|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Motor
Cina Banting Harga
Rombongan wartawan Indonesia yang diundang PT Buana Jialing Sakti Motor
(BJSM), akhir bulan September lalu, secara khusus mendatangi Yuan Jia Gang
yang lingkungannya agak kumuh, tidak semewah kompleks ruko atau rukan
seperti biasanya di beberapa kota Indonesia.
Dipandu Iwan Haryono dari BJSM yang fasih berbahasa Mandarin, serta
didampingi Tony Sumampau yang pimpinan BJSM, rombongan kecil "importir
Indonesia" itu terus bertanya, sambil terus menjawab cecaran pertanyaan
dan penawaran Mr Tan, pemilik kios kecil ukuran 3,5 x 6 m.
"Kalau cuma 500 unit sebulan, itu soal kecil. Kami sanggup merakit
sampai 2.000 unit. Mau lebih juga boleh," ujar Tan yang mematok harga
satu unit motor "bebek" 110 cc seharga AS $ 330 sampai di
pelabuhan terakhir Guangzhou. "Kami berikan garansi setahun atau 6.000
kilometer. Ini murah, bulan lalu (Agustus - Red.) kami merakit 500
unit untuk pembeli dari Yindunixiya (maksudnya Indonesia - Red)."
"Kami berikan harga dan kualitas terbaik. Soal merek, janganlah
khawatir. Mau merek apa?" katanya sambil memperlihatkan blok mesin
baru, bermerek Loncini. Merek sepeda motor bagi Tan, ibaratnya hanya hiasan
yang mudah dipasang dan dicopot. "Merek yang sudah ada juga bisa."
"Bebek" AS $ 250
Dari tuturan Mr Tan, jelas kalau sudah cukup banyak sepeda motor asal Yuan
Jia Gang, masuk ke Indonesia hasil belanjaan "importir" Indonesia.
Katanya, bisa juga pembeli itu memborong onderdil, lalu merakit dan mengurus
sendiri sampai ke Guangzhou. Dengan cara itu, menurut Tan, harganya pasti
lebih murah. "Biaya merakit satu unit, cuma sekitar 30 yuan (sekitar Rp
30.000,- - Red)," katanya.
Tan juga merasa agak aneh, karena permintaan atau pesanan
"importir" Indonesia, umumnya sepeda motor model
"bebek". Motor ini di Chongqing disebut diliang che, motor
untuk pria dan wanita, karena pendek dan kedua kaki mudah menyentuh tanah.
Sebagai usaha terakhir membujuk calon pemborong motoche rakitannya,
Tan pun buka kartu. Katanya, beberapa bulan lalu dia baru kembali dari
Indonesia, tanpa menyebut dari kota mana. Selama di Indonesia, ya itu tadi,
dia merakit ratusan unit motor "bebek". Semua komponen motor itu
dari Yuan Jia Gang.
Untuk melengkapi informasi, rombongan pun meninggalkan kios Mister Tan,
mencari calon eksportir lainnya. Menariknya, di sana banyak pula ditemui
"merek" motor yang kini beredar di kota besar Indonesia. Namun
yang berbeda kontras, sekali lagi ya soal harga. Beberapa toko malah
memasang harga "bebek" cuma sekitar AS $ 250, berikut kondisi
jaminan ke pelabuhan ekspor terbesar dan jaminan purnajual.
"Pasarannya memang AS $ 250," ujar Hadi Sumadi, main dealer
Jialing dari Lampung yang ikut rombongan BJSM. Bersama 15-an main dealers
Jialing dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogya, Madiun, Jember,
Surabaya, Bali, Pontianak, Medan, Riau, dan Jambi yang ikut rombongan BJSM,
Hadi Sumadi dan rekannya itu ternyata juga "berinvestigasi" ke
sekitaran Yuan Jia Gang. Menurut agen utama Jialing ini, Yuan Jia Gang
memang bukan nama aneh bagi importir umum sepeda motor cina.
Di sana terbuka bagi siapa saja yang ingin membeli suku cadang murah, atau
merakit motor ready stock dengan harga bantingan. "Di sini
harganya tidak sampai setengah harga pasaran Indonesia," kata Hadi yang
bingung memikirkan gaya dagang "dealers" Yuan Jia Gang.
"Harga murah meriah ini, entah berapa biaya produksi aslinya. Atau
memang benar kata orang, komponen motor di Yuan Jia Gang memang barang second
grade, onderdil yang tidak lolos quality control dari pabrik dan
industri rumahan. Di sini dikumpulkan, dirakit menjadi motor utuh dengan
harga murah," kata Suryadi Kariadjaja yang agen utama Jialing dari
Pontianak.
Yuan Jia Gang memang susah diduga. Tony Sumampau mengatakan, pihak China
Jialing Industrial Group di Chongqing sendiri, tidak mengetahui jelas siapa
pendukung finansial di balik bisnis ini, serta berapa banyak industri
rumahan pembuat komponen itu.
Dia dan Iwan Haryono sebagai agen pemegang merek (ATPM) Jialing di Indonesia
mengatakan, Yuan Jia Gang mungkin kompleks pedagang komponen sepeda motor
terlengkap dan terbesar di dunia. "Onderdil apa saja ada di sini dengan
harga murah. Juga sepeda motor rakitan merek apa pun tersedia, kecuali merek
Jialing. Mereka tidak berani tiru, karena Jialing milik pemerintah,"
kata Tony mempromosikan Jialing.
Menurut Tony yang sudah merakit Jialing sejak tahun 1997 di Tangerang,
tadinya pasar itu hanya merakit dan menjual motor completely built up
(CBU) ke Vietnam. Baru dua tahun belakangan, motor cina menyerbu pasaran
kota besar Indonesia, sebagai barang rakitan ATPM dan CBU yang imporan
komplet.
Beda antara motoche yang kembarannya "bebek" merek Jepang,
paling mencolok di segi hitung-hitungan harga. Rata-rata sepeda motor
eks-RRC yang rakitan ATPM atau CBU itu, dilepas laris manis dengan harga
lebih rendah sekitar 40%.
"Dumping" atau tidak?
Melesatnya motor cina di arena perdagangan pasaran bebas, sungguh hebat.
Kehadiran dan "gangguannya" selama tahun 2000, jamak membuat
pengurus Perhimpunan Asembler dan Manufakturer Sepeda Motor Indonesia
(Pasmi) kalang kabut. Katanya, bagian "kue yang termakan" motor
cina itu sudah mencapai angka di atas 20%.
Padahal kehadiran sepeda motor atau "motoche" made in Zhongguo
alias RRC yang berani banting harga, tadinya dianggap hanya macam demam,
muncul sekejap lalu hilang. Dari catatan penjualan bulan Desember 1999,
motor cina yang saat itu mereknya masih di bawah 10 nama, hanya lari sekitar
satu persen dari angka penjualan sepeda motor di Indonesia.
Pelahan namun pasti, pengusaha agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan
importir umum mulai memasang kuda-kuda. Mereka memasarkan sepeda motor cina,
khususnya yang bermodel mirip "bebek" di pinggiran kota besar.
Sasarannya masyarakat yang butuh kendaraan tunggangan, namun tidak terlalu brand
minded.
Betul juga, sepeda motor cina makin menjadi "motor sakti". Angka
penjualannya terus meningkat dan tiba-tiba meroket menembus angka 10 persen,
bahkan terus menanjak sampai mencapai angka fantastis 21,5 persen dari angka
penjualan total yang sekitar 800.000 unit.
Menangnya motor cina di pasaran, tentu memancing rasa penasaran, terutama
pihak yang cukup terkena imbasnya, yakni Pasmi. Sebagai asosiasi lima merek
"legendaris" sepeda motor di Indonesia, Pasmi kontan buka suara
dan mengajukan ke pemerintah, agar meninjau dan menindak kalau ATPM dan
importir umum motor cina itu, main dumping harga, serta main
gelap-gelapan dokumen impornya.
Sebab menurut data resmi Pasmi, harga ekspor produsen Cina ke Indonesia
antara AS $ 170 - 220. Padahal harga jual di pasaran domestik Cina, cuma AS
$ 450 - 670. Perbedaan besar harga itu jamaklah kalau harus dicermati
serius.
Menperindag Luhut Binsar Panjaitan selaku Ketua Tim Anti- Dumping Indonesia
(Kadi), menanggapi hal itu dengan menyiapkan aturan baru mengatasi
penyelundupan sepeda motor cina dengan manipulasi dokumen impor yang under
invoice, serta mengetatkan aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi
barang impor ini.
Dugaan dumping harga motor ini, cukup berlarut-larut. Baru dalam
seminar sehari "Kiat Industri Nasional Menghadapai Ancaman Disproporsi
Impor di Era Perdagangan Global" di Jakarta 23 November lalu, Tan
Weiwen selaku Minister Counsellor Kedutaan Besar RRC, mengeluarkan tanggapan
(Kompas, 24/11 2000).
"Cina tidak melakukan dumping ke Indonesia. Murahnya
barang-barang buatan Cina, khususnya sepeda motor, karena biaya produksinya
memang rendah. Ambil contoh soal overhead cost bagi chief
executive officers di Cina, kalau mendapatkan gaji sekitar 8.000 yuan
atau + AS $ 1.000 (setara Rp 9,5 juta), itu sudah sangat bagus. Ini
yang menekan harga jual produk Cina di luar negeri. Tidak ada dumping,"
kata Tan Weiwen.
Tentunya perlu disimak serius. Kalau ada persaingan antara sesama pengusaha
dan produsen, hendaknya ada hikmah dan tidak mengorbankan rakyat sebagai
konsumen yang tidak berdaya. Rakyat cuma mau beli motor murah, bukan sepeda
motor bermasalah. Itu sajalah. (Rudy Badil)
Boks 1: "Tradisi Motoche" di
Zhongguo
Boks 2: Motor Cina Merajai Pasar Dunia |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|