globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SEMANGAT BARU OLAHRAGA ABORIGIN

Semula, orang Aborigin menganggap olahraga sekadar kegiatan rekreasi dan sosialisasi, bukan kompetisi demi prestasi. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, paradigma olahraga warga asli Australia pun berubah, dan puncaknya adalah keberhasilan Cathy Freeman menjadi juara dunia dan merebut medali emas lari 400 m olimpiade.

Warga asli Australia, Aborigin dan Torres Strait Islanders (julukan oleh pendatang kulit putih abad XVII bagi penghuni Australia di sekitar Cape York, wilayah paling utara Queensland yang berhadapan dengan Papua Nugini), dulu dianggap lamban dan kurang punya semangat. Entah benar atau tidak, anggapan itu bisa jadi sengaja dilontarkan menjadi bagian dari provokasi dalam pertentangan antara pendatang dengan penduduk asli Australia.

Kita tahu, sejarah kedatangan bangsa Eropa ke wilayah yang dalam peta kartografi Eropa dulu disebut "Terra Australis Nondum Cognito" itu dipenuhi cerita tentang pertentangan dengan penduduk yang sebelumnya telah ada di tempat itu. Baik yang hanya lewat seperti utusan pemerintah Portugis seperti Pedro de Quiros dan Luis Vaez de Torres (yang namanya diabadikan menjadi nama selat di utara Queensland), entah tinggal sesaat seperti pedagang Belanda Willem Janssen yang mendarat di Cape York pada 1606.

Juga utusan Gubernur Jenderal Batavia Antonie van Diemen bernama Abel Tasman yang mendarat di sebuah pulau - yang semula dinamakan Pulau van Diemen belakangan diubah menjadi Tasmania - di selatan daratan Australia pada 24 November 1642, Captain James Cook yang mendarat di Point Hicks pada 19 April 1770, atau armada Gubernur Arthur Phillip yang mendarat di Botany Bay pada 19 Januari 1788 dan "memerintah" di sana hingga menjadikan tempat itu sebagai wilayah hukuman narapidana asal Britania Raya.

Novelis Thomas Kenneally dalam The Chant of Jimmy Blacksmith melukiskan pertentangan antara warga asli dengan pendatang pada 1788 itu sebagai episode paling terkenal dalam sejarah Australia. Novel lain, To the Island karya Randolph Stow, menceritakan konflik berdarah yang berlangsung pada 1926 - 1929. Artinya, sampai masa itu pun pertentangan masih berlangsung dalam berbagai skala (This is Australia, 1996).

Yang asli pun sebenarnya pendatang

Orang Aborigin meyakini mitos The Seven Sisters sebagai pencipta tanah Australia, jauh pada masa purba dulu yang mereka namakan the Beginning. Namun, para ilmuwan tak pernah melihat peninggalan mitos itu. Bukti ilmiah tertua yang menunjukkan sisa kehidupan masa lalu ditemukan di New South Wales bagian barat, berasal dari masa 35.000 - 40.000 tahun lalu. Diperkirakan, kalaupun ada kemungkinan lebih tua, tak lebih dari 55.000 - 60.000 tahun lalu.

Pada tahun 1930-an, antropolog Amerika Joseph Birdsell memperkirakan proses migrasi warga Aborigin di masa lalu. Dengan teori trihybrid Birdsell menyatakan, penyebaran suku Aborigin kuno terjadi di tiga wilayah: satu kelompok di utara Queensland dan Tasmania, kelompok kedua di Australia tenggara, dan kelompok ketiga di sekitar Teluk Carpentaria. Karena begitu banyak perbedaan di antara ketiga kelompok itu, mustahil mereka berasal dari tempat yang sama. Di mana tempat asal itu, hanya asumsi yang diajukan: dengan bukti-bukti yang ditemukan, mereka pasti naik perahu untuk menyeberangi perairan.

Namun, ketiga kelompok sebar itu ternyata tak berhubungan dengan keturunan Aborigin masa kini. Orang Aborigin dewasa ini diperkirakan berasal dari migrasi seasal pada masa 40.000 - 50.000 tahun lalu. Bukti untuk memperkuat dugaan ini adalah kemiripan bahasa orang Aborigin di seantero Australia sekarang dengan bahasa pada masa itu.

Hampir sama dengan aneka suku di Irian Jaya yang masing-masing punya bahasa sendiri sekalipun ada beberapa yang akarnya sama, suku Aborigin juga terbedakan menjadi banyak kelompok etnis yang bahasanya saling berbeda. Pada masa sebelum kedatangan orang Eropa, jumlah mereka pernah mencapai 700 kelompok bahasa, yang berarti juga 700 kelompok etnis. Pertentangan yang berlangsung sampai 200 tahun kemudian akhirnya menyisakan hanya sepertiga dari jumlah kelompok etnis Aborogin yang bertahan.

Isu Stolen Generation

Kini pertentangan praktis tidak ada. Banyak warga Aborigin dan Torres Strait Islanders yang sudah beradaptasi dan berasimilasi dengan pendatang asal Eropa maupun Asia. Namun, banyak pula yang masih hidup secara tradisional di pedalaman, atau bernaung dalam kelompok masyarakat di bawah pengawasan pemerintah yang disebut community. Jumlah keseluruhan sekitar 2% dari populasi Australia yang total 19 juta jiwa. Ada kementerian yang mengurusi mereka, banyak lembaga sosial yang bergerak dalam penyantunan mereka, dan pada pemerintahan PM John Howard ada dua warga asli yang duduk di Federal Parliament, Neville Boner dan Adam Ridgeway. Namun, masalah - bahkan friksi - soal keberadaan mereka hampir selalu ada.

Demonstrasi menuntut perhatian sekaligus kritik atas rusaknya tanah leluhur mereka karena pembangunan fisik, misalnya, diperlihatkan dengan mendirikan Tenda Kedutaan Besar Aborigin sejak 26 Januari 1998 di Canberra. Pada 14 Juli 2000, menjelang Olimpiade Sydney, mereka memindahkan pusat gerakan ke Victoria Park, Sydney, sehingga memancing perhatian para peserta dan peninjau olimpiade.

Soal "generasi yang tercuri" (Stolen Generation), kecurigaan pada dominasi pendatang asal Eropa yang dianggap telah memutus rantai keturunan warga Aborigin, juga diungkit lagi. Diawali dengan usul Senator Ridgeway kepada PM John Howard pada 1999 agar pemerintah Australia meminta maaf atas Stolen Generation. Usul itu tidak dikabulkan.

Menteri Urusan Aborigin John Herron pada April 2000 juga membantah hal itu. Anak-anak Aborigin yang dirampas dari orang tuanya oleh otoritas kulit putih, sebagaimana diisukan, adalah fakta yang tidak pernah terjadi. Namun, gugatan kepada pemerintah tak berhenti, sampai akhirnya Parlemen mengeluarkan komunike resmi yang menyatakan, kesalahan perlakuan (mistreatment) pada penduduk asli di masa lalu adalah bagian kelam dari sejarah Australia.

Perbedaan persepsi

Sydney 2000, yang antara lain membawa misi rekonsiliasi, dalam banyak segi dianggap berhasil. Archie Weller, penulis buku Day of the Dog (1982) yang kemudian difilmkan dengan judul Blackfellas, serta Land of the Golden Clouds yang memenangkan Human Right Commission Award for Literature pada 1998, menyatakan, "Sydney 2000 memberi kesempatan bagi relasi yang lebih baik bagi orang kulit hitam dan kulit putih Australia, a true reconciliation."

Optimisme yang sama sejak awal dicetuskan oleh akademisi Aidoo Wategoo dengan menyatakan, pertentangan sebetulnya disebabkan oleh perbedaan persepsi belaka. Begitu penduduk asli diberi peran dan ditampilkan, perbedaan itu menjadi tak terasa. Ia membantah kekhawatiran penulis Ruby Langford Girimbi yang sebelum Sydney 2000 mulai menyatakan, ajakan penyelenggara kepada masyarakat asli sekadar basa-basi dan kosmetik.

Optimisme Wategoo pula yang mementahkan ajakan boikot olimpiade oleh aktivis Perkins dan Murrandoo Yanor yang tercetus pada saat konferensi masyarakat terasing dunia atau The Second World Indigenous Pathways Conference digelar di Toowoomba pada 1998. Gerakan yang disambut dingin itu sempat membuat Jenny Munro, ketua Dewan Aborigin, kelabakan melakukan kampanye tandingan.

Olahraga bukan kompetisi

Ruby Langford Girimbi menyatakan, rata-rata masyarakat asli, baik Aborigin maupun Torres Strait Islanders, tertinggal 20 tahun dalam hal perumahan, pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan. Dalam bidang olahraga, kata penulis buku Obstacle Race: Aborigins in Sport Colin Tatz, orang Aborigin harus punya bakat dan determinasi empat sampai lima kali lipat atlet kulit putih untuk bisa bersaing dalam kancah olahraga Australia. "Tapi Nova Peris-Kneebone dan Cathy Freeman adalah sesuatu yang menyimpang," Tatz menunjuk Peris-Kneebone yang anggota tim hoki Australia peraih emas Olimpiade Atlanta 1996 (dan diulangi pada Sydney 2000), serta Freeman yang juara dunia lari 400 m dan peraih emas Sydney 2000.

Dalam sejarahnya, orang Aborigin memang tidak mengenal olahraga sebagai kompetisi. Bagi mereka, permainan dan olahraga sudah dilakukan sejak 40.000 tahun lalu sebagai ajang bertemu, berdagang, berteman, dan membuat aturan. Kegiatan itu adalah hajat sosial. Dimainkan demi keterampilan, skill, tanpa mempersoalkan kalah atau menang. Jauh sebelum ada football Australia, orang Aborigin sudah melakukan marngrook, permainan antara 100 laki-laki di satu sisi dan 100 orang di sisi lain, berebut bola dari kulit rubah, di lapangan di Gunditjmara, barat daya Victoria.

Ketika nilai dan semangat olahraga masuk dalam permainan itu, mereka pun ikut walau sesungguhnya tidak sesuai dengan sikap dasar Aborigin dalam berolahraga. Tapi lama-kelamaan sebagian bahkan betul-betul menjadi atlet. Terbukti ketika pengusaha hotel di Sydney, Charles Lawrence, membawa tim kriket ke Inggris pada 1868, sebagian besar anggota adalah orang Aborigin. Hanya empat orang yang berkulit putih.

Sejak itu paradigma olahraga mereka pun berubah. Ada semangat kompetisi, ada usaha untuk berprestasi. Semangat ini juga menjalar ke bidang lain seperti kesenian, kesusastraan, dan sedikit di kancah politik.

Sampai sekarang, The Aboriginal and Islander Sports Hall of Fame berisi hampir 200 nama atlet tingkat dunia, Persemakmuran, negara, maupun negara bagian. Selain Peris-Kneebone dan Freeman, mudah diingat nama Evonne Goolagong (Cawley) yang menjuarai tunggal putri Wimbledon 1971 dan 1980. Juga Lionel Rose yang pada 1968 merebut gelar juara dunia tinju kelas bantam dalam usia 19 tahun.

Atau Doug Nicholls, atlet football terbesar yang masuk dalam Australian Rules, ketua National Aboriginal Sports Federation (NASF) pada 1969, yang setelah menjadi orang Aborigin pertama yang diberi gelar bangsawan oleh Ratu Elizabeth II pada 1972, pada 1976 menjadi gubernur Negara Bagian South Australia. Ada pula Kevin Coombs, pebasket kursi roda yang tampil dalam lima Paralympic Games (1960 - 1984) dan pada 1983 dianugerahi medali Order of Australia.

Tentu banyak lagi penghuni daftar 200 nama yang mengharumkan warga asli Australia. Boleh dibilang, "sesuatu yang menyimpang", seperti dinyatakan Colin Tatz di atas, telah menjadi kebiasaan, kelaziman - bahkan keseharusan. Artinya, ketika menyangkut prestasi warga negara, kini tak lagi perlu dibedakan antara Aborigin, Torres Strait Islanders, atau kulit putih. Seperti dikatakan Cathy Freeman setelah merebut medali emas 400 m Sydney 2000 September lalu, "Saya adalah orang Aborigin sekaligus orang Australia." (SL)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej