globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Motor Cina Banting Harga 

Katanya di zaman serba sulit ini, harapan untuk memiliki alat transportasi motor roda dua, seperti digampangkan dengan hadirnya sepeda motor buatan Cina. Konon motor cina yang amat mirip dengan motor eks-Jepang, kini makin berani pentang suara beriklan dengan kalimat serba "ter", termasuk "termurah". Apakah motoche atau motor cina ini, memang murah karena "barang murahan", atau murah tapi bukan barang murahan?

Salah satu tempat paling murah membeli sepeda motor di dunia, mungkin cuma ada di Chongqing - Republik Rakyat Cina. Di pusat kota industri di tepi antara Sungai Jialing dan Sungai Yangzi, ada gelanggang dagang mirip pasar sepeda motor dan onderdil dengan jajaran kios dan toko, namanya Yuan Jia Gang Mo Pei Jiao Zhong Xin, atau pusat perdagangan komponen sepeda motor Yuan Jia Gang.

Rombongan wartawan Indonesia yang diundang PT Buana Jialing Sakti Motor (BJSM), akhir bulan September lalu, secara khusus mendatangi Yuan Jia Gang yang lingkungannya agak kumuh, tidak semewah kompleks ruko atau rukan seperti biasanya di beberapa kota Indonesia.

Dipandu Iwan Haryono dari BJSM yang fasih berbahasa Mandarin, serta didampingi Tony Sumampau yang pimpinan BJSM, rombongan kecil "importir Indonesia" itu terus bertanya, sambil terus menjawab cecaran pertanyaan dan penawaran Mr Tan, pemilik kios kecil ukuran 3,5 x 6 m.

"Kalau cuma 500 unit sebulan, itu soal kecil. Kami sanggup merakit sampai 2.000 unit. Mau lebih juga boleh," ujar Tan yang mematok harga satu unit motor "bebek" 110 cc seharga AS $ 330 sampai di pelabuhan terakhir Guangzhou. "Kami berikan garansi setahun atau 6.000 kilometer. Ini murah, bulan lalu (Agustus - Red.) kami merakit 500 unit untuk pembeli dari Yindunixiya (maksudnya Indonesia - Red)."

"Kami berikan harga dan kualitas terbaik. Soal merek, janganlah khawatir. Mau merek apa?" katanya sambil memperlihatkan blok mesin baru, bermerek Loncini. Merek sepeda motor bagi Tan, ibaratnya hanya hiasan yang mudah dipasang dan dicopot. "Merek yang sudah ada juga bisa."

"Bebek" AS $ 250

Dari tuturan Mr Tan, jelas kalau sudah cukup banyak sepeda motor asal Yuan Jia Gang, masuk ke Indonesia hasil belanjaan "importir" Indonesia. Katanya, bisa juga pembeli itu memborong onderdil, lalu merakit dan mengurus sendiri sampai ke Guangzhou. Dengan cara itu, menurut Tan, harganya pasti lebih murah. "Biaya merakit satu unit, cuma sekitar 30 yuan (sekitar Rp 30.000,- - Red)," katanya.

Tan juga merasa agak aneh, karena permintaan atau pesanan "importir" Indonesia, umumnya sepeda motor model "bebek". Motor ini di Chongqing disebut diliang che, motor untuk pria dan wanita, karena pendek dan kedua kaki mudah menyentuh tanah.

Sebagai usaha terakhir membujuk calon pemborong motoche rakitannya, Tan pun buka kartu. Katanya, beberapa bulan lalu dia baru kembali dari Indonesia, tanpa menyebut dari kota mana. Selama di Indonesia, ya itu tadi, dia merakit ratusan unit motor "bebek". Semua komponen motor itu dari Yuan Jia Gang.

Untuk melengkapi informasi, rombongan pun meninggalkan kios Mister Tan, mencari calon eksportir lainnya. Menariknya, di sana banyak pula ditemui "merek" motor yang kini beredar di kota besar Indonesia. Namun yang berbeda kontras, sekali lagi ya soal harga. Beberapa toko malah memasang harga "bebek" cuma sekitar AS $ 250, berikut kondisi jaminan ke pelabuhan ekspor terbesar dan jaminan purnajual.

"Pasarannya memang AS $ 250," ujar Hadi Sumadi, main dealer Jialing dari Lampung yang ikut rombongan BJSM. Bersama 15-an main dealers Jialing dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogya, Madiun, Jember, Surabaya, Bali, Pontianak, Medan, Riau, dan Jambi yang ikut rombongan BJSM, Hadi Sumadi dan rekannya itu ternyata juga "berinvestigasi" ke sekitaran Yuan Jia Gang. Menurut agen utama Jialing ini, Yuan Jia Gang memang bukan nama aneh bagi importir umum sepeda motor cina.

Di sana terbuka bagi siapa saja yang ingin membeli suku cadang murah, atau merakit motor ready stock dengan harga bantingan. "Di sini harganya tidak sampai setengah harga pasaran Indonesia," kata Hadi yang bingung memikirkan gaya dagang "dealers" Yuan Jia Gang.

"Harga murah meriah ini, entah berapa biaya produksi aslinya. Atau memang benar kata orang, komponen motor di Yuan Jia Gang memang barang second grade, onderdil yang tidak lolos quality control dari pabrik dan industri rumahan. Di sini dikumpulkan, dirakit menjadi motor utuh dengan harga murah," kata Suryadi Kariadjaja yang agen utama Jialing dari Pontianak.

Yuan Jia Gang memang susah diduga. Tony Sumampau mengatakan, pihak China Jialing Industrial Group di Chongqing sendiri, tidak mengetahui jelas siapa pendukung finansial di balik bisnis ini, serta berapa banyak industri rumahan pembuat komponen itu.

Dia dan Iwan Haryono sebagai agen pemegang merek (ATPM) Jialing di Indonesia mengatakan, Yuan Jia Gang mungkin kompleks pedagang komponen sepeda motor terlengkap dan terbesar di dunia. "Onderdil apa saja ada di sini dengan harga murah. Juga sepeda motor rakitan merek apa pun tersedia, kecuali merek Jialing. Mereka tidak berani tiru, karena Jialing milik pemerintah," kata Tony mempromosikan Jialing.

Menurut Tony yang sudah merakit Jialing sejak tahun 1997 di Tangerang, tadinya pasar itu hanya merakit dan menjual motor completely built up (CBU) ke Vietnam. Baru dua tahun belakangan, motor cina menyerbu pasaran kota besar Indonesia, sebagai barang rakitan ATPM dan CBU yang imporan komplet.

Beda antara motoche yang kembarannya "bebek" merek Jepang, paling mencolok di segi hitung-hitungan harga. Rata-rata sepeda motor eks-RRC yang rakitan ATPM atau CBU itu, dilepas laris manis dengan harga lebih rendah sekitar 40%.

"Dumping" atau tidak?

Melesatnya motor cina di arena perdagangan pasaran bebas, sungguh hebat. Kehadiran dan "gangguannya" selama tahun 2000, jamak membuat pengurus Perhimpunan Asembler dan Manufakturer Sepeda Motor Indonesia (Pasmi) kalang kabut. Katanya, bagian "kue yang termakan" motor cina itu sudah mencapai angka di atas 20%.

Padahal kehadiran sepeda motor atau "motoche" made in Zhongguo alias RRC yang berani banting harga, tadinya dianggap hanya macam demam, muncul sekejap lalu hilang. Dari catatan penjualan bulan Desember 1999, motor cina yang saat itu mereknya masih di bawah 10 nama, hanya lari sekitar satu persen dari angka penjualan sepeda motor di Indonesia.

Pelahan namun pasti, pengusaha agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan importir umum mulai memasang kuda-kuda. Mereka memasarkan sepeda motor cina, khususnya yang bermodel mirip "bebek" di pinggiran kota besar. Sasarannya masyarakat yang butuh kendaraan tunggangan, namun tidak terlalu brand minded.

Betul juga, sepeda motor cina makin menjadi "motor sakti". Angka penjualannya terus meningkat dan tiba-tiba meroket menembus angka 10 persen, bahkan terus menanjak sampai mencapai angka fantastis 21,5 persen dari angka penjualan total yang sekitar 800.000 unit.

Menangnya motor cina di pasaran, tentu memancing rasa penasaran, terutama pihak yang cukup terkena imbasnya, yakni Pasmi. Sebagai asosiasi lima merek "legendaris" sepeda motor di Indonesia, Pasmi kontan buka suara dan mengajukan ke pemerintah, agar meninjau dan menindak kalau ATPM dan importir umum motor cina itu, main dumping harga, serta main gelap-gelapan dokumen impornya.

Sebab menurut data resmi Pasmi, harga ekspor produsen Cina ke Indonesia antara AS $ 170 - 220. Padahal harga jual di pasaran domestik Cina, cuma AS $ 450 - 670. Perbedaan besar harga itu jamaklah kalau harus dicermati serius.

Menperindag Luhut Binsar Panjaitan selaku Ketua Tim Anti- Dumping Indonesia (Kadi), menanggapi hal itu dengan menyiapkan aturan baru mengatasi penyelundupan sepeda motor cina dengan manipulasi dokumen impor yang under invoice, serta mengetatkan aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi barang impor ini.

Dugaan dumping harga motor ini, cukup berlarut-larut. Baru dalam seminar sehari "Kiat Industri Nasional Menghadapai Ancaman Disproporsi Impor di Era Perdagangan Global" di Jakarta 23 November lalu, Tan Weiwen selaku Minister Counsellor Kedutaan Besar RRC, mengeluarkan tanggapan (Kompas, 24/11 2000).

"Cina tidak melakukan dumping ke Indonesia. Murahnya barang-barang buatan Cina, khususnya sepeda motor, karena biaya produksinya memang rendah. Ambil contoh soal overhead cost bagi chief executive officers di Cina, kalau mendapatkan gaji sekitar 8.000 yuan atau + AS $ 1.000 (setara Rp 9,5 juta), itu sudah sangat bagus. Ini yang menekan harga jual produk Cina di luar negeri. Tidak ada dumping," kata Tan Weiwen.

Tentunya perlu disimak serius. Kalau ada persaingan antara sesama pengusaha dan produsen, hendaknya ada hikmah dan tidak mengorbankan rakyat sebagai konsumen yang tidak berdaya. Rakyat cuma mau beli motor murah, bukan sepeda motor bermasalah. Itu sajalah. (Rudy Badil)

Boks 1: "Tradisi Motoche" di Zhongguo

Boks 2: Motor Cina Merajai Pasar Dunia

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej