globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Selamatkan Air Kita, Cing

Krisis air jangan dianggap main-main. Beberapa wilayah di Tanah Air sedang menuju ke arah kekeringan. Tulisan berikut mengawali tulisan berseri bertema "Air dan Udara dalam Kehidupan Kita" selama satu tahun guna memantapkan pemahaman kita tentang makna air dan udara bagi segala bentuk kehidupan di muka Bumi.

Orang lebih suka bicara soal Buloggate, Bruneigate, BLBIgate, atau Ancolgate. Masih mending kalau cuma ngerumpi soal Mandragade, drama lucu di TV yang dibintangi Mandra itu. Tentang "Krisis Airgate"? Boro-boro punya Panitia Khusus (Pansus) di DPR/DPRD, peringatan akan ancaman krisis air yang sudah lama dilontarkan para pemerhati maupun pencinta lingkungan seperti numpang lewat saja.

Betapa sumber daya air sangat vital buat segala bentuk kehidupan, bisa dilihat pula dari fakta bahwa peradaban paling awal justru lahir dan berkembang di sepanjang tepi sungai. Tengoklah peradaban awal Timur Tengah yang lahir dan berkembang di tepian Sungai Tigris dan Eufrat, peradaban Mesir kuno di wilayah tepi Sungai Nil, atau peradaban India kuno di tepian Sungai Indus.

Air kita terbatas!

Zaman sekolah dulu, kita mendapat pengetahuan kalau air di Bumi punya siklus abadi (kecuali kalau Matahari tiba-tiba mak pet, padam). Energi Matahari menjadi sumber panas yang dapat menguapkan air, baik di darat atau di laut. Uap naik dan berkumpul jadi awan. Awan mengalami kondensasi dan pendinginan sehingga membentuk titik-titik air yang akhirnya menjadi hujan. Air yang jatuh itu sebagian meresap ke tanah menjadi air tanah dan mata air, sebagian mengalir melalui sungai, sebagian terkumpul dalam danau atau rawa, dan sebagian lagi masuk ke laut.

"Lalu kenapa air mesti dihemat, dikelola secara baik, dan dilestarikan? Bukankah air kita melimpah?" tanya seorang murid.

Sumber air yang bisa kita pakai sebetulnya terbatas. Bumi memang menyimpan cadangan air tak kepalang tanggung banyaknya. Kira-kira 1,4 miliar km3. Tapi, sekitar 97%-nya berupa air laut, dan lebih dari setengah sisanya berbentuk gletser dan permukaan salju permanen. Alhasil, sumber air utama kita (air tanah dan air permukaan) hanya kurang dari 1,5%.

Kalau pertumbuhan penduduk, perkembangan industri yang pesat, dan ekspansi kawasan pertanian irigasi diperhitungkan, buntut-buntutnya permintaan yang meningkat dramatis akan membebani sumber air kita yang cuma segitu-gitu-nya.

Air bersih untuk orang kota

Tak cuma untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, air juga untuk mengairi persawahan, menghidupi ternak, menjalankan industri, dan membangkitkan tenaga listrik. Terkadang juga untuk kepentingan pelayaran dan rekreasi.

Semua kebutuhan itu bisa diperoleh dari berbagai sumber yaitu air hujan; air permukaan seperti sungai, danau, dan waduk; air tanah; dan air laut.

Guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, ketersediaan air makin terbatas gara-gara pencemaran. Lebih dari semiliar penduduk di negara-negara sedang berkembang mengalami krisis air minum. Sekitar tiga miliar penduduk dunia tidak terjangkau sistem sanitasi yang sesuai agar terhindar dari ancaman penyakit yang berasal dari air.

Sejak seabad lalu, pembangunan fasilitas penyediaan air maupun pengolahan limbah di negara-negara maju telah berhasil menghadang pelbagai penyakit yang berkaitan dengan air macam tifus, kolera, dan disentri. Namun, di negara-negara berkembang, diperkirakan sekitar 14.000 - 30.000 orang - kebanyakan anak-anak dan orang tua - meninggal setiap harinya akibat penyakit yang timbul karena mengonsumsi air atau makanan tercemar.

Kita, yang tergolong negara berkembang, keadaannya tidak jauh berbeda. Air bersih masih lebih dinikmati orang kota. Lihat saja, pengadaan air bersih dalam skala besar masih terpusat di perkotaan, yang dikelola Perusahan Air Minum (PAM) kota bersangkutan. Secara nasional penikmat air PAM jumlahnya relatif kecil, cuma 16,08%. Penduduk yang belum mendapat pelayanan PAM umumnya menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, mata air, dan lainnya (lihat tabel).

Penggunaan air tanah, baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga, masih menempati urutan teratas. Penyedotan yang tidak terkontrol selama ini menyebabkan beberapa daerah digolongkan sebagai rawan dan kritis, terutama pada kedalaman 40 - 150 m. Yang tergolong kritis itu ialah Cekungan Bandung (Jawa Barat), Cekungan Jakarta-Tengerang-Bekasi (DKI/Banten/Jabar), Cekungan Semarang-Demak (Jateng), dan Cekungan Surabaya-Pasuruan (Jatim). Keempat cekungan di Pulau Jawa ini direkomendasikan menempati prioritas kawasan konservasi air tanah, di samping 20 cekungan lain di luar Jawa meski bukan prioritas (Kompas, 6/11/2000).

Untuk Jakarta, penyediaan air baku untuk air bersih pun makin sulit diperoleh. Sebab, air permukaan yang menyediakan air baku sudah banyak tercemar. Disinyalir, Jakarta akan mengalami krisis air baku pada 2001 (Kompas, 31/10/2000). Apa enggak miris?

Celakanya lagi, penduduk yang memanfaatkan air tanah maupun air sungai sering mendapatkan air yang kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang sehat. Bahkan di beberapa tempat tidak layak minum.

Jelas, kesehatan dan kesejahteraan sosio-ekonomi masyarakat terkait betul dengan suplai air yang cukup dan berkualitas sesuai kebutuhan. Alhasil, kelestarian ekosistem alam tergantung bagaimana kita mengurusi sumber daya alam yang satu ini.

Gunung Kidul: curah hujan tinggi tapi kering

Dari teori keseimbangan air global (siklus hidrologi), hujan yang jatuh sebetulnya menyediakan volume air lebih dari cukup untuk kebutuhan manusia maupun lingkungan alam lainnya. Namun, ketersediaan air di suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu acap terkendala oleh distribusi hujan yang tak merata, juga sumber air tanah maupun air permukaan yang bervariasi jumlah maupun mutunya dari satu wilayah ke wilayah lain.

Ambil contoh, di Cheerapunji, India, intensitas hujan tahunan sering melebihi 10 m, tapi itu terjadi selama musim hujan yang pendek. Sebaliknya, berbagai wilayah di Gurun Sahara di Afrika dan Gurun Atacama di Amerika Selatan, menerima sedikit atau sama sekali tanpa hujan sepanjang tahun. Kabupaten Gunung Kidul di DI Yogyakarta, yang intensitas curah hujannya cukup tinggi, terkenal sebagai daerah rawan air karena kondisi geologisnya yang berupa perbukitan kapur. Masih banyak contoh daerah lain di Tanah Air yang menderita hal serupa.

Pengadaan air di pelbagai daerah pun masih menghadapi persoalan akibat pencemaran oleh sumber-sumber alamiah seperti pengaruh air laut dan aktivitas manusia seperti pembuangan limbah perkotaan dan industri, pemakaian pestisida maupun pemupukan, pembuangan limbah padat maupun cair, serta tumpahan bahan-bahan berbahaya secara tidak sengaja.

Persoalan lain yaitu akibat pengambilan air tanah dengan pompa dalam jangka lama yang jauh melebihi pasokan air ke dalam tanah. Hal itu berakibat antara lain menipisnya cadangan air tanah, terjadinya intrusi air laut, turunnya permukaan tanah, dan ketergantungan yang makin besar terhadap air permukaan.

Konsekuensi air sebagai sumber daya publik yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sesuai bunyi pasal 33 UUD kita, yaitu bahwa pengembangan dan pengelolaannya harus diarahkan pada tataran teknis maupun politis.

Makanya, seperti ditulis Prof. Ralph A. Wurbs dari Texas A & M University (TAMU) di World & I September 2000, yang terlibat dalam pelaksanaan itu, ya semuanya. Termasuk pemerintah (tingkat lokal sampai internasional), pemasok air swasta, perusahaan rekayasa dan konstruksi, industri pengguna air, LSM bidang lingkungan dan lainnya, juga kita sebagai pengguna air. Kelangsungan hidup dan kesejahteraan penduduk di mana pun lalu tergantung pada kemampuan komunitas manajemen itu untuk mengatasi distribusi sumber daya air yang tidak merata dari segi tempat dan waktu, serta melindungi air dari pencemaran.

Fokus pengelolaan sumber daya air ini mencakup fasilitas, manajemen permintaan, desalinasi, alokasi air, dan manajemen air terpadu.

Fasilitas: peranan waduk dan dam

Yang termasuk fasilitas pengadaan air itu berupa sumur, dam, waduk, industri pengolahan air, jaringan pipa distribusi air perkotaan, sistem pengumpulan dan pengolahan limbah, serta sarana irigasi.

Peranan dam, waduk, dan bangunan lain yang terkait sangat penting dalam manajemen pengadaan air dan manajemen air multiguna. Sungai-sungai pada umumnya mempunyai ciri sangat bervariasi alirannya dengan fluktuasi musiman yang makin parah akibat kekeringan dan banjir yang ekstrem. Simpanan air dalam

waduk lalu menjadi penting karena fluktuasi aliran air bisa diatur dan penyediaan air dapat terwujud.

Saat ini, membangun waduk baru sekelas Saguling, Cirata, Kedungombo, Gajahmungkur, atau Jatiluhur, menghadapi kendala keuangan negara yang terbatas. Karena itu pengoperasian secara optimal, perawatan, dan rehabilitasi fasilitas yang sudah ada perlu ditekankan.

Manajemen permintaan: kurangi pemborosan

Kondisi hidrologis, lingkungan, dan ekonomi menjadi kendala untuk menyediakan air tambahan. Karena itu, manajemen permintaan - dalam bentuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi penggunaan - harus menjadi perhatian utama.

Banyak kota menghamburkan air dengan tidak mendeteksi kebocoran pipa-pipa air dalam sistem distribusi air yang sudah tua umurnya. Sistem irigasi pertanian banyak kehilangan air akibat perembesan dan penguapan. Orang jor-joran memakai air lebih dari yang dibutuhkan.

Penggunaan air secara rasional selama musim kemarau merupakan langkah mendesak jangka pendek untuk mengatasinya. Sedangkan langkah jangka panjang meliputi pembuatan sumur resapan, taman dan hutan kota, penggunaan toilet, sistem irigasi dan pertamanan yang efisien, termasuk insentif harga air leding serta upaya mendeteksi dan memperbaiki kebocorannya.

Desalinasi: belum populer

Dulu air asin di laut dan kawasan tertentu sungai maupun air tanah tidak bisa dimanfaatkan. Tapi, kini sudah tersedia teknologi desalinasi untuk menawarkan air asin yang dikenal sebagai proses osmosis balik (reverse osmosis). Berbagai instalasi di luar negeri dulu mengandalkan teknologi distilasi termal.

Di Indonesia pengolahan air asin atau payau menjadi tawar belum populer seperti halnya di negara-negara Timur Tengah atau Amerika Serikat. Padahal teknologi itu sangat membantu masyarakat di kawasan pantai dan pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Seribu. Air hujan yang telah disiapkan di bak penampung air hujan sering tidak mencukupi kebutuhan pada musim kemarau. Untunglah, belum lama ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah memasyarakatkan teknologi itu.

Alokasi air: banjir "kiriman"

Istilah banjir kiriman masih sering dilontarkan untuk menunjuk daerah hulu sebagai biang keladi banjir di daerah hilir. Ini bisa terjadi karena sebuah sungai sering mengalir di dua daerah administratif atau lebih. Misal, banjir di kawasan tertentu DKI Jakarta sering disebut "kiriman" dari Bogor (Jabar). Padahal secara geografis suatu daerah aliran sungai (DAS) merupakan satuan sistem aliran air yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Karena itu sistem perundang-udangan tentang air dan kerjasama antarwilayah tentang alokasi air menjadi penting, apalagi di era otonomi daerah.

Manajemen air terpadu: seimbangkan beragam kebutuhan

Sumber daya air dimanfaatkan oleh berbagai macam pengguna untuk pelbagai kebutuhan. Karena itu manajemen air yang efektif membutuhkan pendekatan sistem dengan memadukan sejumlah faktor.

Yang harus menjadi perhatian utama tentulah jumlah dan mutu air. Manajemen air tanah dan sumber air permukaan diperlukan, tapi kebutuhan air dialokasikan secara pas untuk pelbagai pengguna. Kebutuhan manusia harus diimbangi kebutuhan ekosistem, pembangunan ekonomi mesti mempertimbangkan perlindungan lingkungan. Berbagai upaya harus dibuat untuk optimalisasi program manajemen permintaan, pembangunan fasilitas baru, dan pengembangan pengoperasian serta perawatan fasilitas yang sudah ada.

Pendekatan manajemen air perlu melibatkan berbagai kemajuan di bidang teknologi pengadaan air seperti proses desalinasi dan teknik irigasi yang efisien. Teknologi yang dipilih pun harus sesuai dengan wilayah dan budaya lokal tertentu.

Diharapkan, perencanaan dan manajemen sumber saya air akan bergerak menuju pendekatan sistem holistik dengan mengintegrasikan berbagai aspek termasuk pengadaan air (untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan pertanian), drainase, pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir dan erosi, serta konservasi ekosistem.

Mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi mesti terus ditekankan. Proses pengambilan keputusan harus mempertimbangkan pandangan dari berbagai kalangan termasuk para ilmuwan, pakar, politisi, LSM, dan masyarakat. Keberhasilan pendekatan ini akan tergantung pada seberapa baik faktor yang berbeda-beda itu diolah untuk membentuk gambaran masa depan sumber daya air yang lestari. (Al. Heru Kustara)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej