|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Radio
Satelit: Sebening Kristal di Tengah Lautan
Upaya untuk memperluas cakupan itu mau tidak mau, ya, membuat setinggi
mungkin menara antena pemancar radio. Ada segi untungnya, misalnya,
menara itu bisa menjadi landmark bagi daerah itu. Hanya saja,
kendala menara seperti itu, selain mahal, tidak bisa dibuat setinggi
mungkin (ratusan meter) karena bisa mengurangi daya transmisi.
Sebenarnya alam sudah menyiapkan tempat tinggi, yakni gunung.
Masalahnya, apa iya mau membangun pemancar di pucuk gunung? Yang bener
aja. Kemudian seiring dengan maraknya pembangunan gedung-gedung
jangkung, pemancar ditempatkan di lantai paling atas. Toh, daya pancar
masih tetap terbatas.
Lalu, muncullah Internet sebagai media baru yang cakupannya seluruh
permukaan Bumi. Asalkan ada jaringan telepon dan peranti lunak untuk
menjalankan content audio, seperti RealPlayer. Beberapa stasiun
radio pun ramai-ramai membuka situs dan bahkan melakukan siaran
langsung.
Di Indonesia tidak saja radio dari Jakarta (Hard Rock 87.6 FM, Radio A
96.7 FM, Sonora 100.9 FM, Prambors Rasisonia 102.3 FM) saja yang go
Internet. Dari Bandung muncul Ardan 105.8 FM dan OZ 103 FM;
Surabaya ada Mercury 96 FM, Salvatore 97.75 FM, Suara Surabaya 100.55
FM, dan SCFM 104.75 FM; Semarang RCTFM 100.9 FM, Gajahmada 102.6 FM;
serta Medan dengan Kiss 104.75 FM. Masalahnya, kualitas suara tidak
bisa konstan karena tergantung saluran telepon.
Alternatif terakhir untuk saat ini adalah menggunakan satelit. Memang
masih ada kendala, yakni radio penerimanya harus cukup sensitif.
Selain itu biaya infrastrukturnya juga sangat mahal. Kasus telepon
satelit Iridium yang gagal total bisa menjadi cermin.
Akan tetapi, soal kualitas suara tak diragukan lagi. Pionir untuk
radio satelit ini bisa disebut WorldSpace (www.worldspace.com).
Siaran radio satelit ini bertumpu pada teknologi digital dan satelit
berkekuatan besar.
Awalnya untuk menghentikan penyebaran AIDS
Prinsip radio satelit pada dasarnya sama dengan radio konvensional.
Bedanya, pemancarnya jauh di atas angkasa sana. Tentu untuk
menghubungkan sinyal tidak menggunakan kabel. Paket siaran itu oleh
masing-masing broadcaster ditembakkan (uplink) ke
satelit dari sembarang tempat, asal masih masuk dalam daerah kekuasan
(cakupan pemancar) satelit.
Sinyal digital yang terkodekan secara khusus itu dikirim melalui
piringan satelit kecil (small satellite dish) pada frekuensi
7025 – 7075 MHz. Laju data bisa dipilih dari 16 KB/detik (monophonic
AM broadcast) hingga 128 KB/detik (sebanding dengan CD stereo).
Di satelit, sinyal itu didekode oleh peralatan yang ada dan
ditembakkan kembali ke Bumi pada frekuensi L-band 1452 – 1492 MHz.
Tergantung kontrak dengan WorldSpace apakah sinyal itu ditransmisikan
ke satu, dua, atau tiga pemancar sekaligus dalam sebuah satelit.
Antena datar yang unik pada masing-masing pesawat penerima menerima
sinyal itu. Antena ini dapat dilepas dan memiliki kabel yang cukup
panjang untuk memperoleh posisi tangkap yang optimum. Ini menangkap
sinyal dari satelit, Bung! Harus pas agar jelas. Pesawat penerima bisa
dioperasikan dengan baterai atau listrik dengan memakai adaptor.
Di Bumi sendiri masing-masing satelit disokong oleh tiga peralatan
utama: pusat pengoperasian regional; pusat telemetri, komando, dan ranging,
serta pusat pemantauan sistem komunikasi. Masing-masing komponen
berfungsi untuk memastikan bahwa sinyal digital yang terbaiklah yang
diterima di dalam sistem WorldSpace. Di belakangnya adalah tim
profesional yang siap memantau 24 jam sehari tujuh hari seminggu.
Satelit yang digunakan oleh Worldspace adalah jenis geostasioner,
yaitu satelit yang mengorbit dengan posisi tetap. Ketinggiannya
sekitar 35.000 km di atas ekuator. Rencananya jaringan mereka akan
terdiri atas tiga satelit: AfriStar, AsiaStar, dan AmeriStar.
Dua satelit pertama sudah sukses diluncurkan pada 28 Oktober 1998 dan
21 Maret 2000. AmeriStar dijadwalkan akan mengorbit pada tahun ini.
Masing-masing satelit memiliki tiga pemancar (beam) yang
masing-masing mampu menyalurkan lebih dari 50 saluran program audio
sejernih kristal dan multimedia secara langsung ke penerima portabel.
Area cakupannya seluas 14 juta km2.
Sesuai dengan namanya, AfriStar menaungi seluruh benua Afrika, daerah
Timur Tengah, serta sebagian besar Eropa Barat. AsiaStar menjangkau
hampir semua benua Asia, termasuk Indonesia (meski tidak semuanya
sebab Irian hanya kebagian kepalanya). Sebagian Australia Barat juga
bisa menikmati siaran radio digital ini. Sedangkan AmeriStar,
sasarannya Amerika Selatan dan Karibia. Bukan Amerika Serikat sebab di
sana rencananya sudah akan dimasuki oleh Radio satelit Sirius dan XM.
Afrika menjadi target awal karena visi WorldSpace menggunakan siaran
radio melalui satelit adalah untuk menghentikan penyebaran AIDS di
Afrika. Selanjutnya visi ini melebar ke penyebaran pengetahuan demi
membuat rakyat lebih sehat, lebih berpendidikan, dan lebih sadar
terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. “WorldSpace berupaya
tanpa kenal lelah untuk ‘menerangi’ Afrika, Timur Tengah, Asia,
Amerika Latin, dan Karibia dengan audio digital satelit. Sistem kami
mampu membawa cahaya pengetahuan bagi empat miliar jiwa dan bisa
membebaskan kegelapan kebodohan, penyakit, dan keputusasaan,” Noah
Samara, chairman dan CEO WordlSpace mencoba berfilosofi.
Belum bisa untuk mobile
Sinyal yang ditransmisikan ke Bumi oleh satelit hanya bisa diterima
oleh pesawat penerima khusus yang memiliki Starman chipset.
Keping inilah yang memodulasikan sinyal dari satelit dan menerjemahkan
dalam bahasa bunyi.
Selain itu, pesawat penerima juga secara otomatis menyusun untuk
menyesuaikan laju data spesifik bagi program yang ditransmisikan dari
satelit AfriStar atau AsiaStar, dari AM ke kualitas CD. WorldSpace
menggunakan pemampatan digital MPEG 2.5 Layer 3. MPEG (Moving Picture
Experts Group) merupakan standar international bagi pemampatan, decompression,
pemrosesan, dan coded representation dari gambar bergerak,
audio, atau kombinasinya.
Untuk memastikan bahwa layanan WorldSpace ini benar-benar global dan
bisa diakses oleh setiap orang, empat perusahaan multinasional yang
bergerak dibidang consumer electronic dirangkul untuk membuat
pesawat penerima itu. Keempat perusahaan itu adalah Hitachi, JVC,
Matsushita (Panasonic), dan Sanyo. Setiap pesawat penerima dilengkapi
kabel penghubung sepanjang 5 m sehingga memungkinkan menempatkan
antena secara optimal.
Aksesori pilihan juga disediakan seperti filter antigangguan, antena
yagi, low noise amplifier (LNA), data port interface,
dan kabel penghubung sepanjang 25 m. Aksesori ini akan bermanfaat jika
kita menggunakan pesawat penerima di gedung atau daerah, yang
memerlukan penempatan antena luar untuk bisa bagus mengakses sinyal
dan menangkap sinyal multimedia.
LNA misalnya, dirancang untuk penggunaan luar ruang bersamaan dengan
antena luar ruang. Pesawat penerima ini sangat ringan, antara 1,5 dan
3 kg. Harganya berkisar antara AS $ 200 dan 500, tergantung tempat
pembeliannya. Di Indonesia sendiri berkisar antara Rp 1,15 juta dan Rp
1,5 juta. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan harga pesawat
penerima audio digital terestrial yang beredar di sebagian negara
Eropa (sekitar AS $ 1.000). Juga masih di bawah biaya pemasangan
pesawat televisi satelit yang mendekati AS $ 1.000 (belum biaya
langganan per bulan AS $ 50 ke atas). Atau telepon satelit yang
sekitar AS $ 1.000.
Sayangnya, pesawat penerima generasi saat ini tidak didesain untuk
penerimaan bergerak. Jadi, fasilitas ini belum bisa dinikmati sambil
berkendaraan. Akan tetapi, ke depannya pesawat penerima akan lebih
portabel dan didesain untuk penerimaan bergerak. Bagaimanapun, dalam
situsnya WorldSpace menyatakan bahwa mereka menerima laporan dari
beberapa layanan di Afrika, pesawat penerima mereka berfungsi sewaktu
digunakan di atas mobil.
Kendala yang muncul dalam penerimaan bergerak adalah teralangnya
sinyal oleh gedung yang tinggi, tempat parkir bawah tanah, tebing,
atau pepohonan. Untuk menjaga agar penerimaan tak putus, di beberapa
tempat (terutama daerah perkotaan) dipasang stasiun pengulang.
WorldSpace sudah berhasil menguji dua teknik untuk pengoperasian radio
satelit pada kendaraan bermotor.
Masa depan pesawat penerima mobile ini memang menjanjikan.
Hasil penelitian Asosiasi Elektronik Konsumen di Amerika menyebutkan,
69% responden memilih mendengarkan radio selama perjalanan
dibandingkan dengan kaset yang hanya 15% dan CD 9%.
Ada layanan multimedia
Yang menarik adalah layanan multimedia yang diberikan WorldSpace.
Meski konfigurasi untuk menyiarkan video full-motion belum ada,
namun pesawat penerima ini bisa dipakai untuk mengalirkan layanan
multimedia ke komputer pribadi. Gerbang data yang dimilikinya mampu
melewatkan data sekitar 128 KB/detik. Melanggan layanan multimedia
WorldSpace seperti memiliki CD-ROM baru setiap hari berisi tentang
segala hal, mulai dari hiburan, pendidikan, berita aktual, bisnis,
kedokteran, hingga persoalan kemanusiaan.
Layanan multimedia ini murah dengan suplemen berkekuatan tinggi
seperti Internet, namun layanan ini bukanlah Internet. Dengan begitu
Anda tidak bisa menerima e-mail karena ini sistem satu arah.
Akan tetapi, mungkin saja di suatu tempat partner WorldSpace adalah Internet
Service Provider (ISP).
Oleh karena itu, jika partner itu mau memberikan layanan e-mail
kepada Anda dan layanan lain yang berkaitan, multimedia WorldSpace
bisa memberikan Anda kemampuan download file yang besar, penuh
dengan multimedia yang jika dilakukan melalui Internet via telepon
akan sulit, mahal, bisa jadi impossible.
Untuk memperoleh layanan multimedia ini ada dua cara: melalui pesawat
penerima itu sendiri dan melalui PC card khusus (sedang dikembangkan)
yang di-install ke komputer. Untuk cara pertama dibutuhkan
pesawat penerima WordlSpace, smart PC adapter (SPCA), peranti
lunak WorldSpace, serta PC Pentium dengan sistem operasi Windows 95
atau yang terbaru dengan RAM 32 MB dan sisa ruang kosong di hard
disk minimal 200 MB. Komputer sejenis juga dipakai untuk cara
kedua dengan tambahan PC card khusus tadi dan peranti lunak
pendukungnya.
Adanya dua cara itu membuat konsumen memiliki pilihan mana yang tepat
bagi dirinya. Beberapa konsumen hanya menginginkan layanan audio,
namun masih memiliki pilihan untuk mengakses multimedia. Yang lainnya
ingin menikmati layanan audio dan multimedia hanya di PC mereka.
Biaya yang dikeluarkan untuk layanan multimedia ini ditentukan melalui
kerja sama dengan distributor lokal. Ada banyak pilihan layanan, mulai
layanan dasar yang murah sampai layanan bertingkat dengan biaya
berlipat. Layanan dasar tadi diharapkan akan menjadi bagian kecil dari
layanan dial-up Internet yang sudah ada di pasaran. Ini akan membuat
layanan Internet yang sudah dimiliki konsumen seperti memperoleh
"supercharger" dengan hanya menambah ongkos sedikit.
Multiprogram, multibahasa
Dengan daya pancar yang menusuk jantung pasar baru yang akan
berkembang, banyak broadcaster yang tertarik untuk masuk
mengudarakan program-programnya. Saat ini sudah ada 40 broadcaster
yang mangkal di gelombang satelit ini. Satelit AsiaStar yang
memancarkan berita, musik, informasi, dan siaran pendidikan sudah bisa
dinikmati di Indonesia pertengahan September tahun lalu. Dua saluran
digital bahkan diisi dari Indonesia, yakni Grup Masima (seperti
Prambors) dan RRI.
Salah satu program yang dirancang oleh RRI adalah Voice of Mecca.
Acara ini ditujukan bagi masyarakat muslim Indonesia yang belum
berkesempatan menunaikan ibadah haji. Mereka dapat mengikuti
acara-acara ibadah tersebut langsung dari Mekah setiap hari selama 24
jam. Beberapa program lain sedang dirancang sesuai visi WorldSpace,
seperti pendidikan untuk anak. Khusus nelayan dan masyarakat maritim
umumnya juga dikembangkan sistem peringatan dini. Tentu ini sangat
berguna bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Beberapa broadcaster dunia juga sudah bisa ditemui di sini.
Misalnya BBC, CNN, maupun Bloomberg. Untuk skala regional ada Manila
Broadcasting Corporation (MBC), MTV Asia, BNT Thailand, Radio
Corporation of Singapura, maupun Radio Mid Day (India). Dengan begitu,
selain bahasa Inggris, radio digital ini juga mahir bercas-cis-cus
dalam bahasa-bahasa regional seperti Indonesia, Melayu, Thai, Tagalog,
Hindi, Swahili, Tamil, maupun Jepang.
Selain menjalin kerja sama, WorldSapce juga membuat program sendiri.
Dari studionya yang canggih di London dan markas besar Washington,
D.C., program seperti musik rock modern, kontemperor, tarian
global, sampai acara mengucapkan kata, baik untuk anak maupun orang
dewasa.
Sampai saat ini semua broadcaster dalam sistem WorldSpace
adalah bebas mengudara (free-to-air). Meski begitu, WorldSpace
memiliki kemampuan untuk mendukung encryption bagi program
audio. Dengan umur yang relatif singkat (WorldSpace didirikan tahun
1990), WorldSpace siap memberikan layanan pengiriman komunikasi
digital audio dan multimedia ke pasar baru dunia. Ditambah munculnya
Sirius (rencananya akhir tahun 2000 beroperasi) dan XM (Mei tahun
ini), maka hampir semua belahan dunia dimasuki siaran radio.
Toh, radio konvensional dengan menara tinggi tidak serta merta
terlibas. |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|