|
|
Bulan Januari 2001
|
|
SEMANGAT
BARU OLAHRAGA ABORIGIN
Kita tahu, sejarah kedatangan bangsa Eropa ke wilayah yang dalam peta
kartografi Eropa dulu disebut "Terra Australis Nondum Cognito" itu
dipenuhi cerita tentang pertentangan dengan penduduk yang sebelumnya telah
ada di tempat itu. Baik yang hanya lewat seperti utusan pemerintah Portugis
seperti Pedro de Quiros dan Luis Vaez de Torres (yang namanya diabadikan
menjadi nama selat di utara Queensland), entah tinggal sesaat seperti
pedagang Belanda Willem Janssen yang mendarat di Cape York pada 1606.
Juga utusan Gubernur Jenderal Batavia Antonie van Diemen bernama Abel Tasman
yang mendarat di sebuah pulau - yang semula dinamakan Pulau van Diemen
belakangan diubah menjadi Tasmania - di selatan daratan Australia pada 24
November 1642, Captain James Cook yang mendarat di Point Hicks pada 19 April
1770, atau armada Gubernur Arthur Phillip yang mendarat di Botany Bay pada
19 Januari 1788 dan "memerintah" di sana hingga menjadikan tempat
itu sebagai wilayah hukuman narapidana asal Britania Raya.
Novelis Thomas Kenneally dalam The Chant of Jimmy Blacksmith
melukiskan pertentangan antara warga asli dengan pendatang pada 1788 itu
sebagai episode paling terkenal dalam sejarah Australia. Novel lain, To
the Island karya Randolph Stow, menceritakan konflik berdarah yang
berlangsung pada 1926 - 1929. Artinya, sampai masa itu pun pertentangan
masih berlangsung dalam berbagai skala (This is Australia, 1996).
Yang asli pun sebenarnya pendatang
Orang Aborigin meyakini mitos The Seven Sisters sebagai pencipta tanah
Australia, jauh pada masa purba dulu yang mereka namakan the Beginning.
Namun, para ilmuwan tak pernah melihat peninggalan mitos itu. Bukti ilmiah
tertua yang menunjukkan sisa kehidupan masa lalu ditemukan di New South
Wales bagian barat, berasal dari masa 35.000 - 40.000 tahun lalu.
Diperkirakan, kalaupun ada kemungkinan lebih tua, tak lebih dari 55.000 -
60.000 tahun lalu.
Pada tahun 1930-an, antropolog Amerika Joseph Birdsell memperkirakan proses
migrasi warga Aborigin di masa lalu. Dengan teori trihybrid Birdsell
menyatakan, penyebaran suku Aborigin kuno terjadi di tiga wilayah: satu
kelompok di utara Queensland dan Tasmania, kelompok kedua di Australia
tenggara, dan kelompok ketiga di sekitar Teluk Carpentaria. Karena begitu
banyak perbedaan di antara ketiga kelompok itu, mustahil mereka berasal dari
tempat yang sama. Di mana tempat asal itu, hanya asumsi yang diajukan:
dengan bukti-bukti yang ditemukan, mereka pasti naik perahu untuk
menyeberangi perairan.
Namun, ketiga kelompok sebar itu ternyata tak berhubungan dengan keturunan
Aborigin masa kini. Orang Aborigin dewasa ini diperkirakan berasal dari
migrasi seasal pada masa 40.000 - 50.000 tahun lalu. Bukti untuk memperkuat
dugaan ini adalah kemiripan bahasa orang Aborigin di seantero Australia
sekarang dengan bahasa pada masa itu.
Hampir sama dengan aneka suku di Irian Jaya yang masing-masing punya bahasa
sendiri sekalipun ada beberapa yang akarnya sama, suku Aborigin juga
terbedakan menjadi banyak kelompok etnis yang bahasanya saling berbeda. Pada
masa sebelum kedatangan orang Eropa, jumlah mereka pernah mencapai 700
kelompok bahasa, yang berarti juga 700 kelompok etnis. Pertentangan yang
berlangsung sampai 200 tahun kemudian akhirnya menyisakan hanya sepertiga
dari jumlah kelompok etnis Aborogin yang bertahan.
Isu Stolen Generation
Kini pertentangan praktis tidak ada. Banyak warga Aborigin dan Torres Strait
Islanders yang sudah beradaptasi dan berasimilasi dengan pendatang asal
Eropa maupun Asia. Namun, banyak pula yang masih hidup secara tradisional di
pedalaman, atau bernaung dalam kelompok masyarakat di bawah pengawasan
pemerintah yang disebut community. Jumlah keseluruhan sekitar 2% dari
populasi Australia yang total 19 juta jiwa. Ada kementerian yang mengurusi
mereka, banyak lembaga sosial yang bergerak dalam penyantunan mereka, dan
pada pemerintahan PM John Howard ada dua warga asli yang duduk di Federal
Parliament, Neville Boner dan Adam Ridgeway. Namun, masalah - bahkan friksi
- soal keberadaan mereka hampir selalu ada.
Demonstrasi menuntut perhatian sekaligus kritik atas rusaknya tanah leluhur
mereka karena pembangunan fisik, misalnya, diperlihatkan dengan mendirikan
Tenda Kedutaan Besar Aborigin sejak 26 Januari 1998 di Canberra. Pada 14
Juli 2000, menjelang Olimpiade Sydney, mereka memindahkan pusat gerakan ke
Victoria Park, Sydney, sehingga memancing perhatian para peserta dan
peninjau olimpiade.
Soal "generasi yang tercuri" (Stolen Generation),
kecurigaan pada dominasi pendatang asal Eropa yang dianggap telah memutus
rantai keturunan warga Aborigin, juga diungkit lagi. Diawali dengan usul
Senator Ridgeway kepada PM John Howard pada 1999 agar pemerintah Australia
meminta maaf atas Stolen Generation. Usul itu tidak dikabulkan.
Menteri Urusan Aborigin John Herron pada April 2000 juga membantah hal itu.
Anak-anak Aborigin yang dirampas dari orang tuanya oleh otoritas kulit
putih, sebagaimana diisukan, adalah fakta yang tidak pernah terjadi. Namun,
gugatan kepada pemerintah tak berhenti, sampai akhirnya Parlemen
mengeluarkan komunike resmi yang menyatakan, kesalahan perlakuan (mistreatment)
pada penduduk asli di masa lalu adalah bagian kelam dari sejarah Australia.
Perbedaan persepsi
Sydney 2000, yang antara lain membawa misi rekonsiliasi, dalam banyak segi
dianggap berhasil. Archie Weller, penulis buku Day of the Dog (1982)
yang kemudian difilmkan dengan judul Blackfellas, serta Land of
the Golden Clouds yang memenangkan Human Right Commission Award for
Literature pada 1998, menyatakan, "Sydney 2000 memberi kesempatan bagi
relasi yang lebih baik bagi orang kulit hitam dan kulit putih Australia, a
true reconciliation."
Optimisme yang sama sejak awal dicetuskan oleh akademisi Aidoo Wategoo
dengan menyatakan, pertentangan sebetulnya disebabkan oleh perbedaan
persepsi belaka. Begitu penduduk asli diberi peran dan ditampilkan,
perbedaan itu menjadi tak terasa. Ia membantah kekhawatiran penulis Ruby
Langford Girimbi yang sebelum Sydney 2000 mulai menyatakan, ajakan
penyelenggara kepada masyarakat asli sekadar basa-basi dan kosmetik.
Optimisme Wategoo pula yang mementahkan ajakan boikot olimpiade oleh aktivis
Perkins dan Murrandoo Yanor yang tercetus pada saat konferensi masyarakat
terasing dunia atau The Second World Indigenous Pathways Conference digelar
di Toowoomba pada 1998. Gerakan yang disambut dingin itu sempat membuat
Jenny Munro, ketua Dewan Aborigin, kelabakan melakukan kampanye tandingan.
Olahraga bukan kompetisi
Ruby Langford Girimbi menyatakan, rata-rata masyarakat asli, baik Aborigin
maupun Torres Strait Islanders, tertinggal 20 tahun dalam hal perumahan,
pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan. Dalam bidang olahraga, kata penulis
buku Obstacle Race: Aborigins in Sport Colin Tatz, orang Aborigin
harus punya bakat dan determinasi empat sampai lima kali lipat atlet kulit
putih untuk bisa bersaing dalam kancah olahraga Australia. "Tapi Nova
Peris-Kneebone dan Cathy Freeman adalah sesuatu yang menyimpang," Tatz
menunjuk Peris-Kneebone yang anggota tim hoki Australia peraih emas
Olimpiade Atlanta 1996 (dan diulangi pada Sydney 2000), serta Freeman yang
juara dunia lari 400 m dan peraih emas Sydney 2000.
Dalam sejarahnya, orang Aborigin memang tidak mengenal olahraga sebagai
kompetisi. Bagi mereka, permainan dan olahraga sudah dilakukan sejak 40.000
tahun lalu sebagai ajang bertemu, berdagang, berteman, dan membuat aturan.
Kegiatan itu adalah hajat sosial. Dimainkan demi keterampilan, skill,
tanpa mempersoalkan kalah atau menang. Jauh sebelum ada football
Australia, orang Aborigin sudah melakukan marngrook, permainan antara
100 laki-laki di satu sisi dan 100 orang di sisi lain, berebut bola dari
kulit rubah, di lapangan di Gunditjmara, barat daya Victoria.
Ketika nilai dan semangat olahraga masuk dalam permainan itu, mereka pun
ikut walau sesungguhnya tidak sesuai dengan sikap dasar Aborigin dalam
berolahraga. Tapi lama-kelamaan sebagian bahkan betul-betul menjadi atlet.
Terbukti ketika pengusaha hotel di Sydney, Charles Lawrence, membawa tim
kriket ke Inggris pada 1868, sebagian besar anggota adalah orang Aborigin.
Hanya empat orang yang berkulit putih.
Sejak itu paradigma olahraga mereka pun berubah. Ada semangat kompetisi, ada
usaha untuk berprestasi. Semangat ini juga menjalar ke bidang lain seperti
kesenian, kesusastraan, dan sedikit di kancah politik.
Sampai sekarang, The Aboriginal and Islander Sports Hall of Fame berisi
hampir 200 nama atlet tingkat dunia, Persemakmuran, negara, maupun negara
bagian. Selain Peris-Kneebone dan Freeman, mudah diingat nama Evonne
Goolagong (Cawley) yang menjuarai tunggal putri Wimbledon 1971 dan 1980.
Juga Lionel Rose yang pada 1968 merebut gelar juara dunia tinju kelas bantam
dalam usia 19 tahun.
Atau Doug Nicholls, atlet football terbesar yang masuk dalam
Australian Rules, ketua National Aboriginal Sports Federation (NASF) pada
1969, yang setelah menjadi orang Aborigin pertama yang diberi gelar
bangsawan oleh Ratu Elizabeth II pada 1972, pada 1976 menjadi gubernur
Negara Bagian South Australia. Ada pula Kevin Coombs, pebasket kursi roda
yang tampil dalam lima Paralympic Games (1960 - 1984) dan pada 1983
dianugerahi medali Order of Australia.
Tentu banyak lagi penghuni daftar 200 nama yang mengharumkan warga asli
Australia. Boleh dibilang, "sesuatu yang menyimpang", seperti
dinyatakan Colin Tatz di atas, telah menjadi kebiasaan, kelaziman - bahkan
keseharusan. Artinya, ketika menyangkut prestasi warga negara, kini tak lagi
perlu dibedakan antara Aborigin, Torres Strait Islanders, atau kulit putih.
Seperti dikatakan Cathy Freeman setelah merebut medali emas 400 m Sydney
2000 September lalu, "Saya adalah orang Aborigin sekaligus orang
Australia." (SL)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||