globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

 Rumah Semut Paswalpampoh 

Kaum semut terkenal sebagai pekerja yang rajin dan ulet mencari nafkah. Sosoknya pernah dijadikan lambang semangat kerja oleh Departemen Tenaga Kerja. Di antara mereka ada yang bisa disewa sebagai paswalpampoh (pasukan pengawal pengaman pohon).

Andaikata di dunia semut tidak ada kaum perampok, barangkali juga tidak akan ada pohon yang menyewa suku bangsa semut sebagai penjaga keamanan dan ketertiban nasional. Salah satu contoh gerombolan perampok yang terkenal dalam buku-buku persemutan ialah si Atta cephalotes yang hidup di hutan Amazon, Brasil. Kalau mereka sudah menyerbu sebatang pohon, walaah, Anda bisa merinding melihatnya.

Edward Wilson, seorang pakar sociobiology dari Harvard melihat dengan mata kepala sendiri di stasiun percobaan Worldwide Fund for Nature dalam hutan sebelah utara Manaus, bagaimana gerombolan semut atta itu menyerbu sebatang pohon. Barisan penyerbu itu seperti sepasang sungai yang mengalir dengan full speed. Yang satu dari sarang ke arah pohon, dan yang lain dari pohon ke arah sarang.

Bikin oncom

Tiba di pohon yang sedang mereka rampok, masing-masing sibuk menggigit dan merobek daun. Hasilnya dipegang dengan rahang masing-masing dan dibawa melambai-lambai seperti potongan daun pisang petani kita yang dipakai memayungi kepala terhadap guyuran hujan. Semut itu lalu terkenal sebagai semut parasol juga. Cuma "payungnya" hanya sebesar benik, kancing baju.

Barisan usung-usung mereka membawa hasil rampokan ke sarang bawah tanah untuk diserahkan kepada semut pekerja lain dari bagian rumah tangga kepresidenan. Tubuh mereka lebih kecil dan bertugas menggigit daun lebih lanjut sampai tinggal beberapa milimeter. Semuanya kemudian diserahkan kepada barisan semut pekerja lain dari bagian dapur istana, yang tubuhnya lebih kecil lagi. Massa daun mereka bentuk menjadi pil kecil setengah lembap, yang kemudian ditempelkan pada massa serupa yang sudah ditumbuhi jamur. Gumpalan massa hasil tempaan ini bisa sampai sebesar kepalan tangan. Bagian dalamnya penuh rongga udara sampai seperti sepon penggosok daki tampaknya.

Itulah "kebun semut" yang setelah lebat ditumbuhi jamur bisa dipanen oleh kaum buruh perkebunan yang lebih kecil lagi awaknya, dari bagian distribusi. Saking kecilnya tubuh, sampai mereka bisa menyusup-nyusup ke berbagai lorong kecil dan gang yang buntu. Tugas mereka mendistribusikan hasil perkebunan jamur ke tempat semut lain yang perlu makanan, yaitu benang jamur yang mirip sekali dengan engkol yang masih ada batangnya.

Jumlah mereka bisa sampai ratusan ribu ekor, dan pohon yang dirampok selalu babak belur, compang camping daunnya. Si atta lalu di-persona non gratakan oleh pemerintah Brasil. Sebab, vegetasi hutan yang tak ternilai harganya bagi pemerintah dan rakyat Brasil bisa ludes nanti, kalau aksi mereka dianggap enteng. Mandak semut saja, kok repot!

Semut satpam

Kekhawatiran itu ternyata berlebihan. Sebab, tidak semua pohon mau dirampok mentah-mentah. Dalam perjuangan hidup selama berabad-abad yang lalu, para pohon anggota perhutanan Brasil ternyata ada yang mengembangkan sistem pertahanan. Pohon imbauba (berbagai jenis Cecropia misalnya) bisa bertahan sampai sekarang, karena menyewa semut Azteca instabilis sebagai tentara bayaran untuk menanggulangi semut perompak. Semacam TEKAB (Team khusus anti banditisme).

Pohon ini memang aneh! Segera batangnya kita pukul agak keras, keluarlah satu divisi semut URC (Unit Reaksi Cepat) yang melabrak tangan kita dengan gigitan. Bukan main sakitnya. Mereka keluar dari berbagai lubang persembunyian pada ruas cabang, ranting, atau batang yang berdekatan dengan bahaya yang mengganggu pohon.

Bagaimana cara pohon itu merekrut kaum semut? Dalam perkembangan hidupnya, ia menggampangkan masuknya semut azteca dalam batang. Ada bagian dinding batangnya yang lebih tipis jaringannya daripada bagian lain, sehingga mudah digedor.

Seekor azteca betina yang sudah hamil tua benar-benar menggedor dinding tipis itu, lalu masuk ke dalam rongga yang terbuka untuk bertelur. Selama ia mendekam asyik bertelur, kamar bersalinnya menutup lagi dengan full automatic, karena luka pada jaringan tanaman memang biasa pulih kembali membentuk callus.

Tetapi ajaibnya, jaringan baru ini begitu pesat tumbuhnya sampai tonjolannya ada yang menusuk ke dalam rongga juga. Ibu semut yang terkurung menggerogoti ujung tonjolan callus ini, untuk membunuh waktu. Eh! Ternyata sari tanaman yang keluar dari luka gigitan bisa diisap, dan enak rasanya. Itulah yang menghidupi semut dalam tugasnya bertelur, mendirikan dinasti kerajaan Azteca yang baru.

Semut keripik

Di Indonesia ternyata ada juga pohon hutan yang memanfaatkan semut sebagai penjaga keamanan. Tetapi bukan terhadap serbuan semut preman, melainkan kumbang penggerek batang. Salah satunya ialah pohon kayu raja Endospermum moluccanum dari pulau-pulau Maluku. Ia disebut kayu raja karena selalu tampak tumbuh sebatang kara seperti raja yang duduk di singgasana sendirian.

Batangnya mempunyai puluhan rongga, mulai dari pangkal akar sampai ke puncak pohon, yang cocok untuk diserobot sebagai rumah susun (rusun) bagi semut keripik Crematogaster. Hah! Ini suatu penghinaan, kalau dipikir-pikir! Tubuh Sang Bagindo Rajo diinjak-injak dan diberaki oleh semut keripik! Puih!

Tapi tunggu dulu!

Semut kurang ajar itu ternyata berguna juga. Begitu bagian pohon disentuh oleh kumbang penggerek yang mau bertelur, kontan berhamburanlah satu resimen semut dari lubang persembunyian, lalu mondar-mandir sambil mengangkat ekor yang melengkung di atas kepalanya. Ujungnya yang runcing menghadap ke depan.

Ibu kumbang yang sudah hamil rata-rata tidak jadi menaruh telur pada batang kayu raja karena dipasangi kuda-kuda oleh semut keripik itu. Kalau ada yang nekat meneruskan niat karena sudah ngebet, ia akan disemprot cairan putih dari ujung ekor semut keripik, seperti tembakan meriam tomo.

Pohon lain yang tidak sudi dijadikan rusun, tapi toh memanfaatkan semut sebagai tukang pukul juga ada. Cukup menyediakan gardu saja sebagai rumah jaga. Gardu ini berupa tanaman juga yang menempel pada batang pohon. Antara lain Myrmecodia echinata yang diliputi duri-duri panjang sampai dibayangkan sebagai duri echinos (landak), dan Hydnophytum ammboinense yang licin tidak berduri.

Benihnya ditularkan oleh kaum burung yang membuang hajat berisi biji di atas dahan. Sesudah berkecambah menjadi tanaman penempel pada pohon itu, bagian bawahnya membengkak, membentuk umbi. Mula-mula cuma sekecil ubi rambat, tetapi makin tua makin membengkak sampai sebesar panci. Kulitnya menjadi bergigir seperti punggung gunung yang gundul.

Bagian dalamnya bersekat-sekat seperti sarang tawon, dengan lorong-lorong yang meliuk seperti labirin. Itulah yang kemudian dihuni kaum semut, sampai tanamannya juga terkenal sebagai rumah semut. Tetapi semutnya bukan semut keripik, Crematogaster, melainkan Iridomyrmex myrmecodiae yang belum ada nama Indonesianya. Mereka masih satu famili Myrmicinae dengan keripik, dan keponakan jauh dari semut api Solenopsis geminata.

Umbi rumah semut terbentuk bukan karena ingin dijadikan pondokan semut, tetapi untuk menyimpan air hujan sebagai persediaan untuk hidupnya sendiri. Tetapi kalau sudah kering musim kemarau, rumah kosong itu diserbu semut Iridomyrmex. Mereka aji mumpung, memanfaatkan rongga sepon penggosok daki itu sebagai gardu paswalpampoh. (Slamet Soeseno)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej