|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Makan Berak?
Setelah dua tahun bertugas di Padang, kesampaian
juga niat saya untuk berkunjung ke Kep. Mentawai. Wilayah kepulauan di
Samudera India ini berjarak tempuh 11 jam dengan kapal motor dari pelabuhan
Muarapadang. Kepulauan yang kini menjadi kebupaten sendiri terpisah dari
Kabupaten Pariaman ini terbagi menjadi empat kecamatan. Masing-masing
kecamatan memiliki dialek bahasa yang berbeda.
Bersama seorang teman asli Mentawai, saya mengunjungi kampungnya. Sebelum
berangkat, ia menjelaskan, tamu pantang tidak menghabiskan makanan yang
dihidangkan. Selain membuat tersinggung, ada pula kelompok masyarakat yang
menerapkan tulou atau denda. Akibatnya, selama di Mentawai, saya
terpaksa menghabiskan semua hidangan agar tak kena denda, meski sebenarnya
perut sudah tak sanggup. Bayangkan, setiap rumah yang kami singgahi selalu
menyuguhi makanan.
Kekagetan saya alamai saat salah satu keluarga temanku menawari kami makan,
"Kawan, mukom berak." Untung teman saya segera menjelaskan
bahwa maksud tuan rumah adalah mengajak makan nasi.
Barulah saya tahu bahasa Mentawai beras (nasi) adalah berak. Dahulu
masyarakat Mentawai tidak mengenal padi. Makanan pokok mereka umumnya sagu.
Ada juga yang makan keladi dan pisang. Beras dibawa oleh pedagang dari tanah
tepi (daratan Sumatra). Maka kata beras mengalami perubahan menjadi berak.
Kini, sebagian besar penduduk di sekitar ibu kota kecamatan sehari-hari
mengkonsumsi beras.
Ternyata istilah untuk sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
masyarakat Mentawai diserap begitu saja dengan sebutan sama seperti aslinya
atau mengalami sedikit perubahan. Selain beras, ada sekolah yang menjadi sikola.
Lucunya, ubek yang dalam bahasa Minangkabau berarti obat, oleh orang
Mentawai dipakai untuk menamai rokok, yang justru beracun. Tapi kata tahu
dan tempe tidak akan ditemukan dalam bahasa Mentawai. (Windy Subanto) |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|