|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Satu Nyawa Dibayar Tiga
William Kent sudah 73 tahun, sehingga oleh
lingkungannya sering dipanggil "Babe" kalau menurut istilah
Jakarta. Meski tua, Babe tetap doyan daun muda.Herannya, Babe yang pengangguran itu tidak pernah kekurangan uang. Ia sering
mentraktir kenalan-kenalannya makan atau minum di pub.
Memang, Babe memiliki rumah bertingkat dua, yang kamar-kamarnya ia sewakan
ke beberapa pemondok. Ia sendiri menempati sebuah kamar di lantai dasar.
Rumahnya tidak bagus, malah boleh dibilang agak kumuh. Letaknya di pinggiran
Melbourne, kawasan Carlton yang kumuh pula.
Para penyewa tahu, uang sewa dari mereka setiap minggu tidak memungkinkan
Babe hidup leluasa. Mereka pun tahu kalau Babe mempunyai sumber penghasilan
lain. Ia bandar taruhan gelap, yang beroperasi di luar gelanggang pacuan
kuda. Tepatnya di jalan-jalan dekat University Hotel.
Tamunya 3 orang
Salah seorang penyewanya adalah Jim Conole. Bersama istrinya ia tinggal di
kamar depan tingkat dua. Selasa sore, 8 November, Jim melihat Babe bersama
wanita berambut coklat kemerahan yang menggairahkan, minum-minum di
University Hotel. Ia menduga, sebentar lagi si wanita pasti dibawa pulang.
Timbul niat iseng pada Jim. Kira-kira pukul 18.30 ia turun mengetuk kamar
Babe, lalu menjengukkan kepala ke dalam. Benar, si rambut coklat kemerahan
sedang duduk di pangkuan Babe. Namun mereka tidak cuma berduaan. Dua pria
yang tadi berada di pub juga tampak di situ.
Sambil melayangkan pandangannya ke wanita yang menggairahkan itu, Jim
melangkah masuk pura-pura meminjam koran. Setelah itu ia meninggalkan
ruangan untuk memenuhi janji minum-minum dengan teman-temannya di Hawthorn,
pinggiran kota Melbourne.
Satu setengah jam kemudian, May Howard yang tinggal di sebelah kamar Babe
merasa terganggu oleh bunyi berisik. Ia mendengar perabot rumah tangga
digeser-geser. Yang mencemaskannya adalah bunyi gedebak-gedebuk dan suara
erangan.
Ia tahu Babe mendapat tamu. Tadi, kira-kira pukul 18.00 ia melihat Babe
pulang membawa seorang wanita berambut coklat kemerahan dan dua pria. Lalu
ia melihat wanita itu dengan salah seorang pria keluar ke lorong depan.
Sebelumnya mereka mengunci pintu kamar Babe dan mengantungi kuncinya. Dari
sana mereka pergi ke halaman belakang. Ia mendengar mereka berbicara di sana
sebentar sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar Babe.
Ada kejadian lain yang tidak biasa sore itu. Selama ini hampir setiap sore
Ny. McWilliam yang tinggal di rumah seberang bertandang ke rumah Babe untuk
minum-minum. Ia selalu diterima dengan baik. Namun, kali itu May Howard
mendengar Ny. McWilliam bersitegang dengan tamu-tamu Babe. Katanya, suaminya
tahu ia pergi ke mana dan ia memang biasa datang ke situ. Beberapa saat
kemudian ia tampak kembali ke rumahnya. Rupanya ia ditolak masuk ke kamar
Babe.
Menjelang pukul 21.00 May merasa kamar Babe sunyi. Walau keributan
sebelumnya sempat merisaukannya, kesunyian sekarang malah membuatnya
penasaran. Penyewa yang mengkhawatirkan keselamatan induk semangnya ini
memberanikan diri mengetuk pintu kamar Babe. Tidak ada jawaban. Ia memutar
tombol pintu, ternyata terkunci. Aneh. Tidak biasanya Babe mengunci pintu
kalau sedang di rumah. Mungkin ia pergi dengan tamu-tamunya. Atau
jangan-jangan ….
May tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum yakin akan keadaan Babe. Karena
penasaran ia mendekati pintu kamar Babe dan menempelkan telinganya ke lubang
kunci. Samar-samar kedengaran suara orang berbicara.
Sebelumnya May sudah menyatakan rasa waswasnya kepada penyewa kamar lain,
yakni William Symons, veteran perang yang tungkainya tinggal sebelah. Jadi
sekarang ia mendatangi Symons yang sudah tua itu. Ia menyatakan, ingin
mengintip ke kamar Babe lewat jendela.
May Howard segera melaksanakan niatnya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan
orang-orang yang ada di dalam, ia mengambil jalan memutar. Ia keluar dulu
dari halaman belakang, lalu memutari blok sampai tiba dekat rumah Ny.
McWilliam di seberang jalan. Ketika sedang berada di sana, ia melihat salah
seorang dari dua pria tamu Babe ada di lorong menuju pintu depan yang
terbuka. Tidak lama kemudian muncul pria kedua dan perempuan yang berambut
coklat kemerahan. Pria yang keluar bersama si wanita sempat memberi salam,
"Selamat malam" kepada Babe, sebelum menutup pintu kamar.
Ketiga orang itu sempat bercakap-cakap sebentar di trotoar, sebelum akhirnya
menghilang di sudut jalan. May kembali mendatangi Symons untuk melaporkan
kepergian ketiga orang itu. Symons bertanya apakah Babe kedengaran menjawab
salam selamat malam mereka. May tidak mendengarnya.
Lantas Symons dan May menghampiri pintu induk semang mereka. Symons
mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lebih keras lagi, kali ini dengan
sebelah tongkat penyangganya. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka
menghubungi polisi.
Tewas disiksa
Yang pertama datang adalah Detektif Polisi George Crouch ditemani dua polisi
berseragam. Mereka mendobrak pintu kamar Babe. Ruangan itu acak-acakan.
Tubuh Babe terbujur kaku di lantai. Mengetahui korban sudah tidak bernapas
lagi, mereka menelepon markas, memanggil para detektif yang bertugas
mengusut pembunuhan.
Detektif Senior Cyril Currer dan Detektif Ron Kellett segera datang, disusul
sejumlah petugas lain. Mereka meneliti ruangan yang berantakan, padahal
beberapa jam sebelumnya William "Babe" Kent masih bercanda dan
memangku si rambut coklat kemerahan di tempat itu.
Dalam posisi tergolek miring, sebagian tubuh Babe tertutup seprai yang penuh
cipratan darah. Wajahnya babak belur sampai hampir tidak bisa dikenali lagi.
Karpet di ruangan itu tercabik-cabik dan pada beberapa tempat dikelupas dari
lantai sehingga papan lantai terlihat. Kasurnya bekas ditusuk dan dirobek
dengan pisau yang menyebabkan isinya berhamburan keluar. Lemari pakaian
terguling miring, isinya berserakan. Rupanya si pelaku berusaha mencari
sesuatu.
Dokter kepolisian Dr. Keith Bowden menyibakkan seprai. Tampak kemeja Babe
robek. Tubuhnya mandi darah. Ada sejumlah cedera di tubuhnya. Menurut
Bowden, korban tampaknya disiksa sebelum tewas.
Pergelangan tangan Babe diikat ke belakang dengan robekan kain seprai. Kedua
ibu jarinya juga diikat dengan tali dan sakunya ditarik ke luar. Polisi
tahu, Babe adalah bandar gelap pacuan kuda, tetapi pria berumur itu tidak
pernah tertangkap basah.
Tetangga-tetangganya menceritakan kehadiran tiga orang asing di kamar Babe
sebelum ia ditemukan tewas. Polisi menarik kesimpulan, perempuan berambut
coklat kemerahan itu berperan sebagai umpan untuk merayu Babe, lalu
mengajaknya minum-minum bersama dua temannya ke kamar korban. Tentu saja
dengan iming-iming keintiman seksual.
Diperkirakan, para pelaku tahu Babe seorang bandar gelap dan menduga korban
memiliki banyak uang yang disimpan di kamarnya. Ketika gagal menemukannya,
mereka menyiksa orang tua itu agar mau menunjukkan uangnya, sebelum akhirnya
membunuhnya untuk menghilangkan jejak.
Pakaian bernoda darah
Jim Conole, tetangga yang sore itu pura-pura meminjam koran kepada Babe,
baru pulang ke rumah pukul 23.00. Kepada polisi ia menceritakan apa yang
dilihat dan didengarnya saat masuk ke kamar korban. Katanya, salah seorang
pria memanggil perempuan yang dipangku Babe, "Jean". Penampilan
wanita itu memang "yahud", kecuali hidungnya. Ada semacam borok di
hidungnya. Rupanya gatal, sebab perempuan itu terus menggaruknya. Ia melihat
keempat orang itu minum-minum sebotol anggur di kamar Babe.
Dari Jim Conole, May Howard, dan beberapa tetangga, polisi mendapat gambaran
perihal ketiga tamu korban. Sebagai langkah awal penyelidikan, sebuah tim
polisi dikirim ke University Hotel untuk menanyai orang-orang yang melihat
Babe dengan ketiga orang itu. Pelayan bar masih ingat betul pada perempuan
berambut coklat kemerahan itu. Katanya, hidung wanita itu luka dan
sekeliling lukanya memerah. Wanita itu merayu Babe. Ia juga mendengar,
perempuan itu berkata kepada Babe bahwa ia dan kedua temannya datang dari
Sydney.
Lekas-lekas bandara dan stasiun-stasiun kereta api diinstruksikan untuk
melapor ke polisi kalau ketiga tersangka itu muncul. Namun, mereka tidak
ditemukan di mana-mana. Saat itu di Melbourne sedang berlangsung pekan
pacuan kuda yang memperebutkan Piala Melbourne. Mungkin hal itu yang membawa
ketiga buronan itu ke kota ini. Para detektif yakin mereka masih di sekitar
Melbourne sambil berharap menang bertaruh dengan uang hasil jarahan mereka.
Akhirnya polisi memeriksa beberapa hotel. Resepsionis yang bertugas malam
hari di Great Southern Hotel, dekat stasiun kereta api Spencer Street, ingat
bahwa trio seperti yang digambarkan polisi, tiba ke hotel ini kemarin. Yang
mengaku bernama Andrews menginap di kamar untuk satu orang. Sedangkan Lee
dan nyonya mengambil kamar untuk dua orang. Namun saat ini mereka sedang ke
luar hotel.
Dengan membawa kunci, resepsionis itu menemani Detektif Senior William
Mooney dan tiga detektif lain ke kamar Andrews dan kamar pasutri Lee. Mereka
menemukan mantel dan rok bernoda darah di lemari kamar yang dihuni pasutri
Lee. Juga sehelai kemeja yang pergelangan lengannya bernoda darah. Di kamar
Andrews, sehelai kemeja yang terciprat darah teronggok di kursi.
Mereka kembali ke lobi hotel, sementara Mooney menelepon markas besar,
meminta Currer dan Kellett datang ke hotel menunggu para buronan. Saat itu
mereka sudah bekerja cukup lama sehingga lelah dan mengantuk. Beberapa di
antara mereka sempat tertidur di lobi.
Menjelang pukul 04.20, suara tertawa mengejutkan mereka. Dua pria dan
seorang wanita berambut coklat kemerahan masuk ke hotel dalam keadaan mabuk.
Mereka menggoda penjaga pintu. Seperti gambaran dari para saksi, perempuan
itu punya luka di hidung dengan warna merah di sekelilingnya.
Keempat detektif, diikuti oleh Currer dan Kellett, segera merangsek
mengelilingi tiga orang itu. Dengan hormat ketiganya diminta ikut ke markas
polisi, untuk "membantu polisi dalam pengusutan kejahatan". Namun
sebelumnya tas milik si rambut coklat digeledah. Isinya antara lain dua
tiket pesawat atas nama Clayton dan Ny. Clayton.
Meski sempat menolak, akhirnya mereka menurut juga tanpa perlawanan. Mereka
diangkut dengan kendaraan yang berbeda-beda. Saat itu sudah tujuh jam lewat
sejak korban ditemukan tewas.
Di markas polisi, mereka ditempatkan di ruang yang berbeda pula. Mooney dan
seorang temannya menanyai "Mr. Lee" yang mengaku bernama Robert
Clayton. Katanya, si rambut coklat adalah pacarnya, Jean Lee. Polisi curiga,
bisa jadi perempuan itu pelacur dan Clayton yang bertubuh kecil dan
berpenampilan licik itu germonya.
Katanya, mereka bertemu Norman Andrews pada awal minggu. Sejak itu ketiganya
ke mana-mana selalu bersama. Suatu hari Andrews menggadaikan setelan jas
karena mereka bokek. Kemudian mereka terlibat percakapan dengan seorang pria
lanjut usia yang dipanggil "Babe" di tempat minum University
Hotel. Menurut Clayton, Jean dan Andrews menemani Babe pulang.
"Saya sih tidak pernah ke sana," kata Clayton. Katanya ia
menunggu di luar hotel. "Tidak mungkin," sanggah Mooney. Ada
orang-orang yang melihatnya berjalan bersama dua temannya dan Babe ke rumah
korban di Dorrit Street.
Tapi, Clayton tetap menyangkal.
Uangnya cukup banyak
Lalu percakapan difokuskan pada kondisi keuangan trio itu. Andrews cuma
menerima Rp 60.000,00 saat menggadaikan setelan jasnya. Sehabis minum-minum
uangnya tersisa Rp 36.000,00. Clayton mempunyai uang sekitar Rp 30 juta.
Kata Clayton, uang itu tabungannya, hasil bekerja serabutan di Sydney.
Keterangan mereka tidak cocok dengan kenyataan. Clayton terlihat berada di
kamar Babe dan meninggalkan rumah korban kira-kira pukul 21.00. Pria lanjut
usia itu didapati tewas dengan tanda-tanda bekas penganiayaan di kamarnya.
Clayton yang mengaku sama sekali tidak punya uang tiba-tiba memiliki
sejumlah uang. Interogasi pun diteruskan.
Clayton tetap membantah terlibatan dalam kasus itu. Kemudian, ia mengakui
bantahannya tidak meyakinkan. "Aku tidak ikut-ikutan dengan yang mereka
lakukan," teriaknya marah. Ia terus menyatakan, Jean dan Andrews-lah
yang ingin agar ia ikut menghabisi Babe, tetapi ia menolak. Katanya, Jean
pergi ke halaman belakang untuk memberi tahu dia bahwa Babe punya banyak
uang, tetapi karena celana Babe sulit diperosotkan, tak mudah bagi Jean
untuk mendapat uang itu dengan 'jalan baik-baik'. Berarti korban harus
dibunuh.
Menurut Clayton, setelah kembali sebentar ke kamar Babe, ia pulang ke Great
Southern Hotel, meninggalkan Jean dan Andrews untuk melaksanakan niat mereka
berdua. Ia baru bertemu lagi dengan mereka beberapa saat kemudian. Ketika
ditanyakan dari mana mereka mendapat uang untuk membeli tiket pesawat ke
Adelaide, Clayton menjawab bahwa Andrews dan Jean mengambil uang Babe.
Mooney mengingatkan, ada saksi mata yang melihat Clayton meninggalkan rumah
Babe bersama dua temannya. Sementara itu lecet-lecet pada kepalannya
menunjukkan, ia telah mempergunakan tinjunya. Ketika dikatakan, ia dituduh
melakukan pembunuhan atas Babe, Clayton mengulangi bantahannya dalam sebuah
pernyataan tertulis.
Selanjutnya Mooney pindah ke tempat Jean Lee, yang sebelumnya sudah
diinterogasi oleh Currer dan Kellett. Sebelum ia masuk, Currer memberi tahu,
Jean orangnya sangat tenang dan tidak mau mengaku.
Mooney memberi tahu Jean pengakuan Clayton dan tentang percakapan dengannya
di halaman belakang rumah Babe. Jean menjawab, ia tidak akan bicara apa-apa.
Lalu Mooney berkata, Clayton sudah membuat pernyataan. Ketika pernyataan
dibacakan, Jean berkata, itu cuma karangan para detektif. Ia minta
dipertemukan dengan Clayton. Ketika dibawa masuk, Clayton menangis sementara
Jean memandangnya dengan geram tetapi tanpa bicara sekecap pun.
"Huh, mereka bilang perempuan lebih lemah!" katanya saat Clayton
dibawa pergi. "Aku masih mencintai Bobby, makhluk tidak berpendirian
itu. Kalau itu maunya, ya sudahlah."
Akhirnya Jean membenarkan keterangan Clayton, kecuali bahwa Clayton tidak
meninggalkan rumah Babe lebih dulu. Andrews juga ikut, meninggalkan Jean
sendirian. Menurut Jean, saat ia berduaan dengan Babe, "Saya pukul
kepalanya dengan botol dan sepotong kayu," katanya. Para detektif
memang mencatat adanya patahan kaki meja di sebelah mayat. "Jari saya
tergores pecahan botol", kata Jean sambil menunjukkan tangannya.
"Ia pun jatuh dari kursi ke lantai."
Ketika ditanya apakah ia mengikat tangan korban, Jean menjawab, "Ya,
saya mengikat jempolnya dengan tali. Saya tahu ia sudah tewas waktu kami
meninggalkannya."
"Kami?" tanya Currer.
"Cuma saya sendiri," Jean tergagap meralat.
Meski mau mengaku, ia menolak membuat pernyataan tertulis. Ia membantah
semua ucapannya dan mogok bicara. Jean Lee pun dituduh membunuh William
Kent.
Sementara itu Andrews menyangkal pergi ke rumah Babe, "Mungkin mereka
berdua yang melakukan. Saya tidak ikut." Ketika diberi tahu perihal
pengakuan Clayton, ia tidak percaya dan ingin melihat pernyataan itu. Ketika
sudah melihatnya, ia marah. "Iya, deh. Saya ada di sana,"
katanya. "Tapi saya tidak membunuh. Saya bahkan tidak memukulnya."
Menurut pengakuan Andrews, Clayton dan Jean menganiaya dan merampok korban,
sedangkan dia cuma berdiri mengawasi. Currer memandang buku-buku jari
Andrews. Buku-buku jari itu tidak menunjukkan kalau pemiliknya cuma berdiri
mengawasi. Ketika diberi tahu ia dituduh membunuh, Andrews protes,
"Saya tidak menyentuhnya."
Salah pergaulan
Selama ketiga tersangka menunggu diadili, polisi mengusut latar belakang
mereka. Di bangku sekolah, Jean Lee termasuk anak yang cerdas, agak tomboi,
dan cenderung pemberontak. Sejak remaja, kecantikannya sudah menarik
perhatian lawan jenis. Ia terus berpindah-pindah kerja lantaran para
majikannya tidak puas dengan hasil kerjanya. Ia pernah bekerja di pabrik
topi, menjadi pramusaji, karyawan administrasi di bengkel mobil, dan buruh
pabrik. Tampaknya ia lebih menikmati pergaulan dengan lawan jenis daripada
bekerja.
Umur 18 tahun ia menikah dengan pacarnya yang pengangguran dan tidak lama
kemudian melahirkan anak perempuan. Kemudian Jean meminta cerai. Anaknya
dirawat sang ibu, sedangkan Jean bekerja di Brisbane sebagai pramusaji. Ia
bergaul dengan para tentara AS yang waktu itu banyak ditempatkan di sana.
Lalu ia berpacaran dengan seorang penjahat yang mendominasi hidupnya selama
empat tahun. Orang inilah yang membawa Jean terjun ke lembah hitam.
Akhirnya Jean bisa melepaskan diri, dan pergi ke Sydney menjadi pelayan bar.
Suatu hari ia bertemu Robert Clayton, penjahat kelas teri yang biasa
membongkar rumah dan sering keluar-masuk penjara. Walau penampilan Clayton
rapuh dan mencerminkan kelicikan, Jean amat mencintainya. Segera saja Jean
dimanfaatkan oleh pasangannya, untuk menjalankan tindak pemerasan.
Biasanya Jean memilih pria yang tampaknya terhormat, lalu memancingnya ke
mobil curiannya. Di sana, ia merayu sang calon korban dengan daya tarik
kewanitaannya. Tiba-tiba saja Clayton muncul, berpura-pura sebagai suami
yang kalap. Ia mengancam akan minta cerai dan menjadikan sang korban sebagai
pihak penyebab perceraiannya. Si pria yang takut istrinya tahu dan namanya
tercemar biasanya lantas minta "damai" dan menyerahkan semua uang
yang dibawanya. Kalau ia menolak, Clayton akan menghajar dan merampoknya.
Tidak jarang Jean ikut dipukuli. Luka di hidungnya juga akibat pukulan
tangan Clayton yang bercincin. Waktu itu Clayton marah karena Jean memilih
korban yang terlalu kuat bagi Clayton.
Selama ini, Clayton menghabiskan uang penghasilan mereka untuk berjudi,
padahal mana ada penjudi yang beruntung. Kini tega-teganya dia mengkhianati
Jean.
Sementara Norman Andrews jenis orang yang amat berbeda dari Clayton. Meski
tak seberapa tinggi, ia penjahat tangguh yang tidak takut apa pun. Sempat
menjadi tentara dan terlibat dalam berbagai pertempuran, akhirnya Andrews
dikeluarkan dari dinas militer karena sering libur tanpa izin. Clayton
pertama kali bertemu dengannya di penjara. Ketika bertemu lagi di gelanggang
pacuan kuda Melbourne, mereka menggalang kembali persahabatan yang sempat
terputus.
Mereka kalah taruhan habis-habisan dan berniat bekerja sama. Rencananya ia
akan meminjamkan tenaga pada tim Jean dan Clayton. Mereka dua kali berhasil
merampok sebelum memilih Babe sebagai korban. Korban sebelumnya adalah
dokter muda dan seorang koki restoran.
Menyangkal keterangan pada polisi
Siksaan yang diderita Babe diungkapkan oleh Dr. Bowden dalam sidang
pra-peradilan. Katanya, dua pisau lipat bernoda darah di dalam kamar Babe
diperkirakan adalah alat untuk menyiksa wajah Babe. Dinding perut dan paha
kiri Babe memar hebat. Selain itu, ada luka-luka lain di tubuh Babe. Babe
pun dicekik dengan tangan. Ketika setiap luka disebutkan, ketiga tertuduh
saling senggol dan tertawa.
Tanggal 20 Maret tahun berikutnya mereka dihadapkan ke pengadilan kriminal
Melbourne. Clayton dan Jean duduk berpegangan tangan. Clayton membantah
keterangannya di depan polisi. Katanya mereka bertiga meninggalkan rumah
Babe pukul 19.00. Kata Jean, Kent baik-baik saja saat ditinggalkan. Katanya,
ia sedang 'histeris' ketika membuat pengakuan di depan polisi. Sementara itu
Andrews terus membantah keterlibatannya dalam pembunuhan maupun perampokan.
Dalam kesimpulannya Hakim Gaffan Duffy berkata pada para juri, "Kalau
Anda menemukan tiga orang bersama-sama di sebuah ruangan di mana kemudian
terjadi penganiayaan besar dan menemukan bekas-bekas kekerasan pada tangan
mereka dan darah pada pakaian mereka, maka hal itu tentu bukan kebetulan,
tetapi bukti kuat bahwa mereka mengambil bagian dalam penganiayaan."
Tanggal 25 Maret, juri memerlukan waktu kurang dari tiga jam untuk
memutuskan bahwa ketiga terdakwa bersalah membunuh William Kent.
"Saya tidak membunuh! Saya tidak membunuh!" teriak Jean Lee sambil
tersedu-sedu dalam pelukan pacarnya.
"Dasar orang-orang goblok!" teriak Clayton sambil menuding para
juri. Andrews ditanyai apakah ia ingin menyatakan sesuatu. "Tidak. Pada
kesempatan ini tidak," jawabnya.
Ketika mereka bertiga dijatuhi hukuman mati, Clayton meludah ke arah juri
dan berteriak, "Kenapa kalian tidak menggantung si Currer pembohong itu
dan penipu lainnya?"
Mereka naik banding dengan dalih pengakuan dibuat di bawah tekanan saat
mereka mabuk dan setengah histeris.
Tanggal 23 Juni, hakim-hakim Pengadilan Banding dengan suara dua lawan satu
menyatakan, polisi memperoleh pengakuan dengan cara tidak benar, yaitu
dengan menggunakan pengakuan tertuduh yang satu untuk memperoleh pengakuan
dari tertuduh yang lain. Penghukuman dikesampingkan dan diperintahkan agar
mereka diadili kembali.
Jean Lee amat senang. "Apa kubilang!" serunya sambil memeluk dan
menciumi Clayton dengan penuh gairah. Kegembiraannya terlalu dini. Keputusan
Pengadilan Banding ditolak oleh Mahkamah Agung. Hukuman mati dikukuhkan.
Jean Lee yang baru berumur 31 tahun jadi sering mengamuk di selnya. Ia kerap
menyerang para wanita sipir dan sering meminta minuman keras.
Tercatat dalam sejarah
Tanggal 4 Januari tahun berikutnya, Andrews menulis surat ke inspektur
jenderal lembaga pemasyarakatan, menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi
di kamar Babe.
Menurut versinya, ia sedang menuangkan minuman ketika Jean berkata,
"Cepat, Bobby!" Ia menoleh dan melihat Babe sedang memegangi
lengan Jean. Clayton lantas meninju wajah Babe.
Andrews bertanya, "Ada apa sih?" Clayton menjawab, Jean
mencoba mengambil uang Babe tetapi ketahuan. Mereka memutuskan mengikat
korban ke kursi, supaya mereka bisa kabur dengan aman.
Kata Andrews, pada saat ia merobek seprai untuk pengikat, pintu diketuk. Ia
membuka pintu sedikit. Ternyata perempuan teman Babe yang tinggal di rumah
seberang, ingin minum-minum. Ia melarang wanita itu masuk, sebab katanya
sedang ada pesta pribadi. Lalu ia mengantar wanita itu ke jalan. Ketika
masuk lagi ke kamar, Babe sudah terbujur di lantai. Jean berlutut di
sebelahnya sambil menangis.
"Ada apa?" tanya Andrews. Menurut Clayton, "Waktu kamu
berbicara dengan wanita itu, dia (Babe) berusaha membuat kegaduhan untuk
menarik perhatian. Aku harus menghentikannya. Aku mencekal lehernya dan
rupanya terlalu keras."
Menurut surat Andrews, Babe ternyata sudah tewas. Clayton berulang-ulang
berkata, "Aku cuma ingin menghentikan nyanyiannya. Aku tidak bermaksud
mencekiknya."
Surat itu, yang rupanya merupakan usaha Andrews untuk membersihkan diri, tak
mampu meyakinkan pihak berwajib. Maksudnya tidak tercapai karena cedera pada
Babe menunjukkan bahwa orang lanjut usia itu mengalami penyiksaan yang cukup
lama.
Akhirnya, walaupun diprotes oleh orang-orang yang anti-hukuman mati,
eksekusi dijalankan juga. Nyawa Babe yang terlebih dahulu melayang akhirnya
harus ditebus tiga nyawa para pembunuhnya.
Jean Lee menjadi perempuan pertama sejak 56 tahun terakhir yang digantung di
Negara Bagian Victoria. Sebelumnya ia berkata kepada seorang perempuan
sipir, "Saya tidak mencekiknya. Saya tidak memiliki kekuatan untuk
mencekik siapa pun juga. Bobby memang bodoh, tetapi siapa suruh si tua itu
mau berteriak. Kami tidak bermaksud mencekiknya."
Senin 19 Februari 1951, Jean Lee yang sudah diberi obat penenang diantar ke
tiang gantungan. Ia keburu pingsan, sebelum sheriff membacakan alasan
ia dihukum gantung. Jean Lee tercatat dalam sejarah Australia sebagai wanita
terakhir yang menjalani hukuman gantung sebelum hukuman itu ditiadakan.
Dua jam kemudian, Robert Clayton dan Norman Andrews yang juga diberi obat
penenang, tetapi tidak sebanyak untuk Jean. Mereka bisa berjalan sendiri ke
tiang gantungan masing-masing.
Selama dalam sel mereka, Clayton memanggil Andrews "Charlie". Saat
mereka berdiri berdampingan di atas pintu yang bisa menjeblak ke bawah
panggung, Clayton berkata, "Goodbye, Charlie."
Andrews menjawab, "Goodbye, Bobby." (William Kendal/HI) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|