juga harus ditanggung janin di dalam kandungan, juga mengancam potensi seksual kaum laki-laki, para perokok harus memikirkan kembali kesetiaannya.
Di kancah bisnis pun usaha rokok terbilang raksasa, sehingga selalu punya
dana amat besar untuk mencari peluang beriklan ketika dicegat di banyak
tempat. Mereka sanggup membayar tenaga kreatif dan pelaksana periklanan
untuk membuat iklan secara tersamar dan simbolis, menyebabkan orang tak tahu
itu iklan rokok seandainya tidak disertai label "Peringatan
Pemerintah". Namun, kreasi itu kini berkembang lagi. Label yang wajib
dicantumkan dalam kemasan maupun iklan rokok itu justru dipasang
besar-besaran, sementara merek rokoknya sendiri hanya diterakan kecil di
sudut bidang iklan. Label "Peringatan Pemerintah", ironisnya,
justru menjadi bahan dominan buat beriklan.
33,3% kanker akibat rokok
Tapi kita tidak ingin bicara mengenai nilai ekonomis rokok. Sebab
bagaimanapun, nilai cukai yang dihasilkan oleh bisnis tembakau beraroma itu
sangat besar dan masih amat diperlukan bagi keuangan negara.
Yang kita bahas, dengan tak jemu-jemunya, adalah dampak rokok bagi
kesehatan. Kalau selama ini yang biasa dicuatkan adalah seruan
"biasa-biasa saja" semacam "Merokok dapat membahayakan
kesehatan", belakangan lebih lengkap seperti diterakan pada label
"Peringatan Pemerintah" tadi: merokok dapat menyebabkan kanker,
serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi.
Bagi para nikotinis, dua akibat terdahulu praktis diabaikan, dianggap risiko
yang inheren dengan kebiasaan. Rata-rata perokok siap dengan akibat itu.
Namun, dua risiko terakhir benar-benar membuat para perokok harus berpikir
lagi. Bagi perempuan hamil, atau suami yang istrinya hamil, ancaman
kelangsungan nasib si jabang bayi sungguh membuat mereka gentar.
Nah, soal ancaman rokok bagi kesuburan dan potensi seksual kaum pria,
agaknya cukup efektif karena terbukti meresahkan laki-laki perokok. Kampanye
yang diawali di Thailand sekitar 1995 itu dianggap berhasil menurunkan
jumlah perokok walau tidak signifikan. Namun, sekurang-kurangnya bidikan
yang langsung tertuju pada harkat dan martabat kelaki-lakian itu telah
menciptakan kegundahan tersendiri.
Di dalam asap rokok terdapat tak kurang dari 4.000 molekul, sebagian besar
berdampak buruk. Komponen yang paling jelek adalah CO (karbon monoksida) dan
nikotin. Nikotin kalau diisap menyebabkan hilang atau berkurangnya rasa
kantuk. Bahkan banyak perokok merasakan nikotin mampu meredam nafsu makan.
H. Arjatmo
Tjokronegoro. "Memang, disfungsi seksual tidak selalu disebabkan
oleh rokok. Namun, di antara banyak sebab, rokok menjadi faktor risiko
yang cukup besar bagi aneka gangguan, termasuk disfungsi ereksi. (Foto:
SL)
Berkurangnya rasa kantuk akibat nikotin yang merangsang sekresi
hormon-hormon di dalam tubuh, antara lain adrenalin. Hormon ini mengganggu
metabolisme lemak sehingga darah menjadi lebih kental. Pengentalan darah
bisa mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah).
Menurut ahli kedokteran olahraga dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp. KO., risiko
rokok terhadap penyakit sedikit-banyak ditentukan oleh jumlah rokok yang
diisap dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin tinggi risikonya. Walaupun
hal-hal lain seperti kadar lemak darah yang tinggi (kolesterol) dan kurang
aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah tinggi, serta stres dan
ketegangan ikut menunjang terjadinya arteriosklerosis penyebab utama
terjadinya penyakit jantung koroner (PJK).
Hasil penelitian yang pernah dilakukan dr. Joseph Brennan dan koleganya dari
Johns Hopkins University, Maryland, terhadap pasien penderita kanker
menunjukkan, para perokok cenderung mengalami kerusakan gen p53 yang
melindungi tubuh dari kanker. Mereka menduga bahan penyebab kanker dari asap
tembakau melekat pada material sel genetik dan kemudian menonaktifkan gen
p53.
Dari pengamatan terhadap 129 orang penderita kanker kepala dan leher,
diketahui bahwa perokok cenderung mengalami mutasi gen p53 dua kali lebih
besar ketimbang bukan perokok. Mutasi tiga kali lebih lazim pada orang yang
sehari-hari merokok dan menenggak minuman beralkohol. Mutasi gen p53 terjadi
pada 17% dari para penderita kanker yang tidak merokok ataupun tidak minum
alkohol, 33% pada mereka yang merokok, dan 58% pada mereka yang mengonsumsi
gabungan rokok dan minuman beralkohol. Para ahli yakin, sepertiga dari
seluruh kanker ada hubungannya dengan asap rokok.
Menurunkan kualitas sperma
Nikotin serta asap rokok mengeluarkan racun karsinogenik yang dapat
menyebabkan beraneka macam gangguan kesehatan. Saat seseorang merokok,
nikotin dalam asap akan terisap masuk ke paru-paru, kemudian ikut terserap
oleh darah, dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh.
Rokok bagaikan pabrik kimia. Tar merupakan kumpulan dari ribuan macam bahan
kimia, di antaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia,
asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, dll. yang bisa mengganggu
kesehatan. Sebatang rokok mengandung 3 - 6% CO yang kalau masuk ke dalam
peredaran darah akan mengurangi kemampuan hemoglobin darah untuk mengikat
oksigen. Kadar CO dalam darah perokok berat bisa mencapai 5%. Tentu saja ini
bisa mengganggu kesehatan.
Penyakit yang dapat dipicu oleh rokok antara lain penyakit kanker
(paru-paru, tenggorokan, pita suara, lambung), penyakit jantung koroner,
bronkitis, emfisema (melebarnya gelembung paru-paru), tekanan darah tinggi
yang bisa menyebabkan stroke, katarak, sinusitis. Bahkan belakangan
ditekankan pula bahwa rokok bisa mengganggu pertumbuhan janin dan gangguan
kesuburan pria maupun wanita.
"Bagaimana tidak," komentar Prof. dr. H. Arjatmo Tjokronegoro,
Ph.D, Sp.And., spesialis andrologi dari FKUI. "Seseorang yang
terus-menerus merokok selama bertahun-tahun, tentu saja darahnya akan
tercemar oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa ke mana-mana,
termasuk ke organ reproduksi. Racun nikotin akan berpengaruh terhadap
spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sperma para pria. Padahal
pembelahan itu sangatlah kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si
pemilik sperma."
Akmal Taher.
"Dari penelitian saya, rokok memiliki 16,8% faktor risiko disfungsi
ereksi." (Foto: SL)
Padahal syarat untuk dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas
baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan, dan
kecepatannya harus baik. "Sperma yang teler mustahil mampu
membuahi sel telur yang sarangnya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang
kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kuantitas
dan kualitas sperma," tambah Arjatmo.
Menurut pengamatan para ahli, begitu seorang perokok berat yang spermanya
kurang bagus berhenti merokok, kualitas bisa meningkat sejauh yang
bersangkutan tidak mempunyai gangguan organik lain. "Namun, kecuali
berhenti merokok, ia harus juga mengubah pola hidupnya. Kalau tetap kurang
tidur, makan tidak teratur, atau badan terlalu capek, kualitas spermanya
tidak akan membaik."
Kerugian secara seksual para perokok secara khusus disoroti oleh spesialis
bedah urologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Akmal Taher, Sp.BU.
"Perokok kronik umumnya memiliki sperma berkualitas jelek. Bahkan DNA
para perokok pun kena pengaruhnya," kata Akmal Taher.
Menurut Akmal Taher, efek rokok tidak hanya pada kualitas dan kuantitas
sperma, tetapi juga menjadi faktor risiko disfungsi seksual. Gangguan
seksual pada pria terdiri atas gangguan libido, ereksi, ejakulasi, dan
gangguan orgasme. Khusus pada perokok, gangguan disfungsi ereksi (DE) sering
terjadi. Penelitian bertahap sejak 1997 yang dilakukan Akmal Taher dkk. di
RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan, rokok merupakan 16,8% faktor risiko pada
DE. Artinya, dari sejumlah pria penderita DE yang diteliti, hampir
seperlimanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Bahwa zat-zat yang terkandung di dalam rokok berdampak negatif terhadap alat
reproduksi pria pernah dibuktikan dalam sebuah percobaan dengan sampel
manusia sekitar 10 tahun lalu di AS. Malahan, apabila si perokok juga
mengidap gangguan penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes,
kadar kolesterol tinggi, dan PJK, gangguan DE makin parah hingga 3 - 4
kalinya.
Percobaan juga pernah dilakukan pada binatang. Ketika terkena asap rokok
yang pekat, dalam waktu singkat terjadi penyempitan pembuluh darah binatang
itu. Namun, begitu asap rokok disingkirkan, pembuluh darah melebar kembali.
Kembali ke soal DE, kata Akmal, semakin berat gangguan DE, semakin sulit
pula pemulihannya. Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah,
pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan
arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh
darah baru pada penis, diambilkan dari pembuluh darah pada bagian lain
tubuh. "Namun, hasilnya tidak bisa seratus persen," tambah Akmal.
Cara lain, dengan obat atau suntikan yang dilakukan secara rutin. Ini pun
menyaratkan dihentikannya rokok terlebih dahulu, dan kalau terdapat gangguan
sampingan harus terus dipantau. Misalnya, tekanan darah, kadar gula darah,
dan kadar kolesterol terus dijaga agar tetap stabil.
Sepengetahuan Arjatmo, rokok lebih besar dampaknya pada kualitas sperma
ketimbang pada DE. Guru besar andrologi ini berkesimpulan, impotensi
kebanyakan terjadi akibat gangguan psikis seperti stres, fisik terlalu
capek, hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan, atau punya pasangan
lain di luar istri, juga penyakit degeneratif tertentu yang menyebabkan
gangguan sirkulasi darah. Kalau penyebabnya faktor psikis, dengan berhenti
merokok saja tidak akan terobati, harus dilakukan pendekatan secara
psikologis. Namun, banyak pasien yang tidak mau mengakui kalau penyebabnya
faktor psikis. "Mereka langsung mencoba segala macam obat yang ternyata
hanya menolong sementara."
Meracuni janin
Dampak negatif rokok terhadap janin juga tidak diragukan lagi. Secara logis
bisa dipahami, bila pembelahan sel-sel mengalami gangguan karena nikotin
yang masuk ke dalam darah, dengan sendirinya terhambat pula pertumbuhan
janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran atau bayi lahir cacat seperti bibir
sumbing, hidung pipih, atau berat badan kurang.
"Jangan lupa bahwa racun bisa masuk ke dalam tubuh perokok pasif,"
tegas Arjatmo. Karena, meski tidak merokok, mereka ikut mengisap asap
sampingannya sehingga tidak lepas dari dampak buruknya. "Karena itulah,
bila istri sedang hamil, jangan sekali-kali suami merokok di dalam kamar,
mobil, atau ruangan tertutup lain. Salah-salah asap rokok meracuni
janin." Begitu pula setelah lahir, sebaiknya bayi dihindarkan dari asap
rokok.
Hasil sebuah penelitian di Jepang menunjukkan, para istri dari pria perokok
punya peluang terkena kanker 20 - 55% lebih tinggi daripada istri dari bukan
perokok. Untuk mengurangi dampak buruk, para perokok pasif dianjurkan
menyantap berbagai sayuran segar dan buah-buahan setiap hari, memasang
penyaring udara di tempat kerja atau di rumah, juga menghiasi rumah dengan
berbagai tanaman pot untuk mengeliminasi gas polutan.
Niat, faktor utama
Rokok memiliki kekuatan adiksi yang terbilang besar. Orang yang telanjur
memiliki kebiasaan merokok, sulit untuk menghentikannya. Semakin lama
seseorang punya kebiasaan merokok, sel-sel otak semakin terbiasa dengan
paparan kadar nikotin tertentu. Sebab itu, bila suatu saat seorang perokok
menghentikan kebiasaannya, pasti akan terasa tersiksa, baik fisik maupun
mentalnya. Pada tahap ini, tentu keputusan tergantung pada si perokok
sendiri, apakah beberapa waktu dapat menahan rasa tersiksa ataukah kembali
merokok.
Banyak anjuran untuk menghentikan rokok. Banyak pula ajaran dari bekas
pengidap ketergantungan pada rokok. Tak sedikit pula teori yang
dipublikasikan. Ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada
yang melakukan substitusi alias mengganti keinginan mengisap rokok dengan
hal lain. Ada pula rangkuman aneka kiat yang dibukukan oleh organisasi
kesehatan dunia WHO berjudul Leave the Pack Behind.
Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru-paru dari RS Persahabatan
Jakarta pernah mengatakan, untuk menghentikan ketagihan secara psikologis,
si perokok perlu mengubah kebiasaan. Misalnya, kalau biasa merokok setelah
minum teh atau kopi, untuk mengurangi kebiasaan itu perlu mengganti teh atau
kopi dengan air putih segar. Atau jam minumnya diganti. Kalau jam merokoknya
tak menentu, perlu diganti jadwal tetap, misalnya pukul 08.00, 12.00, 16.00.
Sedapat mungkin diusahakan merokok hanya pada jam-jam tertentu. Atau bisa
dengan cara menunda atau menahan keinginan merokok. Sebagai pengganti, bisa
minum air putih atau berjalan-jalan ke luar. Mengurangi jumlah rokok secara
bertahap pun menurut dr. Yoga cukup efektif. Misalnya, kalau sebelumnya 20
batang sehari, dibatasi menjadi hanya 10 batang, dan seterusnya. Namun, ini
sungguh membutuhkan kedisiplinan.
Repotnya, kebanyakan perokok bisa disiplin dalam banyak hal, tetapi tidak
untuk berdisiplin menahan keinginan merokok. Barangkali niat kuat adalah
anjuran klise, namun para mantan nikotinis mendapat bukti, ya niat itulah
kunci utama. Mereka menganalogikan proses penghentian kebiasaan merokok
seperti mengemudikan mobil: mengerem habis tanpa melalui proses setahap demi
setahap. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah kata klise itu tadi: niat.
Pertanyaannya sekarang, di manakah niat itu? Wahai para perokok, marilah
kita bersama-sama mencari sang "niat". Sampai dapat. (Mayong S.
Laksono/Nanny Selamihardja)
Artikel
Warna lainnya: |
|||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi
- Usut Asal
|