|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Mumi
Buatan untuk Penelitian
Semua itu dimulai saat ia menekuni studi Mesir. Ia yakin bahwa studi
itu akan sempurna apabila telah berhasil diketahui cara pembuatan mumi
seperti yang dilakukan orang-orang Mesir dulu. Cara memumikan gaya
Mesir penting, karena hal itu menyangkut kehidupan di alam baka. Mumi
yang baik berarti punya kehidupan di akhirat yang baik pula. Maka tak
heran para firaun takut makam mereka diganggu pencuri.
Selain itu memumikan raja Mesir bukan hanya masalah teknis, melainkan
soal cara berpikir Mesir kuno. Tapi bagaimana cara mereka
melakukannya?
Bertemu teman satu ide
Untuk menguak rahasia itu, satu-satunya jalan adalah dengan membuat
mumi itu sendiri. Bob Brier, harus menanti lama untuk mewujudkan
cita-citanya sampai ia bertemu dengan seseorang dengan kesamaan ide.
Bersama Ronn Wade, ahli anatomi dari Universitas Maryland, ia
melaksanakan Operasi Mumi tahun 1994.
Mereka menemukan jasad yang pas, yakni seorang pria berusia 70 tahun
yang meninggal akibat gagal jantung. Pria itu telah merelakan tubuhnya
dipakai untuk penelitian ilmu pengetahuan. "Kami tidak
sembarangan memperlakukannya. Kami memperlakukannya seperti raja
Mesir," jelas dua ilmuwan Amerika ini lagi.
Namun, mereka ini masih terbentur berbagai kendala. Pasalnya, catatan
tentang teknik pemumian Mesir kuno amat sedikit. Salah satu jalan
keluarnya adalah dengan mengikuti catatan yang berasal dari tahun 450
SM milik ahli sejarah Yunani, Herodot dan Diodorus Siculus. Kesulitan
yang dihadapi adalah saat mengosongkan rongga otak. Herodot dan
Siculus tidak menjelaskan secara terinci. Akhirnya kedua orang ilmuwan
itu mengikuti petunjuk ahli Mesir Kuno Jerman, Karl Sudhof, yang
melakukan studi pengosongan rongga otak mumi di Mesir tahun 1911.
Langkah berikutnya adalah mengeluarkan organ bagian dalam kecuali
jantung. Sebuah sayatan di perut sepanjang 7 cm dilakukan untuk
menjadi "pintu" ke organ bagian dalam. Langkah pertama
dengan mengeluarkan usus bagian atas dan pankreas, sesudah itu limpa,
kandung kemih, ginjal, dan semua organ pencernaan. Semua harus
dilakukan dengan hati-hati agar sayatan tidak bertambah lebar dan
perut tidak robek. Mengeluarkan paru-paru lebih mudah daripada
menangani hati.
"Paru-paru itu basah dan lentur seperti spons, sedangkan hati
adalah organ yang besar dan keras. Rasanya, mengeluarkan hati sama
seperti melihat kelahiran bayi," kata Ronn Wade.
Jantung adalah pusat jiwa
Tidak seperti anjuran Siculus, Wade juga menyingkirkan ginjal.
"Orang Mesir pada masa itu tidak mengenal ginjal. Tidak ada kata
ginjal dalam bahasa Mesir Kuno," kata Wade. Namun jantung tetap
di tempatnya. Bagi orang Mesir Kuno, jantung adalah pusat jiwa dan
pikiran. Di dunia alam baka nanti, jantung mereka akan ditimbang. Bila
jantungnya ringan, ia memperoleh kesempatan diterima para Dewa.
Selanjutnya, oleh Brier dan Wade di tempat organ dalam yang kosong
ditaruh 29 kantung kain lena berisi natrium. Tubuh jadi kelihatan
berisi, karena orang Mesir Kuno juga menginginkan bentuk yang bagus di
alam baka sana.
Setelah itu dimulailah fase pertama pemumian yang lama: tubuh
diletakkan di atas papan dan ditaburi dengan 262 kg bubuk natrium,
sama seperti organ dalam tubuh. Natrium akan mengeringkan dan
melindungi jasad dari serangan bakteri. Tubuh dan organ yang
dikeluarkan didiamkan selama 35 hari dalam ruang bertemperatur 40oC,
seperti di padang pasir.
Setelah itu natrium jadi basah dan berbau seperti pasir basah. Tubuh
mumi kehilangan 35 kg cairan. Itu berarti setengah dari berat
sebelumnya. Pada tahap ini jasad berwarna coklat kehitaman seperti
yang biasa terjadi pada proses pemumian. Selain itu tubuhnya jadi amat
kaku sampai-sampai Brier dan Wade kesulitan untuk mengambil kantung
natrium yang disusupkan dalam perut.
Selanjutnya, Brier dan Wade menggosok tubuh mumi dengan campuran
minyak, dupa, kemenyan, kayu sedar (sejenis cemara), lotus, dan tuak.
Lalu membalutnya dengan kain lena yang telah dicelup getah kayu sedar.
Sekali lagi tahap "tenang" selama 35 hari bagi mumi. Brier
dan Wade malah menambah masa itu jadi empat setengah bulan sebelum
mereka memasuki tahap akhir. Di tahap ini, mumi kehilangan cairan
tubuh lagi. Pria yang semula berbobot 84 kg kini tinggal 31 kg
beratnya.
Di tahap terakhir Brier dan Wade menyadari kesalahan mereka. Saat
mereka hendak menyilangkan tangan mumi di dada, tangan itu sudah
sedemikian kaku. "Seharusnya kami melakukannya di tahap 35 hari
pertama," aku mereka.
Sementara organ tubuh bagian dalam mumi yang telah dibersihkan ditaruh
di empat tempayan yang pada tutupnya berhiaskan empat dewa pelindung
Mesir. Dewa itu disimbolkan berupa manusia, kera, elang, dan anjing.
Dengan penuh kehati-hatian, kedua ilmuwan ini membalut lagi mumi.
Setiap jemari, entah jari kaki atau tangan, dibalut. Brier pun tak
lupa melantunkan doa seperti yang tertera dalam bahasa Mesir Kuno.
Tampaknya, semua berjalan baik.
Kini, setelah enam tahun berlalu, mumi tersebut dites lagi. Segalanya
berjalan mulus. Mumi tidak mengalami kerusakan. Brier dan Wade
melakukan proses pemumian dengan benar, kecuali masalah tangan mumi
yang terlambat ditangkupkan di depan dada.
Berkat Operasi Mumi, seluruh ilmuwan di dunia kini jadi tahu bagaimana
proses pengawetan mumi cara Mesir berlangsung. Itu akan bermanfaat
dalam melakukan penelitian terhadap mumi tua yang diketemukan. Para
ilmuwan jadi lebih mudah menguak misteri bagaimana orang zaman dulu
hidup, penyakit apa yang mereka derita, serta mengapa mereka
meninggal. |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|