|
|
Bulan Januari 2001
|
|
MAHAGURU PENERBANG TEMPUR
Berkisah tentang pertempuran udara, 5 Oktober 1914 merupakan hari yang
fenomenal. Berawal saat pesawat Voisin-3 Prancis, yang diterbangkan
oleh Sersan Joseph Frantz dan Louis Quenault sedang berpatroli dekat
perbatasan Jerman. Mereka melihat pesawat Jerman berleha-leha di
wilayah udara perbatasan kedua negara. Voisin pun mendekat dan
mengambil posisi untuk menembak. Tak bisa dipastikan, apakah penerbang
Jerman melihat kedatangan pesawat Prancis itu.
Mengemudi satu tangan
Sampai saat itu, belum ada pesawat yang baku tembak di udara. Pesawat
hanya sebagai alat pengintai, bukan senjata mematikan. Kalaupun
pesawat-pesawat dari dua pihak yang bermusuhan bertemu, mereka hanya
saling menghindar dan pulang ke pangkalan. Sehingga saat senapan
Quenault memuntahkan amunisi dan menewaskan penerbang Jerman, dunia
penerbangan mengukir sejarah baru. Pertempuran udara dimulai, dan
penerbang Jerman itu menjadi korban pertama.
Sejak itu, negara-negara Eropa yang terlibat PD I (Inggris, Prancis,
Jerman) segera mempersenjatai pesawatnya. Metode tempur udara mulai
dipelajari. Awalnya diterapkan taktik bertempur jarak dekat satu lawan
satu. Posisi pesawat lebih tinggi diyakini akan memiliki beberapa
keuntungan. Selain jarak pandang ke bawah yang luas, juga serangan
dengan daya kejut dan kecepatan tinggi mudah dilaksanakan dari atas,
dari pesawat.
Tahun 1915 mulai dikenal pesawat tempur kursi tunggal. Jadi, penerbang
harus bisa terbang sambil menembak. Ini cukup sulit dilakukan karena
belum ada sistem HOTAS (Hands On Throttle And Stick), di mana
semua tombol penembak berada di tongkat kemudi. Sehingga penerbang
harus "mengemudi" dengan satu tangan, sementara tangan lain
memegang senapan. Namun, pertempuran demi pertempuran membuat
penerbang mahir menggunakan senjata tradisional tersebut.
Dalam tahun yang sama, para penerbang mulai mengenal istilah ace
(kartu as), yang berarti penerbang mampu menjatuhkan 5 pesawat musuh.
Penerbang Jerman menyebutnya kanone, alias mesin pembunuh.
Istilah ace lahir di Prancis, saat Rolland Garros menjatuhkan
lima pesawat musuh awal April 1915. Penerbang yang bisa menjatuhkan
korban lebih banyak lagi dijuluki ace of aces.
Di antara deretan penerbang tempur legendaris, nama Oswald Boelcke,
Max Immelman, dan Manfred von Richthofen, pasti diingat oleh para
penerbang tempur muda. Merekalah induk semang penerbang tempur di
seluruh dunia. Mereka rela gugur muda, gugur dalam masa bujangan,
untuk mengharumkan korps berlambang "burung rajawali" itu.
Sepasang Elang Jerman
"Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan
ksatria."
Korps Angkatan Udara Inggris
Selain penerbang andal, Letnan Oswald Boelcke memang perwira jenius.
Saat PD I mulai berkobar tahun 1914, ia berusia 23 tahun dan telah
menggenggam sertifikat penerbang tempur. Di seksi 13, Boelcke bertugas
dengan saudara kandungnya, Wilhelm, yang selalu terbang bersamanya
sebagai juru tembak. Saat itu pesawat tempur terdiri atas dua kursi.
Kursi depan untuk penerbang, dan kursi belakang untuk juru tembak.
Keberhasilan Rolland Garros menembak jatuh 5 pesawat musuh, membuat
Jerman pusing tujuh keliling. Untungnya Jerman kedatangan pria jenius
berkebangsaan Belanda, Anthony Fokker, yang di negara sendiri tak
diindahkan. Menyusul tertangkapnya Garros dan pesawatnya pada akhir
April 1915, pria kelahiran Kediri, 1890, ini cuma butuh waktu 3 hari
untuk menjiplak senjata sekelas pesawat Prancis dan Inggris. Sejak
itu, era senjata udara otomatis dimulai. Ia juga menciptakan pesawat
baru untuk Jerman.
Boelcke yang pindah di seksi 62, Douai, mendapat kesempatan mencoba
pesawat dan senjata baru hasil rancangan Fokker. Pesawat baru Fokker
masih berkursi ganda, namun memiliki kecepatan lebih tinggi dan
kemampuan senjata lebih baik. Tanggal 6 Juli 1915, Boelcke bersama
juru tembaknya, Letnan Von Wuhlisch, merontokkan pesawat Parasol
Prancis. Peristiwa ini menandai berakhirnya era pesawat tempur kursi
ganda.
Di seksi 62, Boelcke mendapat teman seusia yang hebat, Max Immelman.
Dengan pesawat Fokker IV berkursi tunggal, Boelcke dan Immelman
menjadi senjata mematikan andalan Jerman. Hingga Januari 1916, mereka
masing-masing berhasil menjatuhkan 8 pesawat musuh. Pemerintah Jerman
menganugerahkan perhargaan tertinggi Pour le Merite kepadanya.
Mereka pun dijuluki "Sepasang Elang Jerman", karena sering
bertempur bersama-sama.
Begitu pula Immelman mencetak sejarah di usia belia. Dengan Fokker IV
berkecepatan tinggi, ia menjadi penerbang pertama di dunia yang
melakukan manuver vertikal. Gerakan itu dikenal sebagai Immelman
turn (belokan Immelman). Penerbang tempur dunia pasti mengenal
belokan Immelman. Gerakan ini wajib mereka lakukan saat menjalani
pendidikan di sekolah penerbang.
Saat berusia 25 tahun dan dipromosikan menjadi Kapten, mereka berdua
terpaksa berpisah. Boelcke pindah ke Sivry untuk menghadapi Prancis,
Immelman tetap di Douai, menghadapi Inggris. Petualangan Immelman
berakhir setelah mengemas 15 pesawat korban. Boelcke pun terbang ke
Douai untuk menghadiri pemakaman sahabat tercintanya.
Mendengar kabar Immelman tewas, Kaisar Jerman memerintahkan Boelcke
mundur ke garis belakang. Dengan 18 pesawat korban, Boelcke menjadi
pahlawan dan sekaligus kebanggaan bangsa Jerman. Kaisar menyurati
Boelcke agar kembali ke Berlin dan masuk staf markas tertinggi
Angkatan Perang Jerman. Pada penghujung suratnya, Kaisar mengatakan
bahwa jumlah 18 sudah cukup buat prajurit besar seperti dia.
Pahlawan tidak mengenal berhenti berjuang. Dalam perjalanan pulang
dari Douai, Boelcke yang sedang berduka nekat bertempur lagi, bahkan
tanpa izin satuannya di Sivry. Ia menyerang pesawat musuh di sekitar
jalur kepulangannya. Beberapa pesawat Prancis jatuh. Saat
dikonfirmasi, Boelcke melapor, pesawat itu jatuh karena artileri AD
Jerman. Sekian hari berlalu, masalah ini terungkap juga. Boelcke
memang menolak ditarik ke Berlin, namun ia terkena sanksi larangan
terbang karena kenekatannya. Akhirnya ia tetap ditarik ke Berlin.
Namun saat Jerman mulai terdesak beberapa bulan kemudian, Boelcke
diperbolehkan bertempur kembali. Kali ini di pangkalan udara Somme.
Selain bertempur, ia juga mulai mengajar para penerbang baru dan
menjadi komandan skuadron. Di pangkalan ini Boelcke mendapat murid
terbaik, anak muda yang benar-benar born pilot, terlahir untuk
menjadi penerbang jago. Manfred von Richthofen, yang kelak dijuluki Red
Baron, ace of aces sepanjang sejarah PD I. Penerbang
terhebat dengan 80 pesawat korban.
Sampai September 1916, Boelcke mengantongi 26 pesawat korban. Tanggal
17 September, ia merancang team work pertempuran udara, suatu
keputusan bersejarah. Pesawat tidak boleh terbang sendiri. Minimal dua
pesawat atau lebih. Ia sebagai orang pertama yang mampu menggambarkan
detail pertempuran yang dilakukannya dan mengembangkan pertempuran
menjadi lebih dari dua pesawat. Ia juga berhasil merumuskan prinsip
dasar pertempuran udara, dan kelak dinobatkan menjadi bapak
pertempuran udara dunia. Oktober 1916, Boelcke menjadi
"juara", ace of aces, dengan 40 pesawat korban. Dua
puluh korban ditembaknya dalam dua bulan terakhir!
Bulan-bulan terakhir, pertempuran makin seru hingga penerbang harus
berjaga siang dan malam. Pada 27 Oktober 1916 malam, Boelcke tidur
terlambat. Esoknya, ia harus terbang empat kali namun tak ada kontak
senjata. Sorenya, Boelcke meluncur ke garis depan diikuti empat
penerbang lain, termasuk Richthofen muda dan Bohme. Di atas langit
kelabu, mereka menemukan dua pesawat Prancis, dan menghajarnya. Tidak
adanya sistem radio antarpesawat menyulitkan penerbang untuk
melaksanakan taktik pertempuran.
Saat bermanuver, sayap dan mesin pesawat Boelcke bersenggolan dengan
badan pesawat Bohme. Pesawat Boelcke tak terkendali. Pandangan nanar
Richthofen terus mengikuti pesawat sang guru yang menerobos awan,
sayapnya terlempar dan menghunjam ke tanah. Boelcke tewas seketika.
Pesawat Prancis kabur. Keesokan harinya, Angkatan Udara Inggris
mengirim pesan duka cita, "Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh
kami yang berani dan ksatria."
Red Baron, Petualang Pertempuran
Manfred von Richthofen, lahir 2 Mei 1892 di Breslau, sebagai bangsawan
Prusia. Tak heran bila ia pintar menembak dan berburu sejak kecil. Di
usia 17 tahun, ia masuk kadet di Akademi Militer Lichterfelde dan
lulus menjadi perwira kavaleri. Saat PD I dimulai, Richthofen pindah
ke korps penerbangan. Juga sebagai awal kariernya sebagai penerbang
tempur kelas satu.
Di tempat baru, Richthofen bertugas sebagai juru tembak yang duduk di
kursi belakang pesawat. Karena keuletannya, Richthofen bisa masuk ke
sekolah penerbang, dan tanpa sengaja bertemu Oswald Boelcke. Boelcke
mengajak Richthofen bergabung di pangkalan udara Somme, dan
mendidiknya menjadi penerbang tempur penuh.
Pada 17 September 1916, untuk pertama kali Richthofen terbang bersama
Boelcke dalam satu formasi tempur. Mereka mampu menembak 5 pesawat
musuh. Sampai gugurnya Boelcke pada bulan berikutnya, Richthofen
mengemas tujuh pesawat korban. Jerman kehilangan "sepasang
elang" kesayangannya.
Kini Richthofen menjadi tumpuan harapan. Saat mengantar Boelcke ke
liang lahat di Cambrai pada 31 September, Richthofen membawa bintang
kehormatan sang guru di atas bantal hitam. Sifat ambisius, petualang
yang dibalut dalam duka cita bergejolak hebat sejak itu. Bahkan ia
mengirim pesan ke ibunya, ingin mendapat kehormatan tertinggi sebagai
pahlawan Jerman.
Sampai tanggal 4 Januari 1917, Richthofen mengemas 16 pesawat korban.
Ia menjadi penerbang tempur ace nomor satu Jerman yang masih
hidup. Kaisar Jerman Wilhelm II menganugerahkan Pour le Merite dan
Kaisar Austria mengganjarnya dengan Austrian War Cross.
Setelah diangkat menjadi komandan skuadron, Richthofen memerintahkan
pesawatnya dicat serba merah. Keberanian luar biasa. Umumnya warna cat
kamuflase agar tak terlihat, Red Baron justru menggunakan warna merah
yang mudah terlihat dari kejauhan. Era kegemilangan Manfred von
Richthofen Red Baron dimulai. Ia menjadi monster paling
menakutkan setelah era Immelman dan Boelcke, berdarah dingin dan
bertempur seperti singa liar.
Sampai 20 April 1918, Red Baron mengemas 80 pesawat korban. Adiknya,
Lothar Rochthofen, mengemas 40 pesawat korban. Total kemenangan
skuadron pimpinan Red Baron, 250 pesawat korban. Jumlah luar biasa.
Esok harinya, 21 April 1918, grup band perwira Jerman merayakan
kemenangan ke-80 Red Baron. Pukul 11.30 pagi, Red Baron memimpin 5
pesawat berpatroli di perbatasan Inggris. Inilah penerbangan terakhir
sang jagoan. Red Baron terlibat pertempuran udara hebat, melibatkan
puluhan pesawat. Bertempur pada ketinggian rendah, pesawat Red Baron
terkena serangan artileri. Sebuah peluru sempat mampir di dadanya. Red
Baron yang dihormati oleh lawannya mendapat penghargaan sebagai tokoh
besar.
Para prajurit Inggris membawa jenazah Red Baron ke pangkalan
Bertangles dan mengebumikannya dengan upacara kebesaran militer. AU
Inggris mengirimkan pesan duka cita ke markas AU Jerman. Pada 19
November 1925, jasad Red Baron dikirim ke Jerman dengan kereta. Beribu
orang datang saat jenazahnya disemayamkan selama dua hari di gereja
Berlin. Saat pemakamannya, Presiden Jerman, Von Hindenburg, berbaris
di belakang ibunda Red Baron yang menjanda, didampingi putranya yang
masih hidup, Bolke Richthofen.
Jerman memang gagal dalam PD I, namun tak diingkari negara ini telah
memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan teknologi dan taktik
pertempuran udara. Penghargaannya yang besar terhadap setiap temuan
baru membuatnya menjadi super power kala itu. Hanya karena
kepongahannya, bangsa itu terpuruk dalam dua perang. (Budhi
"Phantom" Achmadi, Jurnalis Masalah Hankam & Penerbang
Tempur F-5 Tiger II)
|
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|