|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Menelusur
Gua Pintu Angin
Dari Medan kami menumpang bus menuju Bohorok. Selanjutnya kami mengarah ke
Dusun Tanjung Naman, perkampungan terakhir sebelum mencapai lokasi tujuan.
Hari sudah gelap. Apalagi jalanan berlubang-lubang penuh lumpur selutut
dalamnya. Sesekali kaki terperosok ke lumpur. Peluh mengucur, karena selain
daerah ini termasuk dataran rendah, beban ransel masing-masing + 50
kg harus dibawa dengan langkah cepat. Sekilas kami mirip sekelompok penyu
yang menggotong rumah di pantai pasir, mencari tempat bertelur. Berjam-jam
kami menempuh perjalanan berlumpur dan melewati kebun karet penduduk.
Pukul 23.00 kami tiba di dusun Tanjung Naman, yang hanya dihuni sekitar 35
rumah. Penghuni kampung, suku Batak Karo dan Melayu, sudah tertidur lelap.
Cuma satu-dua laki-laki dewasa ngobrol di warung kopi.
Mengingat medan selanjutnya berupa tanjakan terjal licin, ditambah perasaan
tidak enak menolak tawaran Bang Areih, seorang penduduk, untuk singgah, kami
putuskan untuk bermalam di sana.
Esoknya kami berangkat pukul 07.00.
Hutan Negra
Setelah satu jam penuh merangkak di tanjakan terjal dan licin berlumut, kami
turun ke lembah S. Pengkurukan, sebuah anak sungai yang mengalir ke lorong
Gua Pintu Air dan Gua Pasar, yang akhirnya bergabung dengan S. Berkail.
Sungai ini kemudian menyatu dengan S. Wampu, tempat wisata arung jeram.
Sayangnya, di sepanjang lereng bukit kapur di sana mulai terjadi penebangan.
Sebagian kiri-kanan sungai telah menjadi ladang cabai, tomat, karet, serta
jeruk. Ada juga yang dibiarkan menjadi lahan tidur (tentu setelah digunduli
pepohonannya).
Di sebatang pohon yang dibiarkan tumbuh di lahan kosong itu terpasang
tulisan HUTAN NEGRA pada sebuah kaleng kuning. Entah apa artinya, mungkinkah
maksudnya negara?
Tepat pukul 09.00 tibalah kami di pintu masuk Gua Pintu Air. Daerah
sekitarnya banyak ditumbuhi paku-pakuan, dan bagian atasnya masih dibalut
pohon-pohon besar. Tapi tanah di depannya sudah gundul tanpa pohon. Begitu
selesai mendirikan tenda sebagai base camp, kami melakukan
penelusuran.
Walau S. Pengkurukan kering, kami tidak mau ambil risiko. Life jacket
dan helmet tetap dipakai, kalau-kalau terjebak banjir dadakan.
Yang harus kami kerjakan adalah: melakukan penelusuran, membuat peta lorong,
mengindentifikasi flora/fauna yang terlihat, serta mendata segala jenis
ornamen gua.
Edy menjadi pemimpin yang bertugas mencari lorong-lorong dan menarik topofil
(alat ukur). Sementara Binner menjadi orang kedua yang membacakan
angka-angka pada topofil, mengukur kemiringan dengan clinometer serta
menghitung azimut antarstasiun pemetaan dengan menggunakan kompas.
Yuyun, dibantu Khamel, siap dengan kalkir keras dan pensil untuk membuat
sketsa lorong, mengisi semua jenis berikut posisi ornamen gua serta
mengisikan angka-angka yang disebutkan Binner ke dalam tabel-tabel.
Sementara itu Aan dan Andre siap dengan buku panduan untuk mengidentifikasi
satwa yang ditemui. Saya, Hermanto, serta Deta menjadi dokumentator sambil
sesekali memberikan paparan pada seluruh anggota tim, terutama jenis ornamen
gua dan teknis pemetaannya.
Berendam air dingin
Pukul 09.30 cahaya senter kami mulai menerobos gelap. Baru 25 m dari mulut
gua, tim sudah harus terapung-apung dalam genangan air dingin sedalam 2 m.
Bau amoniak, khas kotoran kelelawar, mengusik hidung. Pemetaan dilakukan
sambil berenang di air dingin. Beberapa katak air berwarna jingga-kecoklatan
berbentuk bulat-bulat kecil tampak berloncatan menempel pada dinding gua.
Sambil menggigil, Yuyun cekatan mendata ornamen yang ada. Ornamennya masih
berupa ornamen gua pada umumnya: stalagtit, stalagmit, dan gourdam.
Pada stasiun ke-25, 300 m dari mulut gua, kami dihadapkan pada pemandangan
perut bumi yang menakjubkan. Seonggok tirai terjuntai pipih dari dinding
gua, sepintas mirip tirai berlipat-lipat tertiup angin. Permukaannya yang
berlapis butiran pasir berkilauan diterpa cahaya head lamp kami.
Sedetik kemudian terdengar teriakan Andre. Rupanya, ia kaget saat tanpa
sengaja tangannya menyentuh laba-laba yang asyik memangsa jangkrik. Melihat
ciri-ciri fisiknya berupa warna coklat kehitaman mirip laba-laba serigala,
plus ciri fisik lainnya dan mangsa jangkrik, kami perkirakan laba-laba itu
termasuk jenis Dolomedes sp. Sedangkan jangkrik korban dari jenis Ceuthophilus
maculatus. Panjang sungutnya mencapai satu kaki, berguna sebagai radar
detektor pengganti mata yang tidak dapat menembus gelap.
Kami mengingatkan Andre untuk mengurangi volume suara, karena suara lantang
dalam gua bisa merontokkan ornamen dan mengganggu habitat di sana.
Selanjutnya, kami berjalan di alur kering, tapi lalu masuk lagi ke aliran
sungai. Di sekitar atap gua yang terjangkau cahaya head lamp, tampak
melintang kayu gelondongan berdiameter sekitar 30 cm yang mulai menghitam.
Bulu kuduk saya berdiri. Ini pertanda ketinggian air pernah mencapai titik
tersebut. Kami harus waspada. Jika sampai terjadi banjir, kami harus cepat
bergerak ke titik exit gua.
Pada stasiun 43, kami kembali bertemu dengan pemandangan dahsyat. Flow
stone, satu jenis ornamen serupa air terjun yang membeku, bergelayut
pada flat (bagian bawah dinding gua yang agak menjorok dengan
permukaan relatif datar). Di sekitarnya kami temukan koloni kelelawar dari
keluarga phillostomatidae yang bergantungan. Mulutnya komat-kamit
menandakan kewaspadaan atas kedatangan kami.
Meski bertampang jelek, kelelawar itu berjasa besar. Berkat dia, ribuan ton
durian dari Bohorok sukses mengalami penyerbukan setiap tahun.
Pukul 17.00 kami pulang ke base camp, sambil menenteng segala jenis
peralatan dan sampah, termasuk urine yang kami tampung dalam kantong
plastik. Prinsipnya, tak ada yang boleh tertinggal dalam gua, kecuali udara
dari dalam tubuh dan jejak kaki kami.
Stalagtit kelopak bunga raksasa
Esoknya kami mendaki lereng bukit kapur. Sasaran penelusuran kali itu adalah
Gua Pintu Angin. Sesuai namanya dari dalam gua itu keluar udara berisi uap
air mirip kabut, yang menghasilkan suara menderu-deru. Karena jalan menuju
gua terjal dan berbatu-batu tajam, tim ngos-ngosan membawa peralatan
penelusuran gua vertikal.
Saat sebagian anggota tim mendata flora dan fauna di sekitar gua, Yuyun
memasang penambat(anchor) lalu meluncur turun dengan seutas talicarnmantell
semi-dynamic 10,5 mm. Pohon jenis asaman berdiameter 15 cm yang tumbuh
di atas gua menjadi penambat pertama.
Saat ia mulai meluncur memasuki mulut gua, tampak tali mengalami friksi,
tergesek bibir gua. Edy mengingatkan untuk memasang friend and chock
di celah retakan dinding gua. Pasalnya Yuyun tidak menemukan lubang tembus
yang bisa jadi penambat.
Setelah tiga penambat terpasang, saya menyusul meluncur diikuti anggota
lain, kecuali Manto yang bertugas sebagai penunggu. Tim turun bersamaan
lewat seutas tali yang sama. Sambil meluncur perlahan-lahan, saya perhatikan
baik-baik kondisi penambat yang dipasang Yuyun. Ini penting bagi
keselamatan! Kalau sampai terjadi musibah, evakuasi akan sangat sulit
dilakukan. Pasalnya, medan sumuran tidak lurus, licin berlumpur, serta
banyak rontokan batu. Sampai ke dasar sumuran, terhitung ada enam tambatan
terpasang dengan kedalaman vertikal 45 m.
Sesampai di dasar, kami langsung melakukan penelusuran dan pemetaan di
lorong horisontalnya. Pada ruang besar gua (chamber) pertama, awalnya
hanya tampak rontokan batu dan stalagtit besar. Besar rontokan bervariasi,
dari sekecil kelereng sampai sebesar minibus. Di atap gua terlihat stalagtit
bagai kelopak bunga raksasa yang dibekukan.
Tiga puluh meter dari titik dasar sumuran, cahaya head lamp kami
membentur stalagmit yang berdiri tegak sekitar 8 m. Di atasnya menggantung
stalagtit, ujung mereka nyaris bersentuhan membentuk column. Sungguh
mengagumkan. Khamel demikian terpesona sambil mendongak menatap gourdam
yang menempel pada dinding kiri gua, persis pilar berukir penyangga
bangunan.
Selewat chamber pertama, kami merangkak di lorong sempit dan pendek. Rime
stone tampak bagai miniatur petak-petak sawah membentang di lantai gua.
Tim saling mengingatkan agar jangan sampai menginjaknya.
Di ujung kiri lorong sempit ini teronggok gundukan mirip tanah hitam, semula
disangka runtuhan tanah. Memperhatikan bagian atapnya, ternyata batu hitam
itu tempat bergantung ratusan kelelawar. Kesimpulan sementara, itu tumpukan guano
(kotoran).
Berjam-jam kami melakukan penelusuran dan pengamatan gua. Akhirnya kami
masuk lagi ke chamber yang amat luas setelah melampaui celah sempit
yang nyaris tertutup tirai dan gourdam. Tepat di depan kami
terbentang lantai gua berundak-undak. Diterpa cahaya head lamp yang
mulai redup, terlihat persis panggung teater.
Pukul 16.00 tim bersama-sama bergerak kembali ke dasar sumuran. Perkiraan
awal kami, proses naik memakan waktu paling banyak 2 jam, ternyata salah.
Peralatan naik-turun (ascending-descending yang semula kami bungkus
di pack sack dan diletakkan di lantai gua, untuk memudahkan gerakan
di lorong horisontal, remuk berserakan tertimpa reruntuhan batu. Carrabiner,
auto stop, dan croll peyot-peyot. Untung dua set peralatan
naik dan turun tetap melekat pada tubuh saya dan Binner. Sebagian alat
memang masih utuh, tapi kami tidak mau ambil risiko untuk menggunakannya.
Demi amannya, untuk naik sekali dua orang secara bergantian. Berarti,
seluruh anggota tim kecuali yang pertama dan terakhir harus naik turun
kembali membawa peralatan yang telah selesai dipakai rekannya naik. Setelah
menjalani proses naik-turun yang melelahkan, pukul 01.00 seluruh tim sampai
di atas. Kami menyempatkan diri membawa sampah di dasar gua berupa
botol-botol plastik yang mungkin dilemparkan tangan-tangan jahil.
Walau letih dan mengantuk, evaluasi dan brifing tetap dilakukan sehabis
makan. Pukul 03.00 baru kami bisa lelap.
Vandalisme gua
Pukul 10.00 kami sudah tiba di pintu masuk gua Paturizal. Binner menyirami
tunggul-tunggul kayu berasap di sekitar mulut gua, sambil menggerutu,
"Bisa mati satwa di dalamnya." Asap yang mulai masuk ke dalam
mulut gua pun terhenti.
Yang mengagetkan, dinding dan ornamen gua penuh coretan. Pada chamber
pertama coretan makin penuh. Mungkin karena akses ke gua ini lebih mudah,
menjadikannya lebih sering didatangi orang. Pada permukaan column
yang berdiri tegak bagai pilar di tengah chamber, coretan dibuat
dengan berbagai bahan: cat, arang, sampai torehan benda keras.
Cahaya head lamp kesulitan menerobos kabut asap. Yang kami tangkap
adalah cicit panik burung sriti. Tim kami pun terbatuk-batuk menghirup asap.
Mata saya berair karena pedihnya selaput mata diterjang asap plus sedih.
Batin saya mengatakan, jangan sekali-kali merokok di dalam gua!
Setelah mempertimbangkan risiko serta kebutuhan akan data mengenai gua ini,
kami memutuskan, meneruskan penelusuran. Pada chamber berikut kabut
asap tidak sepekat sebelumnya, coretan pun tidak ada lagi. Namun tidak
berarti lorong itu luput dari tangan jahil. Stalagtit dan stalagmit tampak
patah, tanpa terlihat patahannya.
Setelah dua kali turun lewat etrier (tangga buatan dari webbing
atau pita yang disimpul) di lorong semi vertikal 2 - 3 m, kami masuk ke chamber
besar lewat lorong sempit sepanjang 5 m yang bisa dilalui sambil merayap
mirip ular. Tampak helektit, ornamen langka yang menempel tanpa
mengikuti gaya gravitasi bumi. Ratusan straw bergantungan seperti
titik air yang siap menetes pada atap gua. Karena lorong yang sempit dan
tersamar, mungkin chamber itu belum pernah dimasuki orang. Syukurlah!
Di situ ada pula aman teronggok "kembang kol" yang berkelopak di
lantai gua. Di atasnya menggantung stalagtit berkelopak. Di bawahnya,
terhampar rime stone pool yang digenangi tetetan air. Tirai setinggi
7 m tampak berjuntai di dinding kiri gua. Fantastik!
Selama dua jam kami mendata ruangan itu.
Pukul 17.00 kami menemukan titik exit, sekitar 50 m di bawah titik entrance.
Dalam percakapan sepanjang jalan menuju base camp, kami sepakat,
suatu hari nanti akan mengadakan aksi pembersihan di sekitar gua ini.
Esoknya, setelah melanjutkan pemetaan di gua Pintu Air, kami kembali ke
Medan. Masih terbayang kondisi gua yang dapat dimanfaatkan sebagai
laboratorium alamiah perut bumi demi ilmu dan pengetahuan anak bangsa.
Jangan biarkan tempat itu rusak oleh mesin-mesin raksasa dan dinamit pabrik
semen. Kami tak akan membiarkannya! |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|