|
|
Bulan Januari 2001
|
|
TEKNOLOGI BARU MAJUKAN JAMU Indonesia
cukup kaya tanaman berkhasiat. Sayangnya, belum satu pun terkenal di dunia.
Namun bukannya tak mungkin, di masa mendatang salah satu tanaman obat kita
menjadi “bintang dunia”. Perjalanan ke arah sana sudah dimulai dengan
didirikannya pusat ekstraksi tanaman obat terbesar di Asia Tenggara oleh PT
Indonesia Farma (persero).
Bagi mereka obat nabati, yang populer dengan sebutan jamu (tunggal atau
campuran), memberi harapan kesembuhan tanpa atau dengan sedikit dampak
ikutan. Bagi pengusaha, obat nabati pun menjadi komoditas yang mulai
dilirik. Fenomena ini terjadi tidak cuma di Indonesia, tetapi di berbagai
negara di dunia, termasuk negara maju. Makanya jangan heran, bila saat ini
banyak sekali ditemukan obat nabati, buatan dalam negeri maupun impor dengan
kemasan istimewa.
Idamkan tanaman unggulan
Dilihat dari sumber daya alam, Indonesia merupakan negara dengan
keanekaragaman hayati kedua terbesar setelah Brazil. Sayangnya, tak satu pun
tanaman obat yang dimiliki bisa menjadi kebanggaan Indonesia. Sekadar
perbandingan, coba kita tengok negara-negara Eropa, Korea Selatan, Cina,
atau Jepang.
Eropa terkenal dengan Ginkgo biloba-nya, walaupun tanaman ini mereka
“colong” dari Cina. Korea Selatan kini terkenal dengan Korean Ginseng (Panax
ginseng)-nya. Cina dengan jamur Ling Zhi (Ganoderma lucidum). Dan
Jepang dengan jamur Maetake (Grifola frondosa)-nya.
Dari sisi bisnis, herbal product juga menjanjikan. Di AS saja
perputarannya mencapai AS $ 11 miliar/tahun. Sementara di Jerman mencapai DM
5 miliar/tahun.
“Indonesia yang mempunyai megabiodiversity, kok tidak satu pun
tanaman obat nongol. Nah, kami mengarahkan rencana kerja kami di sini untuk
memunculkan suatu tanaman (obat) tertentu," ungkap Dr. James M.
Sinambela, Apt, Traditional Medicines Manager PT Indonesia Farma (persero),
lazim dikenal sebagai Indofarma.
Untuk mengarah ke sana beberapa tahap mesti ditapaki. Tahapan pertama adalah
melakukan rasionalisasi formula jamu. Berikutnya standarisasi proses,
sebelum akhirnya mencapai standarisasi kimia.
Pada jamu tradisional berbentuk serbuk atau rajangan, formulanya terdiri
atas 10 – 15 jenis tanaman. Bahkan, pada obat Cina bisa sampai 20 jenis
tanaman.
“Karena kami ini orang-orang farmasi, maka kami mencoba merasionalisasikan
formula. Ini dilakukan karena komposisi jamu yang berisi banyak jenis
tanaman ini mengandung banyak bahan untuk memperbaiki aroma atau rasa
(korigensia). Dari banyak jenis tanaman tadi dipilih yang hanya memiliki
aktivitas yang diharapkan,” jelasnya.
Supaya mudah diperbanyak
Memang ada sedikit pertentangan. Dalam filosofinya, jamu dibuat untuk
berkhasiat secara bersama-sama. “Tapi kami melihat dari kacamata farmasi.
Kami mau menuju ke arah standarisasi. Kalau misalnya jamu terdiri atas 10
tanaman, standarisasinya menjadi sangat sulit,” tambahnya.
Sebagai gambaran, produsen herbal product di Eropa juga mencoba
melakukan rasionalisasi. Malah kecenderungan produsen di dunia adalah
memasarkan atau memformulasi obat herbal tunggal, misalnya Ginkgo biloba
atau ginseng saja. Mengapa? Karena reproducebility (perbanyakan),
kontrol kualitasnya maupun standarisasi prosesnya menjadi lebih mudah.
Misalnya, dalam satu formula hanya terdiri atas 3 atau 4 tanaman, reproducibility
produknya akan lebih bisa kita kontrol.
Untuk melakukan rasionalisasi, terlebih dulu dilakukan desk literature
research. Misalnya, untuk jamu pelangsing, setiap jenis jamu pelangsing
selalu mengandung jati belanda (Guazuma ulmifolia). Dari data itu
bisa disimpulkan komponen utama pelangsing adalah jati belanda.
Contoh lainnya, penghancur batu ginjal mesti ada kumis kucing (Othosiphon
stamineus), tempuyung (Sonchus arvensis), kejibeling (Strobilaanthes
crispus), atau alang-alang (Imperata cylindrica). Tanaman-tanaman
tersebut memang mengandung bahan deuretik dan senyawa yang dapat bersenyawa
dengan mineral kalsium, mineral utama batu ginjal. Jadi, tanaman-tanaman
itulah yang punya aktivitas “penghancuran” batu ginjal. Sementara, jenis
tanaman lain kita anggap sebagai korigensia. Karena itu, dalam
rasionalisasi, tanaman-tanaman dengan aktivitas tertentu saja yang dipilih.
Dari rasionalisasi, langkah berikutnya standarisasi proses. Standarisasi,
yang perancangannya dilakukan oleh dua orang doktor di bidang farmasi
alumnus Jerman, ini sangat perlu untuk membuat sediaan-sediaan yang dapat
diperbanyak.
Dalam standarisasi ini satuan yang digunakan total solid, yakni
perbandingan ekstrak yang tidak bisa menguap lagi (kering) dengan bobot
asal. Kalau dalam total solid ini terkandung suatu khasiat dan total
solid dibikin konstan, maka khasiatnya akan sama. Misalnya, dalam sekian
gram kaplet terdapat sekian gram ektrak tanaman x, sekian gram ekstrak
tanaman y, sekian gram ekstrak tanaman z, dan sekian gram bahan lainnya.
Tahapan berikutnya setelah standarisasi proses tercapai adalah mencari
senyawa tertentu yang bisa diukur. Tujuan mencapai stadarisasi kimia. Kunyit
misalnya. Yang dipakai nantinya kunyit dengan persentase curcuminoid
tertentu. Jadi, tidak lagi total solidnya, tetapi bahan yang
dikandung. Nantinya, dalam produk yang ditetapkan adalah banyaknya
curcuminoid. Misalnya, dalam sekian gram kapsul terdapat sekian miligram
curcuminoid, dst.
Sementara standarisasi kimia belum tercapai, obat nabati sudah menunjukkan
tanda-tanda “naik gengsi”. Tuntutan kualitas pun meningkat. Tidak cuma
kemasannya dituntut lebih bagus, tetapi juga mesti lebih higienis dan
praktis. Berbeda dengan jamu berwujud serbuk atau “tablet” tradisional,
yang teknologi pembuatannya cukup sederhana. Pada obat nabati berwujud
tablet modern, kapsul atau soft capsul, bahan mentah tanaman obat
mesti melalui proses ekstraksi. Di sinilah teknologi pembuatan obat nabati
atau jamu diperlukan Dari proses ekstraksi ini diperoleh ekstrak, yakni
bahan-bahan yang diinginkan dari suatu tanaman. Bagian yang tidak diperlukan
tidak lagi ikut nimbrung dalam sebutir obat nabati yang kita telan.
“Limbah” ini bisa dibuang, atau dijadikan bahan kompos.
Hemat tenaga kerja
Proses ekstraksi ini memang sudah sejak lama dilakukan perusahaan penghasil
jamu. Namun, teknologinya masih belum maju sehingga kurang efisien dan
hasilnya kurang optimal. Masih dalam konteks mengejar cita-cita menemukan
tanaman unggul, ketertinggalan itu kini juga mulai berkurang dengan hadirnya
Extraction Center milik Indofarma. Jantungnya adalah instalasi ekstraksi
tanaman obat.
Memang, di balik pendirian pusat ekstraksi tanaman obat yang diresmikan
Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN, Rozy Munir pada 17 Juli
2000, tersimpan obsesi positif untuk pengembangan jamu di tanah air.
Dalam kompleks produksi Indofarma, yang berada di Cibitung (+ 35 km
timur Jakarta), pusat ekstraksi terletak paling belakang dan dilengkapi
dengan kebun percontohan tanaman obat. Luas bangunannya sekitar 4.000 m2.
Dari luas itu, sekitar 12,5%-nya atau sekitar 500 m2 merupakan
ruang kerja instalasi ekstraksi.
Teknologi instalasi ini berasal dari Jerman, negara yang sudah amat terkenal
dalam bidang ekstraksi tanaman obat. Menurut Drs. Herizal Busnamy, Pharm.,
Senior Product Manager Indofarama, instalasi ekstraksi milik Indofarma
merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.
“Dengan teknologi baru, sampai saat ini belum ada (perusahaan lain) yang
memiliki instalasi ekstraksi khusus seperti ini, selain Indofarma. Dengan
instalasi ini nanti kami akan bisa mengekspor (hasilnya) ke mancanegara.
Kalau ada yang pesan kumis kucing misalnya, kami akan buatkan ekstrak yang
sudah distandarisir,” tambahnya.
Sistemnya sudah terintegrasi, sehingga pengoperasiannya tidak memerlukan
banyak tenaga kerja. Dalam satu shift cuma memerlukan lima orang
operator. Pekerjaan fisik cuma terjadi pada saat menuang bahan.
Pengoperasiannya di bawah supervisi seorang apoteker.
Masih ekstraksi total
Instalasi ekstraksi terbagi atas empat bagian utama, yakni dua unit
ekstraktor, dua unit evaporator, satu unit aroma recovery, dan satu
unit retrifikasi. Kapasitas ekstraktornya masing-masing 2.000 l. Namun,
sampai saat ini yang dilakukan baru sampai sekitar 50% dari kapasitas
produksi.
“Kami bisa mengolah sampai sekitar 140 ton bahan kering tanaman obat per
tahun,” jelas James.
Di unit ekstraktor, tanaman obat dari petani binaan, yang telah mengalami
penyeleksian, penyucian, pengeringan, dan penggilingan, diekstraksi. Secara
sederhana prosesnya kira-kira seperti ketika membuat minuman kopi. Serbuk
kopi disedu dengan air panas dan diaduk di dalam cangkir. Ampas akan
mengendap dan air kopi berada di atasnya. Air kopi ini yang dinamakan
ekstrak. Sementara pada ektraktor serbuk halus tanaman obat dimasukkan ke
dalam tabung ekstraktor. Lalu, dicampur dengan pelarut tertentu dalam tabung
ekstraktor. Ekstraknya dialirkan ke evaporator dan ampas dari campuran itu
diangkat.
Menurut James, yang dilakukan di sini adalah ekstraksi total. Artinya, semua
senyawa, yang bisa diikat dengan pelarut tertentu, ditarik. Misalnya,
ekstraksi dengan alkohol, maka semua senyawa yang terikat oleh alkohol akan
tertarik.
“Dalam konsep kami sebagai produsen herbal product, proses
ekstraksi dimaksudkan untuk memperoleh ekstrak di mana zat yang diduga
memberi khasiat mencapai kadar optimal, ” ujarnya. “Hasil ekstraksi
total bisa dipisahkan lagi melalui ekstraksi parsial untuk memperoleh
senyawa tertentu saja. Ekstraksi parsial ini dilakukan tergantung pada
kebutuhan. Namun, saat ini tahapan kami masih pada ekstraksi total,”
tambahnya.
Pelarutnya bisa digunakan lagi
Pelarut yang digunakan dipilih secara selektif. “Ambillah contoh proses
ekstraksi kumis kucing. Karena (senyawa) yang berkhasiat sebagai diuretik
larut dalam air, maka pelarut yang digunakan adalah pelarut air. Sementara
kunyit (Curcuma domestica) atau temulawak (Curcuma xanthorizza
Roxb.) zat warna kuning dan minyak atsirinya larut dalam pelarut organik,
maka digunakan pelarut organik seperti alkohol (dengan persentasi tertentu
yang menjadi rahasia perusahaan),” jelas apoteker yang memperoleh gelar
doktor dari Jerman ini.
Ekstrak tanaman obat yang diperoleh, dialirkan ke instalasi evaporator. Di
sini, ekstrak diuapkan sehingga diperoleh ekstrak lebih pekat. Ekstrak tidak
langsung diangkat. Pada proses ini sebagian aroma ekstrak ikut terbawa
kondensat (uap air atau uap alkohol), sehingga aroma ekstrak kentalnya
berkurang banyak. Untuk mengembalikan aroma, kondensat dilewatkan pada unit aroma
recovery untuk ditarik kembali aromanya. Aroma ini kemudian dipulangkan
kembali pada asalnya, sehingga aroma ekstraknya kembali seperti sebelum
diuapkan. Hasil akhir inilah yang diangkat dan kemudian menjadi bahan baku
obat herbal.
Di unit retrifikasi, kondensat yang sudah tidak mengandung aroma tanaman
dimurnikan kembali sehingga bisa dihasilkan kembali pelarut semula. Kalau
pelarutnya alkohol, maka larutan inilah yang dihasilkan dalam retrifikasi.
“Ini merupakan bentuk pekerjaan yang efisien sekali. Kalau tidak ada unit aroma
recovery dan retrifikasi, pelarut untuk mengekstraksi bahan tertentu
tidak bisa digunakan utuk pelarut bahan lainnya, karena setiap bahan
memiliki aroma khas tersendiri. Di sini juga terjadi penghematan biaya
produksi, karena kami tidak usah membeli kembali pelarut yang diperlukan,”
tutur James.
Rangkaian proses tadi, dari ekstraksi hingga retrifikasi, membutuhkan waktu
sekitar 9 jam, tergantung banyaknya bahan yang diolah. Yang terlama adalah
proses evaporasi (penguapan ekstrak), yakni 3 – 4 jam. Karena itu, proses
ini merupakan botle neck dari keseluruhan proses.
Sampai saat ini hasil ekstraksi sepenuhnya dijadikan bahan baku obat herbal
produksi Indofarma. Menurut James, ke depan, produksi ekstrak diharapkan
bisa dijual, meskipun sekarang juga sudah banyak yang berminat.
“(Dengan kehadiran pusat ekstraksi) kami berharap pengembangan jamu
Indonesia menjadi lebih baik. Karena kalau kita lihat herbal suplement
atau food supplement yang ada, semuanya dalam bentuk ekstrak. Keuntungannya,
formulasinya akan lebih baik, baik dalam bentuk kapsul atau kaplet. Reproducebility
(perbanyakan)-nya juga lebih baik.”
Pasarnya ada, teknologinya pun tersedia, kini kita boleh serius berharap
kemajuan industri jamu akhirnya bakal memunculkan juga satu-dua tanaman
unggulan Indonesia. |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|