|
|
Bulan Januari 2001
|
|
BEDAH ALA
NINTENDO
"Dengan endolaparoskopi nyeri pascabedah nyaris hilang, pendarahan
sedikit, pemulihan cepat, dan risiko komplikasi kecil," jelas Dr.
Ibrahim Ahmadsyah, pionir bedah laparoskopi di Indonesia sejak tahun 1991.
Khusus bagi kaum hawa, laparoskopi punya kelebihan dibandingkan dengan bedah
biasa, yakni tidak meninggalkan parut operasi di permukaan perut. Barangkali
ini terobosan paling bermakna dari segi estetika dan kosmetika. Kalau pun
masih ada, parut yang amat kecil itu akan disembunyikan di dekat pusar atau
di bagian bawah perut yang berbulu.
Keuntungan itu diperoleh karena bedah laparoskopi cuma memerlukan lubang ke
dalam rongga perut maksimal sebesar 10 mm. Bahkan dengan alat paling
mutakhir ukuran lubang bisa ditekan sampai 1,7 mm! Dengan akses sekecil itu,
operasi jenis ini sering disebut dengan needlesscopy.
"Nah, kalau lubangnya cuma 2 mm, seperti orang tertusuk jarum, dalam
beberapa minggu tentu luka sudah tak berbekas lagi," papar Ibrahim.
Menurut Ibrahim yang juga spesialis bedah dan konsultan bedah digestif di
RSCM FKUI, laparoskopi sering disebut pembedahan dengan invasi minimal. Ini
lantaran akses besar berupa penyayatan di rongga perut pada bedah
konvensional digantikan dengan akses kecil, berupa lubang-lubang kecil di
dinding perut. Untuk bedah endolaparoskopi biasanya diperlukan minimal tiga
lubang jalan masuk: satu untuk kamera dan dua untuk alat operasi mini, yang
bisa berupa gunting, penjepit, atau aneka alat lain.
Perut diisi CO2
Kecuali aksesnya, bedah laparoskopi menuntut persyaratan yang sama dengan
bedah konvensional, misalnya operasi dilakukan di ruang bedah yang steril,
oleh seorang dokter bedah.
Beberapa beda lainnya, selain akses yang minimal, antara lain adalah dokter
hanya melihat monitor tanpa memegang atau melihat langsung objek yang akan
dioperasi.
Dokter pun hanya dibantu oleh seorang kamerawan, biasanya perawat yang sudah
terlatih menggunakan kamera, dan seorang operator instrumen. Kamerawan
bertugas mengarahkan kamera agar tetap terfokus pada objek. Pergerakan
kamera disesuaikan dengan perintah dokter. Sementara operator instrumen
menjaga agar alat-alat tetap bekerja dengan baik.
Di dalam rongga perut seluas kira-kira 20 x 20 x 20 cm proses operasi
dilakukan. Untuk memberi ruang yang leluasa bagi pergerakan instrumen bedah
maka perut digembungkan.
"Kalau tidak, instrumen akan menabrak berbagai organ atau gambar
monitor gelap lantaran kamera tak bisa merekam gambar," jelas Ibrahim.
Penggembungan dilakukan dengan menggunakan gas CO2 pada tekanan
10 - 14 mmHg, dosis yang sudah diperhitungkan aman bagi tubuh.
Pada situasi di mana posisi organ sulit dijangkau, dokter akan mengubah
posisi pasien. Misalnya dengan menaikkan kaki pasien dan meletakkan kepala
pasien sedikit lebih rendah hingga usus sedikit turun ke dada.
Pada prinsipnya semua kegiatan dalam proses operasi bisa dilakukan: seperti
misalnya menjepit, memotong, mengangkat, menjahit, dan mengeluarkan organ
hasil operasi. Hanya saja karena akses masuk kecil maka pengeluaran organ
hasil operasi memerlukan cara tersendiri. Organ tersebut perlu dihancurkan
atau dipotong-potong sebelum dikeluarkan.
Contohnya pada operasi pengangkatan kantung empedu, batu empedu yang agak
besar dipecah menjadi ukuran kecil sebelum dikeluarkan dengan alat. Pada
operasi limpa yang berukuran besar, limpa dihancurkan di dalam kantung
plastik yang sudah dimasukkan ke dalam rongga perut. Limpa yang sudah hancur
itu lalu disedot ke luar.
Gerakan paradoksal
Berbeda dengan operasi biasa, pergerakan alat-alat bedah akan terjadi secara
paradoksal, berlawanan arah. Bila dokter ingin melihat objek di atas, kamera
justru harus digerakan ke bawah. Sementara bila ingin menjangkau objek di
kanan, dokter justru menggerakkan alat ke kiri, begitu pula sebaliknya.
Fenomena aneh ini lantaran efek jepitan dinding perut terhadap alat.
Kejadian ini bisa diibaratkan seperti mainan jungkat-jungkit. Untuk
menggerakkan satu sisi ke atas, maka sisi lain harus ditekan ke bawah.
Penggambaran dua dimensi di dalam layar juga menimbulkan kesulitan
tersendiri, yaitu hilangnya persepsi kedalaman. Karena itu, seorang dokter
bedah laparoskopi perlu latihan sinkronisasi dan mengkoordinasikan antara
tangan dan mata seperti orang bermain play station.
Soalnya kalau tiap kali bolak-balik melihat monitor dan pasien, ia akan
mengalami kesulitan terutama karena konsentrasi pecah. "Maka, ada yang
menyebut operasi ini dengan Nintendo Surgery Generation," kata
Ibrahim yang memperdalam ilmu ini di Belanda.
Di sisi lain dengan pembesaran objek sampai 20 kali dari wujud yang
sebenarnya, anatomi tubuh akan tampak lebih jelas sampai pada urat-urat
darah. Ini artinya operasi laparoskopi bisa lebih akurat.
Pemulihan pascabedah juga diakui akan berlangsung lebih cepat. Karena luka
kecil bekas operasi tidak perlu dijahit, cukup dilem. Malah kalau cuma 2 mm
tidak diapa-apakan. Ini tentu sangat berbeda bila harus menyayat perut dan
kemudian menjahitnya kembali.
Kelumpuhan usus pun bisa dicegah. Maka setelah menjalani endolaparoskopi
pasien tidak akan ditanya, "Apakah sudah buang angin?" Buang angin
alias kentut memang suatu patokan bahwa organ bagian dalam sudah kembali
aktif bekerja dari kelumpuhan akibat dipegang dokter.
Tak lama setelah siuman, pasien bisa minum, beberapa jam kemudian makan,
lalu setelah infusnya habis, pasien sudah boleh jalan. Bahkan pasien boleh
berolahraga ringan. Padahal dalam operasi konvensional paling tidak 2 - 3
bulan kemudian pasien baru diizinkan berolahraga.
Bagaimana kalau gagal? Dalam endolaparoskopi dikenal istilah konversi, yaitu
perubahan dari tindakan endolaparoskopi menjadi penyayatan. Hal ini
dilakukan kalau tiba-tiba muncul kasus khusus selama tindakan laparoskopi.
Oleh karena itu, seperti dikatakan Ibrahim, sebelumnya dokter harus memberi
penjelasan bahwa tidak ada jaminan operasi selalu sukses 100%.
"Saya tidak menjanjikan pasti berhasil, selalu ada kemungkinan
konversi. Ini bukan berarti kegagalan operasi endolaparoskopi," tutur
Ibrahim sambil mencontohkan kasus seorang dokter yang pernah diprotes
pasiennya karena melakukan tindakan konversi.
Tak hanya berlaku untuk diri-sendiri, Ibrahim pun meminta peserta pelatihan
bedah endolaparoskopi untuk melakukan hal yang sama sebagai upaya mencegah
pasien kecewa. Sebagai pionir endolaparoskopi, Ibrahim yang tergabung dalam
Perhimpunan Endolaparoskopi Indonesia melakukan pelatihan bagi para dokter
bedah. Pelatihan dilakukan selama dua hari, termasuk latihan mengoperasikan
instrumen pada buah-buahan, organ dalam binatang, dan binatang percobaan,
misalnya kambing.
Selanjutnya perhimpunan akan melakukan beberapa kali pendampingan selama
operasi edolaparoskopi yang sebenarnya. "Karena tak jarang saat
mengalami kesulitan, daripada repot-repot, mereka berkonversi menggunakan
teknik bedah konvensional," tutur Ibrahim yang hampir setiap hari
melakukan operasi endolaparoskopi.
Relatif mahal
Sayangnya, teknik operasi yang "menyenangkan" ini masih terbilang
mahal. Di RSCM operasi kantung empedu laparoskopi yang dilakukan dengan
sistem paket, seorang pasien harus merogoh kocek sampai Rp 6 juta. Ongkos
sebesar itu tentunya menjadi kendala serius buat orang kebanyakan.
Maka, biasanya pasien sendirilah yang memilih apakah akan menjalani bedah
konvensional atau dengan endolaparoskopi. Peminat endolaparoskopi umumnya
dari golongan menengah ke atas yang ingin cepat pulih dan bisa segera
kembali bekerja. "Jadi, meski hospital cost-nya tinggi, namun
produktivitasnya cepat kembali," tandas Ibrahim.
Mahalnya biaya ini terutama karena harga instrumennya memang selangit.
Sebagai contoh, harga satu instrumen untuk alat yang berdiameter 1,7 mm ini
Rp 12 juta sebuah. Kalau sekali operasi memerlukan minimal tiga alat, maka
paling tidak sudah menelan biaya Rp 36 juta. Belum lagi biaya kamar, dokter,
obat, dan bius.
Maka kendati dari sisi keahlian teknis dokter-dokter Indonesia tidak kalah
dibandingkan dengan dokter di Singapura misalnya, tapi kita ketinggalan dari
bidang pendanaan pembelian peralatan. "Apalagi saat krisis kemarin,
kita praktis berhenti," jelas Ibrahim.
Kini setelah kondisi kian membaik, pasien yang menginginkan operasi dengan
endolaparoskopi makin meningkat. Apalagi teknik ini bisa diaplikasikan untuk
hampir semua kasus bedah dalam rongga perut. Kemajuan ini mungkin tidak
terbayangkan pada saat-saat awal, ketika endolaparoskopi hanya dipakai di
bidang kebidanan.
Di luar negeri, menurut Ibrahim, bedah laparoskopi mulai diujicobakan untuk
operasi jarak jauh. Ahli bedah tidak harus hadir di ruang operasi,
peranannya diambil alih oleh robot yang dikendalikan oleh ahli bedah dari
jarak jauh. Maka, jarak tak lagi jadi hambatan, malah dimungkinkan pula
pemanfaatan satelit. Cara itu pernah diuji coba beberapa waktu lalu di
Singapura.
"Jadi, suatu saat bisa saja saya mengoperasi kantung empedu dari rumah
sehabis bangun tidur, sementara pasien saya berada di RSCM," kata
Ibrahim.
Luar biasa. Teknologi memang bisa membuat perkara semacam itu jadi lebih
mudah. Cuma pertanyaannya, si pasien masih tetap di ruang bedah ‘kan? (G.
Sujayanto/Shinta Teviningrum)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||