|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Selamatkan Air Kita, Cing! Krisis air jangan dianggap main-main. Beberapa wilayah di Tanah Air sedang menuju ke arah kekeringan. Tulisan berikut mengawali tulisan berseri bertema "Air dan Udara dalam Kehidupan Kita" selama satu tahun guna memantapkan pemahaman kita tentang makna air dan udara bagi segala bentuk kehidupan di muka Bumi.
Orang lebih suka bicara soal Buloggate,
Bruneigate, BLBIgate, atau Ancolgate. Masih mending kalau cuma ngerumpi
soal Mandragade, drama lucu di TV yang dibintangi Mandra itu. Tentang
"Krisis Airgate"? Boro-boro punya Panitia Khusus (Pansus) di
DPR/DPRD, peringatan akan ancaman krisis air yang sudah lama dilontarkan
para pemerhati maupun pencinta lingkungan seperti numpang lewat saja.
Betapa sumber daya air sangat vital buat segala bentuk kehidupan, bisa
dilihat pula dari fakta bahwa peradaban paling awal justru lahir dan
berkembang di sepanjang tepi sungai. Tengoklah peradaban awal Timur Tengah
yang lahir dan berkembang di tepian Sungai Tigris dan Eufrat, peradaban
Mesir kuno di wilayah tepi Sungai Nil, atau peradaban India kuno di tepian
Sungai Indus.
Air kita terbatas!
Zaman sekolah dulu, kita mendapat pengetahuan kalau air di Bumi punya siklus
abadi (kecuali kalau Matahari tiba-tiba mak pet, padam). Energi
Matahari menjadi sumber panas yang dapat menguapkan air, baik di darat atau
di laut. Uap naik dan berkumpul jadi awan. Awan mengalami kondensasi dan
pendinginan sehingga membentuk titik-titik air yang akhirnya menjadi hujan.
Air yang jatuh itu sebagian meresap ke tanah menjadi air tanah dan mata air,
sebagian mengalir melalui sungai, sebagian terkumpul dalam danau atau rawa,
dan sebagian lagi masuk ke laut.
"Lalu kenapa air mesti dihemat, dikelola secara baik, dan dilestarikan?
Bukankah air kita melimpah?" tanya seorang murid.
Sumber air yang bisa kita pakai sebetulnya terbatas. Bumi memang menyimpan
cadangan air tak kepalang tanggung banyaknya. Kira-kira 1,4 miliar km3.
Tapi, sekitar 97%-nya berupa air laut, dan lebih dari setengah sisanya
berbentuk gletser dan permukaan salju permanen. Alhasil, sumber air utama
kita (air tanah dan air permukaan) hanya kurang dari 1,5%.
Kalau pertumbuhan penduduk, perkembangan industri yang pesat, dan ekspansi
kawasan pertanian irigasi diperhitungkan, buntut-buntutnya permintaan yang
meningkat dramatis akan membebani sumber air kita yang cuma segitu-gitu-nya.
Air bersih untuk orang kota
Tak cuma untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, air juga untuk mengairi
persawahan, menghidupi ternak, menjalankan industri, dan membangkitkan
tenaga listrik. Terkadang juga untuk kepentingan pelayaran dan rekreasi.
Semua kebutuhan itu bisa diperoleh dari berbagai sumber yaitu air hujan; air
permukaan seperti sungai, danau, dan waduk; air tanah; dan air laut.
Guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, ketersediaan air makin terbatas
gara-gara pencemaran. Lebih dari semiliar penduduk di negara-negara sedang
berkembang mengalami krisis air minum. Sekitar tiga miliar penduduk dunia
tidak terjangkau sistem sanitasi yang sesuai agar terhindar dari ancaman
penyakit yang berasal dari air.
Sejak seabad lalu, pembangunan fasilitas penyediaan air maupun pengolahan
limbah di negara-negara maju telah berhasil menghadang pelbagai penyakit
yang berkaitan dengan air macam tifus, kolera, dan disentri. Namun, di
negara-negara berkembang, diperkirakan sekitar 14.000 - 30.000 orang -
kebanyakan anak-anak dan orang tua - meninggal setiap harinya akibat
penyakit yang timbul karena mengonsumsi air atau makanan tercemar.
Kita, yang tergolong negara berkembang, keadaannya tidak jauh berbeda. Air
bersih masih lebih dinikmati orang kota. Lihat saja, pengadaan air bersih
dalam skala besar masih terpusat di perkotaan, yang dikelola Perusahan Air
Minum (PAM) kota bersangkutan. Secara nasional penikmat air PAM jumlahnya
relatif kecil, cuma 16,08%. Penduduk yang belum mendapat pelayanan PAM
umumnya menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, mata air, dan
lainnya (lihat tabel).
Penggunaan air tanah, baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga,
masih menempati urutan teratas. Penyedotan yang tidak terkontrol selama ini
menyebabkan beberapa daerah digolongkan sebagai rawan dan kritis, terutama
pada kedalaman 40 - 150 m. Yang tergolong kritis itu ialah Cekungan Bandung
(Jawa Barat), Cekungan Jakarta-Tengerang-Bekasi (DKI/Banten/Jabar), Cekungan
Semarang-Demak (Jateng), dan Cekungan Surabaya-Pasuruan (Jatim). Keempat
cekungan di Pulau Jawa ini direkomendasikan menempati prioritas kawasan
konservasi air tanah, di samping 20 cekungan lain di luar Jawa meski bukan
prioritas (Kompas, 6/11/2000).
Untuk Jakarta, penyediaan air baku untuk air bersih pun makin sulit
diperoleh. Sebab, air permukaan yang menyediakan air baku sudah banyak
tercemar. Disinyalir, Jakarta akan mengalami krisis air baku pada 2001 (Kompas,
31/10/2000). Apa enggak miris?
Celakanya lagi, penduduk yang memanfaatkan air tanah maupun air sungai
sering mendapatkan air yang kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang
sehat. Bahkan di beberapa tempat tidak layak minum.
Jelas, kesehatan dan kesejahteraan sosio-ekonomi masyarakat terkait betul
dengan suplai air yang cukup dan berkualitas sesuai kebutuhan. Alhasil,
kelestarian ekosistem alam tergantung bagaimana kita mengurusi sumber daya
alam yang satu ini.
Gunung Kidul: curah hujan tinggi tapi kering
Dari teori keseimbangan air global (siklus hidrologi), hujan yang jatuh
sebetulnya menyediakan volume air lebih dari cukup untuk kebutuhan manusia
maupun lingkungan alam lainnya. Namun, ketersediaan air di suatu tempat dan
dalam kurun waktu tertentu acap terkendala oleh distribusi hujan yang tak
merata, juga sumber air tanah maupun air permukaan yang bervariasi jumlah
maupun mutunya dari satu wilayah ke wilayah lain.
Ambil contoh, di Cheerapunji, India, intensitas hujan tahunan sering
melebihi 10 m, tapi itu terjadi selama musim hujan yang pendek. Sebaliknya,
berbagai wilayah di Gurun Sahara di Afrika dan Gurun Atacama di Amerika
Selatan, menerima sedikit atau sama sekali tanpa hujan sepanjang tahun.
Kabupaten Gunung Kidul di DI Yogyakarta, yang intensitas curah hujannya
cukup tinggi, terkenal sebagai daerah rawan air karena kondisi geologisnya
yang berupa perbukitan kapur. Masih banyak contoh daerah lain di Tanah Air
yang menderita hal serupa.
Pengadaan air di pelbagai daerah pun masih menghadapi persoalan akibat
pencemaran oleh sumber-sumber alamiah seperti pengaruh air laut dan
aktivitas manusia seperti pembuangan limbah perkotaan dan industri,
pemakaian pestisida maupun pemupukan, pembuangan limbah padat maupun cair,
serta tumpahan bahan-bahan berbahaya secara tidak sengaja.
Persoalan lain yaitu akibat pengambilan air tanah dengan pompa dalam jangka
lama yang jauh melebihi pasokan air ke dalam tanah. Hal itu berakibat antara
lain menipisnya cadangan air tanah, terjadinya intrusi air laut, turunnya
permukaan tanah, dan ketergantungan yang makin besar terhadap air permukaan.
Konsekuensi air sebagai sumber daya publik yang dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sesuai bunyi pasal 33
UUD kita, yaitu bahwa pengembangan dan pengelolaannya harus diarahkan pada
tataran teknis maupun politis.
Makanya, seperti ditulis Prof. Ralph A. Wurbs dari Texas A & M
University (TAMU) di World & I September 2000, yang terlibat
dalam pelaksanaan itu, ya semuanya. Termasuk pemerintah (tingkat lokal
sampai internasional), pemasok air swasta, perusahaan rekayasa dan
konstruksi, industri pengguna air, LSM bidang lingkungan dan lainnya, juga
kita sebagai pengguna air. Kelangsungan hidup dan kesejahteraan penduduk di
mana pun lalu tergantung pada kemampuan komunitas manajemen itu untuk
mengatasi distribusi sumber daya air yang tidak merata dari segi tempat dan
waktu, serta melindungi air dari pencemaran.
Fokus pengelolaan sumber daya air ini mencakup fasilitas, manajemen
permintaan, desalinasi, alokasi air, dan manajemen air terpadu.
Fasilitas: peranan waduk dan dam
Yang termasuk fasilitas pengadaan air itu berupa sumur, dam, waduk, industri
pengolahan air, jaringan pipa distribusi air perkotaan, sistem pengumpulan
dan pengolahan limbah, serta sarana irigasi.
Peranan dam, waduk, dan bangunan lain yang terkait sangat penting dalam
manajemen pengadaan air dan manajemen air multiguna. Sungai-sungai pada
umumnya mempunyai ciri sangat bervariasi alirannya dengan fluktuasi musiman
yang makin parah akibat kekeringan dan banjir yang ekstrem. Simpanan air
dalam
waduk lalu menjadi penting karena fluktuasi aliran air bisa diatur dan
penyediaan air dapat terwujud.
Saat ini, membangun waduk baru sekelas Saguling, Cirata, Kedungombo,
Gajahmungkur, atau Jatiluhur, menghadapi kendala keuangan negara yang
terbatas. Karena itu pengoperasian secara optimal, perawatan, dan
rehabilitasi fasilitas yang sudah ada perlu ditekankan.
Manajemen permintaan: kurangi pemborosan
Kondisi hidrologis, lingkungan, dan ekonomi menjadi kendala untuk
menyediakan air tambahan. Karena itu, manajemen permintaan - dalam bentuk
mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi penggunaan - harus menjadi
perhatian utama.
Banyak kota menghamburkan air dengan tidak mendeteksi kebocoran pipa-pipa
air dalam sistem distribusi air yang sudah tua umurnya. Sistem irigasi
pertanian banyak kehilangan air akibat perembesan dan penguapan. Orang
jor-joran memakai air lebih dari yang dibutuhkan.
Penggunaan air secara rasional selama musim kemarau merupakan langkah
mendesak jangka pendek untuk mengatasinya. Sedangkan langkah jangka panjang
meliputi pembuatan sumur resapan, taman dan hutan kota, penggunaan toilet,
sistem irigasi dan pertamanan yang efisien, termasuk insentif harga air
leding serta upaya mendeteksi dan memperbaiki kebocorannya.
Desalinasi: belum populer
Dulu air asin di laut dan kawasan tertentu sungai maupun air tanah tidak
bisa dimanfaatkan. Tapi, kini sudah tersedia teknologi desalinasi untuk
menawarkan air asin yang dikenal sebagai proses osmosis balik (reverse
osmosis). Berbagai instalasi di luar negeri dulu mengandalkan teknologi
distilasi termal.
Di Indonesia pengolahan air asin atau payau menjadi tawar belum populer
seperti halnya di negara-negara Timur Tengah atau Amerika Serikat. Padahal
teknologi itu sangat membantu masyarakat di kawasan pantai dan pulau-pulau
kecil seperti Kepulauan Seribu. Air hujan yang telah disiapkan di bak
penampung air hujan sering tidak mencukupi kebutuhan pada musim kemarau.
Untunglah, belum lama ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
sudah memasyarakatkan teknologi itu.
Alokasi air: banjir "kiriman"
Istilah banjir kiriman masih sering dilontarkan untuk menunjuk daerah hulu
sebagai biang keladi banjir di daerah hilir. Ini bisa terjadi karena sebuah
sungai sering mengalir di dua daerah administratif atau lebih. Misal, banjir
di kawasan tertentu DKI Jakarta sering disebut "kiriman" dari
Bogor (Jabar). Padahal secara geografis suatu daerah aliran sungai (DAS)
merupakan satuan sistem aliran air yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Karena itu sistem perundang-udangan tentang air dan kerjasama antarwilayah
tentang alokasi air menjadi penting, apalagi di era otonomi daerah.
Manajemen air terpadu: seimbangkan beragam kebutuhan
Sumber daya air dimanfaatkan oleh berbagai macam pengguna untuk pelbagai
kebutuhan. Karena itu manajemen air yang efektif membutuhkan pendekatan
sistem dengan memadukan sejumlah faktor.
Yang harus menjadi perhatian utama tentulah jumlah dan mutu air. Manajemen
air tanah dan sumber air permukaan diperlukan, tapi kebutuhan air
dialokasikan secara pas untuk pelbagai pengguna. Kebutuhan manusia harus
diimbangi kebutuhan ekosistem, pembangunan ekonomi mesti mempertimbangkan
perlindungan lingkungan. Berbagai upaya harus dibuat untuk optimalisasi
program manajemen permintaan, pembangunan fasilitas baru, dan pengembangan
pengoperasian serta perawatan fasilitas yang sudah ada.
Pendekatan manajemen air perlu melibatkan berbagai kemajuan di bidang
teknologi pengadaan air seperti proses desalinasi dan teknik irigasi yang
efisien. Teknologi yang dipilih pun harus sesuai dengan wilayah dan budaya
lokal tertentu.
Diharapkan, perencanaan dan manajemen sumber saya air akan bergerak menuju
pendekatan sistem holistik dengan mengintegrasikan berbagai aspek termasuk
pengadaan air (untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan pertanian),
drainase, pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir dan erosi, serta
konservasi ekosistem.
Mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi mesti terus ditekankan.
Proses pengambilan keputusan harus mempertimbangkan pandangan dari berbagai
kalangan termasuk para ilmuwan, pakar, politisi, LSM, dan masyarakat.
Keberhasilan pendekatan ini akan tergantung pada seberapa baik faktor yang
berbeda-beda itu diolah untuk membentuk gambaran masa depan sumber daya air
yang lestari. (Al. Heru Kustara) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|