|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Heroisme Belibis
Beberapa waktu silam, untuk kepentingan
perluasan areal tanaman sereh wangi di Kec. Mangkutana, Kab. Luwu, Sulawesi
Selatan, padang ilalang dibakar. Rupanya padang itu menjadi tempat bertelur
burung-burung belibis, alias undan menurut bahasa setempat. Terjadilah
pemandangan dramatis itu.
Lidah-lidah api dengan lahap melumat ilalang tebal dan kering itu. Dari
celah lidah-lidah api seekor belibis berjuang melindungi telur-telur yang
tengah dieraminya. Dengan kepala tegak ia menyongsong kobaran api.
Mematuk-matukkan kepalanya ke sana-kemari, sesekali dengan kepakan sayapnya
tanpa sedikit pun beranjak meninggalkan telurnya.
Saya tak berpikir akan memadamkan api yang sudah telanjur besar. Selain
sangat panas, saya yakin burung itu tentu akan terbang. Ternyata tidak.
Ketika api telah menjalar lebih jauh, saya mendekat memastikan keadaan
burung itu. Tampak kepalanya masih tegak menantang, dengan bulu-bulu gundul,
hangus. Ia masih duduk di atas telur-telurnya. Ia mati. Saya terhenyak,
terpukul, sebuah perjuangan heroik baru saja berlangsung. (Silmi Djafar) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|