|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Hidup
di Bawah Lubang Ozon
Perusakan ozon juga timbul karena tumpukan CO2 hasil muntahan
cerobong pabrik dan knalpot-knalpot kendaraan bermotor. Celakanya, melalui
lubang ozon ini, sinar ultraviolet B dari matahari masuk atmosfer kita, dan
menimbulkan penyakit kanker kulit pada orang-orang yang tidak melindungi
diri terhadap paparan sinar itu. Kulit jadi gatal-gatal merah dan sulit
disembuhkan dengan obat dokter. "Apa iya?" tanya skeptisi yang
tidak percaya begitu saja kepada "kabar burung".
Ada baiknya kita mencermati buktinya yang diungkapkan Associated Press.
Penduduk kota Punta Arenas di ujung paling selatan Amerika Selatan,
menghadapi kenyataan akibat bolongnya lapisan ozon itu di Kutub Selatan.
Halaman rumah mereka sudah lama tidak hijau lagi seperti halaman kita di
Indonesia, karena tiap tanaman yang tumbuh selalu merana.
Setiap hari, Badan Meteorologi dan Geofisika mereka menyiarkan ramalan
cuaca, berisi laporan perkembangan besarnya lubang ozon di langit mereka,
seperti laporan perkembangan suhu dan hujan pada kita.
Setiap tahun, selama beberapa hari antara 1 September dan 31 Desember,
lubang ozon itu mencapai ukuran yang paling besar (kurang lebih 29 juta km2),
dan melayang persis di atas kota itu. Saat itu keadaan lalu dinyatakan
"siaga merah". Selama beberapa hari, mereka dianjurkan pihak
berwajib, untuk memakai topi sombrero yang lebar tepiannya, kaca mata hitam,
kemeja lengan panjang, celana yang panjang juga, dan losion pelindung kulit
pada bagian badan yang tidak terlindung, kalau berada di luar rumah.
Kota Punta Arenas yang berpenduduk 120.000 jiwa itu merupakan satu-satunya
daerah yang terpapar bulat-bulat sinar ultraviolet B, penerobos lubang ozon.
Diukur dengan spectro-radiometer, kepekatan lapisan ozon sudah kurang
dari 200 satuan Dobson di skala pengukur ozon. Sewaktu-waktu bisa bolong
sama sekali, seperti di kutub selatan. Padahal di tempat lain di muka Bumi,
kepekatannya masih normal, setebal 400.
Untuk berjaga-jaga, jangan sampai orang terlambat mengetahui ambang batas
ketipisan ozon, mereka memasang Solar stoplight di beberapa tempat,
seperti perempatan jalan, pasar swalayan, dan tempat umum lainnya. Alatnya
seperti jam, dengan jarum yang dapat menunjuk ke warna hijau kalau normal,
dan merah kalau sudah gawat, tertimpa el agujero (lubang).
Cepat-cepat mereka memakai kaca mata hitam dan losion. Kalau tidak, risiko
menderita kanker kulit sangat besar.
Tetapi anehnya, masih ada orang yang tidak menghiraukan bahaya ini.
"Lubang ozon? Tak pernah dengar saya!" jawab Manuel Lemus, seorang
nelayan udang, yang ditanyai petugas kesehatan kota. Ia tetap meneruskan
pekerjaannya memasang bubu di terik matahari tepi laut di tengah hari
bolong, tanpa pelindung mata, kepala, dan kulit tubuh, meskipun seluruh kota
bersiaga merah. (TST/SS) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|