globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Radio Satelit: Sebening Kristal di Tengah Lautan  

Kini bukan jamannya lagi mendengarkan siaran Prambors di Jakarta harus ke Jakarta. Dengan radio satelit layanan WorldSpace, radio yang memancarkan siarannya dari daerah Menteng itu bisa didengar di hampir seluruh benua Asia maupun Afrika.

Salah satu keterbatasan radio adalah jangkauan pancaran siarannya. Dalam era global seperti sekarang ini, hal itu menjadi kontradiktif. Sebab radio juga merupakan media penyampai informasi. Mereka yang demen nguping radio kesayangannya menjadi gregetan manakala harus meninggalkan kota kesayangannya. Meski gaya hidup global, toh selera lokal tak bisa dihilangkan begitu saja. Memang, ada gelombang pendek yang bisa memperluas cakupan gelombang yang dipancarkan. Akan tetapi, kualitas suaranya tidak bisa dijamin.

Upaya untuk memperluas cakupan itu mau tidak mau, ya, membuat setinggi mungkin menara antena pemancar radio. Ada segi untungnya, misalnya, menara itu bisa menjadi landmark bagi daerah itu. Hanya saja, kendala menara seperti itu, selain mahal, tidak bisa dibuat setinggi mungkin (ratusan meter) karena bisa mengurangi daya transmisi.

Sebenarnya alam sudah menyiapkan tempat tinggi, yakni gunung. Masalahnya, apa iya mau membangun pemancar di pucuk gunung? Yang bener aja. Kemudian seiring dengan maraknya pembangunan gedung-gedung jangkung, pemancar ditempatkan di lantai paling atas. Toh, daya pancar masih tetap terbatas.

Lalu, muncullah Internet sebagai media baru yang cakupannya seluruh permukaan Bumi. Asalkan ada jaringan telepon dan peranti lunak untuk menjalankan content audio, seperti RealPlayer. Beberapa stasiun radio pun ramai-ramai membuka situs dan bahkan melakukan siaran langsung.

Di Indonesia tidak saja radio dari Jakarta (Hard Rock 87.6 FM, Radio A 96.7 FM, Sonora 100.9 FM, Prambors Rasisonia 102.3 FM) saja yang go Internet. Dari Bandung muncul Ardan 105.8 FM dan OZ 103 FM; Surabaya ada Mercury 96 FM, Salvatore 97.75 FM, Suara Surabaya 100.55 FM, dan SCFM 104.75 FM; Semarang RCTFM 100.9 FM, Gajahmada 102.6 FM; serta Medan dengan Kiss 104.75 FM. Masalahnya, kualitas suara tidak bisa konstan karena tergantung saluran telepon.

Alternatif terakhir untuk saat ini adalah menggunakan satelit. Memang masih ada kendala, yakni radio penerimanya harus cukup sensitif. Selain itu biaya infrastrukturnya juga sangat mahal. Kasus telepon satelit Iridium yang gagal total bisa menjadi cermin.

Akan tetapi, soal kualitas suara tak diragukan lagi. Pionir untuk radio satelit ini bisa disebut WorldSpace (www.worldspace.com). Siaran radio satelit ini bertumpu pada teknologi digital dan satelit berkekuatan besar.

Awalnya untuk menghentikan penyebaran AIDS

Prinsip radio satelit pada dasarnya sama dengan radio konvensional. Bedanya, pemancarnya jauh di atas angkasa sana. Tentu untuk menghubungkan sinyal tidak menggunakan kabel. Paket siaran itu oleh masing-masing broadcaster ditembakkan (uplink) ke satelit dari sembarang tempat, asal masih masuk dalam daerah kekuasan (cakupan pemancar) satelit.

Sinyal digital yang terkodekan secara khusus itu dikirim melalui piringan satelit kecil (small satellite dish) pada frekuensi 7025 – 7075 MHz. Laju data bisa dipilih dari 16 KB/detik (monophonic AM broadcast) hingga 128 KB/detik (sebanding dengan CD stereo).

Di satelit, sinyal itu didekode oleh peralatan yang ada dan ditembakkan kembali ke Bumi pada frekuensi L-band 1452 – 1492 MHz. Tergantung kontrak dengan WorldSpace apakah sinyal itu ditransmisikan ke satu, dua, atau tiga pemancar sekaligus dalam sebuah satelit.

Antena datar yang unik pada masing-masing pesawat penerima menerima sinyal itu. Antena ini dapat dilepas dan memiliki kabel yang cukup panjang untuk memperoleh posisi tangkap yang optimum. Ini menangkap sinyal dari satelit, Bung! Harus pas agar jelas. Pesawat penerima bisa dioperasikan dengan baterai atau listrik dengan memakai adaptor.

Di Bumi sendiri masing-masing satelit disokong oleh tiga peralatan utama: pusat pengoperasian regional; pusat telemetri, komando, dan ranging, serta pusat pemantauan sistem komunikasi. Masing-masing komponen berfungsi untuk memastikan bahwa sinyal digital yang terbaiklah yang diterima di dalam sistem WorldSpace. Di belakangnya adalah tim profesional yang siap memantau 24 jam sehari tujuh hari seminggu.

Satelit yang digunakan oleh Worldspace adalah jenis geostasioner, yaitu satelit yang mengorbit dengan posisi tetap. Ketinggiannya sekitar 35.000 km di atas ekuator. Rencananya jaringan mereka akan terdiri atas tiga satelit: AfriStar, AsiaStar, dan AmeriStar.

Dua satelit pertama sudah sukses diluncurkan pada 28 Oktober 1998 dan 21 Maret 2000. AmeriStar dijadwalkan akan mengorbit pada tahun ini. Masing-masing satelit memiliki tiga pemancar (beam) yang masing-masing mampu menyalurkan lebih dari 50 saluran program audio sejernih kristal dan multimedia secara langsung ke penerima portabel. Area cakupannya seluas 14 juta km2.

Sesuai dengan namanya, AfriStar menaungi seluruh benua Afrika, daerah Timur Tengah, serta sebagian besar Eropa Barat. AsiaStar menjangkau hampir semua benua Asia, termasuk Indonesia (meski tidak semuanya sebab Irian hanya kebagian kepalanya). Sebagian Australia Barat juga bisa menikmati siaran radio digital ini. Sedangkan AmeriStar, sasarannya Amerika Selatan dan Karibia. Bukan Amerika Serikat sebab di sana rencananya sudah akan dimasuki oleh Radio satelit Sirius dan XM.

Afrika menjadi target awal karena visi WorldSpace menggunakan siaran radio melalui satelit adalah untuk menghentikan penyebaran AIDS di Afrika. Selanjutnya visi ini melebar ke penyebaran pengetahuan demi membuat rakyat lebih sehat, lebih berpendidikan, dan lebih sadar terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. “WorldSpace berupaya tanpa kenal lelah untuk ‘menerangi’ Afrika, Timur Tengah, Asia, Amerika Latin, dan Karibia dengan audio digital satelit. Sistem kami mampu membawa cahaya pengetahuan bagi empat miliar jiwa dan bisa membebaskan kegelapan kebodohan, penyakit, dan keputusasaan,” Noah Samara, chairman dan CEO WordlSpace mencoba berfilosofi.

Belum bisa untuk mobile

Sinyal yang ditransmisikan ke Bumi oleh satelit hanya bisa diterima oleh pesawat penerima khusus yang memiliki Starman chipset. Keping inilah yang memodulasikan sinyal dari satelit dan menerjemahkan dalam bahasa bunyi.

Selain itu, pesawat penerima juga secara otomatis menyusun untuk menyesuaikan laju data spesifik bagi program yang ditransmisikan dari satelit AfriStar atau AsiaStar, dari AM ke kualitas CD. WorldSpace menggunakan pemampatan digital MPEG 2.5 Layer 3. MPEG (Moving Picture Experts Group) merupakan standar international bagi pemampatan, decompression, pemrosesan, dan coded representation dari gambar bergerak, audio, atau kombinasinya.

Untuk memastikan bahwa layanan WorldSpace ini benar-benar global dan bisa diakses oleh setiap orang, empat perusahaan multinasional yang bergerak dibidang consumer electronic dirangkul untuk membuat pesawat penerima itu. Keempat perusahaan itu adalah Hitachi, JVC, Matsushita (Panasonic), dan Sanyo. Setiap pesawat penerima dilengkapi kabel penghubung sepanjang 5 m sehingga memungkinkan menempatkan antena secara optimal.

Aksesori pilihan juga disediakan seperti filter antigangguan, antena yagi, low noise amplifier (LNA), data port interface, dan kabel penghubung sepanjang 25 m. Aksesori ini akan bermanfaat jika kita menggunakan pesawat penerima di gedung atau daerah, yang memerlukan penempatan antena luar untuk bisa bagus mengakses sinyal dan menangkap sinyal multimedia.

LNA misalnya, dirancang untuk penggunaan luar ruang bersamaan dengan antena luar ruang. Pesawat penerima ini sangat ringan, antara 1,5 dan 3 kg. Harganya berkisar antara AS $ 200 dan 500, tergantung tempat pembeliannya. Di Indonesia sendiri berkisar antara Rp 1,15 juta dan Rp 1,5 juta. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan harga pesawat penerima audio digital terestrial yang beredar di sebagian negara Eropa (sekitar AS $ 1.000). Juga masih di bawah biaya pemasangan pesawat televisi satelit yang mendekati AS $ 1.000 (belum biaya langganan per bulan AS $ 50 ke atas). Atau telepon satelit yang sekitar AS $ 1.000.

Sayangnya, pesawat penerima generasi saat ini tidak didesain untuk penerimaan bergerak. Jadi, fasilitas ini belum bisa dinikmati sambil berkendaraan. Akan tetapi, ke depannya pesawat penerima akan lebih portabel dan didesain untuk penerimaan bergerak. Bagaimanapun, dalam situsnya WorldSpace menyatakan bahwa mereka menerima laporan dari beberapa layanan di Afrika, pesawat penerima mereka berfungsi sewaktu digunakan di atas mobil.

Kendala yang muncul dalam penerimaan bergerak adalah teralangnya sinyal oleh gedung yang tinggi, tempat parkir bawah tanah, tebing, atau pepohonan. Untuk menjaga agar penerimaan tak putus, di beberapa tempat (terutama daerah perkotaan) dipasang stasiun pengulang. WorldSpace sudah berhasil menguji dua teknik untuk pengoperasian radio satelit pada kendaraan bermotor.

Masa depan pesawat penerima mobile ini memang menjanjikan. Hasil penelitian Asosiasi Elektronik Konsumen di Amerika menyebutkan, 69% responden memilih mendengarkan radio selama perjalanan dibandingkan dengan kaset yang hanya 15% dan CD 9%.

Ada layanan multimedia

Yang menarik adalah layanan multimedia yang diberikan WorldSpace. Meski konfigurasi untuk menyiarkan video full-motion belum ada, namun pesawat penerima ini bisa dipakai untuk mengalirkan layanan multimedia ke komputer pribadi. Gerbang data yang dimilikinya mampu melewatkan data sekitar 128 KB/detik. Melanggan layanan multimedia WorldSpace seperti memiliki CD-ROM baru setiap hari berisi tentang segala hal, mulai dari hiburan, pendidikan, berita aktual, bisnis, kedokteran, hingga persoalan kemanusiaan.

Layanan multimedia ini murah dengan suplemen berkekuatan tinggi seperti Internet, namun layanan ini bukanlah Internet. Dengan begitu Anda tidak bisa menerima e-mail karena ini sistem satu arah. Akan tetapi, mungkin saja di suatu tempat partner WorldSpace adalah Internet Service Provider (ISP).

Oleh karena itu, jika partner itu mau memberikan layanan e-mail kepada Anda dan layanan lain yang berkaitan, multimedia WorldSpace bisa memberikan Anda kemampuan download file yang besar, penuh dengan multimedia yang jika dilakukan melalui Internet via telepon akan sulit, mahal, bisa jadi impossible.

Untuk memperoleh layanan multimedia ini ada dua cara: melalui pesawat penerima itu sendiri dan melalui PC card khusus (sedang dikembangkan) yang di-install ke komputer. Untuk cara pertama dibutuhkan pesawat penerima WordlSpace, smart PC adapter (SPCA), peranti lunak WorldSpace, serta PC Pentium dengan sistem operasi Windows 95 atau yang terbaru dengan RAM 32 MB dan sisa ruang kosong di hard disk minimal 200 MB. Komputer sejenis juga dipakai untuk cara kedua dengan tambahan PC card khusus tadi dan peranti lunak pendukungnya.

Adanya dua cara itu membuat konsumen memiliki pilihan mana yang tepat bagi dirinya. Beberapa konsumen hanya menginginkan layanan audio, namun masih memiliki pilihan untuk mengakses multimedia. Yang lainnya ingin menikmati layanan audio dan multimedia hanya di PC mereka.

Biaya yang dikeluarkan untuk layanan multimedia ini ditentukan melalui kerja sama dengan distributor lokal. Ada banyak pilihan layanan, mulai layanan dasar yang murah sampai layanan bertingkat dengan biaya berlipat. Layanan dasar tadi diharapkan akan menjadi bagian kecil dari layanan dial-up Internet yang sudah ada di pasaran. Ini akan membuat layanan Internet yang sudah dimiliki konsumen seperti memperoleh "supercharger" dengan hanya menambah ongkos sedikit.

Multiprogram, multibahasa

Dengan daya pancar yang menusuk jantung pasar baru yang akan berkembang, banyak broadcaster yang tertarik untuk masuk mengudarakan program-programnya. Saat ini sudah ada 40 broadcaster yang mangkal di gelombang satelit ini. Satelit AsiaStar yang memancarkan berita, musik, informasi, dan siaran pendidikan sudah bisa dinikmati di Indonesia pertengahan September tahun lalu. Dua saluran digital bahkan diisi dari Indonesia, yakni Grup Masima (seperti Prambors) dan RRI.

Salah satu program yang dirancang oleh RRI adalah Voice of Mecca. Acara ini ditujukan bagi masyarakat muslim Indonesia yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji. Mereka dapat mengikuti acara-acara ibadah tersebut langsung dari Mekah setiap hari selama 24 jam. Beberapa program lain sedang dirancang sesuai visi WorldSpace, seperti pendidikan untuk anak. Khusus nelayan dan masyarakat maritim umumnya juga dikembangkan sistem peringatan dini. Tentu ini sangat berguna bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Beberapa broadcaster dunia juga sudah bisa ditemui di sini. Misalnya BBC, CNN, maupun Bloomberg. Untuk skala regional ada Manila Broadcasting Corporation (MBC), MTV Asia, BNT Thailand, Radio Corporation of Singapura, maupun Radio Mid Day (India). Dengan begitu, selain bahasa Inggris, radio digital ini juga mahir bercas-cis-cus dalam bahasa-bahasa regional seperti Indonesia, Melayu, Thai, Tagalog, Hindi, Swahili, Tamil, maupun Jepang.

Selain menjalin kerja sama, WorldSapce juga membuat program sendiri. Dari studionya yang canggih di London dan markas besar Washington, D.C., program seperti musik rock modern, kontemperor, tarian global, sampai acara mengucapkan kata, baik untuk anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini semua broadcaster dalam sistem WorldSpace adalah bebas mengudara (free-to-air). Meski begitu, WorldSpace memiliki kemampuan untuk mendukung encryption bagi program audio. Dengan umur yang relatif singkat (WorldSpace didirikan tahun 1990), WorldSpace siap memberikan layanan pengiriman komunikasi digital audio dan multimedia ke pasar baru dunia. Ditambah munculnya Sirius (rencananya akhir tahun 2000 beroperasi) dan XM (Mei tahun ini), maka hampir semua belahan dunia dimasuki siaran radio.

Toh, radio konvensional dengan menara tinggi tidak serta merta terlibas. (Dari pelbagai sumber/Yds)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej