|
|
Bulan Januari 2001
|
|
MENCEGAH JANIN GUGUR Beruntunglah bila Anda atau istri Anda mengalami kehamilan yang normal-normal saja. Pada sebagian orang, kehamilan seringkali mendapat banyak gangguan perdarahan, yang kemungkinan penyebabnya beraneka ragam. Apa saja dan bagaimana menanggulanginya?
Yanti harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Pasalnya, ia mengalami perdarahan cukup hebat dibarengi rasa mulas. Padahal
usia kandungannya belum genap sembilan bulan. Sesampai di rumah sakit dokter
segera melakukan tindakan pembedahan caesar dengan pertimbangan sang jabang
bayi sudah cukup umur. Syukurlah Yanti berdua bayinya berhasil diselamatkan.
Menurut dokter yang menangani, perdarahan yang dialami Yanti akibat
terlepasnya plasenta atau ari-ari janin (solisio plasente). Kasus
perdarahan kehamilan seperti dialami Yanti cukup banyak. Pada kasus ini
sebenarnya plasenta melekat pada tempat normal tapi karena suatu hal
plasenta terlepas.
"Penyebabnya bisa macam-macam," kata dr. RB Ontowiryo HP, ahli
kebidanan dan penyakit kandungan dari RS Ibu dan Anak Harapan Kita, Jakarta.
"Bisa karena tumbuh tumor atau myom pada dinding kandungan, bisa
karena tali plasenta terjerat pada kaki sang bayi sehingga saat bayi
bergerak plasenta tertarik dan terlepas. Kasus kecelakaan seperti perut sang
ibu terbentur sesuatu tepat di mana plasenta melekat juga bisa menyebabkan
plasenta terlepas."
Penyebab lain, kasus pre-eklamsia (selama hamil mengalami kenaikan tekanan
darah dan bagian tubuh tertentu membengkak). Beruntung kalau terlepasnya
plasenta pada saat janin sudah cukup umur seperti yang dialami Yanti. Sebab
bila terjadinya sebelum kandungan berusia 7,5 bulan (bobot bayi 1.400 -1.500
g), janin pada umumnya sulit diselamatkan.
Perdarahan pada masa kehamilan bisa juga gara-gara plasenta menutupi jalan
bayi. Di sini letak plasenta tidak normal(plasenta prefia) yakni menjorok
pada segmen bawah rahim, mengarah ke mulut rahim sebelah dalam. Dalam
perkembangannya, semakin lama, plasenta semakin menutupi jalan keluar bayi.
Kasus ini juga bisa mengakibatkan perdarahan karena terjadinya peregangan
atau pengencangan bagian bawah rahim yang menyebabkan bagian bawah rahim
tertarik sehingga penanaman plasenta sedikit bergeser.
"Namun, penanganannya lebih mudah dibandingkan dengan kasus pertama
tadi," kata dr. Ontowiryo. "Sebab perdarahan tidak berlangsung
terus-menerus, tapi secara berulang, misalnya setiap 3 - 4 minggu sekali dan
tidak terasa sakit. Sehingga sang janin bisa dipertahankan lebih lama,"
tambahnya.
Untuk mempertahankan agar tidak terjadi kontraksi (usaha dari kandungan
untuk mengeluarkan isinya), dokter memberikan obat, yang adakalanya
diberikan lewat infus, sehingga kandungan tetap lemas dan plasenta tidak
bergeser. Selama hamil tentu saja sang ibu disarankan untuk membatasi
kegiatan sehari-hari (bed rest) sampai saatnya melahirkan.
Bercak darah dan ikatan mulut rahim
Karena kemungkinan risiko yang ditimbulkan, seringan apa pun perdarahan yang
keluar semasa kehamilan haruslah diwaspadai. Kita mesti memantau apakah
bercak darah hanya timbul sekali, ataukah berulang kali. Apakah bercak
bertambah hebat dan disertai mulas atau tidak. Kalau bercak dibarengi mulas
biasanya menunjukkan indikasi keguguran. Sebab itu begitu tampak keluar
bercak merah, segeralah periksakan diri ke dokter dan beristirahat total.
Dengan beristirahat total, aliran darah ke dalam rahim menjadi baik sehingga
perdarahan diharapkan akan berkurang. Untuk mengecek apakah janin masih
hidup biasanya diperiksa dengan alat ultrasonografi (USG). Sementara,
pengeluaran bercak tanpa disertai rasa mulas bisa diatasi dengan istirahat
total ditambah obat penguat kehamilan.
Meski demikian, tak perlu juga kita cemas berlebihan bila terjadi
perdarahan. Bisa saja perdarahan itu berasal dari mulut rahim yang mau
terbuka, atau calon plasenta yang mau lepas, atau jalan bayi tertutup.
Kondisi mulut rahim yang kurang baik juga bisa menyebabkan perdarahan yang
berakhir dengan keguguran. Misalnya, pembukaan mulut rahim sebelum waktunya.
Masalah seperti ini banyak terjadi pada ibu yang sering mengalami keguguran
atau sering melahirkan. Pada kasus yang terakhir ini, kondisi serviksnya
kurang baik atau robekan di bagian vaginanya tidak tertutup dengan sempurna.
Untuk menghindari terjadinya keguguran, mulut rahim yang sudah agak terbuka
tadi diikat atau dijerat dengan "pita" khusus dan baru dibuka
kembali pada saat usia kehamilannya sudah cukup tua. Selama diikat, tidak
disarankan berhubungan dengan pasangan sebab bisa menyebabkan kontraksi.
Lagipula "pita" penjeratnya keras!
Ketika janin berhasil dipertahankan, setelah perdarahan, si ibu hendaknya
memperhatikan kesehatan tubuh sambil tak lupa menghindari stres. Makanan
yang dikonsumsi hendaknya bergizi tinggi seperti makanan kaya zat besi,
kalori, dan protein. Ditambah lagi, cukup vitamin dan mineral. Mintalah
nasihat ahli gizi agar tersusun menu yang diperlukan.
Ulah virus
Perdarahan selama kehamilan bisa pula merupakan indikasi adanya
ketidakberesan pada kehamilan itu sendiri. Yang paling dicemaskan kalau
terjadi pada triwulan pertama masa kehamilan. Perdarahan pada masa ini
merupakan tanda-tanda akan terjadinya keguguran. Pada masa-masa awal
kehamilan, janin memang masih lemah karena plasenta belum terbentuk.
Perkembangan janin dari 1 - 3 bulan hanya tergantung dari peran hormon.
Secara alamiah, ada wanita tertentu memang "berbakat" mengalami
perdarahan, yang kemudian diikuti keguguran. Untuk menanggulanginya, tentu
harus dicari secara saksama penyebab utamanya. Setelah ditemukan
penyebabnya, baru dilakukan tindakan medisnya.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah ketidakseimbangan atau
gangguan hormonal. Pada kasus ini umumnya keguguran tidak bisa dihindari.
Gangguan terhadap peran hormon penunjang kehamilan pada awal kehamilan 1 - 3
bulan menyebabkan janin tidak berkembang dan gugur. Supaya tidak terulang,
sebelum menyiapkan kehamilan berikutnya, sang ibu diberi terapi hormon
sampai kadar hormon dikatakan seimbang.
Janin tidak normal juga bisa berujung keguguran. Ketidaknormalan tadi salah
satunya akibat kurang baiknya kualitas bibit. Misalnya karena usia sang ibu
sudah di atas 35 tahun, menderita penyakit menahun atau berat seperti TBC
usus atau bibit sang suami kurang bagus kualitasnya. Dengan sendirinya janin
tidak akan terbentuk normal sampai akhirnya berhenti tumbuh.
Janin tidak normal, bisa pula akibat terkena infeksi macam toksoplasma
(virus yang ditularkan oleh kucing dan burung), Rubella, Herpes Virus 1 dan
2 yang disebut TORCH. Kuman penyakit ini tidak bisa dibunuh tapi hanya
diturunkan keaktifannya dan daya tahan tubuh ibu dinaikkan.
Karenanya, uji TORCH perlu dilakukan sebelum memutuskan hamil kembali. Bila
kadar IGG (imunoglugolin) tidak naik lagi, berarti stabil atau turun (virus
kalah dan tidak berdaya lagi). Si ibu boleh hamil kembali.
Durian dan tape dilarang?
Selain perdarahan, nutrisi ternyata juga perlu diperhatikan untuk mencegah
keguguran janin. Sebab bukankah kehamilan harus pula didukung oleh nutrisi
yang baik? Sayangnya, dengan sering mual, pusing dan muntah, acapkali sang
ibu mengalami gangguan asupan nutrisi sehingga energinya terkuras serta
aliran oksigen ke jaringan berkurang. Akibatnya bisa saja rahim tidak kuat
mempertahankan janin.
Demikian pula apabila sang ibu mengalami anemia atau kekurangan sel darah
merah. Makanan yang dibawa bersama sel darah merah pun menjadi berkurang
sehingga suplai makanan kurang dan secara otomatis pertumbuhan janin
terhambat. Sebab itu, setiap ibu hamil dianjurkan minum tambahan vitamin
serta makan makanan yang memenuhi persyaratan gizi seperti yang dianjurkan
dokter. Makanan berprotein tinggi serta sayuran dan buah-buahan lebih
dianjurkan ketimbang makanan berkarbohidrat tinggi. Menu tinggi karbohidrat
seringkali menyebabkan janin terlalu besar.
Selama hamil hendaknya juga dihindari makan makanan beralkohol tinggi macam
durian dan tape.
"Semakin enak, biasanya semakin tinggi alkoholnya," tambah dr.
Ontowiryo. "Dan ini ikut menghambat pertumbuhan janin." Kalau
dikatakan bahwa nenas muda bisa menggugurkan kandungan, menurut dr.
Ontowiryo tidak benar, kecuali kalau terjadi diare hebat yang menyebabkan
mulut rahim mengendor. Dokter ini juga menambahkan, banyak minum air es
tidak akan menyebabkan janin lebih besar kecuali kalau selalu diminum dengan
sirop. Bahwa minyak kelapa yang konon dapat menyebabkan kelahiran lebih
lancar, juga pandangan yang salah. "Minyak kelapa 'kan hanya sampai
usus, tidak ke vagina!" tegasnya.
Untuk mencegah terjadinya keguguran, selama hamil sebaiknya ibu tidak
bekerja berat, terlalu capek, dan menghindari stres. Soalnya, stres yang
berlebihan akan meningkatkan adrenalin sehingga terjadi penyempitan pada
pembuluh darah yang berakibat kurangnya aliran darah ke rahim. Bila terjadi
vaso kontraksi atau timbul reaksi kandungan untuk mengeluarkan bayi,
dikhawatirkan akan terjadi keguguran.
Yang tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan diri menghadapi kehamilan.
Bila sebelumnya dirasakan adanya kelainan, seperti tumbuhnya tumor,
keputihan, infeksi leher rahim, kista, mengalami endometriosis, dll, perlu
segera diperiksa dan diobati agar bila kehamilan tiba, janin bisa tumbuh
baik dan lahir dengan selamat. (Nanny Selamihardja) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|