|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Rumah Semut Paswalpampoh
Kaum
semut terkenal sebagai pekerja yang rajin dan ulet mencari nafkah. Sosoknya
pernah dijadikan lambang semangat kerja oleh Departemen Tenaga Kerja. Di
antara mereka ada yang bisa disewa sebagai paswalpampoh (pasukan pengawal
pengaman pohon).
Edward Wilson, seorang pakar sociobiology dari Harvard melihat dengan
mata kepala sendiri di stasiun percobaan Worldwide Fund for Nature dalam
hutan sebelah utara Manaus, bagaimana gerombolan semut atta itu menyerbu
sebatang pohon. Barisan penyerbu itu seperti sepasang sungai yang mengalir
dengan full speed. Yang satu dari sarang ke arah pohon, dan yang lain
dari pohon ke arah sarang.
Bikin oncom
Tiba di pohon yang sedang mereka rampok, masing-masing sibuk menggigit dan
merobek daun. Hasilnya dipegang dengan rahang masing-masing dan dibawa
melambai-lambai seperti potongan daun pisang petani kita yang dipakai
memayungi kepala terhadap guyuran hujan. Semut itu lalu terkenal sebagai
semut parasol juga. Cuma "payungnya" hanya sebesar benik,
kancing baju.
Barisan usung-usung mereka membawa hasil rampokan ke sarang bawah tanah
untuk diserahkan kepada semut pekerja lain dari bagian rumah tangga
kepresidenan. Tubuh mereka lebih kecil dan bertugas menggigit daun lebih
lanjut sampai tinggal beberapa milimeter. Semuanya kemudian diserahkan
kepada barisan semut pekerja lain dari bagian dapur istana, yang tubuhnya
lebih kecil lagi. Massa daun mereka bentuk menjadi pil kecil setengah
lembap, yang kemudian ditempelkan pada massa serupa yang sudah ditumbuhi
jamur. Gumpalan massa hasil tempaan ini bisa sampai sebesar kepalan tangan.
Bagian dalamnya penuh rongga udara sampai seperti sepon penggosok daki
tampaknya.
Itulah "kebun semut" yang setelah lebat ditumbuhi jamur bisa
dipanen oleh kaum buruh perkebunan yang lebih kecil lagi awaknya, dari
bagian distribusi. Saking kecilnya tubuh, sampai mereka bisa menyusup-nyusup
ke berbagai lorong kecil dan gang yang buntu. Tugas mereka mendistribusikan
hasil perkebunan jamur ke tempat semut lain yang perlu makanan, yaitu benang
jamur yang mirip sekali dengan engkol yang masih ada batangnya.
Jumlah mereka bisa sampai ratusan ribu ekor, dan pohon yang dirampok selalu
babak belur, compang camping daunnya. Si atta lalu di-persona non gratakan
oleh pemerintah Brasil. Sebab, vegetasi hutan yang tak ternilai harganya
bagi pemerintah dan rakyat Brasil bisa ludes nanti, kalau aksi mereka
dianggap enteng. Mandak semut saja, kok repot!
Semut satpam
Kekhawatiran itu ternyata berlebihan. Sebab, tidak semua pohon mau dirampok
mentah-mentah. Dalam perjuangan hidup selama berabad-abad yang lalu, para
pohon anggota perhutanan Brasil ternyata ada yang mengembangkan sistem
pertahanan. Pohon imbauba (berbagai jenis Cecropia misalnya)
bisa bertahan sampai sekarang, karena menyewa semut Azteca instabilis
sebagai tentara bayaran untuk menanggulangi semut perompak. Semacam TEKAB
(Team khusus anti banditisme).
Pohon ini memang aneh! Segera batangnya kita pukul agak keras, keluarlah
satu divisi semut URC (Unit Reaksi Cepat) yang melabrak tangan kita dengan
gigitan. Bukan main sakitnya. Mereka keluar dari berbagai lubang
persembunyian pada ruas cabang, ranting, atau batang yang berdekatan dengan
bahaya yang mengganggu pohon.
Bagaimana cara pohon itu merekrut kaum semut? Dalam perkembangan hidupnya,
ia menggampangkan masuknya semut azteca dalam batang. Ada bagian dinding
batangnya yang lebih tipis jaringannya daripada bagian lain, sehingga mudah
digedor.
Seekor azteca betina yang sudah hamil tua benar-benar menggedor dinding
tipis itu, lalu masuk ke dalam rongga yang terbuka untuk bertelur. Selama ia
mendekam asyik bertelur, kamar bersalinnya menutup lagi dengan full
automatic, karena luka pada jaringan tanaman memang biasa pulih kembali
membentuk callus.
Tetapi ajaibnya, jaringan baru ini begitu pesat tumbuhnya sampai tonjolannya
ada yang menusuk ke dalam rongga juga. Ibu semut yang terkurung menggerogoti
ujung tonjolan callus ini, untuk membunuh waktu. Eh! Ternyata sari
tanaman yang keluar dari luka gigitan bisa diisap, dan enak rasanya. Itulah
yang menghidupi semut dalam tugasnya bertelur, mendirikan dinasti kerajaan
Azteca yang baru.
Semut keripik
Di Indonesia ternyata ada juga pohon hutan yang memanfaatkan semut sebagai
penjaga keamanan. Tetapi bukan terhadap serbuan semut preman, melainkan
kumbang penggerek batang. Salah satunya ialah pohon kayu raja Endospermum
moluccanum dari pulau-pulau Maluku. Ia disebut kayu raja karena selalu
tampak tumbuh sebatang kara seperti raja yang duduk di singgasana sendirian.
Batangnya mempunyai puluhan rongga, mulai dari pangkal akar sampai ke puncak
pohon, yang cocok untuk diserobot sebagai rumah susun (rusun) bagi semut
keripik Crematogaster. Hah! Ini suatu penghinaan, kalau
dipikir-pikir! Tubuh Sang Bagindo Rajo diinjak-injak dan diberaki oleh semut
keripik! Puih!
Tapi tunggu dulu!
Semut kurang ajar itu ternyata berguna juga. Begitu bagian pohon disentuh
oleh kumbang penggerek yang mau bertelur, kontan berhamburanlah satu resimen
semut dari lubang persembunyian, lalu mondar-mandir sambil mengangkat ekor
yang melengkung di atas kepalanya. Ujungnya yang runcing menghadap ke depan.
Ibu kumbang yang sudah hamil rata-rata tidak jadi menaruh telur pada batang
kayu raja karena dipasangi kuda-kuda oleh semut keripik itu. Kalau ada yang
nekat meneruskan niat karena sudah ngebet, ia akan disemprot cairan
putih dari ujung ekor semut keripik, seperti tembakan meriam tomo.
Pohon lain yang tidak sudi dijadikan rusun, tapi toh memanfaatkan semut
sebagai tukang pukul juga ada. Cukup menyediakan gardu saja sebagai rumah
jaga. Gardu ini berupa tanaman juga yang menempel pada batang pohon. Antara
lain Myrmecodia echinata yang diliputi duri-duri panjang sampai
dibayangkan sebagai duri echinos (landak), dan Hydnophytum
ammboinense yang licin tidak berduri.
Benihnya ditularkan oleh kaum burung yang membuang hajat berisi biji di atas
dahan. Sesudah berkecambah menjadi tanaman penempel pada pohon itu, bagian
bawahnya membengkak, membentuk umbi. Mula-mula cuma sekecil ubi rambat,
tetapi makin tua makin membengkak sampai sebesar panci. Kulitnya menjadi
bergigir seperti punggung gunung yang gundul.
Bagian dalamnya bersekat-sekat seperti sarang tawon, dengan lorong-lorong
yang meliuk seperti labirin. Itulah yang kemudian dihuni kaum semut, sampai
tanamannya juga terkenal sebagai rumah semut. Tetapi semutnya bukan semut
keripik, Crematogaster, melainkan Iridomyrmex myrmecodiae yang
belum ada nama Indonesianya. Mereka masih satu famili Myrmicinae
dengan keripik, dan keponakan jauh dari semut api Solenopsis geminata.
Umbi rumah semut terbentuk bukan karena ingin dijadikan pondokan semut,
tetapi untuk menyimpan air hujan sebagai persediaan untuk hidupnya sendiri.
Tetapi kalau sudah kering musim kemarau, rumah kosong itu diserbu semut Iridomyrmex.
Mereka aji mumpung, memanfaatkan rongga sepon penggosok daki itu sebagai
gardu paswalpampoh. ( |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|