|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Ngoran
di Kentucky
Di Kota Lexington sana, sebagian besar pengantar koran adalah orang
Indonesia yang mencari nafkah tambahan. Mereka adalah mahasiswa S1,
S2, bahkan S3, dan istri-istrinya. Pendapatannya? Mengezuutkan,
antara AS $ 600 - 1.500 per bulan. Hasil itu tergantung rute yang
diambil, rata-rata 80 rumah per rute. Yang iseng-iseng cuma mengambil
satu rute, sedangkan yang serius mengambil 2 - 3 rute. Untuk mengantar
ke 150 rumah butuh waktu 3 jam.
Syarat menjadi pengantar koran memang tidak mudah. Calon harus
memiliki nomor jaminan sosial (Social Security Number, SSN), ujian SIM
lokal, serta izin kerja (Working Permit). Dua syarat terakhir
bisa diurus kalau punya SSN, yang didapat bila sudah terdaftar di
universitas setempat. Lalu ia mendaftar ke kantor percetakan koran
sambil menyerahkan deposit sebesar AS $ 500. Tak kalah penting adalah
harus mempunyai mobil, meskipun butut, untuk mengantarkan koran.
Banyak pengalaman menarik selama saya ngoran. Bangun pukul
03.00, mengenakan baju tebal, kaus kaki, sarung tangan dan topi,
karena mulai turun salju. Saya pernah tergelincir di atas salju. Suhu
waktu itu 9oC, jadi harus berjalan cepat agar tak
kedinginan.
Satu eksemplar koran bisa seberat 3 kg pada hari biasa dan 5 kg pada
hari Sabtu atau Minggu. Bisa dibayangkan sulitnya melempar koran
seberat itu agar tepat jatuh di depan pintu di dalam teras. Kalau
koran jatuh di halaman, pekerjaan itu harus diulangi karena koran akan
basah. Belum lagi kalau kena barang lain di teras, ya bisa kena marah.
Agar aman, tiap kali saya masuk ke halaman lalu saya lempar koran
tepat di dekat pintu. Akibatnya, si empunya rumah bisa terbangun.
Saya pernah diteriaki dari balkon, "Who's that?".
Cepat-cepat saya jawab agar tak dikira maling, "Newspaper, Sir."
"OK!" jawab dia, lalu menutup jendela. |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|